Pertimbangan Penting Bagi Orangtua Sebelum Memutuskan Homeschooling untuk Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum.

Banyak orangtua yang kini melirik metode pembelajaran homeschooling untuk anak mereka. Dengan menyekolahkan anak di rumah sendiri, Anda tidak perlu repot antar-jemput dan tidak perlu juga mengkhawatirkan makanan si kecil. Anda juga dapat menyeleksi sendiri pengajar atau tutor yang Anda rasa sesuai untuk anak Anda. Namun, apa homeschooling benar cocok untuk anak Anda daripada di sekolah biasa? Berikut sejumlah hal yang perlu Anda pertimbangkan.

Apa manfaat homeschooling untuk anak?

1. Anak lebih leluasa mengembangkan bakatnya

Homeschooling merupakan metode pembelajaran mandiri. Dengan sekolah di rumah, orangtua dan anak dapat bersama-sama menentukan sendiri topik, waktu, durasi, hingga cara mengajar yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan gaya belajar si anak. Meski memang, kebanyakan mata pelajaran yang diajarkan dalam kurikulum homeschooling masih tetap mengacu pada kurikulum standar nasional.

Dilansir dari laman Parents, penulis buku The Element, Ken Robinson berujar bahwa kunci pendidikan yang ideal untuk anak seharusnya tidak disamaratakan. Setiap anak memiliki bakat dan minat serta kemampuan mengolah informasi yang berbeda. Dengan homeschooling, Andalah yang paling memahami anak Anda sehingga metode ini bisa lebih optimal untuk mengembangkan bakat setiap anak sesuai keinginan dan kemampuannya.

Pengembangan minat dan bakat yang maksimal ini membuat anak nantinya akan mampu lebih luwes beradaptasi dengan lingkungan luar dengan kondisi apapun.

2. Waktu belajar lebih fleksibel

Salah satu keuntungan terbesar homeschooling adalah dari segi fleksibilitas. Anda, anak, dan pengajar bisa saling berunding untuk menentukan waktu yang paling tepat untuk mulai belajar dan berapa lama yang dibutuhkan dalam sehari. Anda juga bisa berunding untuk menentukan lokasi (tak selalu harus di rumah, lho!), frekuensi, dan jadwal mata pelajaran yang ingin dipelajari dalam satu hari.

Anda dan tutor bahkan bisa mengubah sendiri jadwal belajar anak, jika ia mulai merasa bosan. Misalnya ketika belajar tentang sistem tata surya, daripada bosan membaca buku dan menghapal nama-nama planet, Anda bisa mengajaknya untuk “studi banding” ke Planetarium. Bahkan untuk mata pelajaran seperti Penjaskes dan Kesenian yang butuh praktik langsung, Anda bisa memindahkan “kelas” anak ke lapangan atau taman kota dan studio musik.

3. Anak lebih baik mencerna informasi

Suasana belajar yang tidak terkesan kaku atau membosankan bisa membantu anak untuk lebih bersemangat dan memahami isi pelajarannya. Ia juga bisa lebih fokus untuk belajar tanpa gangguan orang lain. Bila ia menemukan kesulitan di sela-sela pembelajaran, anak akan lebih mudah untuk bertanya dan langsung mendapatkan penyelesaian tanpa menghambat proses pembelajaran orang lain.

Berbeda dengan sekolah formal, misalnya saat anak tidak mengerti matematika, guru akan mengajarkan topik tersebut sampai benar-benar tuntas dulu untuk semua murid di kelas. Sesi pertanyaan di tengah kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa menghambat waktu belajar siswa lain di dalam kelas. Dengan bersekolah di rumah, tutor dapat memfokuskan perhatiannya hanya untuk satu anak saja.

4. Anak mendapatkan tidur yang cukup

Durasi waktu KBM di sekolah Indonesia termasuk yang paling lama di dunia. Anak sekolah rata-rata diwajibkan untuk masuk sekolah pukul 6.30 sampai 7 pagi dan selesai pukul 15.00 WIB. Ini belum termasuk lama waktu yang dihabiskan untuk les bimbel di sana sini.

Ironisnya, nilai akademis rata-rata anak Indonesia setelah belajar nonstop selama 8 jam lebih tetap lebih rendah daripada pelajar Singapura, yang hanya belajar sekitar 5 jam saja setiap hari. Pasalnya, rutinitas masuk sekolah yang memaksa anak untuk bangun subuh dan tidur larut malam hampir setiap hari jadi mengacak-acak kualitas tidur mereka. Anak yang kurang tidur lebih mungkin untuk ketiduran di kelas selama pelajaran berlangsung. Lambat laun ini akan berimbas pada performa anak di sekolah.

Selain masalah akademis, kurang tidur juga dikaitkan dengan risiko kolesterol tinggi dan obesitas anak di masa depan. Sebuah studi menemukan bahwa efek jangka pendek dari kurang tidur, seperti pilek, flu, dan gangguan pencernaan, lebih sering timbul ketika anak tidur kurang dari tujuh jam.

5. Anda bisa memantau pergaulan anak

Remaja yang kurang tidur lebih cenderung lalai, impulsif, hiperaktif, dan menentang. Maka, bukan lagi fenomena baru melihat performa akademis remaja yang tidak cukup tidur anjlok daripada teman-teman lainnya.

Kurang tidur pun akan berimbas negatif pada perilaku anak. Satu studi menemukan bahwa setiap 10 menit menunda tidur malam, ada peningkatan risiko sebanyak 6 persen untuk mereka mengonsumsi alkohol atau ganja. Kurang tidur juga meningkatkan risiko anak sekolah jadi ketergantungan pada obat-obatan antikecemasan dan obat tidur. Efek penyalahgunaan obat-obatan ini nantinya malah memicu anak semakin cemas dan sulit tidur.

Studi lainnya yang dimuat dalam Journal of Youth and Adolescence tahun 2015, dilansir dari Huffington Post, menemukan bahwa remaja yang tidur hanya enam jam setiap malam dilaporkan tiga kali lebih mungkin untuk menderita depresi. Kurang tidur juga meningkatkan risiko upaya bunuh diri anak hingga 58 persen.

Nah, manfaat lain yang bisa didapatkan dari homeschooling untuk anak adalah Anda bisa memantau pergaulannya. Dengan begitu anak-anak akan terhindar dari pengaruh merokok dan konsumsi narkoba dan bullying yang rentan memengaruhi anak-anak di masa peralihannya. Selain itu, orangtua pun bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak-anak dengan menemaninya belajar di rumah.

Lantas, apa kerugiannya?

Di balik manfaat yang bisa didapatkan, Anda juga perlu mengetahui kerugian yang mungkin timbul dari homeschooling untuk anak.

Yang paling utama dan amat perlu dipertimbangkan adalah terbatasnya lingkup pergaulan dan pertemanan anak. Pasalnya, homeschooling membuat anak lebih terfokus pada interaksi dengan pengajar dan orangtuanya, bukan pada teman-teman sebayanya layaknya sekolah formal. Padahal, kehadiran teman dapat melatih anak untuk menumbuhkan rasa empati dan mengembangkan keterampilan bersosialisasi. 

Untuk mengatasi masalah sosial yang mungkin dihadapi oleh anak homeschooling, Anda sebagai orangtua perlu membuat anak Anda tetap merasa terhubung dengan dunia sekolah dan lingkungan sebayanya. Ini tergantung bagaimana cara Anda untuk menyetarakan homeschooling sesuai porsinya agar anak tidak merasa terasing dalam pergaulannya.

Selain itu, anak-anak homeschooling tidak memiliki fasilitas sekolah pada umumnya, seperti laboratorium, perpustakaan, pusat olahraga, atau studio seni. Pada mata pelajaran tertentu di sekolah formal ada yang mengharuskan anak untuk mengeksplor kemampuannya secara langsung, seperti meneliti di laboratorium, olahraga fisik, ekstrakurikuler, dan kemampuan motorik lainnya. Untuk mengajak anak “studi banding” sendiri, Anda tentu perlu persiapan yang lebih matang serta perlu merogoh kocek pribadi.

Jadi, apakah homeschooling pilihan yang baik untuk anak Anda?

Pemilihan homeschooling untuk anak dapat dipengaruhi berbagai faktor. Misalnya karena anak mengidap penyakit serius yang membuat aktivitasnya terbatas, atau sebab-sebab lainnya yang membuat anak-anak kesulitan menjangkau sekolah formal.

Namun, alasan yang paling sering adalah karena orangtua merasa mampu memberikan pendidikan yang lebih baik melalui homeschooling daripada sekolah formal lainnya. Pada akhirnya, keputusan untuk menyekolahkan anak di rumah ada di tangan Anda sebagai orangtua yang paling memahami dirinya, juga pendapat dari anak Anda sendiri.

Jika anak Anda sangat menginginkan untuk menempuh pendidikan di sekolah umum, maka kemungkinan hal tersebut memang terbaik untuk anak Anda. Kunci utamanya adalah bagaimana Anda sebagai orang tua mampu mengomunikasikan kebutuhan dan kemampuan anak Anda pada pengajar, baik di sekolah maupun tutor homeschooling.

Yang perlu diperhatikan, apabila anak memang mengalami kendala selama di sekolah, seperti masalah akademik atau anak menjadi korban bullying, Anda tidak bisa serta merta memilih homeschooling sebagai jalan pintas. Tentunya Anda harus menemukan solusi yang tepat untuk masalah anak dengan berdiskusi bersama guru di sekolah.

Baca Juga:

Sumber
Pantau Perkembangan Anak Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan si kecil.
Error message goes here
Daftar
*Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anak anda: [num] bulan Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Yang juga perlu Anda baca