Apa Itu Psikosis?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu psikosis?

Psikosis adalah istilah medis yang merujuk pada keadaan mental yang terganggu oleh delusi atau halusinasi. Kondisi ini tergolong dalam masalah mental yang serius.

Ketika penderita psikosis mengalami delusi, ia memiliki keyakinan atau kepercayaan akan suatu hal yang kuat, padahal keyakinan tersebut tidak sesuai dengan fakta dan terbukti salah. Sementara itu, halusinasi adalah persepsi kuat atas suatu peristiwa yang dilihat, didengar, atau dirasa (bau atau sentuhan) tetapi sebenarnya tidak ada.

Contohnya, seseorang yang berada di tengah keramaian memiliki halusinasi mendengar seseorang berteriak, padahal orang lain tidak mendengar teriakan apapun. Atau, seseorang melihat orang lain berdiri di depannya, walaupun sebenarnya tidak ada siapa pun di sekitarnya.

Psikosis adalah suatu kondisi atau gejala, bukan penyakit. Penyakit mental atau fisik, pemakaian obat-obatan tertentu, atau stres berat dapat menyebabkan timbulnya kondisi ini.

Tanda-tanda dan gejala yang timbul pun umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Gejala akan muncul secara bertahap. Selain delusi dan halusinasi, gejala lain yang timbul meliputi cara berbicara yang tidak masuk akal, serta tingkah laku yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi.

Seberapa umumkah psikosis?

Psikosis adalah kondisi yang umumnya tercetus pada banyak penyakit mental, termasuk skizofrenia, depresi, gangguan skizoafektif, serta bipolar. Maka dari itu, kondisi ini merupakan gejala yang sangat umum terjadi pada:

  • Sebagian besar orang yang mengidap skizofrenia
  • Beberapa orang dengan gangguan depresi bipolar (manic-depressive) atau depresi berat
  • Beberapa gangguan kepribadian lainnya

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala psikosis?

Psikosis adalah kondisi yang tidak secara langsung menimbulkan tanda-tanda dan gejala. Umumnya, kondisi ini semakin parah seiring dengan berjalannya waktu, terlebih jika tidak segera mendapatkan penanganan khusus.

Tanda-tanda dan gejala yang perlu Anda waspadai dari psikosis adalah:

1. Gejala sebelum psikosis muncul

Sebelum penderita benar-benar mengalami psikosis, penderita mulai merasakan beberapa perubahan, terutama dalam cara berpikir dan memahami tentang dunia. Anda atau anggota keluarga mungkin akan melihat perubahan pada hal-hal berikut:

  • Penurunan performa kerja di kantor atau nilai di sekolah
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi atau berpikir jernih
  • Merasa curiga dan tidak tenang di sekitar orang lain
  • Kurang menjaga kebersihan diri
  • Menghabiskan waktu sendirian lebih lama dari biasanya
  • Merasakan emosi yang terlalu intens
  • Terkadang tidak merasakan emosi apapun

2. Gejala awal psikosis

Saat penderita mulai memasuki fase awal psikosis, tanda-tanda dan gejala yang mungkin akan timbul meliputi:

  • Mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu yang orang lain tidak rasakan
  • Meyakini atau berpikir mengenai sesuatu, tidak peduli dengan apa kata orang lain
  • Menarik diri dari keluarga dan teman-teman
  • Tidak lagi menjaga atau memerhatikan diri sendiri
  • Kehilangan kemampuan berpikir jernih atau fokus pada sesuatu

3. Gejala episodik psikosis

Ketika kondisi yang dialami sudah semakin parah dan terus berulang secara berkala, penderita akan merasakan beberapa gejala seperti:

Halusinasi

Umumnya, penderita akan merasakan halusinasi auditori, yaitu mendengar suara-suara yang seharusnya tidak ada.

Ada pula halusinasi sentuhan atau taktil, yaitu merasakan sensasi atau sentuhan aneh yang sulit dijelaskan. Jenis halusinasi lain adalah visual, yaitu ketika penderita melihat sesuatu atau seseorang yang tidak ada.

Delusi

Orang yang mengalami delusi memiliki keyakinan atau kepercayaan kuat yang tidak masuk akal dan tidak dapat dibuktikan secara faktual.

Beberapa contohnya adalah penderita meyakini adanya dorongan eksternal yang memengaruhi tindakan dan perasaan, atau percaya bahwa semua orang akan melukainya. Delusi jenis ini disebut dengan delusi paranoid.

Ada pula yang percaya bahwa ia mempunyai kekuatan supernatural. Bahkan, beberapa di antaranya percaya bahwa ia adalah Tuhan. Kondisi tersebut termasuk dalam delusi grandeur.

Kemungkinan terdapat gejala dan tanda lain yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran mengenai gejala penyakit ini, silakan konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Temui dokter jika Anda atau anggota keluarga mulai merasa jauh dengan realita dan orang-orang sekitar.

Jika Anda berpikir bahwa Anda atau anggota keluarga Anda akan merugikan diri sendiri atau orang lain, Anda harus segera membawanya ke rumah sakit jiwa untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai, segera kunjungi dokter atau psikiater terdekat.

Penyebab

Apa penyebab psikosis?

Psikosis adalah kondisi yang memengaruhi kemampuan otak dalam memproses informasi. Kondisi ini dapat mengubah persepsi sensorik, kemampuan mengelola, serta mengekspresikan informasi yang didapat dan dimiliki.

Meskipun penyebab pasti dari psikosis belum diketahui, terdapat banyak masalah kesehatan dan kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan erat dengan munculnya kondisi ini. Beberapa di antaranya merupakan kombinasi dari lingkungan sosial, faktor genetik, psikologis, obat-obatan, dan fisik.

1. Obat-obatan

Obat-obatan, misalnya obat untuk penyakit Parkinson dan kejang-kejang, steroid, dan kemoterapi, serta obat-obatan terlarang (misalnya, LSD, kokain, alkohol, amfetamin, ganja, PCD) juga bisa menyebabkan gangguan mental, sehingga psikosis dapat muncul.

2. Trauma

Kejadian traumatik seperti kehilangan orang yang dicintai, pelecehan seksual, atau menjadi korban peperangan dapat memicu munculnya psikosis. Jenis trauma dan umur saat sedang mengalami trauma tersebut juga berpengaruh.

3. Cedera dan penyakit tertentu

Psikosis dapat muncul apabila penderitanya pernah mengalami cedera otak, misalnya kecelakaan. Ada pula kemungkinan psikosis adalah salah satu gejala dari penyakit tertentu, misalnya pada penderita human immunodeficiency virus (HIV), penyakit Parkinson, Alzheimer, penyakit Huntington, malaria, stroke, tumor otak, dan penyakit kejang.

4. Menderita penyakit kejiwaan

Kondisi ini juga dapat muncul sebagai salah satu gejala gangguan kejiwaan, seperti:

  • Skizofrenia
  • Kelainan skizoafektif
  • Brief psychotic disorder
  • Kelainan delusional
  • Psikosis bipolar
  • Psikosis postpartum (postnatal)

Faktor-faktor risiko

Apa yang dapat meningkatkan risiko saya mengalami psikosis?

Psikosis adalah kondisi yang dapat terjadi pada siapa saja dari berbagai golongan usia dan kelompok ras. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.

Memiliki salah satu atau seluruh faktor risiko bukan berarti Anda dipastikan akan mengalami psikosis. Ada pula kemungkinan kecil Anda dapat menderita kondisi ini meski Anda tidak memiliki satu pun faktor risiko.

Faktor-faktor risiko yang dapat memicu munculnya psikosis adalah:

1. Keturunan keluarga atau faktor genetik

Dalam beberapa penelitian, faktor genetik memiliki peran penting dalam kondisi ini. Jika salah satu anak kembar identik menderita psikosis, ada kemungkinan 50% kembar lainnya pun akan mengalami hal yang sama.

Individu yang hidup berdampingan dengan anggota keluarga (orangtua atau saudara kandung) yang mengidap kondisi ini juga lebih berisiko mengalami gangguan kejiwaan. Selain itu, anak-anak yang lahir dengan mutasi genetik yang dikenal sebagai 22q11 deletion syndrome berisiko mengalami gangguan psikosis, terutama skizofrenia.

2. Pernah mengalami kecelakaan

Cedera pada kepala atau otak dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini. Maka dari itu, orang yang pernah terlibat atau menjadi korban kecelakaan, serta menderita cedera di bagian kepalanya, lebih rentan mengalami psikosis.

3. Pernah mengalami trauma berat

Trauma yang diakibatkan dari kejadian-kejadian tertentu, seperti kehilangan anggota keluarga atau menjadi korban pemerkosaan, dapat meninggalkan bekas yang mendalam pada otak. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan risiko kemunculan psikosis.

4. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Psikosis adalah kondisi yang tidak dapat dipisahkan dari penggunaan obat-obatan terlarang, seperti amfetamin dan kokain. Jika seseorang mengonsumsi obat-obatan tersebut secara berlebihan, peluangnya untuk mengalami kondisi ini jauh lebih besar.

5. Pernah atau sedang menderita penyakit kejiwaan

Selain itu, psikosis umumnya adalah kondisi yang muncul ketika seseorang telah menderita penyakit kejiwaan lainnya. Psikosis muncul sebagai salah satu gejala dari masalah atau gangguan kejiwaan yang sedang diderita.

Beberapa contoh penyakit mental yang sering dikaitkan dengan kondisi ini adalah skizofrenia dan bipolar.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti saran medis. SELALU konsultasikan dengan dokter Anda.

Tes apakah yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis psikosis?

Psikosis adalah kondisi yang dapat didiagnosis dengan evaluasi psikiatri. Jika Anda mencurigai seseorang mengidap psikosis, dokter akan membuat diagnosis berdasarkan sejarah medis, pemeriksaan fisik dan evaluasi psikiater. Dalam prosedur ini, dokter akan melihat perilaku orang tersebut dan bertanya mengenai dirinya sendiri.

Di samping itu, dokter juga akan melakukan tes untuk memastikan tidak ada penyakit medis lainnya, antara lain tes darah, CT dan MRI pada otak. Tulang belakang juga akan diperiksa untuk mendeteksi adanya infeksi, kanker atau penyebab psikosis lainnya.

Apa saja pilihan pengobatan untuk psikosis?

Neuroleptik digunakan untuk pengobatan orang yang berperilaku aneh dan tidak terduga. Tujuannya adalah untuk mencegah orang tersebut menyakiti diri sendiri atau orang lain. Obat-obatan ini termasuk haloperidol dan benzodiazepin yang merupakan obat untuk mengatasi rasa gelisah (seperti lorazepam, alprazolam).

Pengobatan lanjutan tergantung pada penyebabnya:

  • Untuk penyakit semacam depresi mental atau skizofrenia, Anda memerlukan psikiater (spesialis gangguan mental dan emosional) dalam pengobatan bersamaan dengan obat antidepresan atau antipsikotik;
  • Orang dengan penyakit Parkinson dan kejang-kejang harus mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi masalah tersebut;
  • Pecandu narkoba (misalnya, alkohol, dan obat terlarang lainnya) memerlukan bimbingan dan arahan.

Terapi perilaku kognitif dapat membantu penderita (CBT). Terapi kognitif melatih orang bagaimana sebuah pola pikir akan menimbulkan gejala. Terapi perilaku dapat mengatasi rasa khawatir terhadap gejala dan reaksi penderita.

Pengobatan di rumah

Gaya hidup dan pengobatan rumahan seperti apa yang dapat membantu mengatasi psikosis?

Berikut gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi psikosis.

  • Anda membutuhkan psikolog atau psikiater untuk memantau kondisi medis jangka panjang.
  • Hubungi dokter Anda jika Anda merasa cemas atau tertekan.
  • Hubungi dokter Anda jika Anda mendengar suara-suara atau melihat hal-hal yang sesungguhnya tidak ada.
  • Jangan memakai narkoba. Alkohol, amfetamin, kokain, obat tidur, dan anti antidepresan dapat menyebabkan psikosis.
  • Bila Anda mengalami halusinasi auditorik atau mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain (yang sebenarnya tidak ada), fokuskan pikiran Anda terhadap hal lain misalnya dengan membaca, mendengarkan musik, berdoa, atau berbicara dengan teman.

Jika Anda memiliki pertanyaan, silakan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik bagi Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, ataupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: September 5, 2019

Yang juga perlu Anda baca