Apa yang Terjadi Ketika Kita Terkena AIDS?

Oleh

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Penyakit ini adalah kelanjutan dari infeksi HIV. Sejak pertama kali ditemukan di Bali tahun 1987, jumlah total kasus HIV yang terdata di Kemenkes sampai dengan Maret 2017 adalah 242.699 sementara total kasus AIDS adalah 87.453 orang. Yuk, pelajari lebih lanjut tentang penyakit ini agar Anda tahu cara mencegah dan mengobatinya yang tepat.

AIDS adalah kelanjutan dari infeksi HIV

Anda bisa terkena AIDS apabila sebelumnya telah memiliki HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Begitu Anda terinfeksi HIV, Anda akan memilikinya seumur hidup.

Namun, orang yang memiliki virus HIV bisa saja tidak menyadarinya dirinya sudah terjangkit. Pasalnya, infeksi HIV bisa diam-diam menggerogoti tubuh selama 10 tahun atau bahkan lebih tanpa memunculkan gejala apa pun.

Ketika infeksi ini tidak terdeteksi dan diobati dalam jangka panjang, sistem imun tubuh akan rusak secara bertahap sehingga berkembang menjadi AIDS.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa AIDS adalah sebuah penyakit kronis yang memunculkan sekelompok gejala berkaitan dengan penurunan daya tahan tubuh.

Apa yang terjadi pada tubuh setelah terkena AIDS?

AIDS dimulai dari infeksi HIV jangka panjang. HIV adalah virus yang menyerang sel CD4 (sel T) dalam sistem imun yang spesifik bertugas melawan infeksi.

Infeksi ini menyebabkan jumlah sel CD4 turun secara dramatis sehingga sistem imun tubuh Anda tidak cukup kuat untuk melawan infeksi. Akibatnya, jumlah viral load HIV bisa meningkat. Ketika viral load Anda tinggi, itu artinya sistem kekebalan tubuh sudah gagal bekerja melawan HIV dengan baik.

Pengidap HIV bisa dikatakan sudah terkena AIDS ketika jumlah sel CD4 dalam tubuhnya turun hingga kurang dari 200 sel per 1 ml atau 1 cc darah, dan didiagnosis dengan infeksi oportunistik terkait HIV tingkat-4 seperti herpes zoster (cacar ular atau cacar api), sarkoma Kaposi, limfoma non-Hodgkins, tuberkulosis, kanker, dan/atau pneumonia.

Tanda dan gejala umum dari AIDS dapat meliputi:

  • Sesak napas
  • Lelah sepanjang waktu tanpa penyebab jelas
  • Demam bertahan hingga 10 hari ketika terjangkit suatu infeksi
  • Berkeringat banyak di malam hari
  • Demam kambuhan
  • Diare kronis
  • Mudah memar atau perdarahan yang tak dapat dijelaskan
  • Bintik-bintik putih yang membandel atau lesi di lidah atau dalam mulut
  • Penurunan berat badan drastis yang tak dapat dijelaskan
  • Ruam kulit atau benjolan tanpa sebab

AIDS turunkan peluang bertahan hidup

Seorang ODHA bisa saja tidak mengalami gejala apa pun selama 10 tahun atau lebih. Namun jika tidak hati-hati, AIDS dapat mempersempit peluang hidup pengidapnya.

Tanpa pengobatan, pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun. Begitu Anda memiliki penyakit oportunistik yang berbahaya, harapan hidup tanpa pengobatan turun hingga sekitar 1 tahun.

Di sisi lain, tidak semua pengidap HIV akan otomatis memiliki AIDS di kemudian hari. Ada banyak orang pengidap HIV yang berhasil mengendalikan penyakit mereka dengan pengobatan yang tepat sehingga tidak memiliki penyakit tersebut seumur hidupnya.

Pengobatan yang tepat perpanjang usia ODHA

Berkat kemajuan teknologi medis dan obat HIV, harapan hidup seorang penderita AIDS saat ini jauh lebih membaik dari sebelumnya. HIV/AIDS kini bukan lagi dicap sebagai penyakit pencabut nyawa.

Tren angka kematian akibat AIDS di Indonesia terbukti secara umum dilaporkan cenderung terus menurun, dari 13.86% pada tahun 2004  menjadi 1,08% pada Desember 2017. Hal ini membuktikan bahwa upaya pengobatan HIV/AIDS yang dilakukan selama ini berhasil menurunkan risiko kematian akibat AIDS.

Untuk mencapai target ini, setiap pengidap HIV sangat ditekankan untuk mendapatkan pengobatan secepat mungkin dan mematuhinya setiap saat. Kombinasi obat-obatan antiretroviral, yang dikenal sebagat terapi ART, dapat membantu Anda membangun dan menguatkan sistem imun tubuh dengan meningkatkan produksi sel CD4.

Anda juga akan sangat direkomendasikan untuk meminum obat-obatan ini meski mengalami efek samping yang kurang nyaman. Pasalnya, obat-obatan tersebut juga sekaligus berfungsi untuk mencegah infeksi oportunistik dan menekan peluang risiko penularan virus HIV kepada orang lain.

Jangan lupa rutin cek ke dokter

Perlu diingat bahwa tidak semua ODHA akan langsung bereaksi positif terhadap pengobatan ART. Obat-obatan antiretroviral juga memiliki risiko efek samping dan komplikasi yang perlu Anda waspadai.

Namun demikian, jangan sekali-kali mengubah atau menghentikan dosis atau mengganti jenis obat HIV Anda tanpa sepengetahuan dokter karena hal ini.

Dokter meresepkan obat tersebut karena sudah memahami bahwa manfaatnya untuk kesehatan Anda akan lebih besar daripada risikonya. Tanpa pengobatan yang tepat, seorang ODHA juga masih dapat menularkan virusnya pada orang lain.

Jika Anda masih ragu atau khawatir, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut ke dokter mengenai rencana perawatan Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca