Mengenal Gejala dan Pengobatan Pasien TB MDR

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update April 27, 2020
Bagikan sekarang

Orang yang didiagnosis mengalami tuberkulosis (TBC) harus disiplin menjalani pengobatan. Pasalnya, apabila lalai mematuhi aturan minum obat TBC dengan benar maka bisa mengembangkan kondisi resistansi obat atau disebut juga dengan TB MDR. Saat seseorang didiagnosis resistan terhadap obat antituberkulosis, maka pengobatan akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan lebih kompleks. Pengobatan untuk TB MDR juga memiliki efek samping yang lebih berat.

Apa itu resistensi obat tuberkulosis (TB MDR)?

Resistensi obat tuberkulosis atau Multi-drug Resistant Tuberculosis (TB MDR) adalah kondisi di mana pasien kebal terhadap pengobatan TBC lini pertama. Kondisi resistan antibiotik menandakan bakteri tidak lagi terpengaruh dengan reaksi antibiotik sehingga antibiotik tidak efektif lagi membunuh atau melemahkan infeksi bakteri. 

Obat antituberkulosis lini pertama adalah regimen obat-obatan yang pertama kali diberikan pada pasie TB aktif untuk dua tahap pengobatan TBC, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Regimen pengobatan lini pertama terdiri dari kombinasi beberapa obat antituberkulosis, tapi biasanya terdiri atas 2 obat antituberkulosis yang paling poten atau ampuh, yaitu INH (isoniazid) dan rifampisin. Bakteri penyebab TBC umumnya resistan terhadap dua jenis obat ini.

Namun, tidak menutup kemungkinan jika pasien juga bisa resistan terhdap terhadap obat-obatan lini pertama lainnya, seperti etambutol, streptomisin, dan pirazinamid. 

Berbagai kemungkinan penyebab TB MDR

Saat ini, semakin banyak bakteri yang resisten atau kebal terhadap obat TBC lini pertama. Dilansir dari TB Facts, kemungkinan ini bisa disebabkan oleh penggunaan obat TBC yang kurang adekuat, baik oleh tim medis maupun pasien.

Dalam pengobatan lini pertama, pasien harus menghabiskan dan minum obat TBC sesuai dengan dosis dan jadwal yang ditentukan. Jika lengah dan kurang disiplin, maka menimbulkan efek resistansi terhadap obat pada bakteri yang tak lain adalah TB MDR.

Kondisi ini merupakan faktor eksternal yang menyebabkan bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis (MTB) membentuk karakter yang resistan terhadap efek antibiotik.

Selain itu, beberapa bakteri tuberkulosis memang memiliki karakteristik genetik (genotipe) yang resistan terhadap antibiotik tertentu. Artinya, resistansi antibiotik juga bisa menjadi sifat alamiah atau bawaan bakteri, atau disebut juga sebagai faktor internal.

Peluang terjadinya resistansi bakteri juga akan meningkat apabila jumlah MTB di dalam tubuh sangat melimpah karena memungkinkan semakin banyak bakteri yang resistan terhadap antibiotik yang berbeda. Inilah sebabnya, durasi pengobatan TB MDR bisa berlangsung lebih panjang dari yang seharusnya.

Kasus resistansi antibiotik juga banyak ditemui pada pasien penderita HIV dan AIDS.

Apa gejala pasien TB resisten obat?

Pasien TB yang resisten obat umumnya punya gejala TBC yang sama seperti kasus tuberkulosis biasa. Perlu diketahui juga, bahwa tanda dan gejala TB MDR tergantung pada bagian tubuh mana bakteri TBC menyerang, sehingga obat yang diberikan juga menyesuaikan.

Meski umumnya menyerang paru-paru, bakteri TB juga dapat menyerang bagian tubuh lain, seperti tulang, usus, kulit, bahkan organ reproduksi. Pengobatan TB MDR nantinya akan disesuaikan dengan kondisi tersebut.

Gejala TB resistan obat kurang lebih sama seperti pasien tuberkulosis pada umumnya, seperti:

  • Batuk terus-menerus. Dalam kondisi parah, batuk TBC bisa sampai mengeluarkan darah
  • Sakit di dada
  • Mudah lelah, lemas, dan lesu
  • Tidak nafsu makan
  • Mengalami demam ringan
  • Berat badan menurun drastis
  • Sesak napas dan nyeri di dada
  • Berkeringat di malam hari tanpa sebab

Bagaimana pengobatan penderita resistansi obat TB?

obat tbc

Menurut dr. Erlina Burhan. MSc, Sp.P(K), ahli paru dan pakar tuberkulosis yang ditemui dalam acara diskusi media di K-Link Tower, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, penyembuhan TB resistan berbeda dengan penyembuhan tuberkulosis biasa.

Hal tersebut lantaran bakteri tuberkulosis yang ada di dalam tubuh pasien sudah kebal, berevolusi, dan sulit untuk dikendalikan.

Pengobatan TB MDR biasanya akan menggunakan obat yang lebih kuat dengan jenis dan jumlah yang lebih banyak. Beberapa perbedaan tersebut, antara lain:

  1. Dosis pengobatan yang berbeda, bergantung pada gejala dan tempat bakteri TB menyerang.
  2. Jumlah dan varian obat lebih banyak.
  3. Menggunakan obat TB lini kedua seperti ciprofloxacin, ofloxacin, levofloxacin, dan kanamin.
  4. Waktu pengobatan lebih lama, umumnya sekitar 20 bulan.
  5. Pasien harus mendapatkan suntik obat 5 hari dalam seminggu, selama 8 bulan pertama.
  6. Menerapkan pola hidup sehat, seperti:
    • Tidak merokok
    • Makan makanan sehat
    • Menjaga kebersihan rumah
    • Membuka ventilasi udara setiap pagi agar mendapatkan cukup cahaya matahari

TB MDR memerlukan pengobatan intensif yang terisolasi

Dalam buku Tuberculosis yang ditulis oleh dokter Diane Yancey, prioritas utama untuk menangani pasien resistan obat adalah dengan melakukan pengobatan sesegera mungkin di bawah pengawasan dokter yang lebih berpengalaman. Agar efektif, dokter menentukan dosis khusus untuk setiap jenis obat antituberkulosis.

Kondisi pasien pun perlu dimonitor secara ketat oleh tenaga medis. Oleh karena itu, Anda perlu menjalani pengobatan tahap intensif di fasilitas kesehatan.

Pengobatan TBC secara total memerlukan lebih panjang, yaitu minimal 12 bulan, kemungkinan lainnya bisa sampai 24 bulan. Jika peluang kesembuhan pasien TBC biasa adalah 90% saat menyelesaikan pengobatan lanjutan, pelulang pasien TB resistan obat untuk sembuh adalah 50%.

Sementara apabila pasien resistan terhadap semua obat antituberkulosis atau mengalami kerusakan organ yang serius hingga perkembangan penyakit yang mengancam nyawa, maka kemungkinan besar dokter akan melakukan prosedur operasi.

TB MDR bisa mengarah pada resistansi yang serius

Dalam kondisi yang lebih parah, penderita TB MDR bahkan juga bisa mengalami resistansi pada pengobatan lini kedua. Kondisi ini disebut juga dengan TB XDR (Extensively drug-resistant (XDR) tuberculosis). Kondisi ini tentu sangat berbahaya karena resistensi obat akan membuat virus TB semakin sulit untuk dibunuh, bahkan bisa menyebabkan kematian

Berbagai pengobatan yang biasanya dilakukan untuk TB XDR adalah:

  1. Memperpanjang durasi pengobatan dengan penggunaan injectable agent.
  2. Menggunakan obat TB golongan fluoroquinolone generasi ketiga seperti moxifloxacin.
  3. Menggunakan obat golongan keempat yang belum terlalu banyak dikonsumsi pada pengobatan sebelumnya. Biasanya ethionamide atau prothionamide banyak dipilih.
  4. Memadukan dua jenis obat dari golongan kelima dengan salah satunya menggunakan obat jenis bedaquiline.

Efek samping pengobatan TB MDR

mual muntah disertai demam

Oleh karena jumlah obatnya lebih banyak dan lebih beragam, pengobatan TB MDR bisa memberikanefek samping obat TBC yang lebih berat dibandingkan pengobatan TB aktif biasa.

Dokter Erlina juga menyebutkan beberapa efek samping dari pengobatan TB MDR, adalah:

  • Mual
  • Muntah
  • Mengalami gangguan pencernaan
  • Hipotiroidisme
  • Kejang epilepsi
  • Neuropati perifer
  • Hepatitis

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Penyebab Sakit Kepala Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Sakit kepala saat puasa tentu sangat mengganggu. Nah, kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Ini dia jawabannya!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Hari Raya, Ramadan April 27, 2020

7 Cara Cepat Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa

Bau mulut adalah masalah yang umum terjadi selama puasa. Tenang saja, Anda bisa menghilangkan bau mulut saat puasa dengan cara alami berikut ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Hari Raya, Ramadan April 24, 2020

Menyiasati Jadwal Minum Obat saat Puasa Ramadan

Puasa di bulan Ramadan wajib bagi umat muslim. Keharusan minum obat secara rutin bisa disiasati agar tetap bisa menjalankan puasa dengan tenang.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Hari Raya, Ramadan April 19, 2020

Apa Penyebab Hidung Tersumbat dan Bagaimana Mengatasinya?

Umumnya orang berpikir kelebihan lendir adalah penyebab utama hidung tersumbat. Sebenarnya saat hidung tersumbat terjadi pembengkakan di lapisan hidung.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tips Sehat April 15, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 7, 2020
4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal tayang Mei 7, 2020
5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 4, 2020
Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Ajeng Quamila
Tanggal tayang Mei 2, 2020