Perhatikan Gejala, Penyebab, dan Penanganan Usus Buntu Pada Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Usus buntu atau apendisitis adalah pembengkakan akibat peradangan pada apendiks, yaitu saluran tipis berbentuk jari yang terhubungan ke usus besar. Penyakit ini termasuk dalam kondisi yang membutuhkan bantuan medis karena dalam 2 atau 3 hari, apendiks yang meradang bisa pecah dan membahayakan jiwa. Menurut Cleveland Clinic, radang usus buntu sangat umum terjadi pada anak-anak. Diperkirakan 4 dari 1000 anak pernah menjalani operasi usus buntu.

Lantas, apa penyebab, gejala, dan pengobatan usus buntu pada anak? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Gejala usus buntu pada anak

penyebab usus buntu pada anak

Radang usus buntu yang merupakan penyakit pada saluran pencernaan, tentunya dapat menimbulkan sakit perut. Namun, sakit perut yang menandakan gejala usus buntu berbeda dengan sakit perut biasa.

Sakit perut akibat usus buntu pada anak biasanya muncul di sebelah kanan bawah perut. Sementara sakit perut biasa biasanya terjadi di tengah perut atau tepat di bawah dada. Sayangnya, tidak semua anak-anak dapat mengutarakan keluhan gejalanya dengan baik, sehingga mereka sering kali mengatakan bahwa rasa sakitnya muncul di seluruh area perut.

Walaupun ini membuat Anda kesulitan mengamati gejalanya, Anda bisa mengamati gejala radang usus buntu lainnya yang mungkin menyertai. Anak usia di bawah 2 tahun, sering kali menunjukkan gejala usus buntu berupa:

  • Muntah
  • Perut kembung atau terlihat bengkak
  • Terasa nyeri ketika anak menekan perut anak dengan pelan

Sementara pada anak yang usianya lebih tua dan remaja, lebih sering mengeluhkan gejala radang usus buntu seperti:

  • Perut mual dan muntah
  • Demam 
  • Nyeri pada perut di sisi kanan bawah

Jika Anda mendapati gejala usus buntu pada anak seperti yang disebutkan di atas, segera kunjungi dokter. Apalagi jika ia mengeluhkan sakit di seluruh bagian perut dan mengalami demam tinggi hingga mengganggu aktivitas. Gejala yang ditunjukkan ini biasanya menandakan bahwa usus buntu yang meradang sudah pecah.

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan meminta si kecil menjalani tes darah untuk melihat adanya peningkatan jumlah sel darah putih, yang menunjukkan bahwa anak sedang mengalami infeksi.

Penyebab usus buntu pada anak

gejala kanker usus wanita

Apendiks merupakan usus yang bertugas mengeluarkan zat kekebalan tubuh berisi kelenjar limfoid. Bagian usus ini bisa mengalami penyumbatan oleh berbagai hal. Nah, penyumbatan pada apendiks inilah yang jadi penyebab utama usus buntu pada anak.

Beberapa hal yang bisa menyebabkan penyumbatan apendiks pada anak, antara lain:

  • Feses yang mengeras (fekalit)
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di usus
  • Adanya infeksi atau parasit pada usus

Setelah penyumbatan terjadi, bakteri jahat di sekitar usus akan berkumpul dan menjadikannya sebagai rumah. Bakteri akan subur berkembang di area tersebut dan menyebabkan infeksi. Apendiks akan meradangan dan bengkak.

Selain penyebab, ada beberapa hal yang membuat risiko anak terkena usus buntu jadi semakin besar, yaitu genetik dan kondisi kesehatan tertentu.

Anak yang memiliki anggota keluarda dengan usus buntu, kemungkinan besar juga akan mengalami kondisi serupa. Begitu juga dengan anak dengan kistik fibrosis. Anak dengan kondisi ini akan lebih sering mangalami berbagai masalah pencernaan.

Penanganan usus buntu pada anak

operasi usus buntu

Usus buntu terjadi akibat penyumbatan yang menimbulkan infeksi. Penyumbatan tersebut membuat bakteri gencar menginfeksi, menimbulkan pembengkakan, dan suplai darah ke usus buntuk jadi terputus.

Jika tidak diobati, infeksi akan semakin parah dan berakibat fatal, seperti pecahnya usus buntu, terbentuknya abses (benjolan berisi nanah), dan peritonitis (peradangan pada lapisan pelindung organ di perut, yakni peritoneum). Untuk itu, pengobatan usus buntu harus dilakukan segera.

Perawatan usus buntu pada anak akan disesuaikan dengan usia, gejala, keparahan kondisi, dan kesehatan anak secara menyeluruh. Pengobatan apendisitis tersebut, meliputi:

Operasi pemotongan apendiks

Operasi usus buntu adalah cara penanganan yang paling umum untuk mengangkat penyumbatan apendiks. Prosedur pembedahan ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

Operasi terbuka

Prosedur ini dilakukan dengan pemberian obat bius dan menyayat sisi kanan bawah perut untuk pemotongan. Jika usus telah pecah, maka tabung kecil atau shunt ditempatkan untuk mengeluarkan nanah dan cairan lainnya yang keluar. Shunt akan diambil beberapa hari kemudian, setelah infeksi sudah hilang.

Bedah laparoskopi

Pembedahan dilakukan dengan pemberian obat bius dan membuat sayatan kecil. Pada sayatan tersebut dimasukkan sebuah alat yang disebut laparoskopi untuk melihat kondisi perut bagian dalam sekaligus pengangkatan apendiks. Metode ini tidak dilakukan ketika usus akan atau sudah pecah.

Apendektomi interval

Operasi merupakan perawatan usus buntu pada anak yang umum dilakukan. Namun, tindakan tersebut tidak selalu butuh dilakukan sesegera mungkin.

Dokter biasanya menunda operasi jika usus buntu sudah pecah dan mengakibatkan infeksi. Infeksi tersebutlah yang harus lebih dulu ditangani. Prosedur ini disebut dengan apendektomi interval.

Anak akan diberi antibiotik melalui kateter sentral atau tabung IV yang disebut jalur PICC. Kemudian, tes pencitraan akan dilakukan untuk memantau kondisi abses (kantung nanah). Setelah infeksi sembuh, barulah operasi pengangkatan usus buntu dilakukan.

Setelah operasi, anak sepenuhnya harus istirahat di rumah agar luka bekas operasi lebih cepat sembuh dan tidak menimbulkan komplikasi.

Apakah usus buntu pada anak bisa dicegah?

sayuran terbaik untuk anak

Radang usus buntu bisa terjadi kapan saja dan menyerang semua usia. Selain itu, penyakit ini juga tidak bisa dicegah. Namun, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa usus buntu lebih sering menyerang anak yang kurang serat.

Serat adalah nutrisi pada makanan yang berfungsi untuk menjaga tekstur feses tetap lunak. Sudah dijelaskan sebelumnya, bukan, bahwa penyumbatan pada apendiks bisa terjadi akibat adanya feses yang mengera.

Ya, dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa memenuhi kebutuhan serat setiap hari bisa langkah tepat untuk mengurangi risiko terjadinya usus buntu pada anak.

Anda dapat meningkatkan asupan serat pada anak setiap hari dari buah, sayuran, kacang-kacangan, hingga biji-bijian. Beberapa makanan kaya serat yang bisa dijadikan pilihan, antara lain:

  • Buah apel dan pir yang bisa mendorong BAB anak tetap lancar
  • Kacang hijau, kacang polong, dan kacang jenis lainnya
  • Sayur brokoli, bayam, wortel, dan kentang
  • Roti atau spageti dari gandum utuh

Imbangi makanan berserat tersebut dengan perbanyak minum air putih. Pasalnya, air putih bisa membantu serat bekerja secara maksimal dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan anak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 19, 2019 | Terakhir Diedit: April 5, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca