Mitos tentang Kanker Serviks yang Terbukti Salah

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Setidaknya ada 40 000 perempuan Indonesia yang terinfeksi kanker serviks setiap tahunnya.  Setiap wanita memiliki risiko terkena kanker serviks sehingga pengetahuan mengenai kanker serviks menjadi landasan penting bagi kaum wanita. Sayangnya, informasi seputar kanker serviks sering diwarnai mitos dan anggapan yang salah. Apa saja mitos yang salah tentang kanker serviks, dan bagaimana fakta sebenarnya?

Mitos 1: Tidak pernah merasa sakit di vagina, maka saya aman dari kanker ini

Hal tersebut hanyalah mitos karena justru pada umumnya penderita kanker serviks tidak merasakan gejala apa pun. Oleh karena itu, skrining atau deteksi dini kanker serviks rutin diperlukan meski Anda tidak merasakan apa pun sekarang ini.

Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan dua cara, yakni pencegahan primer dengan melakukan vaksin HPV, dan pencegahan sekunder dengan melakukan skrining.

Untuk vaksin HPV, semakin dini dilakukan (saat berumur 13-26 tahun), akan lebih optimal hasilnya. Vaksin HPV akan merangsang pembentukan respons imun di dalam tubuh, sehingga menciptakan perlindungan terhadap kanker serviks.

Sementara itu, untuk skrining kanker serviks, menurut National Cancer Institute, terdapat dua cara, yaitu dengan pap tes (pap smear) dan tes HPV. Tujuan utamanya adalah untuk mendeteksi ada tidaknya perkembangan sel yang tidak normal, yang bisa mengarah ke kanker jika didiamkan.

Pap smear dapat mengidentifikasi perkembangan sel abnormal sebelum menjadi kanker. Sementara itu, tes HPV (human papilloma virus) digunakan untuk mencari ada atau tidaknya tipe virus human papilloma yang berisiko tinggi memicu pertumbuhan sel tidak normal di leher rahim.

Tes ini dapat mendeteksi infeksi HPV yang menyebabkan kelainan sel, bahkan sebelum kelainan sel bisa terlihat jelas.

Tes skrining lain yang juga mudah dilakukan adalah pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Teknik skrining ini sangat sederhana, dengan cara menyemprotkan sedikit asam asetat (asam cuka) pada permukaan mulut rahim.

Jika terdapat sel abnormal yang mungkin dapat berubah menjadi sel kanker, permukaan mulut rahin yang terkena asam asetat akan berubah warna menjadi keputih-putihan.

Dengan mengetahui secara dini, Anda dapat mengetahui kondisi kesehatan Anda lebih pasti, dan jika memang terdeteksi ada pertumbuhan sel abnormal, maka pengobatan akan lebih mudah dilakukan pada stadium awal atau bahkan saat masih masa pra-kanker.

Mitos 2: Jika orangtua kanker serviks, saya akan kena juga

Mitos lain tentang kanker serviks yang perlu Anda buang jauh-jauh adalah penyakit ini bersifat menurun. Memang, beberapa kanker yang sering terjadi pada wanita, seperti kanker payudara dan kanker ovarium, sifatnya diturunkan.

Namun, hal tersebut tidak berlaku pada kanker serviks karena penyakit ini dipicu oleh infeksi HPV.

Walaupun beberapa studi sudah mencoba untuk mencari hubungan antara genetik dan kasus kanker serviks, belum ditemukan hubungan kuat dan bukti konkret antara keduanya.

Itu sebabnya, cara terbaik melindungi dan mencegah anak Anda dari kanker serviks adalah dengan memastikan mereka mendapatkan vaksinasi HPV.

Mitos 3: Kanker ini selalu berakhir dengan kematian

Semakin dini skrining yang dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks, semakin tinggi juga angka harapan hidup. Itu sebabnya, anggapan yang mengatakan bahwa kanker serviks tidak bisa disembuhkan hanyalah mitos belaka.

Orang yang didiagnosis kanker serviks pada tahap awal memiliki angka harapan hidup hingga 92%.

Berlawanan dengan mitos yang beredar, skrining rutin akan membantu Anda memastikan kanker serviks terdeteksi pada tahap awal, sehingga dapat diobati.

Permasalahan yang paling sering terjadi adalah kebanyakan orang tidak melakukan skrining untuk mengetahui kondisinya sejak dini. Akibatnya, kanker serviks baru terdeteksi pada tahap lanjut yang sudah menyebar dan sulit untuk diobati.

Mitos 4: Kanker serviks tidak dapat dicegah

Mitos tersebut jelas salah karena nyatanya kanker serviks sangat mungkin untuk dicegah.

Perjalanan timbulnya kanker serviks biasanya memakan waktu bertahun-tahun, tidak tahu-tahu kena kanker. Bahkan, kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang bisa dicegah.

Kanker serviks dipicu oleh berbagai faktor, tapi penyebab utamanya adalah infeksi HPV.

Oleh karena itu, untuk menjauhi peluang terjadinya kanker serviks, perlu dilakukan tindak pencegahan terhadap infeksi HPV dengan cara mendapatkan vaksinasi HPV.

Beberapa hal sederhana juga dapat dilakukan untuk membantu mencegah kanker serviks, yaitu:

  •      Hindari merokok
  •      Hindari berganti-ganti pasangan dalam berhubungan intim
  •      Hindari melakukan hubungan seksual di usia terlalu dini
  •      Jaga sistem kekebalan tubuh dengan pola makan sehat dan olahraga teratur
  •      Menggunakan kondom saat berhubungan seks

Mitos 5: Perempuan yang pernah kena kanker serviks tidak bisa punya anak

Biasanya, mitos yang satu ini berkaitan dengan kemungkinan histerektomi alias pengangkatan rahim yang mungkin dijalani pasien kanker serviks.

Kenyataannya, pasien kanker serviks stadium awal, masih memiliki harapan untuk memiliki anak.

Pasien kanker serviks memang biasanya menjalani histerektomi (pengangkatan rahim), kemoterapi, dan terapi radiasi ke daerah panggul.

Namun jika memang masih di tahap awal, konsultasikanlah dengan dokter mengenai keinginan Anda untuk tetmemiliki anak sebelum melakukan perawatan kanker serviks.

Mitos kanker serviks mengenai tidak bisa punya anak tentu salah, karena faktanya terdapat beberapa pilihan pengobatan baru yang dapat menjaga kesuburan pasien. Dengan begitu, pasien pun tetap bisa menjadi orangtua.

Jika kanker serviks Anda masih pada tahap awal, Anda mungkin dapat menjalani trakelektomi radikal, biopsi kerucut (LLETZ). Dengan metode pengobatan ini, Anda masih bisa hamil setelahnya, tidak seperti mitos kanker serviks yang banyak dipercaya masyarakat.

Share now :

Direview tanggal: Februari 5, 2018 | Terakhir Diedit: Maret 23, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca