3 Tips Menguatkan Ikatan Batin Kakak dan Adik Agar Lebih Akur di Rumah

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum.

Bagi kebanyakan orang, memiliki saudara kandung sama saja seperti tinggal seatap dengan musuh bebuyutan. Apalagi jika beda umur antara kakak dan adiknya tidak terpaut begitu jauh. Selalu ada saja yang diributkan, mulai dari hal yang sepele seperti rebutan baju sampai yang serius seperti saingan prestasi akademik di sekolah. Pertengkaran sesama saudara memang tidak dapat dihindari, tapi di sinilah peran orangtua dibutuhkan sebagai penengah.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat orangtua ikut agar hubungan kakak adik di rumah menjadi lebih akur dan hangat. Bahkan sebuah penelitian terbaru dari Society for Research in Child Development melaporkan bahwa hubungan kakak adik yang kuat akan saling membantu mengembangkan empati keduanya, dilansir dari Science Daily.

Tips untuk orangtua menguatkan hubungan kakak adik agar lebih akur di rumah

1. Jangan membandingkan

Walaupun bersaudara, minat dan kemampuan masing-masing anak bisa berbeda — bahkan anak kembar sekalipun. Si kakak jago matematika dan IPA, misalnya, sementara si adik lebih suka musik dan olahraga. Mungkin Anda berpikiran bahwa jago main alat musik belum tentu dapat menjamin masa depannya, sehingga Anda tanpa sadar jadi membandingkan si kakak yang cerdas dan selalu juara kelas dengan adiknya.

Niat Anda mungkin hanya untuk menyemangati si adik supaya lebih rajin belajar. Akan tetapi, membandingkan kemampuan anak yang satu dengan lainnya bukan cara yang tepat untuk menguatkan hubungan kakak adik. Membandingkan bisa membangun persaingan yang tidak sehat, kecemburuan, dan rasa iri dengki pada keduanya.

Menurut Parenting, membandingkan siapa yang lebih baik atau semacamnya bisa memengaruhi cara anak menilai diri mereka sendiri, dan pada akhirnya bagaimana anak bersosialisasi dengan orang lain di luar rumah. Misalnya, terus-terusan dicap sebagai anak yang “tidak pintar matematika” mungkin akan  membuatnya percaya bahwa dirinya benar-benar “bodoh” dan “gagal” sehingga ia akan semakin kesulitan untuk mengembangkan minat dan kemampuannya.

Di sisi lain, menjadi buntut dari perbandingan tersebut akan membuat anak haus akan pujian dan penerimaan sehingga bukannya tidak mungkin ia akan memberontak. Sementara anak yang terus mendapat pujian tidak akan memiliki banyak kesempatan untuk memperluas minatnya terhadap hal lain, karena sudah dicap sebagai “si anak yang jago matematika”.

Pada akhirnya, “perang dingin” antara kakak dan adik ini bisa membuat mereka jadi lebih sering bertengkar. Ingat bahwa setiap anak adalah individu yang unik dengan minat dan bakat serta perilaku yang berbeda, meski dilahirkan dari ibu yang sama dan dibesarkan di dalam keluarga yang sama.

2. Biarkan anak mengekspresikan diri

Jika Anda ingin anak-anak mengembangkan potensi mereka semaksimal mungkin, maka Anda harus membimbing mereka untuk menemukan minat, bakat, serta kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki sejak dini. Menemukan minat dan bakat anak sejak dini, bisa membantu mereka untuk menekuni hal-hal yang disukainya, entah itu dalam bidang olahraga, seni, maupun akademis.

Yang perlu diingat, karakteristik seseorang dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sekitarnya sejak masih kecil dengan cara yang berbeda pula. Walaupun mereka tumbuh bersama, tidak semua kegiatan yang si kakak lakukan akan pasti juga disukai oleh adiknya.

Maka, biarkanlah masing-masing anak mengekspresikan pendapat dan minat mereka. Beri waktu pribadi pada mereka untuk mengembangkan minat sekaligus mengasah kemampuan yang mereka miliki. Misalnya, sang kakak menyukai olahraga dan sang adik menyukai kegiatan menggambar, maka beri mereka waktu untuk melakukan kegiatan tersebut tanpa saling mengganggu. Cara ini bisa meminimalisir pertengkaran di antara keduanya.

Selain itu, memberikan waktu kepada anak untuk melakukan hal-hal yang disukainya berarti melatih anak untuk bekerja keras melakukan sesuatu secara mandiri, membangun rasa percaya diri, mencari pemecahan masalah sekaligus memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Walaupun Anda memberikan mereka waktu untuk melakukan hal yang disukai, bukan berarti Anda melepas pengawasan begitu saja. Sebaiknya sediakan waktu untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Selain mengawasi, Anda juga bisa memberi mereka semangat dan pujian sebagai motivasi.

3. Bantu mereka untuk bekerja sama

Cari jalan tengah agar kakak dan adik bisa menghabiskan waktu berdua sambil melakukan kegiatan favoritnya masing-masing. Misalnya, mengajak mereka ke taman kota untuk membiarkan si kakak berolahraga dan si adik menggambar pemandangan.

Bisa juga disiasati dengan memberikan “tugas” membersihkan rumah atau mengajak mereka untuk melakukan sebuah permainan yang bisa dilakukan keduanya untuk melatih kerja sama dan membangun keakraban.

Semakin banyak waktu bersama yang dihabiskan tentu akan mempererat hubungan kakak adik di rumah. Selain itu, anak juga menjadi lebih paham dan menghargai kemampuan yang dimiliki masing-masing.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca