Mengenal Hepatoblastoma, Kanker Hati pada Anak

Oleh

Hepatoblastoma adalah tumor kanker yang sangat langka yang dimulai di hati. Hati adalah salah satu organ terbesar dalam tubuh. Fungsi utama hati adalah tempat penyaringan dan penyimpanan darah. Hati terdiri dari lobus kanan dan kiri.

Hepatoblastoma umumnya menyerang anak-anak, dari bayi hingga usia 3 tahun. Sel kanker hepatoblastoma dapat menyebar (metastasis) ke area tubuh lain, walaupun hal ini jarang terjadi.

Apa yang menyebabkan hepatoblastoma?

Meskipun penyebab pasti dari kanker hati tidak diketahui, ada sejumlah kondisi genetik yang berkaitan dengan peningkatan risiko hepatoblastoma, termasuk sindrom Beckwith-Wiedemann, penyakit Wilson, porphyria cutanea tarda, dan familial adenomatous polyposis. Kondisi genetik lain yang terkait dengan kanker hati termasuk beberapa gangguan metabolisme bawaan seperti tyrosinemia, glycogen storage diseases, dan alpha1-antitrypsin deficiency.

Anak-anak yang terkena infeksi hepatitis B atau C pada usia dini, atau mereka yang memiliki atresia bilier, juga memiliki peningkatan risiko karsinoma hepatoseluler. Beberapa hepatoblastoma memiliki perubahan genetik dalam gen supresor tumor sebagai pemicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali.

Apa saja gejala hepatoblastoma?

Berikut ini adalah gejala yang paling umum dari hepatoblastoma. Namun, setiap anak mungkin mengalami gejala yang berbeda. Gejala dapat bervariasi, tergantung pada ukuran, keberadaan dan lokasi metastasis tumor. Gejala tersebut,di antaranya:

  • Perut bengkak
  • Berat badan dan nafsu makan menurun
  • Pubertas dini pada anak laki-laki
  • Sakit perut
  • Mual dan muntah
  • Penyakit kuning (menguningnya mata dan kulit)
  • Demam
  • Kulit Gatal
  • Vena di perut membesar dan dapat dilihat melalui kulit

Gejala hepatoblastoma mungkin menyerupai kondisi atau masalah medis lain. Pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter anak untuk diagnosis akurat.

Bagaimana cara mendiagnosis hepatoblastoma?

Selain riwayat medis lengkap dan pemeriksaan fisik, prosedur diagnostik untuk hepatoblastoma termasuk:

  • Biopsi – sampel jaringan dari tumor diambil dan diperiksa di bawah mikroskop.
  • Complete blood count (CBC) – pengukuran jumlah, ukuran, dan kematangan sel-sel darah yang berbeda dalam volume darah tertentu.
  • Tes darah tambahan – mungkin termasuk blood chemistries, blood-clotting tests, evaluasi fungsi hati dan ginjal, dan studi genetik.
  • Computed tomography scan (juga disebut CT atau CAT scan) – prosedur pencitraan diagnostik yang menggunakan kombinasi sinar-x dan teknologi komputer untuk menghasilkan gambar tubuh horisontal, atau aksial. CT scan menunjukkan gambar rinci dari setiap bagian tubuh, termasuk tulang, otot, lemak, dan organ. Hasil CT scan lebih rinci dari rontgen pada umumnya.
  • Magnetic resonance imaging (MRI) – prosedur diagnostik yang menggunakan kombinasi magnet besar, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar rinci dari organ dan struktur dalam tubuh.
  • X-ray atau rontgen – tes diagnostik, yang menggunakan sinar energi elektromagnetik tak kasat mata untuk menghasilkan gambar dari jaringan internal tulang dan organ.
  • USG (juga disebut sonografi) – teknik pencitraan diagnostik yang menggunakan komputer dan gelombang suara frekuensi tinggi untuk membuat gambar pembuluh darah, jaringan, dan organ. Ultrasound digunakan untuk melihat fungsi organ-organ internal dan untuk mengamati aliran darah melalui berbagai pembuluh.
  • Tes Alpha-fetoprotein (AFP) – Tingkat alpha-fetoprotein (AFP) dalam darah dapat digunakan untuk mendiagnosa dan memantau respon terhadap pengobatan.

Berbagai stadium hepatoblastoma

Staging atau stadium merupakan proses penentuan seberapa jauh kanker telah menyebar. Ada berbagai gejala stadium yang digunakan untuk hepatoblastoma. Pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter anak untuk informasi seputar stadium kanker. Salah satu metode stadium hepatoblastoma meliputi tahapan berikut:

  • Stadium I – biasanya tumor hanya terdapat dalam hati dan dapat diangkat total melalui operasi.
  • Stadium II – biasanya tumor dapat diangkat melalui operasi, namun sejumlah kecil dari kanker masih tersisa di hati.
  • Stadium III – biasanya tumor benar-benar diangkat atau sel kanker ditemukan pada kelenjar getah bening terdekat.
  • Stadium IV – kanker telah menyebar (metastasis) ke bagian tubuh lain.
  • Kekambuhan – penyakit kambuh kembali setelah telah diobati. Penyakit ini mungkin kembali menyerang hati atau di bagian tubuh lain.

Bagaimana cara mengobati hepatoblastoma?

Pengobatan untuk hepatoblastoma tergantung pada beberapa faktor berikut:

  • Usia anak Anda, kondisi kesehatan, dan catatan medis
  • Tingkat keparahan penyakit
  • Toleransi anak terhadap obat, prosedur, dan terapi tertentu
  • Ekspektasi perkembangan penyakit
  • Pendapat atau preferensi Anda

Pengobatan hepatoblastoma umumnya ditujukan untuk resecting (menghapus) tumor sebanyak mungkin dengan tetap menjaga kinerja fungsi hati. Jaringan hati dapat meregenerasi ketika diangkat.

Pengobatan lain (baik sendiri atau kombinasi) di antaranya:

  • Operasi (untuk mengangkat tumor dan sebagian atau seluruh hati)
  • Kemoterapi
  • Transplantasi hati
  • Terapi radiasi
  • Percutaneous ethanol injection – penyuntikkan alkohol (ethanol) melalui jarum kecil, tepat di bagian tumor untuk membunuh sel-sel kanker
  • Waspada dan sabar – jangan memulai pengobatan hingga gejala muncul atau berubah

Prospek jangka panjang dan angka harapan hidup bagi anak-anak pengidap hepatoblastoma sangat tergantung pada:

  • Luasnya penyakit
  • Ukuran dan lokasi tumor
  • Ada atau tidaknya metastasis
  • Reaksi tumor terhadap terapi
  • Usia dan kondisi kesehatan anak Anda
  • Toleransi anak terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 5, 2016 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca