Apa itu hepatitis kronis?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu hepatitis kronis?

Hepatitis kronis adalah peradangan hati yang berlangsung setidaknya selama 6 bulan. Banyak penderita hepatitis kronis tidak mengalami gejala, tetapi sebagian mengalami gejala yang samar, seperti perasaan tidak enak badan, nafsu makan yang buruk, dan kelelahan. Hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis dengan pembesaran limpa, penumpukan cairan dalam perut, dan penurunan fungsi otak.

Seberapa umumkah hepatitis kronis?

Hepatitis kronis dapat mengenai pasien pada usia berapapun. Ini dapat diatasi dengan mengurangi faktor risiko Anda. Diskusikanlah dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala hepatitis kronis?

Pada sekitar dua pertiga orang, hepatitis kronis terjadi secara bertahap, seringkali tanpa menimbulkan satupun gejala gangguan hati sampai sirosis terjadi. Pada sepertiga sisanya, hepatitis kronis terjadi setelah serangan virus hepatitis akut yang membandel atau kambuh (seringkali beberapa minggu kemudian).

Gejala sering meliputi perasaan sakit yang samar (malaise), napsu makan yang buruk, dan kelelahan. Terkadang orang yang terkena dampaknya juga mengalami demam ringan dan ketidaknyamanan perut bagian atas. Jaundice (penyakit kuning) jarang terjadi.

Sering kali, gejala spesifik pertamanya adalah gejala dari penyakit hati kronis atau sirosis. Ini dapat meliputi pembesaran limpa, pembuluh darah kecil yang seperti laba-laba jadi terlihat di kulit (disebut spider angioma), telapak tangan kemerah-merahan, dan penumpukan cairan dalam perut (ascites—lihat Ascites). Kerusakan hati dapat menyebabkan penurunan fungsi otak, disebut ensefalopati hepatik [portosistemik; lihat Ensefalopati Hepatik), dan kecendrungan untuk berdarah (koagulopati). Fungsi otak menurun karena zat-zat beracun menumpuk dalam darah dan mencapai otak. Hati biasanya membersihkan darah dari zat yang berbahaya, menguraikan zat-zat tersebut dan kemudian mengeluarkannya sebagai produk sisa yang tidak berbahaya ke dalam empedu atau darah (lihat Fungsi Hati). Hati yang rusak kurang mampu untuk membersihkannya.

Sebagian orang mengalami jaundice, gatal-gatal, dan tinja yang berminyak dan berbau (disebut steatorrhea) dan berwarna terang. Gejala ini muncul karena aliran empedu dari hati tersumbat.

Hepatitis autoimun dapat menyebabkan gejala lain yang dapat melibatkan hampir semua sistem tubuh, terutama pada wanita muda. Gejala ini termasuk jerawat, terhentinya periode menstruasi, nyeri sendi, luka pada paru-paru, peradangan kelenjar tiroid dan ginjal, dan anemia.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah pada dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami satupun tanda atau gejala yang disebutkan di atas, atau memiliki pertanyaan apapun, konsultasikanlah pada dokter. Tubuh setiap orang bereaksi dengan cara berbeda. Selalu lebih baik untuk mendiskusikan apa yang terbaik untuk keadaan Anda dengan dokter.

Penyebab

Apa penyebab hepatitis kronis?

Hepatitis kronis biasanya disebabkan oleh salah satu virus hepatitis. Virus hepatitis C menyebabkan 60 hingga 70% kasus, dan setidaknya 75% kasus hepatitis C akut menjadi kronis. Sekitar 5 hingga 10% kasus hepatitis B, terkadang dengan co-infeksi hepatitis D, menjadi kronis. (Hepatitis D tidak terjadi secara independen. Hepatitis D muncul hanya sebagai co-infeksi dari hepatitis B). Jarang terjadi, tetapi virus hepatitis E menyebabkan hepatitis kronis pada orang yang memiliki sistem imun yang lemah, seperti orang yang menggunakan obat untuk menekan sistem imun setelah transplantasi organ, orang yang menggunakan obat untuk mengobati kanker, atau orang yang memiliki infeksi HIV. Virus hepatitis A tidak menyebabkan hepatitis kronis.

Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan hepatitis kronis, terutama jika obat tersebut digunakan untuk waktu yang lama. Ini termasuk isoniazid, methyldopa, dan nitrofurantoin.

Penyebab lainnya termasuk hepatitis alkoholik dan penyakit hati berlemak yang tidak berkaitan dengan penggunaan alkohol (steatohepatitis nonalkoholik). Lebih jarang terjadi, tetapi hepatitis kronis dapat disebabkan oleh defisiensi alpha1-antitrypsin (gangguan bawaan), penyakit celiac, gangguan tiroid, atau pada anak-anak dan dewasa muda, penyakit Wilson—suatu gangguan bawaan terkait retensi tembaga yang abnormal pada hati (lihat Penyakit Wilson).

Pada banyak orang dengan hepatitis kronis, penyebab yang jelas tidak dapat diidentifikasi. Pada sebagian orang ini, peradangan kronisnya menyerupai peradangan yang disebabkan oleh tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (suatu reaksi autoimun—lihat Gangguan Autoimun). Jenis peradangan ini disebut hepatitis autoimun, lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Tidak ada yang tahu secara pasti mengapa virus atau obat tertentu menyebabkan hepatitis kronis pada sebagian orang tetapi tidak pada yang lainnya, atau mengapa tingkat keparahannya beragam.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk hepatitis kronis?

Ada banyak faktor risiko untuk Hepatitis Kronis, seperti:

Hepatitis B:

  • melakukan seks tidak aman dengan beberapa pasangan ses atau dengan seseorang yang terinfeksi HBV
  • berbagi jarum dalam penggunaan obat intravena (IV)
  • pria yang melakukan seks dengan pria lainnya
  • tinggal dengan seseorang yang memiliki infeksi HBV kronis
  • bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi
  • memiliki pekerjaan yang membuat Anda terpapar darah manusia
  • berpergian ke wilayah dengan tingkat infeksi HBV yang tinggi, seperti Afrika, Asia Tengah dan Tenggara, dan Eropa timur.

Hepatitis C:

  • pekerja kesehatan yang telah terpapar darah yang terinfeksi, yang dapat terjadi jika jarum yang terinfeksi menusuk ke kulit Anda
  • pernah menyuntikkan atau menghirup obat-obatan terlarang
  • memiliki HIV
  • melakukan tindik atau tattoo di lingkungan yang tidak bersih, menggunakan peralatan yang tidak steril
  • menerima transfusi darah atau transplant organ sebelum tahun 1992
  • menerima konsentrat faktor pembekuan sebelum tahin 1987
  • menerima pengobatan hemodialisis untuk waktu yang lama
  • lahir dari wanita dengan infeksi hepatitis C
  • pernah berada dalam penjara
  • lahir di antara tahun 1945 dan 1965, kelompok usia dengan insidensi infeksi hepatitis C yang tertinggi

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana hepatitis kronis didiagnosis?

Dokter mungkin mencurigai hepatitis kronis ketika orang mengalami gejala yang tipikal, ketika tes darah (yang dilakukan untuk alasan lain) mendeteksi enzim hati yang sangat tinggi, atau ketika orang sebelumnya pernah memiliki hepatitis akut. Selain itu, orang yang lahir di antara tahun 1945 dan 1965, terlepas dari adanya gejala, harus dites satu kali untuk hepatitis C. Tes tersebut dianjurkan karena hepatitis C biasa ditemukan dalam kelompok usia ini dan seringkali tidak disadari.

Tes darah untuk menentukan seberapa baik fungsi hati dan apakah ada kerusakan padanya akan dilakukan (tes fungsi hati). Ini dapat membantu membangun atau mengeliminasi diagnosis, mengidentifikasi penyebab, dan menentukan tingkat keparahan kerusakan hati. Tes darah juga dapat dilakukan untuk membantu dokter mengidentifikasi virus hepatitis apa yang menjadi penyebab infeksi. Jika virus tidak teridentifikasi, tes darah lainnya diperlukan untuk memeriksa penyebab lainnya, seperti hepatitis autoimun. Namun, biopsy hati (lihat Biopsi Hati) penting untuk mengonfirmasi diagnosis. Biopsi hati juga membuat dokter dapat menentukan seberapa parah peradangan dan apakah telah timbul luka atau sirosis. Biopsi dapat membantu mengidentifikasi penyebab hepatitis.

Jika orang memiliki hepatitis B kronis, ultrasonography dilakukan setiap 6 bulan untuk skrining kanker hati. Tingkat alpha-fetoprotein—protein yang biasanya diproduksi oleh sel-sel hati yang belum matang pada janin—dapat meningkat ketika ada kanker hati, sehingga juga dapat diperiksa untuk skrining kanker hati. Orang dengan hepatitis C kronis diskrining dengan cara yang sama, tetapi hanya jika mereka memiliki sirosis.

Apa saja pengobatan untuk hepatitis kronis?

Jika obat adalah penyebabnya, maka obat itu dihentikan. Jika gangguan lain adalah penyebabnya, maka gangguan tersebut diobati.

Hepatitis B dan C:

Jika hepatitis B atau C kronis semakin parah atau jika kadar enzim hati tinggi, orang biasanya diberikan obat antivirus.

Untuk hepatitis B, entecavir atau tenofovir disoproxil fumarate biasanya digunakan. Obat-obatan ini untuk diminum, dan sangat efektif, serta kemungkinan virus untuk mengembangkan resistensi terhadapnya cukup rendah. Obat lain yang dapat digunakan termasuk telbivudine dan lamivudine (diminum) dan interferon alfa dan pegylated interferon alfa (diberikan lewat suntikan ke bawah kulit). Pada sebagian orang, hepatitis B cendrung untuk kambuh setelah terapi obat dihentikan dan bahkan bisa jadi lebih parah. Maka dari itu, orang-orang ini mungkin harus menggunakan obat antivirus untuk waktu yang tidak terbatas.

Untuk hepatitis C, pengobatan barvariasi tergantung pada jenis virus hepatitis C apa yang menjadi penyebabnya. Ada beberapa jenis virus hepatitits C (disebut genotipe). Setiap jenisnya memiliki materi genetik yang sedikit berbeda. Untuk beberapa jenis, pengobatan yang efektif adalah kombinasi dari obat-obatan berikut: Pegylated interferon alfa (diberikan lewat suntikan), ribavirin (diminum), ditambah sofosbuvir (diminum) atau protease inhibitor (diminum), seperti telaprevir, boceprevir, atau simeprevir.

Untuk jenis virus hepatitis C lainnya, pengobatan hanya terdiri dari sofosbuvir dan ribavirin (diminum). Pengobatan dapat berlangsung selama 12 sampai 48 minggu. Mengobati hepatitis C dapat menyingkirkan virus dari tubuh dan dengan demikian menghentikan peradangan dan mencegah luka parut, yang dapat menyebabkan sirosis.

Banyak obat antivirus yang diminum (seperti entecavir, tenofovir disoproxil fumarate, telbivudine, dan lamivudine) memberikan beberapa efek samping. Lamivudine dapat memberikan efek samping yang lebih sedikit daripada yang lainnya. Ribavirin, telaprevir, boceprevir, dan simeprevir dapat menyebabkan cacat lahir. Baik pria maupun wanita yang harus menggunakan obat-obatan ini harus menggunakan alat kontrasepsi selama pengobatan dan selama 6 bulan setelah pengobatan berhenti.

Pegylated interferon alfa dapat menyebabkan penyakit seperti flu pada awalnya. Kemudian, obat ini dapat menyebabkan kelelahan, perasaan sakit pada umumnya (malaise), dan depresi. Obat ini juga dapat menekan aktivitas di sumsum tulang, termasuk produksi sel-sel darah. Obat ini biasanya tidak diberikan pada wanita hamil karena tidak jelas apakah obat ini aman digunakan selama masa kehamilan.

Hepatitis E

Ribavirin tampaknya adalah pengobatan yang efektif untuk hepatitis E kronis.

Hepatitis Autoimun

Biasanya, kortikosteroid (seperti prednisone) digunakan, terkadang dengan azathioprine, obat yang digunakan untuk menekan sistem imun. Obat-obatan ini menekan peradangan, meringankan gejala, dan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang. Namun demikian, luka parut pada hati dapat memburuk secara bertahap. Menghentikan obat-obatan ini biasanya menyebabkan kekambuhan peradangan, sehingga kebanyakan orang harus menggunakan obat-obatan ini untuk waktu yang tidak terbatas.

Pengobatan komplikasi

Terlepas dari penyebab atau jenis hepatitis kronis, komplikasi membutuhkan pengobatan.

Jika fungsi otak menurun, obat dapat diberikan untuk membantu tubuh menyingkirkan zat-zat beracun yang dapat menyebabkan penurunan fungsi.

Transplantasi hati dapat dipertimbangkan untuk orang dengan gagal hati parah. Namun, pada orang dengan hepatitis C, virus hampir selalu kambuh pada hati yang ditranspalantasikan, dan transplantasi ini menjadi kurang berhasil dibandingkan transplantasi yang dilakukan untuk alasan lainnya.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hepatitis kronis?

Gaya hidup dan pengobatan di rumah berikut dapat membantu Anda mengatasi Hepatitis Kronis

  • Berhenti minum alkohol. Alkohol mempercepat perkembangan penyakit hati.
  • Hindari obat-obatan yang dapat menyebabkan kerusakan hati. Tinjau obat Anda dengan dokter, termasuk obat-obatan yang dijual bebas serta obat herbal dan suplemen diet yang Anda gunakan. Dokter dapat menganjurkan Anda untuk menghindari obat-obatan tertentu.
  • Bantu mencegah orang lain terkena kontak dengan darah Anda. Tutupi setiap luka yang Anda miliki dan jangan berbagi alat cukur ataupun sikat gigi. Jangan mendonorkan darah, organ tubuh atau sperma, dan beri tahu petugas kesehatan bahwa Anda memiliki virus ini. Selain itu, beri tahu pasangan mengenai infeksi Anda sebelum Anda melakukan seks, dan selalu gunakan kondom selama berhubungan.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter untuk memahami solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: Maret 12, 2016 | Terakhir Diedit: Juli 9, 2017

Yang juga perlu Anda baca