Bila kita berbicara tentang manfaat olahraga bagi kesehatan fisik, rasanya hampir semua orang pernah tahu. Olahraga dapat menjauhkan dari obesitas, mencegah osteoporosis (pengeroposan tulang), mencegah penyakit jantung, dan berbagai manfaat lainnya. Tapi tahukah Anda bahwa olahraga juga dapat bermanfaat bagi kesehatan jiwa atau psikologis anak?

Olahraga mengajarkan anak akan banyak hal. Anak dapat mendapatkan kesenangan dari olahraga permainan sekaligus belajar mengenai interaksi dengan pelatih dan kerja sama tim. Selain itu, anak bisa mengeksplorasi dan melatih hal baru, misalnya komitmen, disiplin, keterampilan motorik, dan keterampilan bersosialisasi dengan teman-teman baru.

Apa saja manfaat olahraga untuk anak dari sisi psikologis?

Berikut adalah manfaat yang penting bagi kesehatan jiwa atau psikologis anak.

1. Mencegah depresi

Depresi juga dapat dialami oleh anak, terutama anak remaja perempuan. Menurut Williams et al, olahraga dapat menurunkan risiko anak untuk mengalami depresi. Ketika anak dapat berpartisipasi dengan baik dalam olahraga, anak akan merasa puas akan apa yang dapat dicapai oleh dirinya. Maka tidah heran, bila partisipasi dalam olahraga mampu melindungi anak dari rasa tidak berdaya dan keinginan untuk bunuh diri.

2. Meningkatkan rasa percaya diri

Olahraga juga dapat meningkatkan rasa percaya diri anak. Findlay et al menemukan bahwa olahraga dapat menolong anak yang memiliki sifat pemalu menjadi lebih percaya diri. Dalam penelitian ini, setelah menjalani olahraga selama beberapa waktu, sedikit demi sedikit kekhawatiran dan rasa malu yang dimiliki anak semakin berkurang.

3. Memberikan rasa bahagia (good well-being) dan mengurangi stres

Penelitian yang dilakukan Michaed et al menemukan bahwa anak yang sering melakukan olahraga cenderung merasa bahagia dibanding mereka yang tidak. Penelitian lain menunjukkan bahwa anak yang aktif berpartisipasi dalam olahraga cenderung memiliki stres emosional yang lebih ringan.

4. Membangun karakter

Anak-anak yang sering berolahraga akan lebih berpengalaman dengan aturan fair play atau untuk berlaku adil antar sesama. Pengalaman ini juga akan membentuk karakter anak menjadi seseorang yang tangguh, dapat diandalkan, memiliki komitmen dan motivasi yang baik, serta melatih anak menjadi seseorang yang cerdik.

5. Membuat anak jarang “berulah”

Segrave et al menemukan bahwa tingkat kenakalan remaja lebih rendah pada mereka yang sering berolahraga. Terdapat beberapa teori yang mendasari ini. Salah satu teori mengatakan bahwa olahraga dapat melepaskan “energi berlebih” sang anak sehingga ia tidak menggunakan “energi berlebih” ini untuk berbuat nakal. Teori lainnya mengatakan, olahraga membuat sang anak menjadi terlalu lelah untuk berbuat nakal.

Maka dari itu, biarkanlah anak Anda berpartisipasi dalam olahraga. Biarkan anak Anda merasakan senangnya bermain bersama teman dan mengeksplorasi kemampuan diri. Biarkan ia berkembang menjadi individu yang lebih kuat bukan hanya dari segi fisik, tapi juga dari segi mental kejiwaan.

Baca Juga:

Sumber
dr. Tania Savitri Kedokteran Olahraga

    dr. Tania Savitri adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sejak kecil, ia mencintai berbagai olahraga terutama sepakbola. Ia pun aktif mengikuti berbagai kegiatan ilmiah kedokteran olahraga nasional maupun internasional, salah satunya XXV International Conference on Sports Rehabilitation and Traumatology di London, UK.

    Saat ini dr. Tania sedang menjalani pendidikan FIFA Football Medicine Diploma dari F-MARC untuk memperdalam keahliannya di bidang kedokteran olahraga.

    Selengkapnya