Kupas Tuntas 9 Mitos Soal Kanker Paru yang Tidak Benar

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Kanker paru adalah salah satu penyakit yang paling mematikan di Indonesia. Akan tetapi, seluk-beluk penyakit ini belum begitu dipahami oleh banyak orang. Misalnya apa penyebabnya dan bagaimana cara menghindari penyakit ini. Oleh karena itu, berikut adalah kumpulan mitos yang banyak dipercaya masyarakat seputar kanker paru beserta fakta-faktanya.

Mitos 1: Sudah terlambat jika Anda merokok selama bertahun-tahun

Fakta: Berhenti merokok memiliki efek baik yang cepat terhadap tubuh Anda. Peredaran darah Anda akan membaik dan paru Anda akan bekerja lebih baik. Risiko kanker akan mulai turun seiring berjalannya waktu.

Dalam waktu 10 tahun setelah Anda berhenti merokok, kemungkinan Anda terkena penyakit kanker paru akan berkurang hingga separuh dari risiko Anda sekarang.

Mitos 2: Rokok rendah tar lebih aman dari rokok biasa

Fakta: Rokok rendah tar dan rokok biasa sama-sama berisiko menyebabkan kanker paru. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rokok menthol (yang biasanya rendah tar) mungkin lebih berbahaya dan bikin Anda lebih sulit untuk berhenti merokok. Sensasi dingin dari rokok menthol mendorong sebagian orang untuk menarik napas lebih dalam sehingga efeknya justru lebih berbahaya.

Mitos 3: Suplemen antioksidan melindungi Anda dari kanker paru

Fakta: Tak disangka-sangka, peneliti menemukan risiko kanker yang lebih tinggi di kalangan perokok yang mengonsumsi suplemen antioksidan, seperti beta-karoten. Bicarakan dengan dokter Anda terlebih dahulu jika Anda merokok dan ingin mengonsumsi suplemen antioksidan.

Akan tetapi, antioksidan alami yang bisa Anda temukan dari bahan pangan asli seperti sayur dan buah-buahan terbukti mampu mencegah kerusakan sel karena Anda merokok. Meski begitu, kerusakan sel bakal tetap terjadi selama Anda belum berhenti merokok.

Mitos 4: Pipa dan cerutu lebih sehat daripada rokok

Fakta: Pipa dan cerutu sama seperti rokok. Kedua hal tersebut akan membuat Anda berisiko terkena kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker esofagus, dan kanker paru. Merokok dengan cerutu justru lebih berisiko menyebabkan penyakit jantung dan paru.

Mitos 5: Merokok adalah satu-satunya risiko yang menyebabkan kanker paru

Fakta: Merokok merupakan faktor risiko yang terbesar, tapi masih ada faktor lain. Penyebab kanker paru nomor dua adalah gas radioaktif tidak berbau yang disebut radon. Gas ini berasal dari batu dan tanah, bisa meresap ke dalam rumah dan bangunan lain.

Anda dapat menguji rumah atau kantor Anda apakah mengandung gas radon tersebut atau tidak dengan menghubungi departemen kesehatan.

Mitos 6: Bedak tabur merupakan penyebab kanker paru

Fakta: Penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang jelas antara kanker paru dengan menghirup bedak tabur. Orang yang bekerja dengan bahan kimia lain, seperti asbes dan vinil klorida lebih berisiko terkena penyakit ini.

Mitos 7: Jika sudah kena kanker, sia-sia saja berhenti merokok

Fakta: Jika Anda berhenti merokok, perawatan untuk kanker bisa bekerja lebih baik dan efek samping obat jadi lebih ringan. Bila Anda butuh pembedahan (operasi), mantan perokok lebih cepat sembuh dibandingkan dengan perokok.

Selain itu, jika Anda membutuhkan terapi radiasi untuk kanker laring, Anda cenderung tidak mengalami suara serak setelah berhenti merokok. Dalam beberapa kasus, berhenti merokok juga dapat mencegah kanker berkembang semakin parah.

Mitos 8: Berolahraga tidak memengaruhi risiko terhadap kanker paru

Fakta: Dari sejumlah hasil penelitian, orang yang melakukan olahraga fisik secara teratur cenderung tidak terkena kanker paru. Olahraga juga membantu kerja paru Anda lebih baik dan membantu mencegah penyakit jantung, stroke, dan penyakit lainnya.

Mitos 9: Polusi udara bukan penyebab kanker paru

Fakta: Sejauh ini tembakau merupakan penyebab yang terbanyak. Namun, polusi udara juga menjadi faktor risiko. Orang yang tinggal di daerah dengan banyak penyakit lebih mungkin terkena kanker dibandingkan mereka yang tinggal di tempat yang bersih.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 28, 2017 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca