Macam-macam Tes Medis untuk Deteksi Kanker Serviks Sejak Dini

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Deteksi dini kanker serviks penting untuk dilakukan. Pasalnya, semakin dini ditemukan, peluang kesembuhan Anda pun akan semakin besar. Bahkan, bukan tidak mungkin Anda mampu mencegah kanker serviks berkembang ke tahap yang lebih berat. Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan untuk mencari tahu gejala atau kemungkinan adanya kanker serviks? 

Pentingnya pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker serviks

Selama ini, tingkat kematian akibat kanker serviks cukup tinggi. Hal ini karena banyak wanita yang tidak melakukan deteksi dini, sehingga baru tahu dirinya kena kanker serviks saat memasuki stadium lanjut, atau bahkan sudah menyebar.

Padahal, jika ditemukan lebih cepat, peluang keberhasilan perawatan untuk kanker serviks akan jauh lebih besar. Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk melakukan pemeriksaan rutin kanker serviks.

Cara deteksi dini kanker serviks

Ada 3 cara untuk melakukan mendeteks kanker serviks sejak dini, meliputi:

1. Pemeriksaan pap smear

tahap pemeriksaan pap smear

Deteksi dini kanker serviks dengan melakukan pemeriksaan pap smear umumnya direkomendasikan untuk wanita yang telah aktif berhubungan seksual, atau setidaknya berusia di atas 21 tahun. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya pertumbuhan sel abnormal di dalam rahim dan leher rahim (serviks). 

Pemeriksaan kanker serviks dengan pap smear dilakukan dengan menggunakan sebuah alat khusus yang dimasukkan ke dalam vagina, bernama spekulum.

Spekulum akan dimasukkan dokter ke dalam vagina, sehingga dapat membantu untuk melebarkan serta memberi jalan agar memudahkan proses pap smear. Selanjutnya, sebuah alat khusus seperti spatula, sikat, dan gabungan dari spatula dan sikat (cytobrush) digunakan untuk mengambil sampel sel dalam leher rahim.

Sampel sel tersebut kemudian dikumpulkan, dan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil dari tes inilah yang nantinya dapat menunjukkan apakah terdapat perubahan sel maupun tanda-tanda ketika tubuh Anda sudah mulai, atau akan mengembangkan sel kanker di dalam serviks.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pap smear, dokter dapat segera menyarankan dan melakukan perawatan untuk kanker serviks jika memang ada. Sel kanker atau pra-kanker pun bisa dicegah untuk bertumbuh lebih parah.

Itu sebabnya, metode ini juga sekaligus menjadi salah satu cara untuk mencegah kanker serviks.

Anda bisa melakukan pap smear secara rutin. Tes ini dapat diulang setiap 3 tahun sekali, khususnya bagi wanita di rentang usia 21-65 tahun.

Sementara itu, untuk wanita berusia 30 tahun atau lebih, Anda boleh melakukan tes pap smear setiap 5 tahun sekali jika dikombinasikan bersama dengan deteksi dini untuk kanker serviks lainnya, yaitu pemeriksaan HPV.

2. Pemeriksaan HPV

vaksin kanker serviks

Sesuai namanya, pemeriksaan HPV adalah suatu uji yang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi virus HPV. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil dan mengumpulkan sel-sel dari dalam leher rahim atau serviks.

Seperti yang telah disebutkan, Anda bisa melakukan tes ini bersamaan dengan pap smear sebagai salah satu upaya untuk mencegah kanker serviks.

Biasanya, dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan HPV hasil tes pap smear Anda abnormal. 

Dalam hal ini, pemeriksaan HPV dilakukan untuk memastikan keberadaan sel kanker pada serviks. Wanita yang sudah menginjak usia 30 tahun atau lebih juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ini setiap 5 tahun.

Penting untuk dipahami, bahwa tes HPV memang merupakan salah satu cara deteksi dini kanker serviks. Hanya saja, pemeriksaan ini sebenarnya tidak terang-terangan menjelaskan kalau Anda memiliki kanker serviks.

Pemeriksaan HPV justru menunjukkan adanya perkembangan virus HPV di dalam tubuh, yang bisa berisiko menjadi penyebab kanker serviks.

3. Pemeriksaan IVA

pap smear dan tes iva deteksi kanker serviks

Tes IVA juga menjadi salah satu cara deteksi dini kanker serviks yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk memeriksa kondisi leher rahim. IVA merupakan kependekan dari inspeksi visual dengan asam asetat.

Jika dibandingkan dengan pap smear, tes IVA cenderung lebih murah karena pemeriksaan dan hasil diolah langsung, tanpa harus menunggu hasil laboratorium.

Pemeriksaan IVA dilakukan dengan menggunakan asam asetat atau asam cuka dengan kadar 3-5 persen, yang kemudian diusapkan pada leher rahim.

Hasilnya juga akan langsung ketahuan apakah Anda dicurigai memiliki kanker serviks atau tidak. Meskipun terdengar agak menyeramkan, sebenarnya pemeriksaan untuk deteksi dini kanker serviks ini tidak menyakitkan dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit.

Saat jaringan leher rahim memiliki sel kanker, akan terlihat seperti luka, berubah menjadi putih, atau bahkan mengeluarkan darah ketika diberikan asam asetat. Sementara jaringan leher rahim yang normal, tidak akan menunjukkan perubahan apa pun.

Pemeriksaan ini dianggap sebagai deteksi awal yang ampuh dan murah mendeteksi penyakit tersebut. Selain itu, tes IVA juga dapat dilakukan kapan pun.

Pemeriksaan lanjutan setelah deteksi dini kanker serviks

dideteksi lewat pap smear

Deteksi dini memang merupakan langkah yang paling awal untuk mencari tahu kemungkinan adanya kanker serviks. Ketika hasilnya mungkin mengarah ke kanker serviks, dokter mungkin akan melanjutkan dengan tes lain untuk memastikannya.

Dengan kata lain, pemeriksaan lanjutan ini berguna sebagai tes pendamping untuk beragam cara deteksi dini kanker serviks di atas.

Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan lanjutan setelah Anda melakukan deteksi dini kanker serviks.

1. Kolposkopi

Kolposkopi adalah salah satu tes lanjutan yang biasanya dilakukan untuk meyakinkan adanya perkembangan sel-sel kanker serviks di dalam tubuh. Tes ini biasanya dilakukan setelah Anda melakukan deteksi dini untuk kanker serviks.

Proses pemeriksaan kolposkopi tidak jauh berbeda dengan pap smear. Anda akan diminta untuk berbaring dengan posisi kedua kaki terbuka lebar (mengangkang).

Dokter kemudian memasukkan alat bernama spekulum ke dalam vagina untuk membantu membuka dan melebarkan jalan agar bisa melihat leher rahim dengan mudah.

Selanjutnya, alat kolposkop digunakan untuk memeriksa kondisi serviks. Alat ini tidak akan dimasukkan ke dalam vagina, tapi tetap berada di luar tubuh.

Kolposkop dilengkapi dengan lensa pembesar, sehingga memungkinan dokter untuk melihat permukaan leher rahim (serviks) dengan jelas. Larutan asam asetat lemah, mirip cuka, akan dioleskan dokter ke dalam area serviks Anda.

Hal ini bertujuan agar timbul perubahan pada area abnormal di dalam serviks. Jadi, kemungkinan adanya perkembangan sel kanker serviks bisa lebih mudah terdeteksi. Jaringan yang dirasa abnormal tersebut nantinya diambil dan diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Pap smear saat haid tidak direkomendasikan, begitu juga dengan kolposkopi. Hanya saja, kolposkop terbilang aman dan tidak masalah untuk dilakukan selama masa kehamilan.

Biopsi serviks

Pemeriksaan lanjutan berikutnya adalah biopsi serviks. Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk memastikan keberadaan sel-sel kanker di dalam serviks.

Prosedur biopsi serviks dapat dilakukan dengan 3 cara, yakni biopsi kolposkopi, biopsi cone, dan kuretase endoserviks (pengikisan endoserviks). Biasanya, bBiopsi tidak membutuhkan waktu lama. Terdapat dua cara untuk melakukan biopsi, yakni eksisi dan insisi.

Biopsi eksisi merupakan prosedur untuk mengambil benjolan yang tumbuh di dalam tubuh. Sementara biopsi insisi, lebih ditujukan untuk mengambil sampel jaringan yang berpotensi berkembang sebagai suatu penyakit.

Dalam hal ini, biopsi yang digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan dari deteksi dini kanker serviks adalah biopsi insisi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan prakanker serviks dan kanker serviks.

Share now :

Direview tanggal: Desember 19, 2017 | Terakhir Diedit: Februari 18, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca