Panduan Membesarkan Anak Hiperaktif

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18/03/2020 . 7 mins read
Bagikan sekarang

Membesarkan anak hiperaktif bisa menjadi suatu hal yang menguras tenaga dan pikiran. Tetapi sebagai orangtua, ada banyak yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengelola perilakunya sebelum si kecil jadi benar-benar tidak terkendali.

Anak hiperaktif sering dicap nakal, padahal mungkin pertanda ADD/ADHD

Hiperaktivitas kadang sering dianggap sebagai kelakuan anak-anak, “cacing kepanasan”, “anak nakal”, hingga “anak yang nggak bisa diam”. Meski begitu, hiperaktivitas adalah salah satu gejala yang mendasari Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADD/ADHD), kondisi yang dimiliki oleh setidaknya 10 persen anak Indonesia usia sekolah dasar pada tahun 2011, dan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun, dilansir dari Republika.

Anak-anak pengidap ADHD umumnya memiliki fungsi eksekutif yang tidak berfungsi optimal. Fungsi eksekutif ini mencakup keterampilan untuk merencanakan dan berpikir sebelum bertindak, mengatur diri dan impuls, dan menyelesaikan tugas.

Walaupun gejala ADD/ADHD bisa terlihat sangat menjengkelkan bagi orang-orang di sekitar anak, penting untuk memahami bahwa anak-anak berkebutuhan khusus ini tidak sengaja bertingkah seperti itu. Mereka ingin bisa duduk diam, merapikan kamar sendiri setelah bermain, dan menuruti apa kata orangtuanya, tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Artinya, Anda perlu mengambil alih peran eksekutif untuk anak sekaligus memberikan bimbingan sementara anak Anda secara bertahap memperoleh keterampilan eksekutifnya sendiri.

Jika Anda memiliki anak yang hiperaktif, terlebih dulu konsultasikan dengan dokter untuk secara resmi menyingkirkan diagnosis ADHD. Jika anak Anda terdiagnosis ADD/ADHD, dokter dapat memberikan obat-obatan resep dan terapi perilaku untuk membantu kondisi si kecil. Sementara itu, jika anak Anda tidak memiliki ADHD, namun hanya memiliki kepribadian yang lebih berapi-api, gigih, dan berenergi dari anak lainnya, ada banyak cara sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mengelola perilakunya.

Panduan membesarkan anak hiperaktif

1. Bangun struktur dan rutinitas

Anak hiperaktif —  baik mengidap ADHD maupun tidak — akan lebih mungkin untuk menyelesaikan suatu tugas saat dihadapkan dengan pola yang sudah terprediksi. Tugas Anda adalah untuk menciptakan dan mempertahankan struktur serta rutinitas di lingkungan rumah Anda.

Ciptakan ritual sederhana dan dapat diprediksi untuk waktu makan, mengerjakan PR, bermain, dan waktu tidur. Setiap menjelang waktu tidir, minta anak untuk menata baju yang ingin ia pakai esok hari, dan pastikan segala kebutuhan sekolahnya terkumpul dengan rapi di satu tempat khusus, siap untuk ia ambil.

2. Tetapkan peraturan dan disiplin

Anak-anak hiperaktif membutuhkan peraturan konkret dan konsisten, yang dapat mereka pahami dan ikuti. Anda bisa menuliskan peraturan rumah di papan tulis besar dan menggantungnya di tempat yang bisa dilihat jelas oleh si kecil.

Tidak semua keinginannya harus diikuti, tapi sedikit empati dan kompromi dari pihak Anda mungkin akan efektif menekan amukannya saat ia merasa tidak diacuhkan. Akui perasaannya, seperti, “Mama tahu kamu pengen donat itu, tapi kamu belum makan malam. Donatnya boleh dimakan cuma setelah makan,” Jangan lupa untuk selalu terapkan peraturan rumah kapanpun dan di manapun, untuk semua anggota keluarga, jadi ia akan tahu apa yang harus ia harapkan dari orang lain dan apa yang diharapkan dari dirinya.

Tetapkan peraturan yang jelas dan sederhana, dilengkapi dengan sistem konsekuensi dan hadiah. Berikan pujian saat ia memahami dan menuruti peraturan Anda dan tunjukkan bagaimana perilaku baiknya mengarah pada hasil yang positif, sambil sesedikit mungkin memberikan reaksi negatif terhadap kebandelan anak. Namun, tetap berikan konsekuensi dari setiap perilaku buruk yang ia tunjukkan.

3. Jangan menghukum fisik atau berteriak memarahi

Anak hiperaktif menunjukkan perasaan mereka dengan sangat jelas dan gamblang, entah itu kegembiraan atau ledakan tantrum saat suasana hatinya memburuk.

Anda dapat mendinginkan kepalanya dengan mengajarkan teknik pernapasan sederhana: mengambil napas dalam-dalam dan embuskan dalam 10 hitungan lambat, atau minta ia untuk mengepalkan-melemaskan tangan selama beberapa kali sampai ia tenang.

Tapi, Anda masih perlu batasan yang jelas untuk setiap perilaku yang tidak pantas. Gunakan sistem “waktu istirahat” untuk menangani perilaku buruknya. Instruksikan anak untuk masuk ke dalam kamar Anda (atau ruangan lain yang tidak banyak distraksi, seperti mainan) selama beberapa waktu untuk berdiam diri, setiap kali ia berontak dan menendang; menjerit-jerit; atau melempar barang ke penjuru ruangan. Setelah usai, jelaskan padanya mengapa perilaku tersebut tidak Anda sukai.

Waktu “istirahat” tidak harus selalu diasosiasikan dengan hal yang negatif. Jika ia mulai tampak gelisah dan akan mengganggu pekerjaan Anda, Anda bisa menawarkan “Dek, mau dengerin musik di kamar (atau di manapun tempat yang Anda jadikan sebagai tempat “istirahat”) sampai mama selesai bikinin kamu makan?”

Hukuman fisik harus dihindari pada anak hiperaktif (dan anak-anak pada umumnya) karena kita ingin mengajarkan mereka untuk tidak menjadi lebih agresif, bukannya mengajarkan bahwa kekerasan adalah suatu hal yang lazim. Anak-anak, terutama yang hiperaktif, membutuhkan panutan orang dewasa dalam aspek kontrol dan ketenangan diri.

4. Kompromi

Luapan energi ini tidak bisa dipendam dan diacuhkan. Anak-anak ini membutuhkan rutinitas luar ruangan, seperti berjalan, bermain di taman, berolahraga, atau sekadar berlarian dari ujung ke ujung. Pagar pembatas akan sangat membantu Anda untuk membatasi ruang gerak si kecil.

Ada baiknya untuk menghindari waktu menganggur. Waktu menganggur yang terlalu lama dapat memperburuk sifat hiperaktifnya dan malah mendorong mereka untuk membuat kekacauan di dalam rumah. Penting untuk menjaga anak tetap sibuk untuk menyalurkan energinya tanpa harus membuatnya kewalahan.

Saat cuaca buruk, anak membutuhkan ruangan bermain khusus di mana ia dapat melakukan apapun sesukanya tanpa kritik. Jika tidak ada ruangan yang cukup besar, garasi bisa Anda modifikasi sementara sebagai tempat pelarian si kecil.

Meski hiperaktivitas dibolehkan di dalam rumah, namun jangan merangsangnya secara percuma. Anak hiperaktif dapat menjadi lebih cepat terdistraksi dan kelelahan, jika terlalu banyak kegiatan sepulang sekolah. Saat anak terlalu lelah, hal ini akan membuatnya lepas kendali dan hiperaktivitasnya akan semakin ekstrem. Anda mungkin perlu untuk berkompromi melakukan penyesuaian seputar kegiatan anak di rumah sepulang sekolah berdasarkan kemampuan diri anak dan tuntutan untuk kegiatan tertentu.

Kompromi juga harus Anda lakukan saat melihat masih ada satu tugas anak yang terlantar tidak terselesaikan — entah itu membereskan rumah atau mandi — di saat ia telah menyelesaikan tugas-tugas lainnya, misalnya mengerjakan PR, menyiapkan buku sekolah, dan memberi makan anjing peliharaan.

Terlalu menuntut anak untuk mengerjakan segala sesuatu hingga tuntas tidak hanya akan membuat Anda merasa gerah dan tidak puas, namun juga menciptakan suatu ekspektasi yang mustahil untuk si kecil yang hiperaktif.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Selain Hubungan Seks, Ada Masalah Hubungan Asmara pada Penderita ADHD

Selain kehidupan seks, penderita ADHD juga memiliki sejumlah tantangan dalam menjalani hubungan asmara mereka dan berasal dari gejala yang dialami.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Seks & Asmara 14/06/2020 . 5 mins read

Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

Kemarahakn yang muncul dari anak tanpa diketahui alasannya kerap membuat Anda jengah. Begini cara menghadapi ledakan amarah anak dengan baik.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Parenting, Tips Parenting 06/06/2020 . 4 mins read

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Supaya anak mau mendengarkan kata-kata orangtua, Anda perlu siasat khusus. Jangan malah dimarahi atau dibentak. Yuk, simak tips-tipsnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Tips Parenting 30/05/2020 . 4 mins read

Tahap-tahap Perkembangan Anak Usia 6-9 Tahun

Memasuki usia sekolah, yaitu usia 6-12 tahun, anak akan mengalami berbagai tahap perkembangan. Apa saja yang dialami anak pada saat itu?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Anak, Parenting 14/05/2020 . 18 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 mins read
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 7 mins read
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 8 mins read
menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 16/06/2020 . 5 mins read