Yang Wajib Anda Ketahui Seputar Kanker Serviks

Oleh

Sepanjang tahun 2016, diperkirakan ada sekitar 13.000 kasus kanker serviks invasif yang ditemukan dan 4.000 wanita akan meninggal akibat kanker serviks di AS. Kanker serviks merupakan salah satu penyumbang utama angka kematian akibat kanker di populasi wanita AS.

Apa itu kanker serviks?

Seperti kebanyakan kanker, kanker serviks bermula ketika sel-sel di leher rahim mulai bertumbuh di luar kendali. Sel-sel baru berkembang dengan sangat cepat, menciptakan tumor di leher rahim.

Kanker serviks adalah salah satu kanker yang paling banyak diderita wanita dari seluruh dunia. Tes Pap rutin dapat membantu agar Anda dapat sedini mungkin mengetahui risiko Anda terhadap kanker. Kanker serviks seringkali dapat disembuhkan ketika ditemukan di tahap dini. Selain itu, ada metode untuk mengendalikan resiko kanker serviks, yang menjadi alasan jumlah kasus kanker serviks semakin berkurang.

Apa penyebab kanker serviks?

Hampir semua kasus kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus atau HPV. Virus ini seringkali ditularkan melalui hubungan seksual tanpa pengaman.

Ada lebih dari 100 jenis kanker serviks, tetapi kebanyakan tidaklah berbahaya. Bahkan, kebanyakan orang dewasa setidaknya pernah terkena HPV di suatu saat dalam hidup mereka. Beberapa jenis HPV dapat tidak menyebabkan gejala sama sekali, beberapa dapat menyebabkan kutil kelamin, dan lainnya dapat menyebabkan kanker serviks. Dua jenis virus HPV (HPV 16 dan HPV 18) diketahui bertanggung jawab terhadap 70% dari semua kasus kanker serviks secara global. Jenis infeksi HPV ini tidak menunjukkan adanya gejala, sehingga banyak wanita yang tidak menyadari bahwa mereka positif terinfeksi.

HPV dapat dengan mudah ditemukan dengan tes Pap. Itu sebabnya tes Pap juga sangat penting untuk mencegah kanker serviks. Tes Pap dapat menemukan perbedaan dalam sel-sel serviks sebelum berubah menjadi kanker. Jika perubahan sel ini disembuhkan, Anda dapat bertahan melawan kanker serviks.

Siapa saja yang berisiko terkena kanker serviks?

Meskipun kebanyakan orang terkena HPV, ada hal-hal yang dapat meningkatkan resiko kanker serviks, antara lain:

  • Infeksi human papillomavirus: Menjalani hubungan seksual tak aman dengan banyak pasangan dapat meningkatkan resiko terkena HPV 16 dan 18.
  • Merokok: Tembakau mengandung banyak bahan kimia yang dapat membahayakan tubuh. Wanita yang merokok dua kali lipat lebih beresiko terkena kanker serviks daripada wanita yang tidak merokok.
  • Imunosupresi: Obat atau kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti human immunodeficiency virus (HIV), virus yang menyebabkan AIDS, dapat meningkatkan resiko terkena infeksi HPV dan menyebabkan kanker serviks.
  • Klamidia: Beberapa studi menemukan bahwa risiko kanker serviks lebih tinggi pada wanita yang hasil tes darahnya menunjukkan bukti infeksi klamidia, baik yang terjadi di masa lalu maupun saat ini.
  • Diet rendah buah-buahan dan sayuran: Wanita yang dietnya tidak terdiri dari cukup buah-buahan dan sayuran diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker serviks.
  • Kelebihan berat badan: Wanita yang berat badannya berlebih kemungkinan untuk terkena adenokarsinoma serviks akan lebih tinggi
  • Penggunaan pil KB jangka panjang: Ada bukti bahwa penggunaan kontrasepsi oral berkelanjutan dalam waktu lama meningkatkan resiko kanker serviks.
  • Penggunaan intrauterine: Sebuah studi terbaru menemukan bahwa wanita yang belum pernah menggunakan perangkat intrauterine (IUD, perangkat kontrasepsi yang ditanamkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan) berisiko lebih rendah untuk terkena kanker serviks.
  • Menjalani beberapa kehamilan full-term: Wanita yang telah menjalani tiga kehamilan full-term atau lebih akan lebih beresiko terkena kanker serviks.
  • Berusia kurang dari 17 tahun di saat kehamilan pertama: Wanita yang berusia kurang dari 17 tahun ketika menjalani kehamilan full-term pertamanya memiliki 2 kali lipat peluang untuk terkena kanker serviks di kemudian hari.
  • Ekonomi rendah: Tingkat ekonomi rendah mencegah wanita untuk memiliki akses penuh ke pelayanan kesehatan yang memadai, termasuk tes Pap.
  • Dietilstilbestrol (DES): DES adalah obat hormon yang diberikan kepada beberapa wanita untuk mencegah keguguran. Ibu yang menggunakan obat ini selama masa kehamilan seringkali lebih beresiko untuk terkena kanker serviks. Putri dari ibu tersebut juga lebih beresiko tinggi.
  • Memiliki riwayat kanker serviks di keluarga: Kanker serviks dapat diturunkan di sebagian keluarga. Jika ibu atau saudara perempuan Anda memiliki kanker serviks, kemungkinan Anda untuk terkena penyakit tersebut 2 atau 3 kali lipat lebih besar daripada jika tidak ada yang memilikinya di keluarga.

Apa saja tanda dan gejala kanker serviks?

Pada tahap awal, wanita dengan kanker serviks dini dan pra-kanker tidak mengalami gejala. Kanker serviks tidak akan menunjukkan gejalanya sebelum tumor terbentuk. Pada saat itu, kanker dapat terdorong pada organ terdekat dan menyerang sel-sel sehat.

Gejala kanker serviks dapat meliputi:

  • Perdarahan vagina abnormal, seperti perdarahan di antara siklus menstruasi, haid yang lebih lama, pendarahan setelah atau selama berbuhungan seks, atau pendarahan setelah menopause, setelah BAB, atau setelah pemeriksaan panggul
  • Nyeri di perut bagian bawah atau panggul
  • Nyeri saat berhubungan seks
  • Keputihan yang tidak normal, seperti mengandung jejak darah

Ada kondisi lain, seperti infeksi, yang dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut. Namun, apapun penyebabnya, Anda tetap harus memeriksakan gejala Anda ke dokter. Mengacuhkannya hanya akan membuat gejala memburuk dan dengan demikian hilang kesempatan Anda untuk mengapatkan pengobatan yang efektif.

Bahkan lebih baik, jangan menunggu hingga gejala muncul. Cara terbaik untuk memastikan alat kelamin Anda dalam kondisi baik adalah dengan menjalani tes Pap dan pemeriksaan panggul secara teratur.

Apa saja komplikasi dari kanker serviks?

Kanker serviks seringkali menyebabkan beberapa komplikasi di bagian tubuh lainnya. Jika Anda terkena kanker serviks, Anda mungkin berisiko untuk terkena:

  • Gagal ginjal: Tumor kanker hati dapat menekan saluran kandung kemih — saluran yang membawa urin keluar tubuh dari ginjal. Penumpukan urin di ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal.
  • Penggumpalan darah: Tumor dapat menekan pembuluh darah ke kaki, memperlambat aliran darah dan menyebabkan penggumpalan darah di kaki.
  • Fistula: Kanker serviks dapat menumbuhkan fistula (lubang pada dinding usus) antara vagina dan rektum.

Bagaimana kanker serviks didiagnosis?

Dokter biasanya menggunakan tes Pap untuk mendiagnosis kanker serviks. Dokter dapat melakukan tes lain untuk mencari sel pra-kanker atau sel kanker pada serviks Anda jika tes Pap menunjukkan perubahan sel yang tidak berfungsi seperti biopsi.

Dokter dapat merujuk Anda ke dokter kandungan jika tes menunjukkan kelainan, atau jika ia menyadari adanya pertumbuhan di dalam leher rahim Anda atau jika Anda mengalami pendarahan abnormal.

Perlu diperhatikan bahwa perdarahan di-dan-dari vagina tidak selalu berarti kanker serviks. Klamidia adalah salah satu alasan paling umum mengapa wanita mengalami pendarahan vagina yang tidak lazim. Dokter dapat menganjurkan Anda untuk melakukan tes Chlamydia sebelum dirujuk.

Beberapa tes lain yang mungkin diperlukan untuk menkonfirmasi bahwa Anda terkena kanker serviks adalah:

  • Kolposkopi: Mikroskop kecil dengan sumber cahaya di ujung (colposcope) digunakan untuk memeriksa leher rahim Anda.
  • Biospi kerucut: Prosedur kecil ini dilakukan dalam analgesia. Satu bagian kecil berbentuk kerucut dari leher rahim Anda akan diangkat untuk diperiksa. Setelah itu, Anda mungkin akan mengalami pendarahan vagina sampai selama empat minggu setelah prosedur. Anda juga mungkin akan mengalami nyeri seperti haid.

Ketika dokter yakin bahwa Anda memiliki kanker serviks, hal berikutnya yang akan ia lakukan adalah memeriksa seberapa parah kanker tersebut. Tes ini dapat meliputi:

  • Memeriksa rahim, vagina, rektum, dan kandung kemih Anda untuk kanker. Prosedur ini dilakukan dalam analgesia.
  • Tes darah untuk memeriksa kondisi organ sekitar seperti tulang, darah, dan ginjal.
  • Computerized tomography (CT) scan, Magnetic resonance imaging (MRI) scan, x-ray dan Positive emission tomography (PET) scan disebut tes pencitraan. Tes pencitraan dirancang untuk mengidentifikasi tumor dan menentukan apakah sel-sel kanker telah menyebar.

Apa saja pengobatan untuk kanker serviks?

Pengobatan untuk kanker serviks bersifat kompleks. Oleh karena itu, rumah sakit akan membentuk sebuah tim profesional yang ahli dalam mengobati kanker serviks stadium awal serta kanker serviks stadium lanjut. Meskipun idealnya adalah mengobati kanker serviks pada stadium awal, biasanya penyakit ini tidak dapat segera didiagnosis.

Secara umum, ada tiga pilihan utama untuk pengobatan kanker serviks: operasi, radioterapi, dan kemoterapi.

Operasi

Pengobatan ini akan mengangkat setiap bagian yang terinfeksi oleh kanker. Anda bersama dengan tim medis harus bekerja sama untuk pengobatan terbaik.

  • Trakelektomi radikal: serviks, jaringan di sekitarnya dan bagian atas vagina diangkat, tetapi rahim dibiarkan utuh.
  • Histerektomi: serviks dan rahim diangkat, tergantung dari stadium kankernya, mungkin juga diperlukan untuk mengangkat ovarium dan tuba falopi. Anda tidak akan dapat memiliki anak jika Anda menjalani histerektomi.
  • Eksenterasi panggul: suatu operasi besar dimana serviks, vagina, rahim, kandung kemih, ovarium, tuba falopi dan rektum diangkat.

Radioterapi

Pada stadium awal kanker serviks, Anda akan diobati dengan radioterapi saja atau dengan dikombinasikan dengan operasi. Kemudian, ketika kanker mencapai stadium lanjut, dokter dapat menganjurkan radioterapi yang dikombinasikan dengan kemoterapi untuk mengurangi pendarahan dan nyeri bagi pasien.

Dalam pengobatan ini, tubuh Anda akan terpapar radiasi. Sumber radiasi bisa eksternal, dimana ada mesin yang memancarkan radiasi terhadap Anda, atau internal. Dalam metode internal ini, suatu implan akan ditanamkan di dalam tubuh Anda untuk memancarkan radiasi. Ada kasus dimana kedua metode akan dikombinasikan. Program radioterapi biasanya berlangsung selama lima sampai delapan minggu.

Kemoterapi

Kemoterapi dapat digunakan secara independen atau dalam kombinasi dengan radioterapi untuk mengobati kanker serviks. Dalam kanker stadium lanjut, metode ini seringkali digunakan untuk mencegah kanker berkembang. Anga harus membuat janji untuk mendapatkan dosis kemoterapi Anda melalui tetesan intravena.

Semua pengobatan kanker serviks dapat memberikan efek samping. Anda harus mendiskusikan pada dokter terlebih dahulu mengenai efek samping tersebut. Anda dapat memperkirakan terjadinya menopause awal, penyempitan vagina atau lymphedema setelah pengobatan.

Bagaimana cara mengatasi kanker serviks?

Mengidap kanker bisa menjadi tantangan yang sulit bagi Anda untuk menjalaninya sendirian. Berbagi dengan keluarga, teman, atau konselor mental profesional dapat sangat membantu dan lebih baik jika Anda menanyakan pada dokter mengenai kelompok dukungan.

Tes Pap adalah cara terbaik untuk menemukan perubahan sel serviks atau HPV dalam serviks Anda. Penting untuk menindaklanjuti dengan dokter Anda setelah mendapat hasil tes Pap yang abnormal sehingga Anda dapat mendapatkan pengobatan tepat waktu.

Jika Anda berusia kurang dari 26 tahun, Anda bisa mendapatkan vaksin HPV, yang akan memberikan perlindungan terhadap dua jenis HPV 16 dan HPV 18, dua jenis HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Hindari terinfeksi HPV dengan melakukan hubungan seks aman, seperti dengan menggunakan kondom dan membatasi pasangan seks Anda.

Mengetahui bawha Anda terkena kanker dapat mengubah hidup Anda. Anda mungkin merasa bawha dunia Anda telah hancur dan Anda telah kehilangan semua kendali. Meksipun begitu, kanker serviks dapat diobati. Jika Anda menyadari adanya tanda-tanda yang mungkin mengarah pada kanker serviks, segera konsultasikan pada dokter.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca