Gula Darah Tinggi Belum Tentu Diabetes, Kenali Dulu Toksisitas Gula!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Gula darah tinggi tidak hanya dimiliki oleh orang dengan diabetes saja. Orang yang sehat juga bisa mengalaminya. Walaupun memang orang yang memiliki gula darah tinggi sebagian besar telah terdiagnosis diabetes mellitus. Kadar gula darah tinggi dapat menyebabkan beberapa komplikasi, salah satunya toksisitas glukosa. Apa yang menyebabkan kondisi ini muncul? Apa saja gejalanya?

Apa itu toksisitas glukosa?

Toksisitas glukosa atau glucotoxicity merupakan suatu kondisi di mana gula darah tinggi yang tidak diobati sehingga mengakibatkan kerusakan sel yang permanen. Kondisi ini disebabkan oleh sel beta yang mengalami kerusakan.

Sel beta membantu tubuh Anda menghasilkan dan melepaskan hormon insulin. Hormon ini yang menarik glukosa keluar dari darah sehingga sel dalam tubuh dapat menggunakannya sebagai energi. Proses ini juga membantu mengatur kadar gula darah Anda.

Gula darah tinggi atau disebut juga hiperglikemia, dapat merusak sel beta. Kerusakan sel beta secara terus-menerus ini yang menyebabkan menurunnya produksi insulin dan meningkatkan terjadinya resistensi insulin pada tubuh, lalu menyebabkan glucotoxicity.

Apa saja gejala toksisitas glukosa?

Gula darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ dan jaringan tubuh Anda. Hal ini juga dapat menurunkan jumlah sel darah putih di tubuh, yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh Anda.

Sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat meningkatkan risiko Anda memiliki infeksi, yang juga membuat luka menjadi lebih sulit untuk sembuh. Gejala atau tanda-tanda yang mungkin terjadi jika gula darah tinggi meliputi.

  • Sering merasa haus
  • Sering buang air kecil
  • Penglihatan kabur
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Mulut kering
  • Linglung

Jika Anda sering memiliki kadar glukosa darah di atas 240 miligram per desiliter (mg/dl) segera hubungi dokter Anda.

Apa yang menyebabkan toksisitas glukosa?

Toksisitas glukosa disebabkan oleh tingginya kadar gula darah dalam jangka panjang, yang merupakan gejala diabetes yang sangat umum. Namun, Anda bisa memiliki kadar gula darah yang tinggi tanpa memiliki diabetes. Gula darah tinggi yang tidak berhubungan dengan diabetes biasanya berhubungan dengan sistem endokrin (hormon) atau penggunaan obat-obatan seperti steroid.

Peneliti juga percaya ada kaitan kuat antara stres oksidatif dan toksisitas glukosa. Stres oksidatif mengacu pada terlalu banyak radikal bebas di dalam tubuh tanpa cukup antioksidan untuk melawannya. Hal ini dapat merusak sel beta Anda dan menyebabkan terjadinya toksisitas. Kadar gula darah tinggi yang terus berlanjut bisa menyebabkan stres oksidatif.

Penyebab potensial lainnya adalah:

  • Pola makan: memiliki pola makan yang kurang sehat, serta terlalu banyak mengonsumsi gula dan karbohidrat, dapat meningkatkan risiko Anda mengalami toksisitas glukosa.
  • Kurang bergerak: jika tubuh Anda kurang aktif bergerak, kemungkinan gula darah Anda dapat meningkat dan terjadi toksisitas.
  • Stres: stres, baik fisik maupun psikis, juga merupakan salah satu pemicu utama dari kondisi ini

lemas saat puasa

Bagaimana mendiagnosis toksisitas glukosa?

Cara terbaik untuk memeriksa toksisitas glukosa adalah dengan melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan insulin secara teratur. Jika Anda memiliki diabetes, Anda mungkin sudah melakukan ini.

Jika Anda tidak memiliki diabetes atau belum memeriksakan kadar gula darah Anda, dokter akan menyarankan untuk melakukan tes A1C. Tes ini dilakukan untuk mengukur kadar gula darah rata-rata dalam tiga bulan terakhir. Jika Anda memiliki kadar gula darah puasa di atas 126 mg/dl atau A1C lebih dari 6,5 persen, Anda memiliki risiko yang tinggi.

Bagaimana cara mengobatinya?

Toksisitas glukosa diobati dengan menurunkan kadar gula darah Anda. hal ini bisa dilakukan dengan mengubah diet Anda, melakukan olahraga yang teratur, mendapatkan suntikan insulin, dan minum obat.

Mengonsumsi obat diabetes atau antioksidan, seperti metformin dan troglitazone, mungkin bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk toksisitas glukosa yang disebabkan oleh stres oksidatif. Namun, konsumsi obat-obatan tersebut tentunya harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, pastikan Anda berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu.

Komplikasi toksisitas glukosa yang mungkin terjadi

Jika Anda memiliki beberapa gejala yang dapat menimbulkan kondisi ini, segera konsultasikan hal tersebut pada dokter Anda untuk segera mendapatkan diagnosis yang tepat. Jika tidak diobati dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah, mata, saraf, ginjal, dan peningkatan risiko penyakit jantung.

Bagaimana mencegah terjadinya toksisitas glukosa?

Berikut adalah tips yang dapat Anda lakukan untuk mencegah terjadinya toksisitas glukosa:

1. Pola makan sehat

Anda dapat mengurangi risiko terkena toksisitas glukosa dengan mengurangi kadar gula darah Anda melalui pola makan yang sehat. Langkah pertama dalam melakukan ini adalah dengan mengurangi asupan karbohidrat. Anda tidak perlu benar-benar menghindari karbohidrat. Pastikan bahwa Anda mengonsumsi karbohidrat yang cukup.

Usahakan untuk mengurangi makanan dan minuman di bawah ini karena kandungan karbohidratnya yang cukup tinggi:

  • Roti
  • Pasta
  • Nasi
  • Sereal
  • Soda
  • Jus
  • Biskuit
  • Cake
  • Permen
  • Buah-buahan tertentu
  • Susu dan yogurt
  • Camilan seperti keripik kentang dan crackers
  • Oatmeal

Mengurangi bukan berarti Anda harus menghindari makanan dan minuman di atas sama sekali. Yang terpenting adalah, pastikan bahwa Anda mengonsumsinya dalam batas wajar.

Batas karbohidrat yang harus Anda makan bergantung pada berat, tinggi badan, dan tingkat aktivitas Anda. Sebagai acuan dasar, Anda sebaiknya mengonsumsi sebanyak 30-75 gram karbohidrat dalam satu porsi makanan. Untuk camilan, cukup dengan 15-30 gram karbohidrat saja. Dengan mengontrol asupan karbohidrat harian Anda, risiko untuk terkena toksisitas glukosa pun dapat dikurangi.

2. Mengelola stres dengan baik

Mengurangi stres juga bisa membantu mencegah lonjakan gula darah. Menurut WebMD, stres berpengaruh pada kadar gula darah Anda dengan cara menghambat produksi insulin pada tubuh. Akibatnya, glukosa pun dapat menumpuk di dalam darah Anda.

Oleh karena itu, Anda dapat mempelajari teknik-teknik mengelola stres yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi kesehatan Anda. Meditasi, latihan pernapasan, dan tidur cukup bisa membantu Anda mengurangi stres. Anda juga bisa melakukan yoga atau olahraga lain, yang juga membantu menurunkan kadar gula darah.

Teknik bernapas yang sederhana dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Sebuah penelitian tahun 2013 menemukan bahwa melakukan latihan relaksasi secara teratur dapat memperbaiki produksi insulin dan mengurangi peradangan. Kedua hal ini penting untuk mengobati kadar gula darah tinggi dan toksisitas glukosa.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 3, 2018 | Terakhir Diedit: Januari 10, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca