Awas, Kanker Payudara Lebih Sulit Terdeteksi Pada Wanita Obesitas

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sama seperti jenis kanker lainnya, kanker payudara harus dideteksi sedini mungkin agar masih bisa ditangani dengan baik dan disembuhkan. Akan tetapi, memang ada beberapa hal yang bisa menyulitkan deteksi kanker payudara. Menurut penelitian, salah satunya adalah kondisi obesitas alias kegemukan.

Apa yang dimaksud dengan obesitas?

Obesitas atau kegemukan berbeda dengan kelebihan berat badan. Obesitas berarti sudah lebih serius daripada kelebihan berat badan. Perbedaan ini diukur dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). Anda bisa mengecek IMT Anda di bit.ly/indeksmassatubuh atau dalam tautan ini.

Menurut Kementerian Kesehatan, yang termasuk dalam kategori obesitas adalah orang yang memiliki nilai IMT di atas 25. Karena itu, orang yang IMT-nya tergolong obesitas atau di atas 25 cenderung lebih berisiko terhadap berbagai jenis penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, hingga kanker.

Peningkatan lemak dalam tubuh berkaitan dengan peningkatan peradangan dalam tubuh sekaligus peningkatan produksi hormon estrogen. Peningkatan peradangan di dalam tubuh meningkatkan risiko kerusakan DNA yang selanjutnya mengarahkan ke kondisi pertumbuhan sel yang tidak normal, atau sel kanker di dalam tubuh.

Jaringan lemak atau jaringan adiposa yang menumpuk banyak di dalam tubuh juga akan menghasilkan terlalu banyak estrogen. Tingginya kadar estrogen, berhubungan terhadap peningkatan risiko kanker payudara, kanker endometrium, dan kanker ovarium.

Ternyata, obesitas bisa mempersulit deteksi kanker payudara

Sejumlah penelitian menunjukan bahwa obesitas bisa menghambat deteksi kanker payudara saat pasien melakukan skrining (pemeriksaan). Namun, bukan berarti obesitas mengurangi keakuratan alat skrining atau program skriningnya.

Menurut penelitian terhadap keakuratan hasil mamografi wanita obesitas di Amerika Serikat (AS), wanita obesitas 20 persen lebih berisiko salah diagnosis ketika menjalani mamografi daripada wanita dengan berat badan normal. Karena itu, mencapai berat badan ideal penting untuk meningkatkan kinerja skrining mamografi.

Sebuah studi di Institut Karolinska yang melibatkan 2.012 wanita penderita kanker payudara pada tahun 2001-2008 menunjukan hasil yang serupa. Wanita obesitas ditemukan cenderung sudah terdeteksi dengan tumor yang ukurannya lebih besar daripada wanita yang indeks massa tubuhnya tergolong sehat.

Maka, bisa disimpulkan bahwa kebanyakan wanita obesitas terlambat periksa ke dokter sejak pertama kali kanker berkembang bila dibandingkan dengan wanita yang berat badannya normal. 

Hal ini diduga karena ukuran payudara wanita obesitas lebih besar sehingga lebih rumit untuk mendeteksi adanya tumor. Bisa juga karena tumor pada orang obesitas tumbuh pada tingkat yang sangat cepat.

Karena itu, tim peneliti dari Johns Hopkins University School of Medicine di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa sebenarnya uji klinis payudara saja tidak cukup untuk dijadikan patokan akurat mendeteksi kanker payudara. Ini karena tingginya jaringan lemak bisa membuat pertumbuhan sel kanker susah terdeteksi.

Wanita obesitas lebih jarang melakukan skrining kanker payudara

Wanita dengan obesitas, menurut penelitian yang melibatkan 11.345 wanita oleh The National Cencus Bureau dan penelitian yang melibatkan 5.134 wanita di Denmark, justru lebih jarang yang melakukan skrining daripada orang dengan berat badan normal.

Akibatnya, wanita dengan obesitas memiliki tingkat kematian lebih tinggi pada kasus kanker serviks dan kanker payudara. Wanita obesitas lebih sedikit kemungkinannya menjalani tes skrining saat berada pada tahap awal dan lebih mudah diobati dibandingkan orang dengan berat badan normal.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa wanita obesitas memiliki angka kematian lebih tinggi dan lebih jarang melakukan skrining pada kasus kanker payudara dalam penelitian ini.

Banyak faktor yang membuat wanita obesitas cenderung lebih jarang melakukan skrining. Misalnya karena kecemasan mengenai kondisi fisiknya, malu tentang berat badan, kurangnya akses skrining, kekhawatiran rasa sakit, dan ketidaknyamanan diri saat melakukan skrining.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020 . Waktu baca 5 menit

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Selain berbahaya untuk kesehatan fisik, dampak obesitas ternyata cukup berpengaruh bagi kesehatan mental anak. Apa saja masalah psikologis yang muncul?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Diabetes, Health Centers 09/05/2020 . Waktu baca 6 menit

7 Tips Merawat Pasien Kanker Payudara dalam Pengobatan

Merawat pasien kanker payudara membutuhkan kesabaran dan tanggung jawab yang begitu besar. Berikut tips yang bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kanker Payudara, Health Centers 18/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Seberapa Sering Wanita Perlu Melakukan Tes Mamografi?

Rutin melakukan tes mamografi dapat mendeteksi dini kanker payudara. Namun, kapan perlu memulai dan seberapa sering tes mamografi perlu dilakukan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker Payudara, Health Centers 07/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit
menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit

Hubungan Harmonis Pengaruhi Tingkat Stres Pasien Kanker Payudara

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/06/2020 . Waktu baca 5 menit
SADARI kanker payudara

Apakah Kamu Berisiko Terkena Kanker Payudara?

Ditulis oleh: Luthfiya Rizki
Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020 . Waktu baca 1 menit