Obat Nyeri Tidak Mempan Mengatasi Rasa Sakit Anda, Kok Bisa?

Oleh

Untuk meredakan pusing  atau sakit gigi yang Anda rasakan, apakah Anda minum obat nyeri yang dijual di warung-warung, seperti paracetamol? Tapi pernahkah Anda sudah menjadi ‘langganan’ dari satu jenis obat nyeri dan suatu ketika obat itu tidak mempan lagi pada Anda? Gejala sakit dan nyeri yang Anda rasakan tidak kunjung hilang, padahal sudah minum obat tersebut dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini dimakan sebagai kebal terhadap obat nyeri dan nyeri. Namun bagaimana Anda bisa jadi kebal?

Kebal terhadap obat nyeri dan nyeri, apakah normal?

Menurut dr. Kirtly Jones, dokter ahli ginekologi dan obstretik dari University of Utah School of Medicine, kebal terhadap obat nyeri sangatlah wajar dan biasa terjadi dalam bidang medis. Apalagi pada orang yang mengalami nyeri kronis, maka peluang untuk terjadinya kekebalan terhadap obat nyeri lebih besar. 

Ada berbagai jenis obat nyeri yang sebenarnya bisa mengatasi rasa nyeri dan sakit Anda. Tentunya, setiap obat-obatan tersebut mempunyai cara kerja, efektivitas, serta efek samping yang berbeda.

Sebagian besar obat nyeri memiliki fungsi yang umum, yaitu mengatasi berbagai rasa nyeri dan sakit yang Anda rasakan, entah di mana nyeri itu berasal. Rasa nyeri yang Anda rasakan, sebenarnya muncul akibat adanya zat kimia – yang dihasilkan ketika Anda mengalami luka atau sakit – yang jumlahnya terlalu banyak di otak. Sehingga, otak langsung menghasilkan sinyal rasa nyeri dan sakit. Di sinilah peran obat nyeri, yaitu menghentikan produksi zat kimia tersebut, agar rasa nyeri hilang. 

Kemudian, bagaimana bisa seseorang tersebut kebal terhadap obat-obatan yang selalu menjadi andalannya tersebut dalam mengatasi rasa nyeri? Kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang mengalami toleransi terhadap obat nyeri tersebut. 

Apa yang menyebabkan toleransi tubuh pada obat, yang membuat obat nyeri tak mempan lagi?

Toleransi dalam hal ini diartikan sebagai penurunan respon terhadap obat karena pemakaian berulang atau dalam jangka waktu panjang. Sehingga untuk memperoleh efek yang sama, dosis obat harus dinaikkan.

Sederhananya, ketika Anda merasa sakit, lalu minum obat penghilang rasa sakit, beberapa saat kemudian rasa nyeri dan sakit hilang karena obat bekerja dengan baik. Namun di lain waktu, saat rasa sakit itu muncul lagi dan lagi, Anda minum obat yang sama lagi – karena menganggap obat jenis itu mampu mengatasi nyeri.

Tapi apa yang terjadi? Setelah penggunaan berulang, malah rasa sakit Anda tidak hilang walaupun sudah diberikan obat dengan jenis yang sama. Hal ini terjadi karena respon obat terhadap rasa sakit Anda sudah berkurang, jadi Anda harus menambahkan dosis untuk mendapatkan hasil yang sama.

Apakah saya akan kebal jika saya sering minum obat nyeri yang dijual bebas?

Kebanyakan kasus, toleransi ini terjadi pada orang-orang yang memiliki penyakit kronis, yang mengonsumsi obat nyeri dalam jangka waktu yang cukup lama serta berulang. Jika Anda mengonsumsi obat sesekali saja untuk menghilangkan rasa sakit kepala, kram perut, atau nyeri lainnya, maka Anda tidak perlu khawatir akan mengalami toleransi terhadap obat.

Namun, bukan berarti Anda tidak berisiko. Mungkin tanpa Anda sadari, Anda selalu minum obat saat nyeri – padahal rasa nyeri tersebut tidak terlalu parah atau bahkan hanya ‘perasaan’ Anda saja yang menyatakan seperti itu. Apabila kondisi ini terus menerus terjadi, maka obat warung yang Anda minum bisa jadi tidak dapat Anda andalkan lagi dan tidak menimbulkan efek apapun.

Oleh karena itu, jika sakit atau nyeri berlanjut dan tidak kunjung sembuh, lebih baik untuk memeriksakan diri ke dokter, agar Anda mendapatkan jenis obat yang tepat untuk mengobati nyeri dan sakit yang dirasakan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca