Mengenal Kondisi Resistensi Obat Anti Tuberkulosis

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu TB MDR (resistensi obat TBC)?

Tuberkulosis (disingkat sebagai TB atau TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan karena bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang hanya disebarkan lewat udara ini pengobatannya sangat lama, sekitar 6 bulan minimal untuk bisa sembuh. Pengobatan umumnya menggunakan obat antibiotik khusus penyakit tuberkulosis.

Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan pasien kebal terhadap obat utama, atau bisa disebut sebagai resistensi obat tuberkulosis, atau TB MDR (multiple drug resistant).

Obat biasa yang diberikan kepada pasien resistensi obat TB, kemungkinan tidak akan mempan untuk mengobati. Maka itu, pasien resisten tuberkulosis membutuhkan perawatan khusus, baru, dan lebih lama waktu pengobatannya.

TB MDR atau multiple drug resistant tuberculosis adalah kondisi yang bisa fatal akibatnya. Hal ini diperjelas oleh Dr. dr. Erlina Burhan. MSc, Sp.P(K), ahli paru dan pakar tuberkulosis yang ditemui di K-Link Tower, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu lalu (8/5). Saat ditemui tim Hello Sehat, dr. Erlina menyatakan bahwa TBC MDR adalah salah satu penghambat penanggulangan penyakit TB di Indonesia.

Pasien yang mengalami TB MDR adalah pasien yang resisten terhadap 2 obat TB paling ampuh, antara lain isoniazid (INH) dan rifampicin.

Selain itu, dikatakan pasien mengalami MDR apabila kebal terhadap obat TB lini pertama, di antaranya adalah ethambutol, streptomycin, dan pyrazinamide. TB umumnya ditandai dengan gejala batuk terus menerus, sesak napas, serta tubuh lesu dan emas.

Seberapa umumkah TB MDR (resistensi obat TBC)?

TB MDR adalah salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi ancaman serius. Di negara-negara berkembang, terutama daerah di mana TBC adalah penyakit yang tergolong umum, kasus kejadian MDR cukup tinggi.

Menurut sebuah studi dari Tropical Diseases, Travel Medicine and Vaccines, pada tahun 2016, terdapat sebanyak 4,1% kasus resistensi obat tuberkulosis yang muncul pertama kali, dan 19% kasus tuberkulosis MDR yang berkembang dari TBC biasa. Diperkirakan terdapat 240.000 kasus kematian akibat resistensi obat TB di tahun yang sama.

Sementara itu, dilansir dari situs World Health Organization (WHO), sebanyak 117 negara di dunia telah melaporkan terjadinya kasus resistensi obat TBC. Negara dengan kasus kejadian resistensi obat tertinggi adalah Cina, India, dan Rusia.

Tingginya jumlah penderita TB dengan kondisi resisten terhadap obat dipicu oleh berbagai macam faktor. Beberapa fakor pemicu MDR adalah metode pengobatan yang cukup rumit, pasien tidak menjalani pengobatan dengan tepat, atau tertular penderita lain dengan kondisi yang sama.

Untungnya, TB MDR adalah kondisi yang dapat diatasi dengan penanganan dan pengendalian faktor-faktor risiko yang tepat. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi ke dokter.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala TB MDR (resistensi obat TBC)?

Tanda-tanda dan gejala yang paling jelas dari MDR tentunya adalah kondisi kesehatan pasien TB yang tidak kunjung membaik, meskipun telah menjalani pengobatan anti tuberkulosis. Atau, penyakit kambuh lagi beberapa waktu kemudian setelah Anda merasa tidak ada lagi tanda-tanda dan gejala TB yang muncul.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. MDR adalah kondisi yang dapat ditangani secara tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, selama Anda memeriksakan gejala apapun ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab TB MDR (resistensi obat TBC)?

Dr. Erlina mengatakan bahwa dokter dan tim medis bisa menjadi penyebab kondisi ini terjadi. Pertama, MDR adalah kondisi yang bisa disebabkan karena pemberian obat dari dokter yang tidak tepat.

Dokter atau pelayanan kesehatan lainnya tidak dapat memberikan panduan, informasi dosis, waktu lama pengobatan, maupun kualitas obat secara baik kepada pasien. Hal ini adalah pemicu terjadinya kesalahan dalam minum obat, sehingga MDR dapat terjadi.

Kedua, MDR adalah kondisi yang dapat terjadi akibat pasien itu sendiri. Saat pasien tidak patuh pada waktu minum obat, atau pasien berhenti minum obat sebelum sembuh, ini adalah hal yang dapat menyebabkan terjadinya MDR.

Selain itu, kondisi tuberkulosis MDR ini juga bisa disebabkan karena obat TB adalah obat yang tidak selalu tersedia di seluruh daerah di Indonesia.

Hal lain yang memicu terjadinya MDR adalah berada di tempat yang ramai, seperti penampungan, panti, pusat layanan kesehatan, dan lain sebagainya. Terlebih lagi jika tempat-tempat tersebut dipenuhi oleh pasien lain yang menderita TB MDR.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami TB MDR (resistensi obat TBC)?

TB MDR adalah kondisi yang dapat terjadi pada hampir setiap penderita tuberkulosis. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami resistensi terhadap obat-obatan.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu kondisi kesehatan. Faktor risiko hanyalah sekumpulan kondisi yang dapat memperbesar peluang Anda untuk mengalami kondisi kesehatan tertentu.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya MDR:

1. Pasien TB yang tidak menghabiskan obat

Beberapa pasien sudah merasa lebih baik setelah minum obat dalam jangka waktu tertentu, kemudian menghentikan pengobatan begitu saja sebelum obat habis. Padahal, obat-obatan yang telah diresepkan oleh dokter harus dihabiskan.

Kondisi ini adalah salah satu faktor risiko penderita untuk mengembangkan penyakit TB biasa menjadi tuberkulosis MDR.

2. Pasien yang tidak minum obat secara rutin

Selain tidak menghabiskan obat, terdapat pula beberapa pasien yang mungkin tidak minum obat sesuai dengan anjuran dan dosis dari dokter. Dengan kata lain, pasien mencoba mengatur dosis sesuai dengan kemauannya sendiri.

Kombinasi obat-obatan anti tuberkulosis yang telah diberikan dokter tentunya sudah diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan kondisi kesehatan pasien. Apabila dosis tersebut tidak diikuti dengan tepat, besar kemungkinan pasien untuk menderita resistensi obat TBC.

3. Pasien yang tidak minum seluruh obat

Kondisi lain yang dapat memicu terjadinya MDR adalah tidak minum semua obat yang diberikan, atau hanya minum beberapa saja. Memang, pengobatan TBC adalah kombinasi dari berbagai obat-obatan, sehingga mungkin pasien lupa atau tidak minum seluruh obat yang tersedia dan MDR pun berpotensi terjadi.

4. TB kambuh kembali, setelah pasien pernah menderita TB sebelumnya

Selain kesalahan saat minum obat, ada kemungkinan penyakit TB kembali kambuh, bahkan setelah pasien dinyatakan terbebas dari bakteri TB dan telah menjalani pengobatan sebelumnya.

5. Tinggal atau berada di daerah dengan kasus kejadian TB MDR yang tinggi

Apabila Anda bepergian atau tinggal di suatu daerah dengan kasus kejadian TBC yang cukup tinggi, terutama TBC jenis resisten obat, peluang Anda untuk mengalami kondisi ini pun semakin besar.

Selain itu, apabila Anda bekerja di tempat dengan bakteri TBC yang banyak, seperti rumah sakit, klinik, penampungan, panti, atau pengungsian, peluang untuk mengembangkan penyakit ini pun lebih besar.

6. Berdekatan dengan penderita resisten obat TB

Penularan bakteri TB yang bersifat resisten terhadap obat juga dapat terjadi, bahkan meskipun Anda belum pernah menderita TB sebelumnya.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana dokter mengetahui bahwa Anda memiliki TB MDR (resistensi obat TBC)?

Beberapa cara untuk mendiagnosis MDR adalah dengan tes laboratorium khusus. Dokter akan melakukan tes teknik molekul, seperti Xpert MTB/RIF. Atau, dokter juga mungkin akan mengambil cairan tubuh Anda, misalnya darah atau dahak.

Tes dengan teknik molekul akan menunjukkan hasil diagnosis dalam hitungan jam. Tingkat akurasinya pun cukup tinggi, sehingga kondisi resistensi obat dapat segera terdeteksi.

Bagaimana rencana pengobatan TB MDR (resistensi obat TBC)?

