Tips Mengatur Pola Makan Sehari-hari untuk Pengidap Hepatitis C

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Hepatitis C adalah peradangan hati kronis yang bisa memengaruhi cara tubuh memproses nutrisi. Itu sebabnya memilih dan merancang menu makanan untuk penderita hepatitis tidak boleh sembarangan. Asupan makanan yang tepat akan membantu hati Anda bekerja lebih baik, sehingga menurunkan risiko hepatitis C berkembang menjadi kerusakan hati lainnya yang lebih parah.

Hepatitis C memengaruhi pola makan Anda

Baik dari gejala penyakitnya itu sendiri atau dari efek obat yang digunakan, hepatitis C dapat secara langsung memengaruhi pola makan pengidapnya.

Obat hepatitis C bisa menyebabkan mual sehingga menurunkan nafsu makan, misalnya. Rasa nyeri di mulut dan tenggorokan akibat infeksi juga bisa menyebabkan Anda jadi malas makan. Infeksi ini kemudian juga mengganggu kerja hati untuk mengolah nutrisi.

Meski penyakit ini menghambat tubuh mendapat cukup asupan nutrisi, Anda tetap perlu menjalani pola makan yang sehat untuk memulihkan daya tahan tubuh dan melawan infeksi. Pola makan yang tepat juga diperlukan untuk mencegah sirosis pada penderita hepatitis C.

Sirosis hati yang berkembang dari hepatitis bisa menyebabkan hilang nafsu makan sehingga tubuh lemas kekurangan energi — atau sebaliknya, tubuh merasa lemas akibat sirosis, yang membuat Anda malas makan.

Hepatitis bisa menyebabkan Anda mengalami penurunan berat badan tanpa disadari, yang berisiko memperburuk kondisi Anda.

Makanan yang harus dihindari penderita hepatitis C

Beberapa makanan tertentu merusak fungsi hati yang bisa memperburuk kondisi Anda. Oleh karena itu, Anda harus menghindari:

1. Makanan tinggi lemak

efek makanan berlemak tinggi pada metabolisme tubuh

Meski tubuh membutuhkan lemak sebagai energi, makan terlalu banyak makanan berlemak dapat menyebabkan kelebihan lemak menumpuk di hati (perlemakan hati). Perlemakan hati dapat berkembang menjadi sirosis.

Tidak semua jenis lemak harus Anda hindari. Jauhilah lemak jenuh dan lemak trans yang banyak terkandung dalam makanan kemasan dan makanan cepat saji. Contoh makanan tinggi lemak jenuh lainnya adalah mentega, susu dan semua produk hewani.

Sebagai gantinya pilihlah sumber lemak tak jenuh dari kacang dan biji-bijian, alpukat, serta minyak zaitun dan minyak ikan.

2. Makanan tinggi garam

manfaat garam untuk kesehatan

Hati yang tidak lagi berfungsi baik akibat hepatitis tidak bisa membilas garam keluar tubuh sepenuhnya. Akibatnya, garam menumpuk dalam tubuh dan akhirnya meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi menempatkan Anda pada risiko yang lebih tinggi terhadap perlemakan hati.

Batas maksimal konsumsi garam dalam satu hari untuk orang dewasa sehat adalah 5 gram garam atau setara 1 sendok teh. Jika Anda memiliki hepatitis, Anda mungkin harus lebih menguranginya. Bicarakan lebih lanjut dengan dokter Anda untuk mencari tahu berapa batas aman asupan garam untuk kondisi Anda.

Tidak hanya penambahan garam dari masakan saja, lho! Anda juga harus mengurangi asupan garam dari makanan olahan, seperti makanan kaleng, termasuk sup kaleng, daging kalengan (sarden atau kornet), sosis dan nugget, hingga sayuran kaleng yang biasanya sangat tinggi garam.

Konsultasikan juga ke dokter mengenai obat-obatan yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah Anda.

3. Makanan tinggi gula

makanan manis buruk untuk otak

Makanan untuk penderita hepatitis tidak boleh yang tinggi gula. Makanan manis dapat menyebabkan gula darah penderita hepatitis melonjak drastis.

Mengurangi konsumsi gula bertujuan untuk mencegah diabetes muncul sebagai komplikasi hepatitis, ketika hati tidak lagi berfungsi baik untuk mengatur kadar gula darah dan produksi insulin. Ganti camilan manis Anda dengan buah dan sayuran segar yang rasanya manis.

Untuk ke depannya, Anda bisa mengurangi asupan gula pasir secara perlahan. Misalnya, kurangi takaran gula hingga setengah dari yang biasa Anda pakai, dan terus sisihkan seiring waktu saat mulai terbiasa.

4. Makanan yang kurang matang

makan sushi

Makanan yang kurang matang masih berisiko terhadap kontaminasi bakteri. Bakteri dari makanan mentah seperti sushi, telur setengah matang, atau susu dan keju yang tidak dipasteurisasi dapat menyebabkan infeksi hepatitis C bertambah parah.

5. Makanan tinggi zat besi

Kerusakan hati yang disebabkan infeksi hepatitis kronis dapat menyebabkan tubuh tidak bisa membuang kelebihan zat besi. Zat besi yang menumpuk berlebihan dalam tubuh pada akhirnya dapat merusak darah dan organ dalam lainnya.

Oleh karena itu, kebanyakan makanan untuk penderita hepatitis C tidak dianjurkan yang tinggi zat besi. Batasi atau kalau bisa hindari makan daging merah, hati hewan, dan makanan lainnya yang telah diperkaya dengan zat besi.

Anda juga perlu membatasi minum alkohol dan minuman keras, jika punya hepatitis C.

Makanan untuk penderita hepatitis C yang direkomendasikan

Tidak ada panduan diet khusus untuk mengatasi gejala hepatitis C, namun Anda bisa mengatur pola makan sehari-hari supaya lebih sehat dan seimbang. Apa saja rekomendasi makanan untuk hepatitis C?

1. Sayur dan buah

tidak suka sayur dan buah

Buah dan sayuran harus ada dalam menu makanan untuk penderita hepatitis C setiap hari. Kenapa? Buah dan sayuran segar tinggi serat dan mineral meningkatkan metabolisme tubuh untuk mendukung organ hati tetap berfungsi baik, sekaligus mengurangi penumpukan lemak di hati.

Orang yang sakit hepatitis C disarankan untuk makan sayur dan buah segar minimal 5 porsi dalam sehari. Misalnya, satu porsi sayur dan buah saat sarapan, satu piring rujak setelah makan siang, saat ngemil sore, saat makan malam, dan camilan sebelum tidur.

Semakin beragam pilihan sayur dan buah dengan warna yang berbeda-beda, semakin baik. Meski demikian, Anda perlu membatasi porsi sayuran berdaun hijau karena tinggi kandungan zat besi yang bisa berbahaya bagi penderita hepatitis C.

2. Protein rendah lemak

Makanan tinggi protein penting dimasukkan ke dalam menu makan Anda yang memiliki hepatitis C. Makanan tinggi protein membantu memperbaiki dan mengganti sel hati yang rusak karena peradangan akibat serangan virus hepatitis C.

Namun, jangan sembarangan pilih sumber protein. Makanan protein yang tinggi lemak (seperti dari daging merah dan susu murni serta produk turunannya) dapat menyebabkan penggumpalan ammonia dalam tubuh.

Utamakan asupan protein dari daging ayam tanpa lemak, telur, dan ikan, serta protein nabati. Hindari asupan protein dengan gula tambahan dan pilihlah susu yang rendah lemak jika ingin mengonsumsi produk olahan susu.

3. Gandum utuh

makanan sumber gandum utuh untuk sarapan

Gandum dan biji-bijian utuh seperti beras merah atau beras cokelat kaya akan karbohidrat kompleks untuk menjaga kesehatan saluran cerna.

Selain itu, karbohidrat kompleks juga lebih lambat dicerna tubuh sehingga membuat Anda kenyang lebih lama dan memiliki cadangan energi yang lebih awet untuk beraktivitas. Sumber makanan ini juga kaya akan vitamin B, magnesium dan zinc.

Jika Anda memiliki alergi gluten, gandum dan biji-bijian utuh dapat diganti dengan quinoa.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca