Makan Cepat atau Makan Perlahan: Mana yang Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Makan adalah salah satu aktivitas yang paling menyenangkan. Namun seiring dengan padatnya aktivitas yang harus dijalankan, seringkali makan dilakukan dengan terburu-buru karena yang terpenting adalah perut terisi. Padahal, dalam upaya menjaga kesehatan tubuh, memperhatikan pola dan cara makan sama pentingnya dengan pemilihan menu yang akan Anda konsumsi.

Tentunya, setiap orang memiliki cara yang berbeda saat makan, ada yang makan dengan perlahan, ada juga yang makan dengan cepat. Namun, apakah ada cara yang lebih baik di antara keduanya?

Mana cara makan yang bikin cepat kenyang?

Pernahkah Anda bertanya mengapa Anda dapat merasakan kenyang setelah makan? Faktanya, perasaan kenyang merupakan respon yang muncul karena lambung telah terisi penuh dengan makanan. Secara khusus, saat Anda makan, sinyal hormonal dilepaskan sebagai respon masuknya makanan ke dalam usus kecil. Sinyal hormonal tersebut di antaranya adalah hormon cholecystokinin (CCK) yang dikeluarkan usus sebagai respon terhadap makanan yang Anda konsumsi, dan hormon leptin yang dapat membuat Anda merasakan kenyang.

Sebuah studi menemukan bahwa hormon leptin dapat menguatkan sinyal hormon CCK untuk meningkatkan perasaan kenyang. Selain itu, studi lainnya juga menemukan bahwa hormon leptin dapat berinteraksi dengan dopamin neurotransmitter di otak untuk menimbulkan perasaan senang setelah makan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sering kali Anda dianjurkan untuk makan dengan perlahan. Karena, makan terlalu cepat dapat membuat sistem tersebut tidak memiliki waktu yang cukup untuk bekerja secara optimal, terutama dalam memberikan respon perasaan senang dan kenyang setelah Anda makan.

Lebih sehat makan cepat atau makan pelan-pelan?

Beberapa studi telah menemukan bukti bahwa makan dengan perlahan memberikan beberapa keuntungan. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrition and Dietics menemukan bahwa Anda akan mengkonsumsi lebih sedikit kalori ketika makan dengan perlahan. Akibatnya, makan dengan perlahan dapat mnegendalikan berat badan yang dapat mencegah terjadinya obesitas.

Studi yang dilakukan di Jepang juga telah menemukan adanya hubungan positif yang kuat antara kecepatan makan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan obesitas. Studi lain yang juga diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrition and Dietics menemukan bahwa meningkatkan jumlah kunyahan sebelum menelan makanan dapat mengurangi konsumsi makanan yang berlebih pada orang dewasa. Bahkan, studi tersebut juga menemukan bahwa orang dengan berat badan normal cenderung mengunyah makanan lebih lambat dibandingkan dengan orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.

Keuntungan makan pelan dibandingkan makan cepat

Beberapa studi tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa makan dengan perlahan dapat memberikan beberapa keuntungan terhadap kesehatan tubuh. Berikut adalah beberapa keuntungan lainnya yang Anda dapatkan jika makan dengan perlahan:

1. Mengurangi stres

Makan dengan perlahan memungkinkan Anda menikmati makanan yang Anda konsumsi, sehingga memungkinkan timbulnya perasaan senang setelah Anda makan dengan kenyang.

2. Mencegah kenaikan berat badan

Sebelumnya telah disebutkan bahwa makan dengan perlahan dapat mengoptimalkan sistem respon tubuh terhadap makanan berupa timbulnya perasaan “kenyang” setelah makan. Sehingga, hal tersebut dapat mencegah Anda untuk ngemil terlalu sering, yang sering kali menjadi penyebab naiknya berat badan.

3. Mengoptimalkan proses pencernaan

Ketika Anda makan, makanan yang Anda konsumsi tersebut akan bercampur dengan air liur didalam mulut yang kemudian akan dipecah menjadi bahan kimia yang lebih kecil agar dapat diserap sebagai nutrisi oleh tubuh Anda. Tentunya, makan dengan perlahan akan membuat makanan Anda terpecah menjadi lebih halus sehingga dapat mengefisienkan metabolisme makanan dalam tubuh, karena makanan yang tidak terpecah secara halus dapat menyulitkan tubuh untuk menyerap semua vitamin, mineral, dan asam amino yang penting untuk tubuh.

4. Resistensi insulin

Studi di Jepang menemukan bahwa makan dengan cepat berkaitan dengan terjadinya resistensi insulin, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes, penyakit jantung, dan sindrom metabolik.

5. Mencegah terjadinya refluks asam lambung

Sebuah studi menemukan bahwa makan dengan cepat dapat menyebabkan terjadinya refluks asam lambung, terutama jika Anda mengalami GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Lemak Paha Anda Sulit Dihilangkan? Ini Penyebabnya

Tahukah Anda bahwa lemak paha adalah lemak yang sulit dihilangkan dibandingkan dengan lemak yang ada di bagian tubuh lain? Lalu apa penyebabnya?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

Minum obat terus minum madu? Boleh atau tidak? Baiknya Anda simak penjelasan di sini mengenai bahaya dan anjuran saat minum madu.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat, Fakta Unik 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati?

Anda sering tidur dalam keadaan terang benderang dan lampu menyala? Mungkin ini saatnya mulai belajar tidur dalam gelap.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Hidup Sehat, Fakta Unik 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Menguak Manfaat Power Nap dan Bedanya Dengan Tidur Siang Biasa

Badan lemas, ngantuk, dan mata berat? Itu tandanya Anda butuh tidur siang! Yuk, intip trik power nap ini agar tidur siang lebih berkualitas dan bermanfaat.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Fakta Unik 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mitos makanan bayi

8 Mitos Seputar Makanan Bayi yang Harus Ditinggalkan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 10 menit
manfaat virgin coconut oil minyak kelapa dara; virgin coconut oil

Manfaat Virgin Coconut Oil untuk Kesehatan

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit
berat badan turun bukan berarti lemak berkurang

Berat Badan Turun, Bukan Berarti Lemak Tubuh Berkurang

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit
makan tidak teratur

6 Dampak Buruk Akibat Makan Tidak Teratur

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 4 menit