MDR adalah kondisi yang bisa disembuhkan, meskipun dengan waktu pengobatan yang lebih lama. Menurut dr. Erliana, berikut adalah beberapa rencana pengobatan MDR:

  • Dosis obat akan berbeda
  • Jumlah obat akan lebih banyak
  • Waktu pengobatan lebih lama, sekitar 20 bulan atau lebih
  • Harus disuntik setiap hari selama 4 sampai 8 bulan
  • Menjaga lingkungan tempat tinggal tetap bersih

Dianjurkan untuk mematuhi semua rencana pengobatan yang dianjurkan dokter. Nantinya dokter akan mendiagnosis dini setiap pasien tuberkulosis yang terduga resisten obat.

Apabila telah terdiagnosis resisten, pasien akan diobati dengan obat anti tuberkulosis lini kedua. Obat anti TB lini kedua umumnya seperti fluoroquinolone (levofloxacin), serta obat injeksi seperti amikacin dan kanamycin.

Pencegahan

Apakah TB MDR (resistensi obat TBC) dapat dicegah?

Meskipun berbahaya, MDR adalah kondisi yang dapat dicegah. Tujuan dari pencegahan MDR adalah menghindari persebaran bakteri TB resisten, serta mengurangi risiko berkembangnya MDR menjadi TB XDR.

TB XDR (extensively drug resistant) sendiri adalah jenis MDR yang lebih parah dan jarang terjadi, di mana tubuh tidak hanya gagal merespon pengobatan dengan isoniazid dan rifampicin, namun juga obat-obatan lini kedua seperti fluoroquinolone, amikacin, dan kanamycin.

Kondisi ini sangat berbahaya karena pasien tidak lagi memiliki opsi pengobatan yang banyak dan bekerja secara efektif. Umumnya, XDR TB terjadi pada pasien dengan infeksi HIV atau kondisi kesehatan lain yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah resistensi obat TB:

1. Minum obat sesuai resep dokter

Pencegahan MDR yang paling utama adalah dengan minum obat sesuai dengan resep dan anjuran dari dokter atau tim medis. Pasien tidak boleh menghentikan pengobatan sebelum obat habis, tidak melewatkan dosis, atau mengatur dosis sesuai keinginan sendiri.

Jika pasien TB akan bepergian ke tempat yang jauh, pasien harus berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan apakah ia memiliki persediaan obat yang cukup selama bepergian.

Dokter dan tim medis akan membantu mencegah terjadinya resistensi obat dengan cara memahami aturan pemberian obat-obatan yang benar. Selain itu, tim medis juga harus memastikan bahwa mereka telah memberi tahu pasien mengenai tata cara pengobatan secara jelas, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

2. Menghindari daerah yang ramai, penuh, dan sesak

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah MDR adalah hindari tempat yang penuh atau tertutup, apalagi jika di tempat tersebut terdapat penderita TBC MDR. Beberapa tempat tersebut meliputi rumah sakit, puskesmas, penjara, penampungan, atau panti.

Jika Anda bekerja di rumah sakit atau pusat kesehatan lainnya, Anda sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan atau kontrol infeksi. Anda juga dapat memikirkan cara terbaik untuk mensosialisasikan MDR ke orang-orang di sekitar Anda, baik pekerja kesehatan maupun pasien.

3. Vaksinasi TB

MDR adalah kondisi yang juga dapat dicegah dengan vaksinasi TB biasa. Vaksinasi yang disebut dengan Bacille Calmette-Guerin ini banyak tersedia di negara-negara berkembang dengan kasus TB yang tinggi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Kurma bukan satu-satunya buah yang baik dimakan saat berbuka puasa. Lihat berbagai pilihan lainnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Monika Nanda
Hari Raya, Ramadan 14/05/2020

7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

Jangan sampai karena puasa Anda jadi lemas, lesu, dan mudah sakit. Simak rutinitas yang bisa dilakukan agar tetap fit saat puasa.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hari Raya, Ramadan 09/05/2020

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Puasa menjadi tantangan tersendiri untuk Anda yang memiliki maag. Namun, jangan khawatir, berikut tips-tips mencegah maag saat puasa.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hari Raya, Ramadan 07/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
panduan diet sehat untuk menurunkan berat badan, cara diet sehat, menu diet sehat, makanan diet sehat, diet sehat alami

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020