7 Aturan Seks Aman Jika Pasangan Mengidap Hepatitis

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Hepatitis C adalah penyakit hati menular yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Berikut adalah informasi lebih lanjut mengenai kaitan antara seks dan penularan hepatitis. 

Hepatitis bisa ditularkan lewat hubungan seksual

Perantara utama penularan hepatitis C dari satu orang ke orang lain adalah lewat darah dan cairan seksual, seperti air mani atau cairan vagina dari aktivitas seksual yang tidak aman. Penularan hepatitis C lewat seks terjadi dalam 1 dari setiap 190.000 kasus kontak seksual.

Beberapa jalur penularan hepatitis C lainnya, termasuk:

  • Berbagi jarum yang tidak steril di antara para pengguna obat suntik, seperti mereka yang menyalahgunakan heroin
  • Dari ibu ke bayi saat persalinan
  • Tertusuk jarum (suntik keperluan medis/jarum pentul/peniti/benda tajam lainnya) yang digunakan pada orang yang terinfeksi
  • Meminjam barang pribadi dari orang yang terinfeksi, seperti alat cukur dan sikat gigi

Infeksi hepatitis C biasanya tidak menimbulkan gejala sebelum tahap lanjut infeksi kronis. Sebenarnya, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa mereka menderita infeksi hepatitis C sebelum akhirnya kerusakan hati terdeteksi dalam tes medis rutin beberapa dekade kemudian.

Siapa saja yang berisiko tinggi tertular hepatitis C lewat seks?

Beberapa kondisi dan aktivitas seksual tertentu dilaporkan memiliki risiko tinggi terhadap penularan hepatitis C, yaitu:

  • Memiliki beberapa pasangan seksual
  • Menderita infeksi menular seksual (IMS) lainnya
  • Merupakan positif HIV
  • Melakukan hubungan seksual yang kasar
  • Seks tanpa pengaman, seperti tidak menggunakan kondom atau dental dam
  • Tidak menggunakan pengaman seks dengan benar

Risiko paling tinggi adalah penularan melalui darah yang terinfeksi, meskipun hepatitis C telah terdeteksi dalam air mani. Penularan ini bisa terjadi dari luka terbuka, sayatan, atau robekan lain pada kulit. Kontak kulit dengan kulit selama hubungan seks juga bisa menularkan darah dari satu orang ke orang lainnya, sehingga virus dapat menyebar.

Adalah hal yang umum untuk terkena co-infeksi HIV dan hepatitis C. Sebenarnya, dari 50 sampai 90 persen pengguna obat IV yang menderita HIV juga menderita hepatitis C. Ini dimungkinkan karena kedua kondisi ini memiliki faktor rIsiko yang serupa, termasuk berbagi jarum dan seks tanpa pengaman.

Bagaimana cara mencegah penularan hepatitis C?

Hingga saat ini, tidak ada vaksin untuk hepatitis C, tetapi ada cara untuk mencegah infeksi. Contohnya, berhenti menggunakan obat secara intravena dan berbagi jarum. Selain itu, berhenti menggunakan barang-barang yang terkontaminasi, seperti jarum. Selalu pastikan bahwa peralatan yang digunakan telah disterilkan. Bahkan, Anda tidak boleh berbagi jarum yang digunakan untuk tato, tindik tubuh, atau akupuntur. Peralatan ini harus selalu disterilkan dengan hati-hati demi keamanan. Saat jarum dan peralatan lainnya digunakan, mintalah dokter untuk mengikuti prosedur yang benar.

Jika Anda atau pasangan Anda terdiagnosis hepatitis C, Anda bisa mencegah penularan virus dengan banyak cara, termasuk:

  • Menggunakan kondom di setiap kontak seksual, termasuk seks oral dan seks anal
  • Menggunakan kondom dengan benar untuk mencegah robek atau sobek selama berhubungan seks
  • Menahan diri untuk tidak terlibat kontak seksual saat Anda atau pasangan memiliki luka terbuka di alat kelamin
  • Melakukan tes penyakit kelamin dan meminta pasangan seks Anda untuk menjalaninya juga
  • Berhubungan seks dengan satu pasangan saja (tidak gonta-ganti partner seks)
  • Jujur kepada semua pasangan seks Anda mengenai status kesehatan Anda
  • Melakukan pencegahan tambahan jika Anda positif HIV (kemungkinan Anda untuk tertular virus hepatitis C jauh lebih tinggi jika Anda menderita HIV). Untuk orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV, tersedia tes di fasilitas pengobatan PMS.

Tes antibodi hepatitis C, disebut juga tes anti-HCV, adalah tes yang menentukan keberadaan antibodi HCV dalam darah seseorang. Tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan virus hepatitis C jika seseorang telah terinfeksi virus ini. Jika hasil tes seseorang positif untuk antibodi, dokter biasanya menganjurkan tes lanjutan untuk memeriksa apakah orang tersebut memiliki hepatitis C yang aktif. Tes ini disebut tes RNA atau PCR.

Anda harus memeriksakan diri ke dokter secara teratur untuk melakukan skrining IMS jika Anda aktif secara seksual dan tidak berada dalam hubungan monogami. Beberapa virus dan infeksi, termasuk hepatitis C, bisa tidak menimbulkan gejala selama beberapa minggu setelah paparan. Sepanjang waktu virus tersebut belum menunjukkan gejala, Anda mungkin saja telah menularkannya kepada pasangan seks Anda tanpa sadar.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 2, 2017 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca