Masa-masa di mana remaja memberontak, merupakan suatu proses alamiah yang banyak dilalui seorang anak menuju masa kedewasaan. Tak jarang, ini menjadi beban tersendiri bagi orangtua yang mengharapkan anak mereka menjadi penurut dan tidak berulah.

Namun, tidak semua pemberontakan penyebabnya sama. Berbeda usia, berbeda juga alasan mengapa mereka memberontak. Simak ulasan mengapa remaja memberontak, dan apa yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasinya.

Bermacam penyebab remaja memberontak berdasarkan usia

1. Usia 9-13 tahun

Usia permulaan di mana remaja memberontak ini, biasanya dimulai ketika para orangtua dan remaja tidak dalam satu pikiran yang sama. Contoh, di usia antara 9-13 tahun, buah hati Anda sudah mulai tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil lagi. Tapi nyatanya, banyak orangtua yang memperlakukan anak layaknya masih balita, dan tidak menyadari bahwa anak mereka sudah beranjak dewasa.

Menurut PsychologyToday, pemberontakan yang menitikberatkan identitas diri sebagai masalah, akan menyimpulkan perasaan anak tentang hal apa yang ia inginkan. Tapi sayangnya, di usia yang masih sangat belia ini, mereka belum menemukan dan menentukan keinginan tentang identitasnya. Pada akhirnya, mereka memberontak karena ingin dianggap dewasa atau ‘sok’ bersikap dewasa pada masa-masa ini.

Lalu bagaimana seharusnya orangtua bersikap? Pertama, dibutuhkan adanya komunikasi halus guna meredam semua pemberontakan ini. Tanyakan pada anak Anda, adakah hal yang bisa Anda bantu untuk memahami yang anak butuhkan? Bagaimana anak ingin diperlakukan? Anda pun bisa menimbang bagaimana Anda akan merespon permintaan anak.

Sangat dibutuhkan pengertian dan kesabaran penuh, untuk berdiskusi dan melakukan tanya jawab. Anda juga bisa melakukan pendekatan dengan cara Anda, sesuai dengan karakter masing-masing buah hati.

2. Usia 13-15 tahun

Usia 13-15 tahun, merupakan masa remaja yang berada dalam masa sekolah menengah pertama. Kebanyakan remaja memberontak, disebabkan oleh ulah mereka “mencoba-coba” untuk mencari jati dirinya. Tidak jarang juga, orangtua mengeluarkan sikap menentang atas pilihan coba-coba anak.

Perilaku anak yang bikin orangtua menentang misalnya adalah, ketika mereka melanggar peraturan di sekolah, lebih banyak bermain daripada belajar, bermain dengan teman yang dianggap “tidak baik” oleh orangtua, dan masih banyak lagi.

Respon dan cara yang baik untuk menanggapi perilaku anak di usia dan masalah ini adalah dengan membiarkan mereka menerima konsekuensi dari perbuatan mereka. Lalu, setelah anak menerima hukuman atau konsekuensinya, ini saatnya Anda berikan panduan positif. Jangan menyalahkan, dan lebih membicarakan ke arah masukan yang positif saja pada anak.

3. Usia 15-18 tahun

Pengertian orangtua terhadap perkembangan masa tumbuh kembang anak di masa remaja, sangat diperlukan. Pasalnya, beberapa kasus menyatakan, beberapa remaja memberontak akibat masa remaja awal mereka tertunda. Maksudnya adalah, orangtua “memaksa” anaknya untuk selalu berpikir atau berperilaku seperti yang orangtua inginkan, sehingga pada akhirnya tidak mendapatkan kebebasan ide atau perilaku mereka.

Selain itu, penyebab rasa berontak muncul karena jiwa eksplor anak yang Anda batasi dahulu, sudah tidak bisa ia bendung lagi. Tidak jarang juga, pemberontakan remaja ini akan menjadi dramatis.

Hal ini memang mengejutkan serta menakutkan bagi orang tua, karena pemberontakan yang tidak disangka-sangka. Sayangnya, risiko dari usia remaja memberontak ini, akan sangat berbahaya.

Disarankan, untuk para orangtua untuk membiarkan anak berekspresi bebas (dalam tahapan wajar), sembari menyisipkan tanggung jawab yang sepadan. Jika ada pertengkaran antara Anda dan anak, tetap berikan empati, jangan jadikan anak sebagai musuh. Di akhir, Anda bisa memberikan arahan dan masukan jelas tentang keputusan dan risiko yang hendak anak Anda ambil.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca