home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Sakit Perut Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Penyebab Sakit Perut Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Bulan Ramadhan adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Di bulan inilah amalan yang dilakukan akan mendapatkan berkah yang berlipat ganda, salah satunya melalui puasa. Namun, terkadang gangguan datang saat Anda menjalani puasa, tiba-tiba Anda merasakan sakit perut, misalnya. Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?

Penyebab sakit perut saat puasa

Memang, bila melihat dari sisi kesehatan, puasa bisa memberikan berbagai manfaat untuk tubuh Anda. Beberapa di antaranya adalah membantu pembakaran lemak dalam tubuh, memberi waktu untuk regenerasi sel-sel kekebalan tubuh, serta memicu hormon rasa bahagia.

Sayangnya, puasa juga bisa mendatangkan risiko. Metabolisme tubuh manusia bekerja sesuai dengan ritme sirkadian. Ini artinya, metabolisme sudah beradaptasi dengan kebiasaan makan di waktu siang lalu tidur di sepanjang malam.

Begitu menjalani puasa, kebiasaan makan di pagi dan siang hari tidak akan dilakukan. Sehingga, tubuh pun memerlukan waktu untuk kembali beradaptasi ulang dengan situasi yang baru.

Akibatnya, timbullah efek samping, salah satu di antaranya adalah kenaikan asam lambung karena tidak ada makanan atau minuman yang masuk selama rentang waktu yang cukup panjang. Inilah yang membuat Anda merasakan gejala seperti sakit perut.

Risiko tersebut tentu akan lebih tinggi kemungkinan terjadinya bila Anda memang memiliki masalah dengan produksi asam lambung.

Selain itu, kemungkinan lainnya juga dapat meliputi:

  • konsumsi makanan yang tidak tepat saat sahur, seperti makanan asam atau pedas,
  • intoleransi laktosa,
  • kekurangan vitamin,
  • memiliki penyakit Crohn, masalah peradangan pada sistem pencernaan, dan
  • alergi makanan atau obat-obatan tertentu.

Cara mencegah sakit perut saat puasa

Agar sakit perut tak mengganggu ibadah puasa Anda, coba lakukan beberapa langkah pencegahan berikut ini.

1. Makan secukupnya saat sahur dan berbuka puasa

Kebiasaan yang bisa menjadi penyebab sakit perut saat puasa adalah karena makan berlebihan.

Memang, sih, puasa membuat Anda ngidam banyak makanan dan ingin segera dipenuhi saat berbuka puasa. Atau, Anda berpikir untuk makan lebih banyak saat sahur agar tidak kelaparan saat puasa nanti.

Hal ini justru tidak baik untuk kesehatan Anda. Ketika Anda makan kebanyakan, lambung butuh waktu yang lebih lama untuk memecah makanan dan dapat memicu sakit perut.

Puasa juga membuat sistem pencernaan Anda beradaptasi dengan pola makan yang baru. Ini sebabnya, perut Anda akan kaget menerima banyak makanan setelah kosong selama 13 jam saat berpuasa.

Maka itu, makanlah sewajarnya dengan porsi yang cukup. Awali konsumsi makanan yang ringan terlebih dahulu saat berbuka untuk memudahkan pencernaan Anda.

Cerna makanan Anda secara perlahan, kunyah makanan sampai benar-benar halus. Menerapkan cara ini juga bisa membantu mencegah Anda terlalu banyak makan.

2. Hindari makanan pedas dan berlemak

Setiap makanan pedas tentu mengandung cabai yang membuat Anda merasakan sensasi panas atau terbakar saat memakannya. Ternyata, hal ini disebabkan oleh bahan kimia bernama capsaicin pada cabai.

Makanan pedas bukanlah pilihan makanan yang tepat untuk berbuka puasa dan sahur. Pasalnya, kandungan capsaicin pada cabai dapat mengiritasi lambung Anda.

Kebiasaan makan gorengan atau makanan tinggi lemak lainnya juga bisa memicu sakit perut. Sebab, lemak bisa memperlambat kerja sistem pencernaan dan dapat meningkatkan asam lambung.

Kalau Anda tidak ingin sakit perut saat puasa, maka hindari makanan-makanan ini dulu selama bulan Ramadhan, ya!

4. Hindari minuman berkafein

Layaknya sarapan, mengawali menu sahur dengan minum teh manis hangat memang dapat melegakan tenggorokan. Namun, kebanyakan minum teh juga bisa menyebabkan sakit perut saat Anda berpuasa nanti.

Kandungan kafein dalam teh maupun kopi dapat mengiritasi lambung. Pasalnya, kafein menstimulasi gerak usus untuk bergerak lebih cepat saat mencerna makanan. Akibatnya, perut jadi terasa sakit dan bahkan menyebabkan diare.

5. Jalan-jalan setelah makan

Ketimbang berdiam diri atau langsung tidur, cobalah sempatkan waktu selama beberapa menit untuk berjalan-jalan setelah makan.

Cara ini cukup berguna untuk menghindari Anda dari risiko sakit perut saat puasa, sebab gerakan tubuh dapat membantu pencernaan dengan mendorong rangsangan pada perut dan usus. Sehingga, makanan akan lebih cepat bergerak dan dicerna.

Selain itu, aktivitas fisik berintensitas rendah hingga sedang yang dilakukan setelah makan juga berpotensi untuk memberikan efek perlindungan pada saluran gastrointestinal tubuh.

Bila cara-cara yang tertera sudah Anda lakukan tapi tidak membuahkan hasil, sebaiknya segera berkonsultasi kepada dokter. Termasuk bila Anda memiliki kondisi tertentu yang memengaruhi metabolisme tubuh seperti diabetes.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Research on Intermittent Fasting Shows Health Benefits. (2020). National Institute on Aging. Retrieved 9 April 2021, from https://www.nia.nih.gov/news/research-intermittent-fasting-shows-health-benefits

To Fast or Not to Fast. (2019). NIH News In Health. Retrieved 9 April 2021, from https://newsinhealth.nih.gov/2019/12/fast-or-not-fast

4 Intermittent Fasting Side Effects to Watch Out For. (2020). Harvard Health Publishing. Retrieved 9 April 2021, from https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/4-intermittent-fasting-side-effects-to-watch-out-for

Finnell, J.S., Saul, B.C., Goldhamer, A.C. et al. (2018). Is fasting safe? A chart review of adverse events during medically supervised, water-only fasting. BMC Complement Altern Med 18, 67. Retrieved 9 April 2021.

Circadian Rhythms. (2021). National Institute of General Medical Science. Retrieved 9 April 2021, from https://www.nigms.nih.gov/education/fact-sheets/Pages/circadian-rhythms.aspx

Hamaguchi, T., Tayama, J., Suzuki, M., Nakaya, N., Takizawa, H., Koizumi, K., Amano, Y., Kanazawa, M., & Fukudo, S. (2020). The effects of locomotor activity on gastrointestinal symptoms of irritable bowel syndrome among younger people: An observational study. PloS one, 15(5), e0234089. Retrieved 9 April 2021.

Martin D. (2011). Physical activity benefits and risks on the gastrointestinal system. Southern medical journal, 104(12), 831–837. Retrieved 9 April 2021.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal diperbarui 07/05/2020
x