Saat ini salah satu pencegahan kanker serviks adalah dengan menggunakan vaksin HPV. Kebanyakan orang berpikir jika pemberian vaksinasi HPV hanya boleh dilakukan saat usia dewasa atau setelah menikah. Padahal, vaksinasi HPV harus dilakukan sedini mungkin.

Kenapa penting memberikan vaksin HPV pada anak?

Berbagi penelitian menyimpulkan bahwa vaksin HPV sangat efektif untuk mencegah infeksi HPV jika diberikan sebelum seseorang seseorang aktif secara seksual. Itu sebabnya, anak perempuan dan laki-laki disarankan mendapatkan vaksin ini mulai usia 9-13/14 tahun. Usia tersebut dianggap ideal karena respon kekebalan tubuh anak sedang berada dalam tahap terbaiknya. Hal inilah yang membuat tubuh mereka efektif mengembangkan sistem antibodi terhadap virus HPV yang mapan dalam jangka panjang.

Tidak hanya itu, pertimbangan pemberian vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks pada anak dilihat dari segi kepraktisan. Pasalnya, jika dilakukan pada anak-anak usia 9-13/14 tahun, vaksinasi HPV hanya diberikan 2 dosis dengan cara menyuntikkan cairan ke otot bahu. Dosis kedua diberikan setelah jangka waktu enam bulan hingga satu tahun kemudian. Setelah itu, anak pun akan terbebas dari ancaman kanker serviks dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh HPV.

Persiapan vaksin HPV pertama kali pada anak

Berikut ini ada beberapa hal yang harus Anda ketahui dan perhatikan sebelum mengajak anak melakukan vaksin HPV pertama kali:

1. Pastikan kondisi anak sehat

Hal pertama yang akan ditanyakan oleh dokter atau atau tenaga medis sebelum melakukan vaksin HPV adalah kondisi kesehatan anak. Apabila saat pemeriksaan kesehatan diketahui anak sedang dalam kondisi yang tidak fit, seperti mengalami demam, flu, batuk, pilek, atau diare, maka vaksinasi sebaiknya tidak dilakukan.

Pasalnya, vaksinasi tidak akan bekerja efektif apabila kondisi tubuh sedang tidak dalam keadaan prima. Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk memastikan kondisi anak dalam keadaan sehat sehari sebelum melakukan vaksinasi HPV.

2. Bicarakan seputar riwayat kesehatan anak

Selain memastikan anak dalam kondisi yang sehat, penting juga bagi Anda memberi tahu seputar riwayat kesehatan pada dokter secara terperinci dan detail. Jangan lupa, beri tahu dokter anak terkait riwayat alergi si kecil. Hal ini dilakukan supaya anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

3, Jangan langsung pulang

Setelah vaksinasi selesai dilakukan, ada baiknya Anda menunggu sekitar 30 menit di lokasi vaksinasi untuk melihat ada atau tidaknya reaksi setelah divaksinasi. Jadi, apabila anak memunculkan reaksi yang tidak diinginkan setelah divaksin, anak Anda bisa segera ditangani oleh tim medis.

4. Waspadai efek samping

Meskipun vaksin HPV sudah terjamin keamanannya, namun anak Anda mungkin saja mengalami efek samping setelah divaksin. Namun tenang, efek samping ini umumnya ringan dan hanya bersifat sementara.

Pada dasarnya efek samping vaksin HPV sama dengan jenis vaksin lainnya, yaitu nyeri, kemerahan dan/atau bengkak di tempat suntikan. Bagi beberapa orang mungkin juga akan mengalami demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri sendi atau otot, mual, muntah, atau sakit perut.

Reaksi alergi pada vaksin yang mengancam nyawa sangat jarang terjadi. Namun, jika ia muncul, reaksi itu biasanya berada dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah vaksinasi.

Bila anak Anda mengalami satu dari beberapa gejala yang sudah disebutkan di atas, sebaiknya ajak ia untuk beristirahat. Anda juga bisa memberikan parasetamol ataupun ibuprofen untuk meringankan demam dan nyeri si kecil.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca