Komplikasi yang Mungkin Terjadi Pada Anak Setelah Transplantasi Hati

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12/03/2020
Bagikan sekarang

Dalam semua jenis operasi, selalu ada risiko komplikasi. Begitu pula pada transplantasi hati. Kemungkinan komplikasi tinggi pada 3-6 bulan pertama. Komplikasi utama dari transplantasi hati adalah infeksi, penolakan hati baru, efek samping dari obat penekan kekebalan dan komplikasi lain yang berkaitan dengan operasi. Untungnya, komplikasi ini dapat dicegah dengan kebersihan yang baik, mempertahankan gaya hidup sehat dan menggunakan obat imunosupresan seperti yang diperintahkan oleh dokter. Berikut ini penjelasan lebih rinci dari setiap komplikasi:

Infeksi

Anak Anda lebih berisiko terkena infeksi setelah transplantasi hati. Sistem kekebalan tubuh lemah dan lebih rentan terserang oleh patogen yang dapat menginfeksi. Telah terbukti bahwa pasien transplantasi hati lebih berisiko terkena infeksi virus lebih dari infeksi lainnya. Infeksi virus ini termasuk influenza, cacar air, gondok, cytomegalovirus (CMV) dan virus Epstein-Barr (EBV). Dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi flu tahunan untuk mencegah flu. Pastikan anak Anda tak tertinggal mengikuti vaksinasi yang dianjurkan lainnya.

Infeksi bakteri juga mungkin terjadi. Terutama pada bagian dimana obat atau cairan lainnya diberikan selama transplantasi dapat menyebabkan infeksi ini. Ini disebut infeksi line. Infeksi bakteri lainnya adalah dari luka. Beri tahu dokter Anda jika luka anak Anda tidak sembuh dengan baik atau memiliki tanda-tanda atau gejala berikut:

  • Pembengkakan
  • Ngilu
  • Keluar cairan atau drainase di lokasi yang terinfeksi
  • Lelah dan lemas
  • Demam
  • Ruam
  • Atau nyeri di sekitar luka.

Dalam kasus yang jarang terjadi, anak Anda dapat mengembangkan infeksi jamur. Beberapa infeksi jamur umum termasuk sariawan atau infeksi jamur mulut (candida) dan pneumonia jiroveci (PCP). Infeksi ini bisa serius tapi bisa diobati. Beri tahu dokter jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda infeksi.

Penolakan hati baru

Pada jenis transplantasi apapun, terdapat risiko penolakan. Ini berarti bahwa tubuh anak Anda mungkin tidak merespon dengan baik terhadap hati yang baru. Sistem kekebalan tubuh anak Anda mungkin merasa terancam oleh hati yang baru dan mulai mengaktifkan respon imun terhadap sel-sel hati baru. Inilah sebabnya mengapa dokter meresepkan obat imunosupresan. Ada dua jenis penolakan.

Penolakan akut

Penolakan akut dapat terjadi beberapa kali pada beberapa bulan pertama. Sekitar 50% anak-anak akan memiliki setidaknya satu episode dengan risiko tertinggi selama 4-6 minggu pertama. Biasanya hati akan pulih dari kerusakan, selama anak Anda terus menggunakan obat penekan sistem kekebalan. Biasanya tanda pertama adalah peningkatan tes hati. Tanda-tanda dan gejala lain mungkin termasuk:

  • Nafsu makan yang buruk
  • Gejala seperti flu
  • Kulit dan mata menguning
  • Feses berwarna pucat
  • Urin berwarna gelap
  • Pembengkakan pada perut
  • Demam
  • Ngilu atau nyeri di perut.

Biasanya dokter akan mendiagnosa penolakan dengan melakukan biopsi hati, yang menguji sampel dari sel-sel hati. Jangan menunggu sampai pertemuan dokter berikutnya untuk memberitahu dokter tentang gejala-gejala baru anak Anda. Sekitar 90% dari episode penolakan dapat diobati secara efektif dengan peningkatan dosis obat.

Penolakan kronis

Penolakan kronis jarang terjadi. Sekitar kurang dari 2-3% dari transplantasi hati pada anak-anak berakhir dengan penolakan kronis. Penolakan kronis biasanya tidak dapat mundur.

Efek samping dari obat imunosupresan

Pastikan anak Anda menggunakan obat imunosupresan sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Obat imunosupresan bekerja dengan menekan sistem kekebalan tubuh anak Anda untuk mengurangi risiko penolakan hati. Anak Anda akan mengambil kombinasi obat. Selain obat imunosupresan, anak Anda mungkin juga harus menggunakan steroid seperti prednisone. Obat imunosupresan mungkin termasuk tacrolimus (Prograf®) atau mycophenolate (Cellcept®). Kekurangannya adalah terdapat banyak efek samping.

Risiko tinggi infeksi

Ketika sistem kekebalan tubuh ditekan, sulit untuk melawan patogen lain yang ditemukan di lingkungan anak Anda. Inilah sebabnya mengapa penting untuk mengurangi risiko infeksi. Anda harus memastikan anak Anda mencuci tangan sebelum makan makanan apapun dan setelah menggunakan toilet. Juga coba untuk menghindari daerah-daerah ramai dan orang-orang yang batuk atau pilek. Dokter Anda akan memberikan dosis yang tepat bagi anak Anda untuk menyeimbangkan antara pencegahan terhadap penolakan dan risiko infeksi.

Diabetes

Efek samping dari obat imunosupresan adalah peningkatan kadar gula darah. Anda harus memeriksa gula darah anak Anda secara teratur. Jika diperlukan, dokter mungkin akan menyesuaikan obat jika gula darah terlalu tinggi. Juga cobalah untuk mengatur pola makan anak Anda. Makanan dengan kadar gula tinggi juga akan menambah risiko terkena diabetes.

Tekanan darah tinggi

Anak Anda juga memiliki risiko terkena tekanan darah tinggi. Ini adalah efek samping yang umum dari obat seperti prednisone, tacrolimus dan sirolimus. Monitor tekanan darah anak Anda secara teratur. Jika Anda tidak memiliki mesin tekanan darah di rumah, Anda dapat mengunjungi apotek terdekat atau klinik dokter. Memastikan anak Anda melakukan olahraga teratur juga akan membantu anak Anda untuk mempertahankan tekanan darah yang sehat. Bicarakan dengan dokter Anda jika Anda memiliki kekhawatiran apapun.

Komplikasi yang berhubungan dengan operasi

Tepat setelah operasi, anak Anda memiliki risiko komplikasi tertinggi yang berkaitan dengan operasi. Komplikasi ini mungkin termasuk:

  • Penyumbatan pembuluh darah: Ini biasanya didiagnosis dengan melakukan USG Doppler pada hati dan angiogram. Setiap jenis penyumbatan pembuluh darah akan menyebabkan kehilangan aliran darah dan rendahnya tingkat oksigen, menyebabkan jaringan parut dan infeksi. Jika ini terjadi, anak Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk membuka penyumbatan pembuluh darah. Dua jenis penyumbatan berada di arteri hati (trombosis arteri hepatik) dan vena portal (portal vein thrombosis).
  • Perdarahan: Perdarahan dapat terjadi selama transplantasi dan bahkan setelah operasi. Kebanyakan pembekuan dibuat di hati. Jika hati tidak berfungsi, anak Anda mungkin tidak dapat untuk menghentikan perdarahan. Hal ini dapat terjadi pada 12 jam pertama dari transplantasi.
  • Primer non-fungsi: Ini menandakan bahwa hati tidak bekerja dengan baik dari awal. Ini terjadi pada sekitar 1% pada pasien transplantasi. Jika hati tidak merespon atau berfungsi cukup cepat, dokter Anda harus mencari donor lain untuk hati yang sehat.
  • Penyumbatan bilier: Ini terjadi ketika saluran-saluran empedu menyempit atau tersumbat. Hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi pada saluran empedu. Biasanya berhubungan dengan pembengkakan di perut, demam atau nyeri di sekitar hati. Untuk membantu dokter mengobati anak Anda sedini mungkin, Anda harus melaporkan tanda-tanda ini ketika terjadi.

Transplantasi hati diperlukan bagi anak Anda agar dapat hidup sehat lebih lama. Untuk memastikan anak Anda tidak mengalami komplikasi apapun, Anda dapat memantau tanda-tanda peringatan dan pastikan ia menggunakan obat seperti yang diperintahkan oleh dokter.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

    Sumber

    Pediatric liver disease: Life after transplant. https://www.starship.org.nz/media/181948/parentsguidebookfinal_suitable_for_email.pdf. Accessed 15/08/2015.

    Complications of liver transplant. http://www.nhs.uk/Conditions/Liver-transplant/Pages/Complications.aspx. Accessed 29/04/2016.

    After the pediatric liver transplant. http://www.choa.org/Childrens-Hospital-Services/Transplant/Liver-Transplant/Transplant-Process/After-Liver-Transplant. Accessed 29/04/2016.

    Yang juga perlu Anda baca

    5 Kiat Menjaga Hati Tetap Sehat Bagi Pengidap Hepatitis C

    Bagi pengidap hepatitis C, kesehatan hati adalah kunci untuk hidup sehat. Namun, bagaimana cara menjaga kesehatan hati? Cari tahu di sini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji

    Hati-hati! Kebiasaan Begadang Bisa Merusak Fungsi Hati

    Ketimbang menuai manfaat, justru ada banyak kerugian yang didapat akibat sering begadang. Salah satunya adalah risiko penyakit hati (liver). Kok, bisa?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

    Kenali Gejala dan Tanda Sirosis, Radang Hati Kronis yang Berbahaya

    Di awal, sirosis tidak terlalu menunjukkan tanda serangannya. Setelah lama berkembang, barulah muncul berbagai gejala sirosis hati yang harus diwaspadai.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

    Benarkah Penyakit Hati Bisa Menyebabkan Kulit Gatal?

    Gejala penyakit hati biasanya ditandai dengan kulit yang menguning. Selain itu, ternyata Anda juga bisa merasakan gatal-gatal pada kulit. Kenapa, ya?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

    Direkomendasikan untuk Anda

    Diabetes Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Hati, Ini Tips Mencegahnya

    Diabetes Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Hati, Ini Tips Mencegahnya

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 16/05/2020
    Makanan Sehat yang Dianjurkan untuk Pasien Hepatitis

    Makanan Sehat yang Dianjurkan untuk Pasien Hepatitis

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Dipublikasikan tanggal: 18/02/2020
    4 Obat Herbal yang Efek Sampingnya Meningkatkan Risiko Penyakit Hati

    4 Obat Herbal yang Efek Sampingnya Meningkatkan Risiko Penyakit Hati

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 11/10/2019
    Setelah Didiagnosis Mengalami Gagal Hati, Apa Pengobatan yang Harus Dilakukan?

    Setelah Didiagnosis Mengalami Gagal Hati, Apa Pengobatan yang Harus Dilakukan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 11/06/2019