Apakah Mengalami Hiperglikemia Pasti Berarti Mengidap Diabetes?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Hiperglikemia atau kondisi di mana gula darah di dalam tubuh lebih tinggi dari normal, umumnya terjadi pada orang yang mengalami diabetes melitus. Tapi, apakah kondisi gula darah tinggi ini hanya terjadi akibat diabetes melitus? Mungkinkah orang yang tidak memiliki diabetes melitus juga mengalami hiperglikemia? Simak ulasan di bawah ini.

Apa itu hiperglikemia?

Hiperglikemia berasal dari kata “hiper” yang artinya tinggi, “gli” artinya glukosa, dan “emia” artinya darah. Seperti yang sudah sedikit diulas di atas, hiperglikemia adalah kondisi abnormal di mana gula darah tinggi berada di atas level normalnya.

Tubuh membutuhkan gula tersebut untuk menjaga fungsinya. Sel-sel tubuh nantinya akan mendapatkan energi juga dari gula yang masuk ke dalam tubuh ini. Namun, ada kondisi tertentu yang justru memiliki gula darah dalam tubuh terlalu banyak di darah atau disebut hipergikemia.

Kadar gula darah puasa normalnya berkisar <126 mg/dL, sedangkan kadar gula darah postprandial atau tanpa puasa normalnya <200 mg/dL ke bawah. Kondisi hiperglikemia dapat ditandai dengan terjadinya:

  • Poliuria (sering buang air kecil)
  • Polidipsia (selalu merasa haus)
  • Polifagia (rasa lapar yang berlebih)
  • Kelelahan yang parah
  • Pandangan kabur

Apabila diketahui segera gejala-gejalanya, kadar gula darah yang tinggi dapat dicegah sebelum menjadi semakin parah.

Apakah kalau mengalami hiperglikemia sudah pasti mengidap diabetes melitus?

Hiperglikemia tidak selalu berhubungan diabetes melitus. Ada beberapa kondisi medis lain yang juga dapat menyebabkan kadar gula tinggi, tetapi memang, penyebab paling umum kadar gula tinggi di atas normal yang banyak ditemukan adalah terkait dengan penyakit diabetes melitus.

Kondisi lainnya yang juga bisa menyebabkan hiperglikemia adalah:

  • Pankreatitis, yakni kondisi terjadinya peradangan pada pankreas
  • Kanker pankreas
  • Hipertiroidisme, kondisi di mana kelenjar tiroid terlalu aktif.
  • Cushing’s syndrome, terjadinya peningkatan kortisol darah
  • Tumor yang menghasilkan hormon tertentu. Contohnya: glucagonoma, pheochromocytoma. Glucagonoma adalah sebuah tumor yang terjadi di pankreas. Keberadaan tumor ini akan membuat produksi hormon glukoagon terlalu banyak. Hormon glukagon di dalam tubuh berfungsi mengubah gula otot (glikogen) menjadi gula darah. Pheochromocytoma adalah tumor yang terbentuk di sel kelenjar adrenal. 50% orang dengan kondisi ini mengalami hiperglikemia. Sebab, terjadi ketidakseimbangan produksi hormon epinefrin dan norepinefrin. Pheochromocytoma kebanyakan memproduksi norepinefrin lebih banyak dalam tubuh.
  • Kondisi stres yang parah, seperti saat terjadinya serangan jantung, stroke, trauma, atau beberapa penyakit parah lainnya yang secara sementara membuat kondisi gula darah tubuh menjadi hiperglikemia
  • Efek dari pengobatan tertentu, seperti menggunakan prednisone, estrogen, beta-blocker, glucagon, kontrasepsi oral, phenothiazines dapat meningkatkan peningkatan gula darah.
  • Mengonsumsi banyak sekali karbohidrat dari jumlah biasanya
  • Dalam keadaan sangat pasif tidak banyak bergerak
  • Mengalami infeksi
  • Tidak mendapatkan jumlah dosis obat penurunan gula darah yang sesuai.

Apa komplikasi yang bisa terjadi saat mengalami hiperglikemia?

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan masalah lainnya pada tubuh. Dilansir dari website Kementerian Kesehatan RI, hiperglikemia dapat memperburuk gangguan kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi dan juga infeksi jamur pada vagina.

Komplikasi lainnya yang dapat terjadi dalam jangka panjang adalah:

  • Kerusakan saraf atau neuropati
  • Kerusakan ginjal atau nefropati
  • Gagal ginjal
  • Penyakit kardiovaskular
  • Penyakit mata atau retinopati
  • Permasalahan di kaki karena kerusakan saraf dan aliran darah ke bagian kaki yang tidak lancar

Bagaimana cara menangani hiperglikemia?

Hiperglikemia ringan biasanya tidak memerlukan penanganan medis khusus. Orang dengan kasus hiperglikemia ringan sering kali dapat menurunkan kadar gula darahnya sendiri melalui pola hidup sehat.

Pastikan Anda aktif bergerak. Melakukan aktivitas fisik adalah cara terbaik dan paling efektif untuk menjaga kadar gula darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat diturunkan dengan aktivitas fisik yang dilakukan sehari-hari.

Selain itu, aturlah asupan karbohidrat Anda dan cegah konsumsi makanan yang menyebabkan kenaikan gula darah yang tinggi. Konsultasikan dengan ahli gizi terkait panduan makan khusus untuk kebutuhan Anda. Jangan lupa juga untuk mengontrol kadar gula darah Anda secara berkala untuk memantaunya.

Untuk memastikan bahwa Anda sudah melakukan perubahan pola hidup sehat yang benar, konsultasikan juga dengan dokter yang menangani kasus Anda.

Dalam kasus yang lebih berat, penanganannya tergantung dengan apa penyebab dari hiperglikemia itu sendiri. Jika memang karena diabetes melitus, maka akan ditangani dengan suntik insulin dan pengobatan lainnya untuk diabetes melitus.

Baca Juga:

Sumber