Cegah Penyebaran Hepatitis, Kenali Cara Penularan Berbagai Jenis Hepatitis Ini

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Ada dua penyebab utama dari hepatitis, yaitu hepatitis yang disebabkan oleh virus dan hepatitis non-virushepatitis alkoholik dan hepatitis autoimun. Hepatitis virus adalah infeksi peradangan hati yang menjadi salah satu risiko utama dari kanker hati. Penularan hepatitis virus dapat berlangsung dalam berbagai cara, tergantung dari jenis virus penyebabnya. 

Sementara, hepatitis jenis lainnya bisa diakibatkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan atau penekanan sistem kekebalan tubuh. Kedua jenis hepatitis non virus ini tidak bisa ditularkan, terjadinya peradangan hati diakibatkan gaya hidup tidak sehat atau terdapatnya kelainan genetik pada sistem imun.

5 jenis virus hepatitis

Sekarang ini terdapat lima jenis virus yang diketahui dapat menyebabkan peradangan hati, yaitu virus hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV), dan hepatitis E (HEV).  

Meskipun telah ditemukan beberapa jenis virus hepatitis lainnya, namun yang paling banyak menyebabkan wabah penyakit di dunia adalah kelima penyakit ini. Di Indonesia sendiri penyakit hepatitis yang paling banyak ditemukan yaitu yang disebabkan oleh HAV, HBV, dan HCV.

Kelima virus ini masing-masing memiliki genetik, karakteristik, dan siklus perkembangan yang berbeda-beda, sehingga cara penularan hepatitis virusnya pun berbeda pula. 

Selain itu, kemampuan adaptasi virus di luar lingkungan tubuh manusia juga memengaruhi tingkat penularannya. Beberapa virus hepatitis dapat ditularkan dengan mudah dari orang ke orang karena bisa hidup di dalam feses, sehingga penyebaran penyakit  hepatitis meluas dengan cepat.

Disamping itu, hampir sebagian besar penularan hepatitis berlangsung melalui kontak dengan darah yang terinfeksi virus dan penggunaan peralatan medis yang tidak steril. 

Penting bagi Anda untuk mengetahui bagaimana cara virus hepatitis ditularkan dari orang ke orang sehingga dapat terhindar dari serangan penyakit hepatitis. Apalagi jika ternyata Anda termasuk ke dalam kelompok orang yang paling berisiko terjangkit penyakit ini.

Bagaimana cara penularan hepatitis virus?

1. Penularan hepatitis A dan E dari rute fecal oral

Hepatitis A dan E merupakan penyakit hepatitis yang paling memiliki tingkat penularan yang tinggi karena bisa dengan cepat berpindah dari satu orang ke orang lainnya.

Penularan hepatitis A dan hepatitis E terjadi saat HAV dan HEV masuk ke dalam sistem pencernaan (fecal oral) melalui makanan, atau minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses yang mengandung kedua virus tersebut. 

Penularan hepatitis melalui konsumsi minuman dan makanan mentah atau makanan yang belum sepenuhnya matang merupakan penyebab utama menyebarnya virus hepatitis A di daerah endemik.  

Makanan dan minuman yang paling banyak terkontaminasi oleh virus hepatitis adalah buah, sayur, kerang-kerangan, es, dan air. Kontaminasi makanan dan minuman biasanya terjadi akibat adanya pencemaran pada sumber air yang digunakan untuk memasak dan kebutuhan hidup sehari-hari. 

Buruknya kualitas kebersihan lingkungan yang disebabkan oleh fasilitas sanitasi yang tidak memadai, pengolahan makanan yang tidak higienis, dan perilaku kebersihan masyarakat yang buruk turut memegang andil terhadap meluasnya penularan hepatitis A dan E. 

Penyebaran virus hepatitis A dan E juga dapat terjadi ketika seseorang yang sudah terinfeksi tidak mencuci tangannya dengan baik setelah pergi dari kamar mandi, lalu menyentuh benda-benda lain, makanan, dan minuman. 

2. Transfusi darah

Tidak seperti HAV dan HEV, ketiga virus hepatitis lainnya hanya bisa ditularkan melalui darah dan cairan tubuh kecuali yang berasal dari sistem pencernaan. Terlebih untuk virus hepatitis C yang hanya bisa menular melalui rute parenteral atau dengan melakukan kontak langsung dengan darah yang terinfeksi. 

Hal ini disebabkan ketiga virus hepatitis ini hanya terdapat di dalam darah atau cairan tubuh. Oleh karena itu, orang yang menerima donor darah, rutin menjalani pengobatan melalui transfusi darah, atau transplantasi organ sangat berisiko terinfeksi hepatitis B, C dan D. 

Ketiga penyakit ini apabila telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama berisiko tinggi memunculkan sejumlah penyakit hati serius, seperti sirosis, kanker hati, dan kegagalan fungsi hati secara permanen. 

Sekarang ini, penularan hepatitis melalui transfusi darah semakin jarang terjadi karena  telah dilakukan langkah pencegahan seperti skrining darah untuk antibodi hepatitis sebelum prosedur transfusi darah berlangsung. 

Orang yang positif terinfeksi hepatitis B dan C maka tidak diperbolehkan mendonorkan darahnya. Akan tetapi, masih terdapat kemungkinan untuk terinfeksi apabila transfusi darah berasal dari persediaan darah yang lama.

3. Penggunaan jarum tidak steril

Penyakit hepatitis juga bisa ditularkan melalui jarum yang digunakan secara bersama-sama sehingga tidak steril.

Jarum yang digunakan secara bebas dan sembarang dapat terkontaminasi virus hepatitis. Penggunaan jarum yang tidak steril biasanya ditemukan pada jarum untuk pembuatan tato, tindik, dan obat-obat terlarang. 

Penggunaan jarum suntik untuk injeksi obat-obatan juga menjadi penyebab utama dari wabah penyakit hepatitis. 

Virus hepatitis yang terdapat pada darah bisa menempel pada jarum yang digunakan untuk menyuntikan obat, sehingga apabila jarum suntik ini digunakan kembali dapat menginfeksi orang lain. Jarum suntik tersebut biasanya diinjeksikan langsung ke pembuluh darah.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan Research Gate, risiko penularan hepatitis melalui jarum juga bergantung dari durasi pemakaian.

Pada orang yang menggunakan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik secara lebih sering lebih berisiko untuk terinfeksi hepatitis. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penderita hepatitis yang telah menggunakan obat-obatan terlarang selama bertahun-tahun.

4. Hubungan seksual

Virus hepatitis tidak bisa ditularkan melalui interaksi kasual, seperti melalui sentuhan kulit saat memeluk atau berciuman. Namun, virus hepatitis dapat berpindah langsung ketika seseorang melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi, terutama apabila hubungan seksual yang dilakukan tidak menggunakan alat pelindung atau kontrasepsi

Penularan melalui kontak seksual paling banyak terjadi pada hepatitis A dan B. Potensi penularan akan semakin tinggi ketika hubungan seksual dilakukan bersamaan dengan injeksi obat-obat terlarang.

Pada hepatitis C, penularan tidak sebanyak pada kasus hepatitis B. Hal ini disebabkan HCV yang merupakan jenis virus RNA tidak dapat ditemukan di dalam cairan tubuh seperti sperma, cairan vagina, urin, feses, atau air liur, sebagaimana HBV.

Kemungkinan kenapa virus ini dapat ditularkan adalah ketika virus hepatitis C dari orang terinfeksi masuk ke dalam pembuluh darah orang lain melalui hubungan seksual. Risiko penularan juga akan semakin tinggi ketika hubungan intim dilakukan saat menstruasi.

5. Penularan secara vertikal melalui proses persalinan

Di wilayah endemik atau mengalami wabah hepatitis B, penularan secara vertikal yaitu melalui masa perinatal atau saat melahirkan paling sering ditemukan. Di Indonesia sendiri, prevalensi penularan hepatitis B melalui proses persalinan mencapai 95 persen.

Penularan dapat terjadi akibat terdapatnya membran darah yang pecah sebelum melahirkan atau bayi terekspos oleh darah ibu yang terinfeksi ketika proses persalinan.

Tidak hanya hepatitis B, penularan hepatitis C melalui proses persalinan juga bisa terjadi, walaupun masih jarang terjadi.

Kemungkinan penularan penyakit ini akan meningkat jika ibu yang terinfeksi hepatitis C juga terjangkit HIV.

Melihatnya banyaknya kasus yang terjadi akibat penularan hepatitis melalui Sangat disarankan bagi para perempuan hamil untuk melakukan deteksi hepatitis secara dini dengan melakukan tes skrining sebelum waktu melahirkan tiba

Jika terbukti positif hepatitis dan belum pernah mendapatkan vaksin, penularan pada bayi dapat dicegah dengan pemberian vaksin. 

Selanjutnya, dokter akan memberikan pengobatan untuk menekan jumlah virus hepatitis dan dan menentukan cara persalinan aman yang dapat mencegah penularan HCV pada bayi.

6. Penularan hepatitis di lingkungan rumah

Menggunakan alat-alat rumah tangga yang sama dengan salah satu penghuni rumah yang terinfeksi  uga bisa membuat Anda tertular hepatitis, terutama penyakit hepatitis yang hanya bisa ditularkan melalui darah atau cairan tubuh.

Alat rumah tangga yang bisa menjadi media penularan hepatitis adalah alat yang dapat terpapar oleh darah saat digunakan sehingga bekas darah menempel pada permukaannya, seperti alat cukur, silet, dan sikat gigi.

Virus hepatitis yang terdapat dalam bekas darah tersebut dapat masuk ke dalam tubuh orang yang belum terinfeksi melalui luka yang terbuka pada permukaan kulit. Oleh karena itu, sebaiknya hindarilah penggunaan alat secara bersama-sama dengan anggota keluarga yang diketahui terinfeksi hepatitis.

7. Penularan di lingkungan perawatan kesehatan

Petugas kesehatan yang sering melakukan prosedur injeksi menggunakan jarum suntik juga berisiko tertular hepatitis.

Meskipun angka penularan yang disebabkan kondisi ini tidak terlalu tinggi, petugas kesehatan sebaiknya tetap melakukan prosedur injeksi sesuai dengan aturan, seperti tidak menggunakan jarum suntik yang sama secara berulang.

Selain jarum suntik, peralatan medis lainnya seperti alat operasi, pisau bedah, dan bor gigi juga dapat menjadi medium penularan hepatitis.

Baca Juga:

Sumber