Pilihan Obat Hepatitis untuk Mengelola Gejalanya, Mana yang Paling Efektif?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Infeksi virus hepatitis dapat menyebabkan peradangan hati. Kebanyakan pasien hepatitis B dan C menderita kasus yang kronis. Tanpa melakukan penanganan melalui obat hepatitis, penyakit ini berisiko menimbulkan berbagai komplikasi seperti kegagalan fungsi hati.

Memperbanyak istirahat serta menjaga asupan cairan yang memadai memang efektif meredakan gejalanya, namun cara-cara ini lebih dianjurkan untuk pengobatan hepatitis virus akut. Untuk mengobati hepatitis kronis diperlukan terapi obat-obatan. Berikut informasi lebih lanjut tentang beragam obat hepatitis.

Apa saja obat hepatitis yang tersedia di dokter?

Orang yang terinfeksi hepatitis biasanya baru berobat ketika merasakan sejumlah gangguan kesehatan dalam keadaan infeksi telah mencapai tahap kronis atau berlangsung lebih dari 6 bulan.

Di samping beristirahat dan memperbanyak asupan cairan, dokter lebih menganjurkan pasien infeksi hepatitis kronis untuk menggunakan obat-obatan. 

Obat hepatitis yang diberikan dokter bertujuan untuk menghentikan infeksi HCV, menghambat kerusakan hati akibat peradangan, mengendalikan gejala hepatitis, sekaligus mencegah komplikasi yang dapat memunculkan berbagai penyakit hati yang lebih parah seperti sirosis dan kanker hati.

Obat hepatitis yang biasa diresepkan dokter, termasuk:

Interferon

Interferon adalah protein yang biasanya terdapat dalam tubuh untuk melawan infeksi dan terutama untuk membantu sistem kekebalan tubuh melawan virus hepatitis guna mencegah komplikasi. Obat hepatitis ini terdiri dari:

Pegylated Interferon

Terdapat dua jenis obat interferon yang digunakan untuk hepatitis B, obat ini termasuk interferon terbaru yang paling sering digunakan karena memiliki efek penyembuhan yang lebih panjang. 

Untuk mengobati hepatitis B, obat hepatitis ini biasanya diberikan melalui suntikan selama satu atau dua kali dalam seminggu selama 6 bulan sampai 1 tahun.

Interferon Alpha  

Obat hepatitis ini termasuk jenis obat lama yang biasa digunakan untuk menyembuhkan hepatitis B. Dibandingkan pegylated interferon, obat ini memiliki efek jangka pendek sehingga harus diberikan melalui suntikan setiap hari atau 3 kali dalam seminggu selama 6 bulan sampai 1 tahun. 

Dalam mengobati hepatitis C, interferon biasanya digunakan dalam kombinasi dengan obat antivirus seperti ribavirin. 

Namun obat hepatitis ini mulai ditinggalkan di berbagai negara, termasuk Indonesia disebabkan banyak menimbulkan efek samping sekaligus tidak cukup efektif menghilangkan infeksi virus.

Efek samping yang ditimbulkan interferon di antaranya adalah 

  • Mual dan muntah
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Demam
  • Anemia
  • Darah tinggi
  • Gangguang kecemasan
  • Perubahan emosi
  • Depresi

Obat antivirus untuk hepatitis B

Sebagaimana yang dianjurkan oleh Hepatitis B Foundation, terdapat 5 jenis obat antivirus yang dapat  hepatitis yang bisa digunakan untuk mengehentikan infeksi virus HVB. 

Penting untuk diketahui bahwa pengobatan hepatitis B kronis umumnya dilakukan dalam waktu yang lama, yaitu 6 bulan sampai 1 tahun.

Bahkan apabila obat ini hanya mampu menekan virus untuk bereplikasi bukan menghentikan infeksinya, penderita tetap harus menjalani pengobatan sepanjang hidupnya.

Berikut ini adalah pilihan obat dan cara pengobatan hepatitis B kronis:

  1. Tenofovir 

Jenis obat yang menjadi bagian pengobatan utama hepatitis B kronis. Terdadapat dua jenis tenovoir yaitu disoproxil dan alafenamide. Obat hepatitis ini dikonsumsi dengan dosis satu pil perhari selama satu tahun atau lebih. Tidak dianjurkan dikonsumsi oleh anak-anak.

  1. Entecavir

Obat ini dapat bekerja secara efektif terhadap penderita hepatitis B kronis yang juga mengalami kegagalan fungsi hati. Dosis normalnya adalah dikonsumsi sebanyak 1 pil sehari selama setahun atau lebih. Ketika diberikan dalam dosis tinggi, obat hepatitis ini berpotensi menimbulkan sel kanker.

  1. Telbivudine

Menjadi pilihan pengobatan kedua untuk hepatitis B kronis. Sebaiknya dikonsumsi dalam dosis normal yaitu 1 pil dalam sehari selama satu tahun atau lebih. Tidak seperti tenofoir dan entecavir yang cukup kuat melawan perkembangan virus HVB. Obat hepatitis B kronis ini rentan mengalami resistansi sehingga bisa kalah oleh serangan virus.

  1. Adefovir Dipivoxil

Termasuk ke dalam pilihan pengobatan hepatitis dengan dosis sebanyak 1 pil selama satu hari yang dikonsumsi selama 1 tahun atau lebih. Jika obat hepatitis ini dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat membahayakan fungsi hati sehingga pemantauan kondisi hati perlu dilakukan selama mengonsumsinya. 

  1. Lamivudine

Dikenal sebagai obat hepatitis yang aman digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa, serta termasuk salah satu yang paling murah. Jika digunakan bersama tenovoir bisa mengatasi infeksi virus hepatitis B yang berlangsung bersamaan dengan infeksi virus HIV. Namun rentan menimbulkan efek resistansi obat sehingga kurang efektif.

Obat-obatan antivirus untuk hepatitis C

1. Protease inhibitor

Protease inhibitor adalah obat hepatitis oral yang bekerja dengan mencegah penyebaran infeksi. Obat ini menghentikan reproduksi virus dalam tubuh, meliputi:

  • Telaprevir (Incivek)
  • Boceprevir (Victrelis)
  • Paritaprevir. Ini merupakan protease inhibitor tetapi hanya terdapat dalam Viekira Pak, sebagai bagian kombinasi yang digunakan untuk mengobati infeksi HCV.

Obat hepatitis ini hanya digunakan dalam kombinasinya dengan terapi infeksi HCV lainnya. Telaprevir diminum dua kali sehati, sementara boceprevir diminum tiga kali sehari. Kedua obat ini harus digunakan bersama makanan.

Efek samping paling umum dari obat ini adalah anemia, diare, kelelahan, sakit kepala, mual, dan muntah.

2. Obat-obatan antivirus analog nukleosida

Obat-obatan antivirus analog nukleosida juga mencegah penyebaran infeksi dengan menghentikan pembentukan nukleosida pada sel-sel yang terinfeksi. 

Ribavirin (Copegus, Moderiba, Rebetol, Ribasphere, Ribasphere RibaPak, Virazole) adalah satu-satunya obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HCV dalam kelas ini. Ribavirin memerlukan kombinasi dengan interferon untuk mengobati infeksi HCV. 

Selain itu, terapi tiga kali lipat bisa diresepkan dengan interferon dan protease inhibitor. Obat ini tidak dapat digunakan secara independen.

Berhati-hatilah dalam menggunakan Ribavirin jika Anda memiliki riwayat penyakit jantung atau kehamilan.

Obat hepatitis ini bisa menyebabkan resiko cacat lahir dan juga menyebabkan pertumbuhan kerdil pada pasien anak-anak. Resiko ini bisa dialihkan dari pria kepada pasangan wanitanya saat pembuahan.

3. Polymerase inhibitor dan terapi kombinasi obat

Polymerase inhibitor mencegah terjadinya pembentukan blok virus hepatitis C. Obat hepatitis ini termasuk polymerase inhibitor sovaldi (Sofosbuvir). 

Sovaldi bekerja dengan menghambat RNA polymerase yang digunakan oleh virus hepatitis C untuk mereplikasi RNA-nya. 

Obat ini terkadang digunakan dalam kombinasi dengan ribavirin sampai selama 24 minggu. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk orang yang menderita infeksi virus hepatitis C dan infeksi HIV.

Gabungan obat ledipasvir dan sofosbuvir (Harvoni) digunakan untuk mengobati infeksi kronis dari HCV genotype 1 pada orang dewasa.

Ledipasvir merupakan NS5A inhibitor yang menghalangi terbentuknya protein yang membantu virus mereplikasi diri. Sofosbuvir merupakan polymerase inhibitor yang mencegah terjadinya pembentukan blok virus.

Obat ini harus digunakan dengan makanan dan tidak boleh dihancurkan. Efek samping yang umum meliputi mual, gatal, insomnia, dan kelemahan.

Daftar obat hepatitis alternatif

Tak hanya obat dari resep dokter, gejala hepatitis juga bisa dikelola dengan penggunaan obat-obatan alternatif.

Obat alternatif sering dijadikan pilihan pertama untuk pengobatan berbagai jenis penyakit, termasuk infeksi hepatitis. Namun demikian, konsultasikan pada dokter jika Anda ingin menggunakan pengobatan herbal untuk menggantikan obat-obatan Anda.

 Ingat bahwa tak semua obat hepatitis herball aman dikonsumsi untuk setiap kondisi.

Akar licorice

Akar licorice, atau akar manis, biasa ditemukan di Asia dan Timur Tengah. Herbal ini terkadang digunakan sebagai solusi rumahan untuk infeksi, bisul, dan bronkitis. Akar licorice tersedia dalam bentuk kapsul, bubuk kering, ekstrak cairan, dan tablet. Selain itu, herbal ini dapat menyebabkan efek samping, seperti tekanan darah rendah dan retensi cairan.

Milk Thistle

Milk thistle biasa ditemukan di wilayah Mediterania. Secara historis, obat herbal ini digunakan untuk kanker, diabetes, hepatitis, kolesterol tinggi, dan penyakit hati. Herbal ini terutama tersedia dalam banyak bentuk, termasuk kapsul dan ekstrak. 

Meskipun kadang milk thistle digunakan sebagai obat hepatitis alternatif, konsultasikan pada dokter sebelum mempertimbangkan mengonsumsinya.

Temulawak

Temulawak merupakan bahan alami yang dipercaya bermanfaat bagi kesehatan hati.

Dalam penelitian yang dipublikasikan NCBI memperlihatkan hasil bahwa temulawak dapat memberikan efek proteksi sekaligus terapi terhadap penyakit hati yang disebakan oleh tekanan oksidatif. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendukung bukti yang dihasilkan.

Sementara ini, penilitian dari Scientific Records memperoleh hasil bahwa ekstrak temulawak yang diolah dalam bentuk obat (phytosome) memberi efek penyembuhan yang lebih besar pada penyakit hati.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Sumber