Anemia Defisiensi Besi pada Anak-anak

Oleh

Ketika mendengar kata besi, Anda mungkin akan membayangkan gedung pencakar langit yang disangga oleh balok logam dan besi untuk membuatnya kokoh. Tidak hanya gedung, manusia juga membutuhkan besi (zat besi) untuk tetap kuat.

Zat besi membantu sel darah merah membawa oksigen ke tubuh dan berperan penting untuk menjaga fungsi otak dan otot. Kurangnya zat besi dalam darah dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, kondisi kekurangan gizi yang umum terjadi pada anak-anak.

Seputar anemia defisiensi besi

Setiap keping sel darah merah dalam tubuh mengandung zat besi dalam hemoglobinnya. Hemoglobin merupakan protein yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Protein ini digunakan zat besi sebagai pengikat oksigen dalam darah, sehingga oksigen dapat dialirkan secara normal.

Orang-orang yang kekurangan zat besi biasanya tidak mendapatkan cukup asupan zat besi dalam makanan sehari-hari. Akibatnya, tubuh tidak dapat membuat hemoglobin, sehingga jumlah sel-sel darah merah yang dihasilkan akan menurun. Kondisi inilah yang disebut dengan anemia. Ketika seseorang terkena anemia, sel dan jaringan tubuh akan kekurangan asupan oksigen sehingga memengaruhi kinerja tubuh.

Zat besi berperan penting dalam fungsi otot, penghasil energi, dan perkembangan otak. Akibatnya, anak dengan defisiensi zat besi mungkin menghadapi kesulitan belajar dan masalah perilaku.

Penyebab anemia pada anak-anak

Di negara maju, pemenuhan zat besi seimbang untuk bayi nampaknya bukanlah hal yang sulit. Secara umum, bayi yang diberi ASI cenderung mendapatkan cukup zat besi dari ibu hingga mereka mulai mengenal makanan dan minuman lain. Selain itu, bayi yang diberi susu formula yang kaya zat besi juga biasanya mendapatkan cukup asupan zat besi.

Masalah anemia defisiensi besi juga dapat dialami oleh balita yang terlalu banyak minum susu sapi (lebih dari 24 ons sehari) dan kurang mengonsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging merah dan sayuran berdaun hijau. Pada dasarnya, susu sapi bukan sumber zat besi yang baik. Bahkan, susu sapi menghambat tubuh untuk menyerap zat besi sehingga memicu anemia.

Masalah ini juga dapat terjadi pada anak yang gemar pilih-pilih makanan. Karena cenderung memilih-milih makanan, anak mungkin tidak mendapat asupan zat besi yang cukup. Terkadang kondisi ini juga didukung oleh orang tua yang kesulitan menemukan makanan sehat yang tinggi zat besi. Anak-anak atau remaja yang vegetarian juga berpotensi kekurangan zat besi, karena zat besi yang terkandung dalam daging lebih mudah diserap daripada zat besi dalam sayuran.

Remaja laki-laki juga bisa mengalami kekurangan zat besi selama masa pubertas. Namun, kondisi ini lebih banyak dialami oleh remaja perempuan karena tubuh mereka tidak dapat menyimpan lebih banyak zat besi dan kehilangan darah selama menstruasi. Atlet muda yang sering berolahraga juga cenderung kehilangan lebih banyak zat besi sehingga terkena anemia defisiensi besi.

Gejala anemia pada anak-anak

Anemia defisiensi besi terjadi secara bertahap. Pertama, jumlah zat besi dalam tubuh menurun dan anak mulai memiliki kekurangan zat besi yang memengaruhi fungsi otot dan otak. Sel-sel darah merah tidak banyak berubah pada tahap ini karena tubuh menggunakan sebagian besar zat besi untuk membuat hemoglobin. Namun seiring waktu, tubuh mulai membuat lebih sedikit sel darah merah sehingga memicu anemia. Pada tahap itu, gejala anemia yang mungkin dialami, termasuk:

  • Tubuh lelah dan lemah
  • Kulit pucat, terutama di sekitar tangan, kuku, dan kelopak mata
  • Denyut jantung yang cepat atau murmur jantung
  • Rewel
  • Nafsu makan rendah
  • Kepala pusing atau berkunang-kunang

Dalam kasus yang jarang terjadi, anak dengan anemia defisiensi besi akan mengalami pica, gangguan makan yang ditandai dengan keinginan mengonsumsi barang (non-pangan), seperti serpihan cat, kapur, atau debu dan kotoran.

Mendiagnosis anemia pada anak-anak

Anemia defisiensi besi umumnya didiagnosis pada saat pemeriksaan. Bayi harus menjalani tes darah untuk anemia di tahun pertamanya. Dokter terkadang melakukan tes lebih awal untuk anak-anak tertentu, seperti bayi prematur yang memiliki jumlah zat besi lebih rendah saat lahir dibandingkan bayi normal.

Dokter dapat menduga kemungkinan defisiensi zat besi pada anak yang cenderung tampak lemah. Dokter akan menanyakan asupan makanan dan pertumbuhan anak hingga melakukan tes darah untuk memeriksa tingkat hemoglobin atau zat besi yang rendah sebagai pemicu anemia. Di samping itu, dokter mungkin melakukan tes feses karena anemia defisiensi besi terkadang disebabkan oleh hilangnya darah secara bertahap melalui saluran usus.

Pengobatan anemia pada anak-anak

Biasanya, anak-anak dengan anemia defisiensi besi memerlukan suplemen zat besi setiap hari untuk mengembalikan kadar zat besi yang normal. Pemberian multivitamin yang mengandung besi serta perubahan pola makan anak dapat membantu, namun biasanya langkah tersebut belum cukup. Konsultasikan pada dokter sebelum memberikan suplemen zat besi bagi anak Anda, karena terlalu banyak zat besi justru dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Zat besi harus dikonsumsi pada saat perut kosong atau baru diisi sedikit makanan. Hindari memberikan zat besi bersamaan dengan susu atau minuman berkafein. Pasalnya, kedua jenis minuman ini mengganggu penyerapan zat besi secara optimal. Alih-alih, Anda dapat memberinya jus jeruk dan makanan lain yang tinggi vitamin C untuk membantu zat besi menyerap lebih baik.

Dalam satu atau dua hari setelah mendapat zat besi, anak-anak seharusnya merasa lebih baik dan nafsu makan kembali normal. Selama sebulan ke depan, darah akan membuat lebih banyak sel darah merah sehingga kadar hemoglobin juga ikut naik. Biasanya, suplemen zat besi memerlukan waktu 3-6 bulan untuk memperbaiki kekurangan itu. Namun, ada beberapa anak yang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihan kadar zat besi.

Jika pengobatan tidak berhasil, itu tandanya tubuh anak tidak menyerap zat besi secara optimal atau dosis yang diberikan salah. Dalam kasus ini, dokter mungkin akan melakukan tes darah untuk melihat bagaimana kadar zat besi setelah pengobatan terakhir. Anak-anak dengan kasus anemia defisiensi besi yang berat mungkin memerlukan transfusi darah atau pengobatan dari spesialis.

Pencegahan anemia pada anak-anak

Mencegah kekurangan zat besi sama dengan mencegah masalah perilaku dan pembelajaran jangka panjang. Berikut adalah beberapa tips yang dapat anak Anda lakukan:

  • Bayi di bawah 1 tahun harus diberi ASI saja atau susu formula yang mengandung zat besi. Setelah usianya sekitar 6 bulan, bayi harus diberi asupan makan padat yang diperkaya zat besi.
  • Anak di bawah 2 tahun seharusnya tidak dianjurkan mengonsumsi susu lebih dari 24 ons sehari. Produk yang diperkaya zat besi, seperti sereal, dapat menjadi cara yang bagus untuk membantu anak-anak mendapatkan lebih banyak zat besi.
  • Sumber zat besi yang baik meliputi: daging merah, daging unggas berwarna gelap, salmon, tuna, kuning telur, sayuran berdaun hijau, kacang polong kering dan kacang-kacangan, molase, buah-buahan kering dan kismis, dan roti gandum. Sajikan jenis makanan tersebut dengan makanan atau minuman yang kaya vitamin C (tomat, brokoli, jus jeruk, stroberi, dll), yang dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi oleh tubuh.
  • Coba memasak makanan dalam panci besi yang dapat membantu memperkaya makanan dengan zat besi.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca