Orangtua, Begini Cara Mendidik Anak untuk Belajar Tanpa Harus Memaksa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Mencari cara mengajari anak untuk mau belajar tanpa harus memaksa memang menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Patokan kecerdasan anak yang dibangun oleh masyarakat sering kali membuat orangtua mau tidak mau memaksa dan menuntut agar anak rajin belajar.

Apa dampaknya jika orangtua kerap kali memaksa anak untuk belajar? Bagaimana cara mengajari anak agar mau belajar tanpa harus memaksa?

Manusia memiliki cara belajar alami sendiri

Tak sedikit sekolah dasar yang mensyaratkan anak untuk bisa membaca dan menulis sebagai awal pendidikan. Cara ini memang penting sebagai bekal dasar edukasi anak. Penting diingat bagi orangtua dan guru untuk mengajari anak tanpa memaksa.

Ketika anak sekolah, kegiatan belajar berlanjut dan menuntut anak untuk pandai membaca maupun menghitung. Betul, tak bisa dipungkiri hal ini merupakan bagian dari persyaratan masuk sekolah yang berjenjang. Pun semua orang dewasa juga telah melaluinya.

Ketika seorang murid berhasil mencapai apa yang diharapkan, ia akan mendapat penghargaan dari guru, misalnya stiker atau pujian. Sementara itu, ia juga akan mendapat hukuman jika tidak bisa menyelesaikan babak baru, ini ibarat jadi ancaman.

Ada anak yang bisa membuktikan kemampuannya mencapai tolok ukur yang sudah dibuat. Namun, ada juga yang belum bisa mencapainya. Lantas, apakah harus menghukum anak?

Jawabannya tidak juga. Melansir laman Fee.org, menurut John Holt, seorang edukator dan penulis How Children Learn mengatakan bahwa baik adanya ketika anak di sekolah diajak untuk berpikir dan memecahkan masalah. Umumnya, sekolah selalu meletakkan harapan yang sama antar murid untuk menyelesaikan persoalan.

Holt mengambil contoh pendidikan di Summerhill School, Inggris, pada 1921. Diinisiasi oleh A.S. Neill, sekolah itu dibangun dengan prinsip dasar tidak ada keterpaksaan dan aturan mandiri yang demokratis. Sekolah menerapkan metode mengajari anak tanpa memaksa.

Anggota komunitas turut berpartisipasi dalam pembentukan aturan dan ekspektasi dari edukasi ini. Sekolah juga tidak mewajibkan kehadiran.

Summerhill pada usianya yang hampir ke-100 tahun telah meluluskan banyak siswa. Siswa tak hanya belajar dasar-dasar edukasi saja, tetapi juga bidang akademik lainnya. Mereka mempelajari pelajaran hingga lulus tanpa ada keterpaksaan.

Setiap manusia, termasuk anak-anak, memiliki caranya sendiri dalam menangkap pelajaran dan bagaimana mereka menerapkan pelajaran ke dalam kehidupan secara alami. Secara alami, mereka akan mengetahui cara memecahkan masalah.

Sayangnya, kemampuan alami manusia untuk belajar ini ditumpulkan dengan beragam aturan yang memaksa. Terkadang metode pembelajaran seperti ini tidak lagi dipandang mudah dan efektif bagi masing-masing individu. Meskipun di Indonesia memiliki sistem pembelajaran yang sudah ditetapkan secara nasional, orangtua dan guru perlu memberikan dukungan penuh untuk anak.

Mengajari anak tanpa memaksa, tak ada salahnya kok

Perlu orangtua ketahui bahwa anak-anak secara biologis diprogram untuk belajar. Pembelajaran dimulai ketika ia berada di masa kanak-kanak. Anak akan membutuhkan banyak informasi sebagai bekal untuk bertahan hidup dan berkembang ketika ia beranjak dewasa.

Mungkin Anda tak bisa menghindarkan anak-anak untuk belajar menulis, membaca, atau matematika. Memang membutuhkan banyak usaha dan pelatihan intensif sehingga mereka mengerti pelajaran dasar tersebut. Orangtua sebaiknya tak perlu berekspektasi tinggi dalam mengajarkan anak. Karena proses tempuh setiap anak berbeda.

Namun, ingatlah untuk mengajari anak tanpa memaksa. Ketika mengajarkan anak, orangtua maupun guru perlu kesabaran penuh. Beritahu anak untuk mencoba menyelesaikan apa yang dikerjakan. 

Jika mereka melakukan kesalahan saat belajar, tetap arahkan mereka untuk berpikir hingga menemui solusi atau hasil akhirnya. Meskipun sebagai pembelajar alami, anak masih tetap membutuhkan peran orangtua dan guru.

Ingatkan bahwa anak menemukan kesulitan saat belajar, jangan takut untuk meminta bantuan orangtua atau guru. 

Bagaimanapun komunikasi penting sebagai bentuk pembelajaran anak. Sehingga pada masa yang akan datang, mereka memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikannya.

Anak akan lebih mudah mencerna ketika orangtua atau guru mengajari mereka tanpa memaksa. Ketahuilah bahwa tiap anak memiliki kecepatan dan kemampuan belajar yang berbeda.

Terkadang tekanan dalam belajar membuatnya mudah stres, sehingga ia sulit mengerti pelajaran yang diterimanya. Oleh karenanya, anak membutuhkan suasana yang rileks, tenang, dan santai dalam kegiatan belajarnya. Dukungan suasana juga membantu mereka menangkap pelajaran yang diterimanya.

Sebagai pendamping, perlu diingat setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda. Pujilah ketika ia berhasil melakukan pencapaian apapun hasilnya. Pendamping menjadi agen motivasi anak lebih maju. Maka itu, penting untuk mengajari anak tanpa memaksa. 

Tips mendidik anak tanpa memaksa

Mengajari anak tanpa memaksa mendukung ia berpikir jernih ke depan dalam menghadapi masalah dan mencari solusi. Orangtua sebagai pendamping bertugas memotivasi anak. Dukungan orangtua bisa menjadi kekuatan anak untuk mencapai tujuannya. 

Berikut tips mendidik anak yang bisa Anda terapkan.

1. Pahami kekuatan anak

Sebagai orangtua, Anda perlu mengetahui kekuatan dan kelebihan anak terhadap hal yang disukainya. Kemudian, cobalah memotivasinya untuk melakukan tantangan selanjutnya. 

Misalnya, ketika anak suka menulis cerita, motivasi ia untuk mengikuti lomba menulis cerpen. Kemudian dukung ia untuk menulis buku kumpulan cerpen dari hasil karya yang telah ia buat.

2. Tetap di samping anak ketika ia gagal

Mengajari anak tanpa memaksa bisa dilakukan dengan memberikannya semangat sehingga ia tetap berkomitmen dengan melakukan hal yang menjadi kelebihannya. Terkadang jalan hidup tidak semulus yang dibayangkan. Saat anak berusaha menjalani hal yang disukainya, pada satu waktu ia gagal.

Misalnya, anak hobi menari balet. Pada masanya ia pentas, anak terjatuh di atas panggung. Sementara penonton yang lain tertawa dan teman-temannya pun mengejeknya.

Tetaplah berada di sampingnya dan bangun semangat dan kepercayaan dirinya, besarkan hatinya. Saat ia gagal, cobalah katakan “Tidak apa-apa, Nak. Kamu sudah lakukan yang terbaik. Ke depannya Ibu/Ayah yakin kamu bisa. Kita hadapi bersama, jangan takut ya.”

3. Pujilah anak atas pencapainnya

Setelah beragam proses yang dilalui anak, pujilah anak pada tiap pencapaiannya. Pujian menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk tetap maju dan berkembang. Pencapaiannya tak mudah, karena anak melalui proses belajar yang melelahkan dan tak mudah. Cara sederhana ini dapat Anda lakukan sebagai langkah mengajari anak tanpa memaksa.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber