Berbagai Metode Pemeriksaan untuk Mendiagnosis TBC

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/05/2020
Bagikan sekarang

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Terkadang, penyakit ini sulit terdeteksi di awal karena bakteri penyebab TBC bisa dalam keadaan “tidur” atau tidak aktif menginfeksi paru-paru. Oleh karena itu, penting bagi  Anda untuk menjalani pemeriksaan TBC, terutama jika Anda memiliki faktor-faktor risiko tertular bakteri M. tuberculosis. Seperti apa proses diagnosis TBC, dan siapa saja yang harus menjalani pemeriksaan? Simak penjelasannya di bawah ini.

Kenapa perlu melakukan pemeriksaan TBC?

Penularan penyakit TBC terjadi melalui udara. Saat penderita TBC batuk atau bersin, ia mengeluarkan droplet atau percikan dahak yang mengandung bakteri tuberkulosis. Droplet yang berisi bakteri bisa bertahan di udara selama beberapa waktu sehingga saat terhirup oleh orang lain bakteri akan berpindah ke tubuh orang tersebut melalui mulut atau saluran pernapasan atas.

Faktanya, kebanyakan orang telah terpapar bakteri TBC selama hidupnya, tapi kebanyakan memang tidak menunjukkan gejala, alias dalam keadaan TB laten.

Namun, sepuluh persen di antara orang yang terinfeksi tuberkulosis menderita TB paru aktif sehingga penderita TB laten tetap perlu mewaspadai perkembangan penyakit ini di dalam tubuh.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi bakteri tuberkulosis. Orang yang memiliki faktor risiko tersebut  disarankan untuk mengikuti pemeriksaan TBC. Dari hasil pemeriksaan, dokter akan menentukan apakah Anda perlu menjalani pengobatan TBC atau tidak.

Selain memastikan status infeksi agar tidak terlambat berobat, diagnosis TBC sedari dini untuk orang dengan faktor risiko juga berguna untuk menghindari penyebaran penyakit ke orang lain. Anda yang dinyatakan positif menularkan TBC sejak awal bisa segera melakukan langkah pencegahan penularan TBC.

Berbagai metode pemeriksaan dalam diagnosis TBC

Jika Anda atau tim medis mencurigai adanya infeksi TBC di dalam tubuh Anda, Anda harus menjalani pemeriksaan fisik terlebih dahulu.

Dokter akan mengawali proses diagnosis TBC dengan menanyakan faktor-faktor risiko yang ada. Kapan terakhir kali pergi ke daerah endemik TBC, kapan melakukan kontak dengan pasien TBC, apa pekerjaan Anda adalah pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan.

Selain itu, dokter juga akan mencari tahu apakah Anda memiliki penyakit atau kondisi kesehatan tertentu yang menurunkan sistem kekebalan tubuh Anda, seperti infeksi HIV atau diabetes.

Tidak hanya itu saja, dokter juga akan mengecek apakah ada pembengkakan pada kelenjar getah bening Anda, serta mendengarkan bunyi paru-paru Anda dengan stetoskop saat Anda bernapas.

Apabila terdapat dugaan infeksi TBC, dokter akan meminta Anda melakukan tes-tes tambahan agar hasil diagnosis TBC lebih akurat.

Beberapa prosedur pemeriksaan medis yang umum dilakukan untuk mendiagnosis TBC adalah:

1. Tes kulit (Mantoux test)

Tes kulit, atau mantoux tuberculin skin test (TST), merupakan metode yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan TBC. Biasanya, tes ini dilakukan di negara-negara dengan angka kejadian TBC yang rendah, di mana kebanyakan orang hanya memiliki TBC jenis laten di dalam tubuhnya.

Tes ini dilakukan dengan cara menyuntikkan cairan yang disebut dengan tuberkulin. Itu sebabnya, tes ini disebut juga dengan nama uji tuberkulin. Tuberkulin disuntikkan di bagian bawah lengan Anda. Setelah itu, Anda akan diminta untuk kembali ke dokter dalam waktu 48-72 jam setelah tuberkulin disuntikkan.

Tim medis akan mengecek apakah terdapat pembengkakan atau pengerasan—atau disebut indurasi—di bagian tubuh Anda. Jika ternyata ada, tim medis akan mengukur indurasi tersebut.

Hasil diagnosis TBC akan bergantung pada ukuran pembengkakan tersebut. Semakin besar area yang bengkak akibat suntikan tuberkulin, semakin besar pula kemungkinan Anda terinfeksi oleh bakteri TBC.

Sayangnya, tes kulit dengan cairan tuberkulin belum dapat menunjukkan apakah Anda memiliki TBC jenis laten atau penyakit TBC aktif.

2. The Interferon Gamma Release Assays (IGRA)

IGRA adalah jenis pemeriksaan TBC terbaru yang dilakukan dengan mengambil sedikit sampel darah Anda. Tes darah dilakukan untuk mengetahui bagaimana sistem imun tubuh Anda merespons bakteri penyebab TBC.

Pada prinsipnya, sistem imun tubuh Anda memproduksi molekul yang disebut dengan sitokin. Tes IGRA bekerja dengan cara mendeteksi salah satu jenis sitokin bernama interferon gamma.

Terdapat dua jenis IGRA yang sudah disetujui dan sesuai dengan standar FDA, yaitu QuantiFERON®–TB Gold In-Tube test (QFT-GIT) dan T-SPOT® TB test (T-Spot).

Tes IGRA untuk diagnosis TBC biasanya akan berguna ketika hasil tes kulit tuberkulin Anda menunjukkan adanya bakteri M. tuberculosis, tapi Anda masih perlu memastikan jenis TBC tersebut.

3. Sputum smear microscopy

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya TBC adalah sputum smear microscopy, atau mengambil sedikit cairan dahak untuk diperiksa. Anda mungkin lebih mengenalnya dengan nama tes dahak atau tes BTA (basil tahan asam).

Saat Anda batuk, dokter akan mengambil sampel dari dahak Anda. Dahak kemudian akan dioleskan ke lapisan kaca tipis. Proses ini disebut dengan smear.

Setelah itu, cairan tertentu akan diteteskan ke sampel dahak tersebut. Dahak yang telah tercampur dengan tetesan cairan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya bakteri TBC.

Terkadang, ada cara lain yang dapat meningkatkan akurasi sputum smear, yaitu dengan menggunakan mikroskop fluorescent. Cahaya yang dikeluarkan dari mikroskop jenis ini menggunakan lampu berkekuatan merkuri yang tinggi, sehingga lebih banyak area sampel dahak yang terlihat dan proses mendeteksi bakteri akan jauh lebih cepat.

Potensi penularan TBC  ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam pemeriksaan sputum atau sampel dahak. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan sputum untuk TBC, makin tinggi risiko penderita menularkan penyakitnya kepada orang lain.

4. Rontgen paru

Jika Anda memiliki bakteri TBC yang diduga kuat disertai dengan peradangan atau inflamasi di dalam paru, dokter akan merekomendasikan tes x-ray atau rontgen dada (thorax) Anda.

Dengan rontgen, bayangan atau bercak yang tidak wajar akan terlihat di paru-paru Anda. Selain itu, TB paru akut biasanya mudah terdeteksi melalui rontgen. Akan tetapi, rontgen paru ini tidak bisa menunjukkan hasil diagnosis TB ekstra paru (terjadi di luar paru).

Bagaimana dengan tingkat keakuratan pemeriksaan TBC?

Masing-masing metode pemeriksaan TBC memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa jenis tes tidak dapat menunjukkan hasil yang cukup akurat, bahkan berpotensi memberikan hasil yang salah.

Tes mantoux dinilai salah satu yang berpotensi kurang akurat. Pasalnya, uji tuberkulin ini tidak mampu membedakan apakah Anda menderita TB laten atau aktif. Hasil yang muncul pada orang yang telah menerima vaksinasi BCG juga kurang optimal.

Hasil tes bisa saja menunjukkan positif terkena infeksi TBC jika pernah menerima vaksinasi tersebut. Padahal, Anda mungkin belum terpapar bakteri TBC sama sekali.

Uji tuberkulin negatif juga sering terjadi pada kalangan tertentu, seperti anak-anak, lansia, dan penderita HIV/AIDS.

Tes dahak (pemeriksaan BTA) hanya memiliki persentase akurasi sebesar 50-60 persen. Bahkan, di negara-negara dengan kasus kejadian TBC yang tinggi, akurasinya justru malah semakin menurun.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena TBC pada penderita penyakit lainnya, seperti HIV, memiliki kadar bakteri TBC yang rendah di dalam dahaknya. Akibatnya, bakteri sulit dideteksi.

Metode pemeriksaan TBC yang terbukti menunjukkan hasil diagnosis paling akurat sejauh ini adalah tes darah IGRA. Sayangnya, tes IGRA belum tersedia di beberapa daerah, terutama kawasan dengan fasilitas medis yang kurang memadai.

Siapa saja yang perlu melakukan pemeriksaan TBC?

Dilansir dari situs Centers for Disease Control and Prevention, Terdapat beberapa orang dengan faktor-faktor risiko tertentu yang mengharuskan mereka menjalani pemeriksaan atau diagnosis TBC, yaitu:

  • Orang yang tinggal atau sering menghabiskan waktu dengan penderita TBC
  • Orang yang tinggal atau bepergian ke daerah dengan kasus TBC yang tinggi, seperti Amerika Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa Timur.
  • Orang yang tinggal atau bekerja di tempat dengan risiko tertular tinggi, seperti rumah sakit, puskesmas, panti, penampungan anak jalanan, pengungsian, dan lain sebagainya.
  • Bayi, anak-anak, dan remaja yang berdekatan dengan orang dewasa penderita TBC.
  • Orang dengan sistem imun lemah.
  • Orang dengan penyakit yang menyebabkan penurunan sistem imun tubuh, seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, atau rheumatoid arthritis.
  • Orang yang pernah menderita penyakit TBC dan tidak menjalani pengobatan dengan tepat.

Tes pemeriksaan TBC umumnya tidak perlu dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki faktor-faktor risiko di atas.

Selain itu, terlepas dari apakah Anda memiliki faktor-faktor risiko di atas atau tidak, Anda perlu mempertimbangkan untuk menjalani diagnosis TBC jika muncul tanda-tanda dan gejala TBC sebagai berikut:

  • Batuk berlangsung lebih dari 3 minggu
  • Hemoptisis (batuk disertai darah)
  • Sesak napas
  • Penurunan berat badan secara drastis
  • Nafsu makan menurun
  • Berkeringat di malam hari
  • Demam
  • Kelelahan

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Dalam penularan penyakit tuberkulosis ada yang disebut infeksi TB laten. Apa itu infeksi TB laten? Apakah hal ini berbahaya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Manusia Hidup dengan Sebelah Paru, Kok Bisa?

Banyak sebab kerusakan pada paru yang haruskan manusia merelakan sebelah parunya dibuang dan ternyata masih bisa hidup dengan itu.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Tuberkulosis atau TBC dapat mudah menyebar melalui udara. Namun, mencegah TBC dan penularannya dapat dihindari dengan cara sederhana berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Mengenal Penyakit TB XDR dan Pengobatannya

Lebih parah dari TB MDR, kondisi TB XDR bahkan tidak dapat diobati dengan obat lini kedua. Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

tb ekstra paru atau di luar paru

Hal Yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tuberkulosis (TB) Ekstra Paru

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
puasa saat flu saat puasa

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020
olahraga untuk pasien tuberkulosis

Pilihan Olahraga yang Aman untuk Pasien TBC

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 24/04/2020
pantangan makanan bagi TBC

Kenali Pola Makan Sehat dan Pantangan Makanan Penderita TBC

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 04/04/2020