8 Penyebab Sakit Punggung Setelah Makan, dari yang Umum Sampai Perlu Cek ke Dokter

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Sakit punggung bisa muncul kapan saja, bahkan di saat-saat yang tidak terduga seperti saat duduk, berjalan, dan berbaring. Beberapa orang mengeluhkan sakit punggung lebih sering terjadi setelah makan. Lantas, apa saja penyebab sakit punggung setelah makan? Cari tahu lewat ulasan berikut ini.

Apa penyebab sakit punggung setelah makan?

Sakit punggung setelah makan umumnya pertanda ada masalah di saluran pencernaan yang kemudian menyebar ke bagian punggung. Namun, kondisi ini juga bisa menunjukkan adanya masalah kesehatan serius yang harus diwaspadai.

Dari penyebab yang paling umum sampai yang perlu diperiksakan ke dokter, sakit punggung setelah makan dapat terjadi akibat:

1. Postur tubuh yang buruk

Berikut beberapa olahraga yang dapat dilakukan untuk memperbaiki postur tubuh yang bungkuk.

Ketika Anda mengeluhkan sakit punggung setelah makan, sudah coba untuk membenarkan postur duduk atau berdiri Anda? Orang yang makan sambil duduk membungkuk akan lebih mudah mengalami sakit punggung setelah makan.

Postur tubuh yang cenderung membungkuk dapat menyebabkan rasa sakit atau nyeri pada leher, pundak, dan punggung karena otot-otot bagian belakang harus bekerja lebih keras untuk menstabilkan tulang belakang yang bengkok ke depan.

Maka itu, segera perbaiki postur tubuh Anda baik saat duduk atau berdiri agar terhindar dari sakit punggung.

2. Asam lambung naik (heartburn)

sesak napas karena asam lambung naik

Sakit punggung setelah makan dapat terjadi karena gejala heartburn yang ditandai dengan sensasi perih dan panas di dada akibat asam lambung naik. Heartburn juga menyebabkan sensasi asam di mulut, sakit tenggorokan, batuk, dan mulas. Hal ini biasanya terjadi setelah Anda makan makanan pemicu asam lambung naik seperti alkohol, kafein, cokelat, makanan pedas, dan tomat.

Jika Anda mengalami gejala heartburn disertai sakit punggung setelah makan untuk lebih dari dua kali seminggu, segera konsultasikan ke dokter. Kenaikan asam lambung yang terjadi sering dan berkelanjutan dapat memicu refluks asam lambung (GERD) dan berkembang menjadi ulkus lambung.

3. Alergi dan intoleransi makanan

alergi makanan pada anak

Orang yang punya alergi makanan atau intoleransi makanan tertentu biasanya akan sakit perut setelah makan makanan pemicunya. Namun, efek masalah pencernaannya juga bisa menjalar sampai ke punggung.

Beberapa makanan yang rentan memicu peradangan dan sakit punggung di antaranya alkohol, produk susu, gluten, kacang-kacangan, dan gula.

4. Ulkus lambung atau kerongkongan

boleh minum susu

Ulkus atau ulcer adalah nama lain dari luka. Jika luka tersebut terjadi pada lambung, maka kondisi ini disebut dengan ulkus lambung. Begitu juga jika terjadi pada kerongkongan atau esofagus, maka kondisi ini disebut dengan ulkus esofagus.

Baik ulkus lambung maupun ulkus esofagus sama-sama dapat menyebabkan rasa sakit yang menyebar ke punggung. Gejalanya dapat berupa sering sendawa, perut kembung, sensasi terbakar di lambung, cepat kenyang setelah makan, mual, dan perut mulas.

Ulkus lambung biasanya disebabkan karena infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori). Selain itu, hal ini juga bisa terjadi jika Anda kebiasaan makan makanan pedas atau asam, atau mengonsumsi obat antinyeri NSAID (ibuprofennaproxen, dan aspirin) dalam jangka panjang.

5. Batu empedu

gejala batu empedu

Kebanyakan makan makanan berlemak dapat menyebabkan peradangan pada kantong empedu yang lambat laun memicu pembentukan batu empedu. Gejala khas penyakit batu empedu berupa mual dan nyeri perut bagian atas yang dapat menjalar ke tubuh bagian belakang atau punggung. Itu sebabnya, orang yang memiliki batu empedu biasanya mengalami sakit punggung setelah makan.

6. Infeksi ginjal

risiko penyakit ginjal

Ginjal terletak dekat punggung bagian bawah. Itu sebabnya ketika ginjal terinfeksi, salah satu gejala awal yang mungkin terjadi adalah nyeri punggung bawah.

Selain nyeri punggung, infeksi ginjal juga dapat menyebabkan:

  • Sakit perut.
  • Sensasi terbakar saat buang air kecil.
  • Kencing berdarah.
  • Badan panas dingin.
  • Demam.
  • Sering buang air kecil.
  • Mual dan muntah.

Gejala-gejala tersebut dapat terjadi sepanjang hari, tapi sebagian orang lebih sering mengalaminya setelah makan. Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

7. Pankreatitis

Pankreatitis Kronis adalah

Pankreatitis adalah peradangan pankreas yang sering terabaikan karena kebanyakan orang cenderung tidak merasakan gejala apa pun ketika pankreasnya bermasalah. Pankreatitis dapat mengakibatkan seseorang mengalami sakit punggung setelah makan, yang juga disertai demam, mual, dan muntah.

Sebuah studi tahun 2013 mengungkapkan bahwa 70 persen kasus pankreatitis disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol dalam jangka panjang.

8. Serangan jantung

penyebab serangan jantung

Tanpa disadari, sakit punggung setelah makan bisa menjadi tanda serangan jantung, terlebih jika disertai dengan gejala lainnya seperti:

  • Nyeri dada.
  • Sakit kepala ringan.
  • Mual.
  • Nyeri di bagian lengan, rahang, atau leher.
  • Keringat berlebihan.

Dilansir dari Medical News Today, American Heart Association mengungkapkan bahwa nyeri dada lebih umum tampak sebagai tanda serangan jantung pada pria sementara wanita lebih umum mengeluhkan sakit punggung bagian atas yang menekan sebelum mengalami serangan jantung. Wanita juga lebih mungkin mengalami pusing, sakit perut, dan sesak napas sebelum terkena serangan jantung daripada laki-laki.

Kapan saya harus ke dokter?

Sakit punggung setelah makan dapat diatasi dengan mengubah postur tubuh saat berdiri dan duduk, serta memperbaiki pola makan yang salah seperti mengurangi kebiasaan minum alkohol, makanan pedas, makanan tinggi gluten, serta kafein.

Bila nyeri punggung disebabkan karena otot yang menegang, dokter mungkin akan meresepkan obat antiradang berupa ibuprofen.

Jika gejala sakit punggung tak kunjung sembuh bahkan setelah diobati di rumah, dan ditambah dengan kemunculan gejala-gejala baru lainnya, segera konsultasikan ke dokter.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca