Asma adalah salah satu penyakit pernapasan kronis yang cukup banyak dialami oleh masyarakat dunia. Mengutip Kementerian Kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 300 juta orang di dunia mengidap asma dan angkanya terus meningkat setiap tahun. Asma bisa menyerang kapan saja. Jika tidak ditangani dengan baik, asma bisa merenggut nyawa. Simak terus untuk tahu langkah pertolongan pertama pada asma, yang bisa berguna ketika Anda atau orang terdekat Anda mengalaminya suatu saat nanti. 

Asma ada banyak jenisnya

pulmicort obat asma
Sumber: Shutterstock

Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang disebabkan oleh peradangan pada bronkus (jalan udara). Peradangan ini mengakibatkan bronkus membengkak dan menyempit, serta memproduksi lendir berlebih sehingga membuat Anda sulit bernapas.

Gejala asma umumnya ditandai dengan sesak napas, suara mengi (napas berbunyi “ngik-ngik), dada terasa sesak dan berat, serta batuk-batuk terutama di malam hari. Gejala asma bisa muncul secara berkala.

Ada lima jenis asma yang umum, antara lain:

1. Exercise-induced asthma

Asma jenis ini kambuh ketika seseorang berolahraga terlalu intens atau beraktivitas fisik terlalu berat.

2. Asma nokturnal

Asma nokturnal adalah gejala asma yang muncul pada malam hari. Kondisi ini juga disebabkan oleh perubahan siklus alami tubuh saat malam.

3. Asma okupasional

Asma okupasional adalah kondisi asma yang terjadi karena menghirup uap, gas, debu, atau partikel lain di tempat kerja seperti pabrik. Zat-zat asing yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan paru-paru dan menyebabkan bengkak.  

4. Cough-variant asthma

Ini adalah tipe asma yang gejala utamanya termasuk batuk kering, alias batuk tidak berdahak dan tidak berlendir. Orang dengan gejala asma ini biasanya tidak menunjukkan gejala asma lainnya seperti mengi, napas pendek, dan dada sesak.

5. Asma yang disebabkan oleh alergi

Seperti namanya. asma jenis ini terjadi ketika dipicu oleh alergi dari sesuatu yang Anda makan, sentuh, atau hirup. Contohnya alergi debut yang dapat menyebabkan Anda bersin dan batuk-batuk terus hingga kesulitan bernapas.

Apa yang menyebabkan asma?

Penyebab pasti dari penyakit asma belum diketahui. Para peneliti menduga bahwa faktor keturunan dan lingkungan bisa jadi penyebab asma yang utama.

Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Kecenderungan seseorang untuk memiliki alergi.
  • Ada orangtua atau saudara yang memiliki asma.
  • Pernah mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) selama masa kanak-kanak.
  • Sering terkena kontak beberapa alergen di udara atau sering terpapar infeksi virus semasa bayi atau pada anak-anak usia dini. Sistem kekebalan tubuh anak belum sepenuhnya kuat untuk melawan infeksi.

Serangan asma juga dapat terjadi ketika tubuh terpapar hal yang bisa menyebabkan saluran pernapasan jadi meradang.

Pemicu asma tiap orang berbeda, tidak sama satu dengan yang lain. Pemicu terjadinya asma bisa berupa:

  • Alergen dari debu, bulu binatang, kecoa, jamur, dan serbuk sari dari pohon, rumput, dan bunga.
  • Iritan seperti asap rokok, polusi udara, bahan kimia atau debu di tempat kerja, senyawa dalam produk dekorasi rumah, dan semprotan (seperti hairspray).
  • Obat-obatan seperti aspirin atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain dan nonselektif beta-blocker.
  • Sulfit atau pengawet kimia dalam makanan dan minuman yang dimakan.
  • Infeksi virus pernapasan bagian atas, seperti influenza.
  • Melakukan aktivitas fisik berat, termasuk olahraga.

Siapa saja yang berisiko terkena asma?

Asma paling umum dialami oleh anak-anak. Namun sebenarnya semua orang di kalangan usia, strata sosial, dan jenis kelamin bisa saja terserang asma.

Anak-anak paling rentan terkena asma karena.

  • Berisiko tinggi mengalami atau punya riwayat infeksi pernapasan.
  • Anak-anak berisiko alergi, contohnya alergi kulit akibat eksim.
  • Lahir dari orangtua yang memiliki asma.

Langkah pertolongan pertama pada asma

Ketika Anda atau orang terdekat Anda tiba-tiba mengalami serangan asma, sangat penting untuk mengetahui apa tindakan pertolongan pertama pada asma. Ini termasuk mengetahui kapan harus menghubungi dokter atau pergi ke IGD rumah sakit terdekat untuk mencegah serangan asma makin memburuk.

Namun sebelum menghubungi dokter, menurut Everyday Health ini adalah langkah awal yang harus dilakukan:

1. Tetap tenang

Menurut Ruiz Huidoboro, seorang pakar alergi (imunologi) dari Allergy and Asthma Healthcare di Missouri, Amerika Serikat, langkah pertolongan pertama pada asma tidak akan efektif apabila Anda atau orang lain yang terkena panik. Panik malah akan membuat tubuh makin stres sehingga Anda makin sulit bernapas.

Maka begitu asma menyerang, tetap tenang. Jika Anda atau orang tersebut berada di pusat keramaian, coba untuk melipir ke tempat yang agak sepi.

2. Duduk

Setelah bisa tenang, langsung duduk serileks mungkin sambil coba mengatur napas perlahan. Coba tarik napas dalam-dalam dengan 10 ketukan dan hembuskan perlahan dengan hitungan yang sama. Ulangi berkali-kali sampai napas Anda jadi teratur.

Anda juga bisa melonggarkan pakaian yang terlalu ketat agar bisa bernapas lebih bebas.

3. Hindari pemicu asma

Jika Anda atau orang tersebut tahu apa yang memicu serangan asma, sebisa mungkin langsung hindari pemicunya saat itu juga. Misal apabila serangan asma dipicu oleh asap rokok, segera pergi dari area tersebut untuk cari udara segar atau minta perokok itu untuk segera berhenti merokok dan matikan puntungnya.

Apabila asma kambuh setelah olahraga atau melakukan aktivitas fisik tertentu, misalnya bolak-balik angkat barang berat, tandanya tubuh Anda sudah kewalahan. Maka, segera hentikan segala aktivitas yang Anda lakukan dan istirahatlah. Duduk atau berbaring santai untuk mengatur napas.

Jika Anda tinggal bersama atau memiliki hubungan erat dengan orang yang mengidap asma, penting untuk mengetahui apa pemicu asma mereka. Dengan begitu, Anda bisa membantu mereka menghindari atau menyingkirkannya agar gejala asma tidak kambuh.

4. Ikuti rencana darurat asma

Pengidap asma kronis seharusnya punya lembar catatan rencana aksi asma yang mudah dijangkau. Di dalamnya ada sejumlah informasi terkait daftar pemicu gejala, obat-obatan yang dipakai (inhaler, obat minum, nebulizer, dst), hingga langkah darurat pertolongan pertama pada asma.

Ketika Anda membantu orang yang terkena asma, baca baik-baik rencana asma mereka untuk cari tahu langkah apa selanjutnya yang harus Anda lakukan. Jangan lupa untuk baca label obat guna menentukan dosis obat yang tepat.

Pertimbangkan juga untuk selalu bawa inhaler, bronkodilator atau alat pernapasan darurat lainnya sebagai pertolongan pertama pada asma yang bisa kambuh kapan saja. 

5. Lihat tingkat keparahan asma

Setelah serangan asma Anda berlalu, coba rekap ulang apa saja gejala yang timbul dan seberapa parah serangan tersebut.

Bila orang lain yang terserang asma, penting juga bagi Anda sebagai penolong untuk mengetahui seberapa parah asma yang mereka alami. Informasi ini nantinya akan berguna bagi mereka ketika melaporkan serangan asmanya ke dokter.

Ciri serangan asma yang sudah parah adalah:

  • Warna bibir membiru.
  • Napas pendek-pendek, dan berlangsung lama.
  • Sulit berbicara.
  • Asma tidak membaik setelah pakai inhaler atau bronkodilator.
  • Kehilangan kesadaran.

Bila Anda atau orang lain mengalami serangan asma parah seperti di atas, segera hubungi ambulans (118) atau langsung pergi ke UGD rumah sakit terdekat

Usahakan punya nomor darurat rumah sakit langganan Anda, selipkan di dompet atau jadikan sebagai panggilan cepat pada ponsel Anda.

Bahkan jika gejala sudah membaik setelah mendapat pertolongan pertama pada asma, Anda harus tetap ke dokter untuk kontrol lebih lanjut.

Apa saja obat pertolongan pertama pada asma?

Ketika asma Anda atau orang lain kambuh, pemberian obat-obatan yang tepat bisa sangat efektif untuk mencegahnya semakin parah.

1. Obat

Dilansir dari GetAsthmaHelp, berikut ini beberapa pilihan obat pertolongan pertama pada asma yang bisa Anda gunakan:

  • Obat antikolinergik: Obat ini merupakan obat yang berfungsi untuk menghambat reseptor kolinergik muskarinik dan mengurangi bunyi intrinsik vagal pada saluran udara. Sedangkan kandungan Ipratropium bromida bermanfaat mengatasi kambuhnya asma dari tingkat yang sedang sampai berat.
  • SABA (Short Acting Beta2 Agonis): Albuterol, Levalbuterol, dan Pirbuterol merupakan salah satu obat bronkodilator yang dapat membuka dan melemaskan saluran pernapasan (bronkus).
  • Kortikosteroid Sistemik:  Meskipun obat ini  bukan merupakan obat pertolongan pertama pada asma, namun obat kortikosteroid sistemik oral dapat digunakan untuk serangan akut sedang sampai berat. Kadang obat SABA juga ditambahkan guna mempercepat pemulihan dan mencegah kembalinya eksaserbasi.

2. Alat bronkodilator

Sumber: Shutterstock

Bronkodilator adalah salah satu alat pertolongan pertama pada serangan asma. Bronkodilator berfungsi membuka jalur udara yang tersumbat karena kambuhnya asma. Efek bronkodilator bekerja langsung dalam beberapa menit setelah dihirup dan bertahan hingga 2-4 jam kemudian.

Bronkodilator biasa digunakan sebelum berolahraga untuk mencegah asma yang dipicu olahraga. Alat ini juga bisa digunakan sebagai obat cair yang dimasukkan dalam nebulizer untuk mengatasi serangan asma di rumah.

Alat pertolongan pertama pada asma ini juga bisa menimbulkan efek samping seperti:

  • Gemetar dan jadi gugup
  • Detak jantung jadi cepat
  • Sakit perut
  • Susah tidur
  • Sakit atau kram pada otot

Bila Anda harus menggunakan bronkodilator inhaler, tablet, atau cairan, itu artinya Anda punya asma yang parah. Periksa ke dokter rutin setiap beberapa minggu sekali.

3. Inhaler

jenis inhaler asma

Inhaler adalah salah satu alat pertolongan pertama pada asma yang kambuh. Ada dua jenis inhaler, yaitu reliever inhaler dan controller inhaler yang mengandung kortikosteroid.

Reliever inhaler adalah obat asma yang mengandung albuterol atau salbutamol. Reliever inhaler juga sering disebut dengan ventolin inhaler. Warna kemasan inhaler ini adalah warna biru. Inhaler ventolin dapat bekerja cepat kurang dari 15 menit untuk menghentikan serangan asma. Inhaler jenis ini sangat efektif sebagai obat pereda serangan asma ringan hingga berat.

Controller inhaler adalah inhaler yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi peradangan pada saluran napas. Alat pertolongan pertama pada asma ini biasanya berwarna coklat, merah atau jingga. Inhaler jenis ini memiliki efek kerja yang lama sehingga bisa rutin digunakan harian. Controller digunakan untuk mencegah asma kambuh, mengurangi keparahan gejala, meningkatkan kontrol Anda terhadap gejala asma, hingga mengurangi kebutuhan Anda bolak-balik konsultasi ke rumah sakit.

Bagaimana mencegah asma kambuh?

1. Gunakan peak flow meter

Sumber: Shutterstock

Peak flow meter adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas. Para ahli dan dokter kerap merekomendasikan pengidap asma memakai alat ini sebagai salah satu cara untuk mengendalikan asma.

Cara menggunakan peak flow meter adalah dengan menghirup napas napas seperti biasa lalu hembuskan ke dalam rongga alat ini. Anda bisa membaca petunjuk guna mengetahui arti gerakan dan fungsi paru-paru Anda terkini. Angka paling tinggi yang keluar dari peak flow meter merupakan nilai fungsi pernapasan yang bagus.

Ketika Anda pertama kali didiagnosis menderita asma, dokter mungkin akan meminta Anda untuk menggunakan peak flow meter setiap hari selama 2-3 minggu .Kebanyakan rencana tindakan asma dibuat berdasarkan bacaan peak flow Anda. Berdasarkan bacaan tersebut, Anda jadi bisa tahu tindakan cepat apa yang harus dilakukan untuk mengatasi asma Anda.

2. Hindari pepohonan atau kebun

Debu dan serbuk sari yang melekat di pepohonan umum menjadi faktor kambuhnya asma. Penelitian yang diungkapkan oleh Annals of Allergy, Asthma and Imunnology mengungkapkan kalau serbuk sari menjadi pemicu penyebab asma yang disertai sinus pada hampir lebih dari 70% kasus asma kambuhan.

Dr. Katina Nicolacakis dari Twinsburg Family Heart Center mengatakan, selain serbuk sari pada tanaman atau pohon, terdapat juga banyak bahan kimia yang keluar ketika kayu dipotong. Kayu akan melepaskan serbuknya serta mengeluarkan minyak. Ketika dihirup oleh penderita asma, hal tersebut bisa memicu kambuhnya reaksi asma.

3. Biasakan menarik napas menggunakan hidung

Ketika berolahraga atau beraktivitas berat, seperti naik tangga contohnya, Anda mungkin tanpa sadar menarik dan buang napas lewat mulut. Namun, cara ini justru bisa memicu asma kambuh.

Mulut tidak memiliki rambut-rambut dan rongga sinus seperti hidung yang berfungsi membantu melembapkan udara yang masuk. Udara kering dan dingin yang masuk ke paru akan memicu penyempitan saluran napas sehingga Anda sulit bernapas lancar.

Dengan membiasakan bernapas napas lewat hidung, Anda akan menjaga udara yang terhirup tetap hangat dan lembap sehingga terhindar dari kumatnya asma.

4. Hindari asap rokok dan debu

Banyak asap rokok dan debu bertebaran di sekeliling Anda. bila Anda memiliki asma, baiknya hindari kedua hal tersebut. Seperti diketahui, kalau asap rokok dan debu merupakan salah satu faktor penyebab asma paling tinggi. Pastikan juga rumah atau kantor Anda punya ventilasi untuk pertukaran udara yang baik. Karena bila ada asap atau debu di rumah, ini akan membuat keduanya jadi mudah keluar terbawa angin.

5. Bila ingin olahraga, lakukan di lingkungan yang hangat dan lembap

Udara yang kering dan dingin akan memicu saluran napas untuk menyempit sehingga Anda kesulitan untuk bernapas. Maka sebaiknya Anda menghindari berolahraga di luar saat cuaca dingin. Ketika cuaca sedang dingin, olahragalah di dalam ruangan yang lebih hangat.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengganti bentuk olahraga yang Anda lakukan sehingga Anda dapat berlatih di tempat yang hangat dan lembap. Misalnya, Anda bisa pilih berenang yang lingkungannya lebih lembab. 6. Suntik flu

Anda bisa mencoba vaksin flu rutin pertahun guna mencegah asma kambuh. Mengapa melakukan suntik flu? Karena asma bisa kambuh akibat virus yang masuk ke saluran pernapasan (biasanya virus influenza).

Tidak ada salahnya untuk meminta dokter Anda vaksin flu untuk mencegah asma. Pasalnya suntik ini bisa melindungi Anda dari bahaya flu yang dapat meningkatkan risiko rentan terjadinya asma. Hindari juga kondisi yang menyebabkan kelelahan, seperti tertawa berlebihan sehari-hari. Jaga kondisi agar tidak mudah terkena infeksi saluran napas seperti influenza.

7. Rutin minum obat sesuai resep

Meski gejala asma Anda mulai membaik, usahakan tetap selalu minum obat rutin dan jangan menghentikan atau mengubah dosisnya tanpa sepengetahuan dokter.

Sebaiknya bawa obat-obatan Anda ke setiap kunjungan dokter, setiap bekerja, atau bahkan ketika Anda pergi keluar rumah untuk berjaga-jaga mengatasi gejala yang bisa kambuh kapan saja.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca