Apa yang Terjadi Ketika Kita Terkena AIDS?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Penyakit ini adalah kelanjutan dari infeksi HIV. Sejak pertama kali ditemukan di Bali tahun 1987, jumlah total kasus HIV yang terdata di Kemenkes sampai dengan Maret 2017 adalah 242.699 sementara total kasus AIDS adalah 87.453 orang. Yuk, pelajari lebih lanjut tentang penyakit ini agar Anda tahu cara mencegah dan mengobatinya yang tepat.

AIDS adalah kelanjutan dari infeksi HIV

Anda bisa terkena AIDS apabila sebelumnya telah memiliki HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Begitu Anda terinfeksi HIV, Anda akan memilikinya seumur hidup.

Namun, orang yang memiliki virus HIV bisa saja tidak menyadarinya dirinya sudah terjangkit. Pasalnya, infeksi HIV bisa diam-diam menggerogoti tubuh selama 10 tahun atau bahkan lebih tanpa memunculkan gejala apa pun.

Ketika infeksi ini tidak terdeteksi dan diobati dalam jangka panjang, sistem imun tubuh akan rusak secara bertahap sehingga berkembang menjadi AIDS.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa AIDS adalah sebuah penyakit kronis yang memunculkan sekelompok gejala berkaitan dengan penurunan daya tahan tubuh.

Apa yang terjadi pada tubuh setelah terkena AIDS?

AIDS dimulai dari infeksi HIV jangka panjang. HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 (sel T) dalam sistem imun yang spesifik bertugas melawan infeksi.

Infeksi ini menyebabkan jumlah sel CD4 turun secara dramatis sehingga sistem imun tubuh Anda tidak cukup kuat untuk melawan infeksi. Akibatnya, jumlah viral load HIV bisa meningkat. Ketika viral load Anda tinggi, itu artinya sistem kekebalan tubuh sudah gagal bekerja melawan HIV dengan baik.

Pengidap HIV bisa dikatakan sudah terkena AIDS ketika jumlah sel CD4 dalam tubuhnya turun hingga kurang dari 200 sel per 1 ml atau 1 cc darah, dan didiagnosis dengan infeksi oportunistik terkait HIV tingkat-4 seperti herpes zoster (cacar ular atau cacar api), sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkins, tuberkulosis, kanker, dan/atau pneumonia.

Tanda dan gejala umum dari AIDS dapat meliputi:

  • Sesak napas
  • Lelah sepanjang waktu tanpa penyebab jelas
  • Demam bertahan hingga 10 hari ketika terjangkit suatu infeksi
  • Berkeringat banyak di malam hari
  • Demam kambuhan
  • Diare kronis
  • Mudah memar atau perdarahan yang tak dapat dijelaskan
  • Bintik-bintik putih yang membandel atau lesi di lidah atau dalam mulut
  • Penurunan berat badan drastis yang tak dapat dijelaskan
  • Ruam kulit atau benjolan tanpa sebab

AIDS turunkan peluang bertahan hidup

Seorang ODHA bisa saja tidak mengalami gejala apa pun selama 10 tahun atau lebih. Namun jika tidak hati-hati, AIDS dapat mempersempit peluang hidup pengidapnya.

Tanpa pengobatan, pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Begitu Anda memiliki penyakit oportunistik yang berbahaya, harapan hidup tanpa pengobatan turun hingga sekitar 1 tahun.

Di sisi lain, tidak semua pengidap HIV akan otomatis memiliki AIDS di kemudian hari. Ada banyak orang pengidap HIV yang berhasil mengendalikan penyakit mereka dengan pengobatan yang tepat sehingga tidak memiliki penyakit tersebut seumur hidupnya.

Pengobatan yang tepat perpanjang usia ODHA

Berkat kemajuan teknologi medis dan obat HIV, harapan hidup seorang penderita AIDS saat ini jauh lebih membaik dari sebelumnya. HIV/AIDS kini bukan lagi dicap sebagai penyakit pencabut nyawa.

Tren angka kematian akibat AIDS di Indonesia terbukti secara umum dilaporkan cenderung terus menurun, dari 13.86% pada tahun 2004  menjadi 1,08% pada Desember 2017. Hal ini membuktikan bahwa upaya pengobatan HIV/AIDS yang dilakukan selama ini berhasil menurunkan risiko kematian akibat AIDS.

Untuk mencapai target ini, setiap pengidap HIV sangat ditekankan untuk mendapatkan pengobatan secepat mungkin dan mematuhinya setiap saat. Kombinasi obat-obatan antiretroviral, yang dikenal sebagat terapi ART, dapat membantu Anda membangun dan menguatkan sistem imun tubuh dengan meningkatkan produksi sel CD4.

Anda juga akan sangat direkomendasikan untuk meminum obat-obatan ini meski mengalami efek samping yang kurang nyaman. Pasalnya, obat-obatan tersebut juga sekaligus berfungsi untuk mencegah infeksi oportunistik dan menekan peluang risiko penularan virus HIV kepada orang lain.

Jangan lupa rutin cek ke dokter

Perlu diingat bahwa tidak semua ODHA akan langsung bereaksi positif terhadap pengobatan ART. Obat-obatan antiretroviral juga memiliki risiko efek samping dan komplikasi yang perlu Anda waspadai.

Namun demikian, jangan sekali-kali mengubah atau menghentikan dosis atau mengganti jenis obat HIV Anda tanpa sepengetahuan dokter karena hal ini.

Dokter meresepkan obat tersebut karena sudah memahami bahwa manfaatnya untuk kesehatan Anda akan lebih besar daripada risikonya. Tanpa pengobatan yang tepat, seorang ODHA juga masih dapat menularkan virusnya pada orang lain.

Jika Anda masih ragu atau khawatir, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut ke dokter mengenai rencana perawatan Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Ruam Pada Kulit Pengidap HIV

Ruam kulit kemerahan muncul pada sekitar 90% orang yang terinfeksi HIV dalam beberapa bulan pertama setelah terdiagnosis. Apakah ini berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
HIV/AIDS, Health Centers 16 Agustus 2019 . Waktu baca 7 menit

Selain Infeksi Menular Seksual, Ini Dampaknya Jika Sering Gonta-ganti Pasangan

Kecenderungan gonta-ganti pasangan dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi kesehatan fisik dan psikis. Berikut di antaranya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 6 April 2019 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Orang dengan HIV/AIDS Susah Gemuk, Plus Solusi Ampuh Naikkan Berat Badan

Orang dengan HIV/AIDS memang cenderung berbadan kurus. Selain karena virus itu sendiri, ada banyak faktor lain yang membuat ODHA susah gemuk.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
HIV/AIDS, Health Centers 30 Maret 2019 . Waktu baca 6 menit

Bukan Hanya Ibu, Ayah Pun Berisiko Menularkan HIV Pada Bayi yang Baru Lahir

Meski ibu negatif,penularan HIV/AIDS pada bayi juga bisa terjadi akibat sang ayah yang terinfeksi. Lalu, dari mana HIV ini bias menular ke sang bayi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 13 November 2018 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Pendidikan seks cegah HIV/AIDS

Pentingnya Edukasi Seksual dan Potensi HIV/AIDS pada Remaja

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Moluskum Kontagiosum atau molluscum contagiosum

Moluskum Kontagiosum (Molluscum Contagiosum)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 9 November 2020 . Waktu baca 6 menit

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 14 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit
anak terkena hiv

Cara Menyampaikan Bahwa Anak Anda Terkena HIV

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 22 November 2019 . Waktu baca 4 menit