Kenapa Anak Saya Sering Mimpi Buruk?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Semua orang pasti pernah mengalami mimpi buruk. Tapi, anak-anak nyatanya lebih sering mimpi buruk daripada orang dewasa. Laporan sebuah studi dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) yang dikutip dari Medical Daily menyatakan, setidaknya sepuluh hingga lima puluh persen anak usia 5-12 tahun mengaku sering mimpi buruk yang cukup parah dan membuat orangtuanya khawatir. Apa, sih, yang menyebabkan anak sering mimpi buruk?

Kenapa bisa muncul mimpi buruk?

Bermimpi sebenarnya adalah sebuah proses berpikir; kelanjutan dari apa yang kita pikirkan dan rasakan selama seharian kita beraktivitas. Mimpi buruk adalah ketika kita berpikir tentang masalah-masalah menyulitkan selama REM (Rapid Eye Movement) dan mencoba untuk membereskan mereka. Kita sering mencoba untuk mengabaikan masalah sulit yang mengganggu kita di siang hari, tapi ketika kita tidur dan dipaksa untuk ‘menyendiri’ di dalam kepala kita sendiri, otak akan membahas masalah sulit ini. Mimpi buruk mungkin juga berasal dari ketakutan di alam bawah sadar diri sendiri. 

Anak-anak sering mimpi buruk, namun paling umum dialami oleh anak umur 3-6 tahun. Beberapa penelitian memperkirakan 50% anak pada rentang usia ini sering mengalami mimpi buruk. Anak bisa mengalami mimpi yang bermacam-macam. Misalnya melihat monster, hantu, hewan buas hingga orang-orang jahat. Pada usia ini, daya imajinasi anak memang sedang tumbuh “subur” dan di masa paling aktifnya, sehingga rasa takut normal pun dapat menetap dan berkembang menjadi mimpi buruk.

Perlu diketahui bahwa tidur itu sendiri terbagi menjadi dua tahap: rapid eye movement (REM) dan nonrapid eye movement (non-REM). Tidur REM dan non-REM terjadi bergantian tiap 90-100 menit sekali selama Anda tertidur. Mimpi biasanya terjadi pada saat tidur REM di tengah malam atau dini hari.

Penyebab anak sering mimpi buruk

Jika pada umumnya mimpi buruk pada orang dewasa dipicu oleh stres atau gangguan kesehatan tertentu, penyebab anak sering mimpi buruk mungkin termasuk:

  1. Kelelahan dan kurang tidur. Kelelahan yang sangat dan kurang tidur bisa mengakibatkan anak Anda mimpi buruk.
  2. Sedang sakit dan menderita demam. Ketika anak Anda sedang demam tinggi karena suatu penyakit, ia bisa saja mengalami mimpi buruk.
  3. Sedang menjalani proses pengobatan. Obat yang diminum untuk penyembuhan penyakit bisa jadi akan membuat anak Anda mimpi buruk. Ini diakibatkan karena zat kimia yang terkandung dalam obat, seperti antidepresan. Selain itu, pemberhentian tiba-tiba dari penggunaan obat juga bisa menjadi penyebab anak Anda mimpi buruk.
  4. Mengalami hal yang menyeramkan. Cerita atau film horor yang anak-anak “telan” selama ia beraktivitas dapat memengaruhi isi mimpi anak saat mereka tidur malam. Selain itu, trauma pengalaman buruk, seperti kematian anggota keluarga, perceraian orangtua, melihat orangtuanya bertengkar, hingga kecelakaan bermotor, juga dapat memicu anak bermimpi buruk.
  5. Kecemasan karena mengalami perubahan-perubahan baru dalam kehidupan. Perubahan dalam kehidupan adalah hal yang wajar. Namun, kecemasan-kecemasan yang anak Anda rasakan bisa membuat anak Anda bermimpi buruk. Misalnya saja, pindah rumah atau pindah sekolah, atau punya anggota keluarga baru.
  6. Genetika. Ternyata, faktor genetik juga bisa berperan menjadi penyebab mimpi buruk pada anak. Sekitar 7% dari anak-anak yang mengalami mimpi buruk memiliki riwayat keluarga yang juga mengalami mimpi buruk. Misalnya, kakak atau orang tuanya juga punya riwayat sering mimpi buruk.

Anak saya sangat sering mengalami mimpi buruk. Apakah mimpi buruk berbahaya?

Beragam pemicu di atas dapat menjadi penyebab anak sering mimpi buruk. Tapi, jika mimpi buruk terus terjadi berturut-turut terutama jika anak mengeluhkan “tema”, “plot”, “tokoh” cerita yang sama, Anda mungkin perlu mengajaknya berkonsultasi pada dokter.

Mimpi buruk bisa terjadi karena trauma yang cukup mendalam sehingga bisa menyebabkan gangguan stres pascatrauma (PTSD), atau mungkin juga sebagai pertanda anak depresi. Kedua masalah kejiwaan ini bisa jadi berbahaya. Cobalah cari tahu dan pahami kejadian apa yang membuat anak Anda trauma dan cobalah berilah penjelasan dan rasa aman. Jika tidak berhasil, Anda bisa berkonsultasi ke dokter.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca