Bayi Prematur Lebih Berisiko Kena Osteoporosis di Masa Tua

Oleh

Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, ibu menyalurkan kalsium pada janin dalam kandungannya untuk meningkatkan pembangunan tulang anak. Tapi, ketika bayi lahir prematur, proses transfer nutrisi ini terputus sebelum waktunya sehingga mengakibatkan perkembangan tulang lemah saat mereka dewasa nanti.

BACA JUGA: 11 Faktor Risiko Pemicu Persalinan Prematur

Hubungan antara bayi lahir prematur dengan risiko tulang rapuh di masa depan

Bayi yang bertumbuh kembang secara optimal dalam kandungan memerlukan asupan 200 mg kalsium dari ibu selama tahap akhir kehamilan sampai kelahiran. Di Indonesia, data WHO tahun 2013 menunjukkan satu dari enam bayi lahir prematur sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Ketika bayi lahir prematur, proses transfer nutrisi ini menjadi terhenti sebelum waktunya sehingga mengakibatkan perkembangan tulang yang lemah saat anak dewasa nanti.

Para peneliti dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU) menemukan bahwa akibat transfer kalsium yang tidak lengkap ini, bayi lahir prematur bertumbuh dengan puncak massa tulang yang lebih rendah bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari kehamilan cukup bulan. Puncak massa tulang, yang dapat didefinisikan sebagai jumlah jaringan tulang yang hadir pada akhir pematangan tulang, merupakan faktor penentu penting dari risiko fraktur osteoporosis. Bahkan, diperkirakan kenaikan sekitar 10% saja dari puncak massa tulang di semua anak dapat mengurangi risiko patah tulang akibat osteoporosis selama masa dewasa hingga 50 persen.

Selama masa tumbuh kembang anak, tulang ikut bertumbuh panjang dan bisa memperbaiki diri dengan sangat cepat di antara usia 16-18 tahun, dan kepadatan tulang anak akan terus meningkat sampai usia 20-an akhir. Hingga 90 persen dari massa tulang puncak diperoleh oleh usia 18 pada anak perempuan dan usia 20 pada anak laki, yang membuat masa anak dan remaja menjadi waktu terbaik untuk anak-anak “berinvestasi” dalam kesehatan tulang mereka.

BACA JUGA: 4 Kesalahan Berolahraga yang Sering Menyebabkan Tulang Retak

Tapi, mulai usia 35 ke atas, kepadatan tulang manusia akan perlahan menghilang, dan perempuan khususnya akan mengalami pengeroposan tulang yang lebih cepat daripada laki-laki dalam beberapa tahun pertama setelah menopause, yang menempatkan orang-orang dewasa dan usia lanjut lebih berisiko terhadap patah tulang akibat osteoporosis.

Menariknya, tim peneliti juga melaporkan bahwa bayi yang lahir cukup bulan tapi memiliki berat badan lahir rendah juga mengalami peningkatan risiko osteoporosis.

Bayi yang lahir cukup bulan tapi memiliki berat lahir rendah juga berisiko alami pengeroposan tulang

“Studi kami menunjukkan bahwa bayi yang lahir prematur dengan berat badan sangat rendah lahir dan mereka yang lahir ‘tepat waktu’, tapi ukuran tubuhnya tergolong kecil untuk usia kehamilan ibu, memiliki massa tulang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol, yang lahir cukup bulan dengan bobot normal,” kata penulis utama studi tersebut Dr. Chandima Balasuriya, dikutip dari Parent Herald.

Penelitian terhadap kaitan bayi lahir prematur dan tulang ini melibatkan 186 orang dewasa berusia 26-28 tahun, 52 orang di antaranya lahir dengan bobot lahir sangat rendah. Lima puluh sembilah orang dewasa lahir cukup bulan tetapi dianggap lahir kecil. Terakhir, ada kelompok kontrol yang terdiri dari 77 orang yang beratnya normal setelah melahirkan cukup bulan.

BACA JUGA: Metode Kangguru untuk Bayi Prematur atau Berat Lahir Rendah

Untuk ketiga kelompok di atas, peneliti meneliti kandungan mineral tulang dan kepadatan tulang di tulang belakang, leher, pinggul, dan seluruh tubuh sekaligus mengukur tinggi dan berat badan saat penelitian berlangsung. Peneliti juga mempertimbangkan kadar aktivitas fisik dan kebiasaan merokok masing-masing partisipan penelitian.

Hasilnya, orang dewasa yang tergolong lahir kecil untuk usia kehamilannya memiliki puncak massa tulang yang lebih rendah daripada kelompok partisipan yang lahir dengan berat normal dan cukup bulan. Tapi ketika peneliti mengoreksi pengukuran massa tulang berdasarkan tinggi badan kelompok ini, yang cenderung lebih pendek, mereka menemukan bahwa bayi yang lahir kecil untuk usia kehamilan mereka, massa tulang mereka yang rendah sebagian diakibatkan oleh ukuran tubuh mereka.

Sebaliknya, ukuran tubuh saja tidak bertanggung jawab untuk massa tulang yang lebih rendah pada orang dewasa yang lahir prematur.

Cara mencegah risiko osteoporosis pada bayi lahir prematur

Puncak massa tulang adalah faktor penentu utama yang bertanggung jawab terhadap risiko pengembangan osteoporosis. Dilansir dari Infodatin Kemenkes RI, Berdasarkan data perhimpunan Osteoporosis indonesia tahun 2007, wanita indonesia penderita osteoporosis berusia di atas 50 tahun terhitung mencapai 32,3%, sementara pria sekitar 28,8 persen. Artinya, 1 dari 4 perempuan di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki risiko terkena osteoporosis.

Namun, orang tua bayi prematur dapat mencegah risiko ini dengan memastikan bahwa anak mereka makan makanan yang sehat dan cukup berolahraga untuk membangun kekuatan tulang, ungkap ilmuwan dari Universitas Norwegia Sains dan Teknologi (NTNU) dan St Rumah Sakit Olavs University.

“Mengonsumsi makanan yang kaya kalsium, vitamin D, dan protein, yang dipadukan dengan olahraga yang melibatkan aktivitas fisik menumpu beban dapat membantu bayi lahir prematur dan yang memiliki berat badan lahir rendah untuk mengurangi risiko patah tulang di kemudian hari,” kata Balasuriya.

Kalsium adalah nutrisi yang paling penting untuk mencapai puncak massa tulang. Kecukupan kalsium dapat mencegah dan mengatasi osteoporosis. Kalsium tidak dibuat dalam tubuh — harus diserap dari makanan yang kita makan. Untuk tubuh bisa secara efektif menyerap kalsium dari makanan, kita membutuhkan Vitamin D. Vitamin D dapat berasal dari diet atau paparan sinar matahari.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca