Pertimbangan Hal Ini Sebelum Memutuskan Homeschooling untuk Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27/04/2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Banyak orangtua yang kini melirik metode pembelajaran homeschooling untuk anak. Homeschooling adalah menyekolahkan anak di rumah. Dengan metode ini, orangtua dapat mengajar ataupun menyeleksi sendiri pengajar atau tutor yang dianggap sesuai untuk anak. Namun, apakah homeschooling benar cocok untuk anak Anda daripada di sekolah biasa? Simak penjelasannya sebagai berikut.

Perbedaan homeschooling dan sekolah formal

Umumnya, pada usia sekolah, anak akan pergi ke sekolah formal untuk mendapatkan pendidikan. Saat memutuskan untuk memberikan pendidikan kepada anak melalui homeschooling, tentu Anda telah memikirkan beberapa pertimbangan secara matang. Pasalnya, terdapat beberapa perbedaan antara homeschooling dan sekolah formal.

1. Materi pembelajaran

Materi pembelajaran di sekolah formal biasanya telah ditentukan terlebih dahulu oleh pihak sekolah berdasarkan kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah. Jadi, meski ada kurikulum yang tidak disetujui oleh orangtua, tidak ada yang memiliki wewenang untuk menentang kurikulum tersebut.  ‘

Meski di sekolah formal para guru berusaha untuk memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing anak dalam belajar, tetap saja ada tekanan yang mungkin dirasakan oleh guru untuk membuat para murid bisa menyelesaikan tes di sekolahnya dengan baik.

Artinya, pelajaran yang didapat di sekolah formal umumnya diajarkan pada anak semata agar ia bisa menyelesaikan tes di sekolah dengan baik. Hal ini cukup berbeda dengan metode pengajaran yang diberlakukan dalam homeschooling. Saat seorang anak mendapatkan pendidikannya melalui homeschooling, orangtua memiliki wewenang penuh untuk membuat kurikulum berdasarkan informasi dan pengetahuan yang dirasa sesuai dengan usia anak.

Selain itu, pada homeschooling, fleksibilitas dalam belajar adalah kelebihan yang belum tentu bisa dimiliki oleh sekolah formal. Fleksibilitas belajar tidak sama dengan anak belajar dengan santai. Namun, dengan homeschooling orangtua bisa meningkatkan materi belajar pada mata pelajaran yang dirasa paling dikuasai anak.

Tujuan fleksibilitas belajar dalam homeschooling adalah agar kemampuan anak dalam mata pelajaran tersebut semakin meningkat. Sementara,  pada mata pelajaran yang terasa sulit bagi anak, orangtua atau tutor homeschooling bisa memberikan bantuan agar anak lebih mudah mengerti materi tersebut.

Di samping itu, metode pembelajaran homeschooling tidak melulu fokus pada buku teks. Homeschooling juga melibatkan banyak praktek yang mungkin tidak bisa dilakukan saat belajar di sekolah formal. Sebagai contoh, menjadi sukarelawan, berjualan, dan masih banyak lagi. Dengan adanya praktek dalam kurikulum homeschooling, anak mendapatkan pelajaran yang lebih bermakna daripada hanya sekedar teori.

2. Lingkungan tempat belajar

Saat belajar di sekolah formal, anak akan melalui proses belajar mengajar di lingkup sekolah dengan suasana yang memang sudah ‘disetel’ untuk belajar. Biasanya, lingkungan sekolah bisa dibilang cukup kondusif untuk proses belajar mengajar.

Belum lagi dengan fasilitas yang disediakan di dalam ruang kelas maupun di sekolah. Sebagai contoh, di dalam ruang kelas telah tersedia papan tulis beserta alat untuk menulis, layar LCD, dan berbagai fasilitas lainnya.

Begitu juga dengan laboratorium untuk belajar Fisika, Kimia, Biologi, dan juga komputer yang tersedia di sekolah. Namun, apakah lingkungan sekolah sudah bisa dibilang cukup ideal untuk belajar? Belum tentu.

Tiap-tiap orangtua mungkin memiliki standar yang berbeda mengenai lingkungan tempat belajar anak. Artinya, bisa saja orangtua A merasa bahwa lingkungan sekolah sudah cukup ideal bagi anak untuk belajar. Sementara, orangtua B justru merasakan sebaliknya.

Di sekolah formal, anak akan bertemu dengan banyak orang, termasuk guru dan teman-teman sebaya. Selama berada di sekolah, anak akan mengikuti aturan yang diberlakukan di lingkungan sekolah. Hal ini, sedikit banyak, bisa memengaruhi pembentukan karakter anak.

Jika orangtua merasa peraturan yang diberlakukan di sekolah tidak sejalan dengan pendidikan moral yang diberikan di rumah, tentu hal ini bisa menyebabkan kekhawatiran. Oleh sebab itu, homeschooling adalah salah satu jalan yang bisa dipilih oleh orangtua untuk memiliki kontrol penuh terhadap lingkungan belajar anak.

Dengan anak menjalani metode belajar secara homeschooling, orangtua dapat meminimalisasi atau memperkecil gangguan belajar dan menyediakan waktu agar anak bersosialisasi setelah pelajaran usai.

3. Perhatian terhadap anak

Saat anak belajar di sekolah formal, perhatian yang dimiliki guru pada setiap mata pelajaran terbagi dengan teman-teman satu kelas. Bayangkan saja, di dalam ruang kelas terdapat 30-40 siswa dan siswi. Artinya, satu orang guru harus bisa membuat sejumlah anak dengan karakteristik dan kemampuan yang berbeda untuk memahami materi yang disampaikannya.

Tentu hal ini bukan pekerjaan yang mudah. Hal ini justru mengakibatkan beberapa anak terpaksa harus mengikuti apa yang disampaikan oleh guru meski ia belum benar-benar mengerti mengenai materi yang diberikan oleh guru di depan kelas. Jika dibiarkan berlarut-larut, siswa atau siswi tersebut mungkin saja tertinggal dibanding teman-teman satu kelasnya.

Sementara itu, hal itu hampir tidak mungkin terjadi pada metode belajar homeschooling. Pasalnya, hanya akan ada satu tutor untuk satu murid, yang artinya perhatian tutor homeschooling hanya akan tertuju pada anak.

Saat anak yang belajar dengan metode homeschooling tidak memahami mengenai suatu materi, anak bisa segera memberi tahu pengajar homeschooling. Dengan begitu, pengajar akan mengulangi penjelasannya hingga anak mengerti.

Hal ini tentu sulit untuk didapatkan di sekolah formal, karena jika semua anak memiliki kebingungan yang berbeda akan suatu materi, waktu guru tidak akan mencukupi untuk menangani muridnya satu persatu.

Maka itu perhatian yang didapatkan anak selama proses belajar adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh homeschooling. Anda bisa mempertimbangkan hal ini jika ingin mendidik anak dengan metode belajar homeschooling ini.

4. Kesehatan dan keamanan anak

Melepaskan anak untuk pergi ke sekolah setiap hari tandanya Anda, sebagai orangtua, harus siap dengan berbagai risiko. Sebagai contoh, di lingkungan sekolah, Anda tidak bisa menjamin bahwa setiap sudutnya bebas dari kuman dan bakteri.

Meski begitu, bukan berarti gedung dan bangunan sekolah sudah pasti kotor. Pasalnya, sekolah juga tentu sudah menjamin kebersihan tempat belajar anak dan fasilitas lain yang ada di dalamnya, misalnya kebersihan makanan di kantin sekolah. Tidak sembarangan penjual makanan dipersilakan untuk berjualan di kantin.

Sayangnya, Anda tidak tahu apakah anak Anda memiliki kesadaran penuh untuk selalu mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri selama berada di luar rumah. Belum lagi, dengan bertemunya banyak orang di sekolah, anak mungkin saja tertular berbagai penyakit di sekolah seperti cacar, flu, hingga demam.

Sementara itu, jika anak belajar dari rumah atau homeschooling, Anda bisa mengurangi kemungkinan anak terkena bakteri dan kuman. Anda juga bisa selalu mengingatkan anak untuk mencuci tangan sebelum makan dan membersihkan diri. Maka itu, homeschooling tentu lebih efektif bagi Anda dalam menjaga kesehatan dan kebersihan anak. Khususnya bagi Anda yang sering merasa khawatir akan hal tersebut.

5. Pengaruh terhadap perkembangan sosial anak

Seiring dengan pertambahan usianya, anak juga terus mengalami berbagai perkembangan. Salah satunya adalah perkembangan sosial. Belajar di sekolah formal dapat membantu anak meningkatkan perkembangan sosialnya. Hal ini terjadi karena anak bertemu dengan banyak orang, termasuk guru dan teman sebaya.

Apalagi, di dalam satu kelas saja, terdapat hingga 30 murid sehingga teman anak juga semakin banyak. Saat bertemu dengan orang yang berbeda-beda, anak akan mengalami berbagai perubahan dalam kemampuan bersosialisasi. Sebagai contoh, anak menjadi lebih mandiri, dewasa, dan bisa lebih menghargai orang lain.

Sementara itu, hal ini mungkin sulit sekali didapatkan anak saat homeschooling. Bahkan, teman belajar anak saat homeschooling kemungkinan besar hanyalah saudara yang juga menjalani program homeschooling. Sebagai orangtua dan pengajar homeschooling bagi anak, Anda juga harus membantu agar anak tetap meningkatkan kemampuan sosialnya.

Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak anak bermain di taman saat proses belajar mengajar usai. Anda juga bisa mengajaknya ke berbagai tempat di mana ia akan bertemu dengan orang banyak. Sebagai contoh, membiarkannya ikut berbagai kegiatan seperti bergabung di dalam komunitas atau menjadi sukarelawan untuk berbagai kegiatan.

Jadi, apakah homeschooling pilihan yang baik untuk anak Anda?

Sebagian besar dari orangtua mungkin masih ragu untuk menerapkan metode homeschooling pada anak. Namun, Anda sebaiknya tidak perlu khawatir, karena melansir Kids Healthhomeschooling adalah metode belajar yang sah atau legal dan tidak sedikit anak yang telah menjalani metode belajar homeschooling ini.

Meski begitu, homeschooling mungkin memberikan pengaruh yang berbeda pada tiap anak. Maka itu, ada beberapa pertimbangan yang harus Anda ambil. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan apakah metode homeschooling dapat membantu anak Anda belajar dengan lebih baik.

Pada akhirnya, keputusan untuk menyekolahkan anak di rumah ada di tangan Anda sebagai orangtua yang paling memahami dirinya, juga pendapat dari anak Anda sendiri.

Jika anak Anda sangat menginginkan untuk menempuh pendidikan di sekolah formal, kemungkinan hal tersebut memang terbaik untuk anak Anda. Kunci utamanya adalah bagaimana Anda sebagai orang tua mampu mengomunikasikan kebutuhan dan kemampuan anak Anda pada pengajar, baik di sekolah maupun tutor homeschooling.

Namun, ada beberapa faktor yang patut menjadi pertimbangan utama Anda untuk memilih homeschooling, misalnya:

1. Disabilitas pada anak

Anak yang memiliki disabilitas, khususnya fisik dan kesulitan belajar, mungkin akan kesulitan untuk belajar di sekolah formal. Dengan waktu dan sumber belajar yang terbatas, mungkin sulit bagi anak untuk mendapatkan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.

Homeschooling mungkin adalah pilihan yang tepat bagi anak disabilitas agar orangtua dapat memenuhi kebutuhannya dalam proses belajar. Sebagai contoh, anak mungkin memiliki jangka waktu tersendiri untuk belajar, dengan peralatan belajar yang mungkin tidak bisa didapatkannya di sekolah.

Selain itu, meski belajar melalui homeschooling, anak juga masih bisa mengeksplor dirinya dengan belajar banyak sesuai dengan kapasitasnya. Hal ini juga memberikan kesempatan untuk Anda agar bisa mengawasi anak tanpa harus merasa khawatir.

2. Orangtua kerap ditempatkan di daerah terpencil

Memiliki orangtua yang sering dipindah tugaskan ke berbagai daerah terpencil mungkin bukan hal yang mudah bagi anak usia sekolah. Pasalnya, saat mengikuti orangtua pindah ke luar kota, anak juga harus ikut pindah sekolah. Sementara itu, belum tentu pada daerah-daerah terpencil ada fasilitas sekolah yang memadai untuk pendidikan anak.

Dalam kondisi seperti ini, homeschooling mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk pendidikan anak. Anda bisa menyesuaikan pendidikan yang Anda berikan pada anak melalui homeschooling berdasarkan kebutuhan belajarnya. Dengan begitu, anak Anda juga memahami bahwa apa pun kondisinya, pendidikan adalah hal yang penting dan harus diusahakan yang terbaik.

3. Kegiatan anak yang padat

Dari sekian banyaknya pelajar, beberapa di antaranya telah mencetak prestasi sejak kecil. Ada yang sudah memulai karir menjadi pemain film, ada yang menjadi atlit, dan lain sebagainya. Pendidikan memang penting, tapi bukan berarti kesempatan berkarya dan mencetak prestasi di luar bidang pendidikan harus dilewatkan begitu saja.

Maka itu, orangtua yang telah memberikan ‘restu’ pada anak untuk meraih prestasi di bidang non akademik mungkin perlu mempertimbangkan homeschooling sebagai salah satu pilihan menarik. Hal ini membantu anak untuk tetap berkarya dan berprestasi, tapi tidak melupakan kewajiban utamanya untuk belajar.

Dengan menggunakan homeschooling sebagai metode pendidikan utama bagi anak akan sangat memudahkannya. Jadi, ia tetap bisa mendapatkan pendidikan sekaligus mencetak prestasi di luar sekolah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Supaya anak mau mendengarkan kata-kata orangtua, Anda perlu siasat khusus. Jangan malah dimarahi atau dibentak. Yuk, simak tips-tipsnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Tips Parenting 30/05/2020 . Waktu baca 4 menit

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Hewan peliharaan dan anak adalah gambaran yang menggemaskan. Namun, para orangtua perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih hewan untuk anak.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Parenting, Tips Parenting 10/05/2020 . Waktu baca 6 menit

5 Cara Efektif Mengatasi Anak Malas Belajar

Saat anak Anda malas belajar, ada cara yang bisa Anda lakukan demi mengatasi rasa malas tersebut. Apa saja? Simak tipsnya secara lengkap di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 13/04/2020 . Waktu baca 6 menit

Mendidik Anak yang Sukses, Lakukan Tips Berikut Ini!

Siapa yang tak ingin punya anak sukses? Berikut berbagai tips dalam mendidik anak agar bisa menggapai sukses di masa depan.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Parenting, Tips Parenting 11/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 16/06/2020 . Waktu baca 5 menit
menghadapi amarah anak

Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 06/06/2020 . Waktu baca 4 menit