Apa Itu Penyakit Kawasaki?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki, atau yang juga dikenal dengan istilah mucocutaneous lymph node syndrome, adalah suatu penyakit langka yang menyerang pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peradangan pada pembuluh arteri, vena, dan kapiler.

Penyakit ini juga memengaruhi kelenjar getah bening dan fungsi jantung. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada bayi dan anak-anak. Selain itu, penyakit Kawasaki merupakan salah satu penyebab utama tingginya kasus penyakit jantung pada anak-anak.

Kemunculan penyakit ini umumnya ditandai dengan demam tinggi, ruam, serta pembengkakan di beberapa bagian tubuh.

Apabila terdeteksi dan ditangani sejak awal, risiko menderita masalah jantung akan menurun dan gejala-gejala yang dialami pun akan semakin membaik. Namun, hingga saat ini, penyebab kemunculan penyakit ini masih belum diketahui.

Seberapa umumkah penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki merupakan penyakit yang tergolong langka, tapi sangat serius dan dapat berakibat fatal apabila tidak segera ditangani.

Penyakit ini lebih umum ditemukan di negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Korea, dan Taiwan. Angka kejadian tertinggi penyakit ini terdapat di Jepang, dengan frekuensi 10-20 kali lebih tinggi dibanding negara-negara lainnya.

Kasus kemunculan atau diagnosis penyakit Kawasaki terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Umumnya, pasien yang terdiagnosis dengan penyakit ini berusia di bawah 10 tahun. Sekitar 85-90% kasus penyakit ini terjadi pada anak di bawah 5 tahun, dan 90-95% pada anak berusia di bawah 10 tahun.

Selain itu, penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak berjenis kelamin laki-laki dibanding perempuan. Angka kematian dan komplikasi penyakit pun lebih banyak ditemukan pada pasien laki-laki dibanding perempuan.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit ini dan mengenali faktor-faktor risiko yang ada, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter anak.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala penyakit Kawasaki?

Tanda-tanda dan gejala penyakit Kawasaki umumnya muncul secara bertahap. Pada beberapa negara di Asia, gejala-gejala lebih sering muncul saat pertengahan musim panas.

Gejala yang paling umum ditemukan adalah demam tinggi berkepanjangan. Selain itu, akan ada beberapa gejala tambahan seiring dengan berkembangnya penyakit. Umumnya, kemunculan gejala dibagi menjadi tiga fase.

Tanda-tanda dan gejala dari fase pertama dapat meliputi:

  • Demam yang umumnya lebih tinggi dari 39 derajat Celcius dan berlangsung lebih dari 5 hari
  • Mata yang sangat merah (konjungtivitis), tapi tidak ada penumpukan cairan atau kotoran
  • Ruam pada beberapa bagian tubuh dan pada area kelamin
  • Bibir merah, kering, pecah-pecah, dan lidah yang sangat merah dan bengkak (strawberry tongue)
  • Pembengkakan dan kemerahan pada telapak tangan dan kaki
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada bagian leher dan bagian tubuh lainnya
  • Anak menjadi rewel dan mudah marah

Fase kedua biasanya dimulai 2 minggu setelah anak pertama kali mengalami demam. Anak Anda mungkin akan mengalami gejala-gejala tambahan, seperti:

  • Pengelupasan pada kulit tangan dan kaki, terutama pada ujung jari tangan dan kaki, kelupasan biasanya berukuran besar
  • Nyeri sendi
  • Diare
  • Muntah
  • Sakit perut

Pada fase ketiga, tanda-tanda dan gejala akan menghilang secara perlahan kecuali terjadi komplikasi. Mungkin diperlukan sekitar 8 minggu sebelum kondisi anak kembali normal.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Apabila anak Anda menderita tanda-tanda dan gejala yang telah disebutkan di atas, jangan tunda waktu lagi untuk memeriksakan anak ke dokter terdekat. Diagnosis dan penanganan yang dilakukan sedini mungkin dapat mencegah terjadinya komplikasi.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi anak Anda, selalu konsultasikan ke dokter.

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki adalah salah satu penyebab utama terjadinya serangan jantung pada anak-anak. Sebanyak 25% penderita penyakit ini mengalami komplikasi pada jantung.

Namun, dengan penanganan yang tepat, risiko anak mengalami masalah pada jantungnya dapat diminimalisir.

Komplikasi yang mungkin dapat timbul pada jantung adalah:

  • Peradangan pembuluh darah (vaskulitis), umumnya terjadi di arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung.
  • Peradangan lapisan membran jantung (perikarditis)
  • Peradangan otot jantung (miokarditis)
  • Peningkatan denyut jantung (takikardia)
  • Masalah pada katup mitral jantung
  • Serangan jantung

Selain komplikasi pada jantung, penyakit Kawasaki juga terkadang dapat memengaruhi fungsi organ tubuh lain, seperti:

  • Peradangan pada sendi (arthritis)
  • Pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali)
  • Peradangan selaput otak (meningitis)
  • Peradangan telinga (otitis media)

Penyebab

Apa penyebab penyakit Kawasaki?

Hingga saat ini, para peneliti masih belum dapat mengungkap apa penyebab pasti munculnya penyakit ini. Namun, satu hal yang para peneliti yakini adalah penyakit ini tidak menular dari kontak fisik.

Selain itu, diyakini bahwa penyakit Kawasaki muncul akibat adanya infeksi. Faktor sistem imun tubuh dan genetik juga diduga kuat berperan dalam kemunculan penyakit ini.

1. Infeksi

Gejala dan tanda-tanda yang ditunjukkan oleh penderita penyakit ini serupa dengan tanda-tanda infeksi. Maka dari itu, ada kemungkinan bahwa terdapat bakteri atau virus tertentu yang memicu munculnya penyakit ini.

Namun, hingga sekarang, belum diketahui secara pasti apa patogen yang menimbulkan penyakit ini. Beberapa patogen yang telah diteliti dan diduga berperan dalam munculnya gejala-gejala adalah parvovirus B19, rotavirus, virus Epstein-Barr, dan virus parainfluenza tipe 3.

2. Faktor genetik

Selain karena kemungkinan infeksi virus atau bakteri, para ahli menduga bahwa memang terdapat beberapa anak yang memiliki kecenderungan kelainan genetik, sehingga anak-anak tersebut lebih mudah terserang penyakit ini.

Ini artinya, kondisi tersebut bisa jadi diturunkan dari orang tua sang anak. Hal ini didukung pula dengan fakta bahwa penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak-anak keturunan Asia Timur, khususnya Jepang dan Korea.

Tidak menutup kemungkinan bahwa penyakit Kawasaki disebabkan oleh masalah genetik.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit Kawasaki?

Penyakit Kawasaki adalah kondisi yang dapat menyerang siapa saja. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini.

Namun, memiliki salah satu atau bahkan semua faktor risiko bukan berarti Anda atau anak Anda pasti akan terserang penyakit ini. Dalam beberapa kasus, penyakit ini juga dapat terjadi pada penderita yang tidak memiliki faktor risiko apapun.

Berikut adalah faktor-faktor risiko untuk penyakit Kawasaki, yaitu:

1. Usia

Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak-anak dan bayi, terutama yang berusia di bawah 5 tahun. Rata-rata usia penderita saat terdiagnosis adalah 2 tahun.

Kondisi ini sangat jarang ditemukan pada remaja dan orang dewasa, meskipun terdapat beberapa kasus yang terjadi pada pasien berusia antara 18 hingga 30 tahun.

2. Jenis kelamin

Apabila anak Anda berjenis kelamin laki-laki, risikonya untuk terkena penyakit ini jauh lebih tinggi dibanding anak-anak berjenis kelamin perempuan.

3. Kelompok etnis

Kasus kejadian penyakit ini paling banyak ditemukan di negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Korea, dan Taiwan.

Maka dari itu, anak yang merupakan keturunan kelompok etnis Asia Timur memiliki peluang lebih besar untuk terserang penyakit Kawasaki dibanding anak-anak dari kelompok etnis lainnya.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana penyakit Kawasaki didiagnosis?

Penyakit Kawasaki adalah kondisi yang sangat sulit didiagnosis karena tidak ada tes khusus untuk mendeteksinya. Anda dapat segera membawa anak Anda ke dokter apabila hal-hal berikut terjadi:

  • Anak Anda memiliki demam yang berlangsung lebih dari 5 hari.
  • Anak Anda mengalami 5 gejala utama, yaitu kemerahan di kedua mata, bibir dan mulut kering, tangan dan kaki membengkak atau mengelupas, muncul ruam, serta pembengkakan di kelenjar getah bening bagian leher.

Namun, dalam beberapa kasus, penyakit ini juga dapat terdiagnosis meskipun penderitanya tidak menunjukkan gejala-gejala utama di atas, atau bahkan demamnya berlangsung kurang dari 4 hari.

Dengan gejala-gejala yang ada, kemungkinan ada penyakit atau masalah kesehatan lain yang anak Anda derita, seperti:

  • Demam scarlet, yang disebabkan oleh bakteri streptococcus
  • Toxic shock syndrome
  • Campak
  • Demam kelenjar getah bening
  • Rheumatoid arthritis
  • Sindrom Stevens-Johnson, kelainan pada selaput lendir.
  • Meningitis
  • Lupus

Untuk memastikan apakah anak Anda mengidap penyakit Kawasaki atau bukan, dokter akan melakukan beberapa tes yang meliputi:

1. Tes urine

Tes ini dilakukan dengan mengambil sedikit sampel urine anak Anda. Urine akan diperiksa di laboratorium untuk melihat apakah terdapat sel darah putih dan protein (albumin) di dalamnya.

2. Tes darah

Dokter akan mengambil darah anak untuk diperiksa kadar sel darah putih dan tingkat sedimentasinya. Hal tersebut dapat membantu menunjukkan apakah terjadi inflamasi atau peradangan di dalam tubuh.

Tes darah juga membantu dokter mengetahui adanya penggumpalan di dalam darah.

3. X-ray dada

Melalui prosedur ini, dokter akan mengambil gambar bagian dalam dada anak, seperti jantung dan paru-paru. Tes ini bertujuan untuk melihat apakah penyakit Kawasaki telah menyerang jantung atau tidak.

4. Elektrokardiogram

Tes ini dilakukan dengan cara menempelkan elektroda ke kulit, kemudian menghitung impuls listrik pada detak jantung anak. Hal ini disebabkan karena penyakit Kawasaki juga dapat memengaruhi kecepatan detak jantung.

5. Ekokardiogram

Pada tes ini, dokter menggunakan teknologi ultrasound untuk melihat seberapa baik fungsi jantung. Kelainan pada arteri koroner pun juga dapat terdeteksi dengan prosedur ini.

Bagaimana mengobati penyakit Kawasaki?

Untuk mengurangi terjadinya komplikasi, dokter akan segera menyarankan pengobatan penyakit Kawasaki secepat mungkin, terutama saat anak Anda masih mengalami demam.

Tujuan utama dari pengobatan adalah untuk meminimalisir risiko kerusakan jantung, serta mengurangi gejala-gejala seperti peradangan dan demam.

Pengobatan utama yang biasanya diberikan dokter adalah infus immunoglobulin dan aspirin. Berikut penjelasannya:

1. Immunoglobulin (IVIG)

Dokter akan memberikan pengobatan immunoglobulin melalui vena (infus). Pengobatan ini dapat membantu menurunkan risiko masalah arteri koroner dan jantung sebanyak 20%.

2. Aspirin

Aspirin dengan dosis tertentu dapat membantu mengobati inflamasi atau peradangan. Aspirin juga dapat membantu mengurangi nyeri dan radang sendi, termasuk pula menurunkan demam.

Pemberian aspirin pada anak-anak hanya diperbolehkan pada kasus penyakit ini, dan tentunya dalam anjuran atau resep dokter.

Selain itu, ketika sedang terjadi wabah flu atau cacar air, anak yang menjalani pengobatan dengan aspirin memiliki risiko terkena sindrom Reye. Untuk mencegah hal tersebut, dokter akan merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan, serta kemungkinan mengganti aspirin dengan dipyridamole.

Dalam beberapa kasus, apabila anak mengidap masalah jantung akibat penyakit ini, dokter akan memberikan penanganan lebih lanjut berupa:

  • Obat antikoagulan

Obat ini membantu mengurangi risiko penggumpalan darah. Biasanya, dokter akan meresepkan clopidogrel (Plavix), warfarin (Coumadin, Jantoven), dan heparin.

  • Angioplasti arteri koroner

Anak yang menderita penyakit ini berisiko mengalami penyempitan arteri. Prosedur angioplasti ini dilakukan untuk memperlancar aliran darah menuju jantung.

  • Pemasangan¬†stent

Dalam prosedur ini, sebuah alat diletakkan di arteri untuk memperlancar aliran darah dan mencegah terjadinya penyumbatan. Prosedur ini biasanya dikombinasikan dengan angioplasti.

  • Bypass arteri koroner

Operasi ini dilakukan dengan cara mengalihkan aliran darah dengan pencangkokan pembuluh darah. Biasanya, pembuluh darah yang diambil adalah yang berada di kaki, lengan, atau dada.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit Kawasaki?

Terapi aspirin umumnya dilanjutkan di rumah. Karena risiko terhadap sindrom Reye, jangan berikan aspirin pada anak Anda tanpa persetujuan dokter. Jika anak Anda terekspos atau mengalami cacar air atau flu (influenza) selagi mengonsumsi aspirin, segera hubungi dokter.

Anak Anda mungkin akan merasa lelah dan rewel, serta kulit akan kering selama sekitar sebulan. Cobalah untuk menjaga anak Anda dari kelelahan. Berikan lotion kulit untuk melembapkan jari-jari tangan dan kaki.

Seberapa serius penyakit Kawasaki?

Akan diperlukan beberapa minggu sebelum anak Anda pulih dengan total. Namun, biasanya anak-anak yang memiliki penyakit Kawasaki membaik dan tidak mengalami masalah jangka panjang.

Perawatan dini penting dilakukan, karena dapat memperpendek penyakit dan menurunkan kemungkinan gangguan jantung. Tes lanjutan dapat membantu Anda dan dokter untuk memastikan penyakit ini tidak menyebabkan gangguan pada jantung.

Beberapa anak dapat mengalami kerusakan pada arteri koroner. Arteri dapat menjadi terlalu besar dan terjadi aneurisma. Arteri mungkin juga menyempit dan berisiko mengalami pembekuan darah.

Anak yang mengalami kerusakan arteri koroner lebih mungkin mengalami serangan jantung di usia dewasa. Apabila anak Anda mengalami penyakit ini, ketahui apa yang perlu diperhatikan dan kapan mencari bantuan.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: Maret 12, 2016 | Terakhir Diedit: Agustus 28, 2019

Yang juga perlu Anda baca