Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Menjadi orang tua baru bukanlah hal yang mudah. Itulah mengapa banyak orang tua baru yang menderita depresi pasca melahirkan. Namun, selama ini memang yang lebih banyak diketahui mengalami depresi pasca melahirkan atau postpartum depression adalah wanita yang habis melahirkan. Ternyata, tak cuma wanita saja yang bisa mengalaminya. Para pria pun bisa diserang depresi setelah istrinya melahirkan anak mereka. Kondisi klinis ini disebut juga depresi pascamelahirkan pada laki-laki. Untuk mencari tahu penyebab, tanda-tanda, dan cara menanganinya, simak baik-baik penjelasan berikut ini.

Depresi pasca melahirkan pada laki-laki

Depresi yang terjadi setelah kelahiran bayi merupakan kondisi yang cukup umum pada wanita. Sedangkan pada laki-laki, prevalensinya diketahui sebesar satu dari 10 orang. Kondisi ini menyerang ayah baru pada saat yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada pria yang sudah menunjukkan gejala depresi pasca melahirkan pada trimester pertama kehamilan istrinya, tetapi ada juga yang baru merasakan depresi tersebut saat anaknya lahir atau beberapa minggu setelahnya. Depresi pascamelahirkan pada laki-laki bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan hingga setahun setelah kelahiran bayi.

Mirip seperti depresi yang dialami wanita setelah melahirkan, depresi pascamelahirkan pada laki-laki juga menyebabkan rasa cemas berlebihan, takut, sedih, dan hampa. Masa-masa menjadi orang tua baru yang seharusnya menyenangkan dan penuh cinta berubah menjadi kelam dan penuh ketegangan. Sayangnya, kondisi ini tak kasat mata dan belum banyak dibicarakan secara terbuka layaknya depresi pascamelahirkan pada wanita. Akibatnya, banyak pria yang mengalami depresi pascamelahirkan tidak benar-benar menyadari apa yang mereka alami. Mereka pun cenderung mengabaikan kondisi ini begitu saja. Padahal, depresi pascamelahirkan pada laki-laki akan berdampak buruk bagi si kecil kalau dibiarkan tanpa penanganan.

Tanda-tanda depresi pasca melahirkan pada laki-laki

Mendeteksi gejala depresi pascamelahirkan pada laki-laki merupakan suatu tantangan tersendiri. Pasalnya, kebanyakan laki-laki cenderung menutup-nutupi atau memendam gejala yang dirasakan. Selain itu, gejala yang dialami laki-laki juga biasanya muncul secara bertahap dan pelan-pelan sehingga agak sulit untuk mengetahui di mana batasan depresi pascamelahirkan dan stres biasa. Meskipun begitu, Anda bisa mengamati tanda-tanda berikut ini.

  • Kehilangan gairah seks, baik dengan pasangan atau secara umum
  • Muncul kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, mengebut saat berkendara, atau mengonsumsi obat-obatan
  • Mudah marah, sedih, tersinggung, gusar, dan kehilangan kesabaran
  • Selalu berpikiran negatif, terutama soal bayi yang baru lahir misalnya apakah bayi Anda bernapas dengan normal, bisa tidur, atau berkembang seperti seharusnya
  • Tidak tertarik pada hal-hal yang dulu diminatinya
  • Mencari alasan untuk tidak berada di rumah bersama bayi misalnya dengan bekerja hingga larut malam, menghadiri acara kantor di luar kota, atau mencari pekerjaan sampingan pada waktu luangnya
  • Menghindari interaksi sosial dengan keluarga, sahabat, tetangga, atau rekan kerja
  • Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
  • Perubahan pola makan dan pola tidur
  • Gangguan fungsi tubuh seperti masalah pencernaan, sakit kepala, kulit gatal, dan nyeri otot tanpa sebab yang jelas
  • Sering menangis atau diam seribu bahasa
  • Kecenderungan untuk melakukan tindak kekerasan seperti melempar atau membanting barang, meninju tembok, atau menyakiti orang lain secara fisik
  • Muncul pikiran untuk bunuh diri

Faktor pemicu depresi postpartum pada ayah

Depresi pascamelahirkan pada laki-laki bisa menyerang siapa pun, entah itu calon ayah yang tadinya sangat bersemangat menyambut kelahiran bayinya atau yang memang tidak siap menjadi ayah baru. Penting untuk diingat bahwa depresi bukan keadaan yang diciptakan sendiri dan bukan diakibatkan oleh kecacatan karakter seseorang. Depresi pascamelahirkan juga tak berarti ayah baru tidak merasakan kasih sayang terhadap bayinya. Depresi adalah sebuah kondisi medis yang dipicu oleh berbagai hal berikut.

  • Perubahan hormon seperti menurunnya testosteron dan naiknya estrogen
  • Kurang tidur
  • Masalah finansial
  • Tekanan menjadi seorang ayah yang begitu besar dari keluarga, kerabat, pasangan, atau diri sendiri
  • Riwayat depresi dalam keluarga atau pernah mengalami depresi sebelumnya
  • Hubungan yang kurang erat dengan pasangan
  • Istri yang juga mengalami depresi pascamelahirkan

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Jika Anda atau pasangan Anda mengalami depresi pascamelahirkan pada laki-laki, bicarakan dengan keluarga atau orang yang dipercaya. Berbagi soal beban yang Anda rasakan akan sangat membantu Anda memahami sifat depresi yang menyerang. Dengan begitu, Anda pun bisa menanggulangi depresi lebih cepat dan tepat. Jika membicarakannya dengan orang yang dipercaya tidak begitu membantu, Anda bisa mencari bantuan tenaga profesional seperti psikolog, konselor, atau psikiater. Anda mungkin akan disarankan untuk menjalani terapi atau diresepkan obat antidepresan untuk mengurangi kecemasan.

Perubahan gaya hidup juga penting untuk mempercepat pemulihan. Mulailah rutin berolahraga, makan dengan gizi seimbang, berhenti merokok atau minum alkohol, dan tidur cukup. Anda juga bisa mempraktekkan teknik relaksasi sederhana seperti menarik napas dalam setiap kali dorongan untuk marah muncul, menghirup minyak esensial aromaterapi, atau bermeditasi.

Mengenal dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama bayi Anda juga bisa membantu meredakan depresi pascamelahirkan pada laki-laki. Dengan waktu berkualitas bersama, Anda akan membangun ikatan yang lebih kuat dengan bayi Anda sehingga kecemasan Anda pun berangsur-angsur mereda. Apabila Anda justru tidak pernah lepas dari bayi Anda, cobalah untuk sesekali menghabiskan waktu pribadi Anda tanpa si buah hati. Anda bisa berduaan saja dengan pasangan atau berkumpul bersama teman-teman Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit, Apakah Mungkin?

Membayangkan rasa sakit saat persalinan, sering kali membuat calon ibu merasa khawatir. Sebenarnya, apakah mungkin melahirkan normal tanpa rasa sakit?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Melahirkan, Kehamilan 30 September 2020 . Waktu baca 5 menit

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Bercinta dengan lampu yang redup sudah biasa. Pernahkah Anda membayangkan seks dengan lampu menyala? Sebelumnya, coba simak artikel berikut.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

Banyak yang belum menyadari kalau teh yang biasa Anda minum mengandung kafein. Tapi tenang, ternyata ada banyak teh tanpa kafein yang bisa Anda konsumsi.

Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

Anda penggemar kopi? Kapan Anda biasanya minum kopi? Jika jawabannya pagi hari, Anda salah waktu. Cari tahu waktu efektif minum kopi di artikel ini.

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Fakta Unik 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi patah hati

5 Gangguan Kesehatan Akibat Patah Hati

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
risiko kesehatan akibat terlalu lama menatap layar komputer

Risiko Kesehatan Setelah Menatap Layar Komputer Terlalu Lama

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
gangguan pencernaan anak

Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Bayi dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 10 menit