Komplikasi Diabetes Bisa Sebabkan Kerusakan Urat Tendon

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Jika Anda memiliki diabetes dan sering mengeluh sakit saat bergerak, bisa jadi itu karena urat tendon Anda mengalami kerusakan. Tendon sendiri adalah sekumpulan jaringan lunak yang menghubungkan jaringan otot dengan tulang. Lantas, mengapa diabetes bisa sebabkan kerusakan tendon? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel ini.

Ini penjelasan kenapa diabetes bisa sebabkan kerusakan tendon

Kerusakan tendon pada diabetes tipe 1 dan 2 terjadi karena satu zat yang disebut dengan Advenced Glycation End Products (AGE), yaitu zat yang terbentuk saat protein dan lemak bercampur dengan gula dalam aliran darah Anda.

Normalnya tubuh akan memproduksi AGE secara lambat dan stabil. Namun, apabila Anda memiliki diabetes, gula ekstra yang terkandung dalam darah Anda justru mempercepat produksi AGE yang pada akhirnya bisa memengaruhi tendon Anda.

Tendon sendiri terbuat dari protein yang disebut dengan kolagen. Sementara zat AGE ini membentuk ikatan dengan kolagen yang bisa mengubah struktur tendon dan memengaruhi fungsinya sebagaimana mestinya. Jika ini terjadi, tendon Anda akan menebal dibanding pada kondisi normal. Akibatnya, tendon jadi tidak bisa menahan beban sebanyak dulu.

Berikut ini beberapa masalah tendon yang mungkin saja bisa Anda alami apabila diabetes Anda tidak terkontrol dengan baik:

  • Sakit bahu (frozen shoulder). Kondisi ini menyakitkan yang membuat Anda tidak bisa menggerakkan bahu, sehingga jangkauan gerak bahu menjadi sangat terbatas. Penyebabnya karena kapsul yang mengelilingi tendon dan ligamen pada bagian bahu Anda mengalami penebalan, pembengkakan dan pengetatan sehingga menimbulkan kekakuan serta nyeri.
  • Carpal tunnel syndrome. Kondisi yang membuat jari tangan Anda mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, nyeri, dan daya genggam yang lemah. Gejalanya sering meningkat jika tangan diputar atau digerakkan. Kondisi ini terjadi karena saraf median tertekan atau terhimpit.
  • Kontraktur dupuytren. Suatu keadaan di mana jaringan di bawah kulit menciptakan semacam benang tebal yang dapat menarik satu atau lebih jari tertekuk ke dalam. Seringnya kontraktur dupuytren menyerang jaris manis dan kelingking. Jika tidak segera ditangani, tangan Anda kan menjadi sulit digunakan dan bahkan bisa menyebabkan kecacatan.

Kerusakan tendon sangat menyakitkan sehingga bisa menghambat Anda untuk bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, jika Anda sudah melakukan operasi untuk memperbaiki kerusakan tendon, tendon bisa robek dan mengalami kerusakan lagi. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga orang dengan diabetes yang menjalani operasi untuk memperbaiki kerusakan tendon bisa saja mengalami kerusakan lagi di kemudian hari.

Lantas bagaimana cara mencegah kondisi ini?

Cara terbaik untuk menghindari masalah urat tendon adalah mengendalikan diabetes Anda. Kontrol gula darah Anda dengan bantuan diet, olahraga, dan disiplin minum obat-obatan yang sudah diresepkan dokter.

Tidak hanya itu, jika Anda memiliki kelebihan berat badan, berusahalah untuk menurunkan berat badan Anda agar menjadi lebih ideal. Selain akan mengurangi tekanan pada tendon Anda, memiliki berat badan ideal juga akan memperbaiki kesehatan Anda secara keseluruhan.

Namun, apabila Anda sudah terlanjur mengalami kerusakan tendon, biasanya dokter akan memberikan perawatan yang meliputi:

  • Pemberian obat penghilang rasa sakit ataupun obat pelemas otot.
  • Terapi fisik dan olahraga yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
  • Pakai splint, yaitu sejenis alat bantu yang digunakan untuk menyokong dan membantu memulihkan anggota badan yang patah, terkilir, atau cedera otot.
  • Dokter Anda mungkin juga akan menyarankan suntik steroid ke sendi Anda yang bermasalah untuk mengurangi nyeri tendon. Akan tetapi, Anda harus paham jika steroid dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah dalam jangka pendek. Itu sebabnya, tanyakan kepada dokter Anda terlebih dulu apakah manfaat pengobatan ini lebih besar daripada risikonya atau tidak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 6, 2017 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca