Anak yang Melihat KDRT Orangtuanya Bisa Jadi Psikopat Saat Dewasa

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

“Rumahku, istanaku” Begitu kata orang. Tapi bagi banyak anak, rumah justru menjadi tempat bermulanya mimpi buruk. Setiap tahun, ratusan juta anak-anak di seluruh dunia menjadi saksi hidup dari kekerasan dalam rumah tangga.

Pengaduan langsung ke Komnas Perempuan Indonesia menunjukkan ada 5.784 kasus KDRT terhadap istri di sepanjang tahun 2016. Bayangkan berapa banyak anak Indonesia yang harus hidup menanggung trauma berat dari pertengkaran orangtuanya?

Anak-anak ini tidak hanya harus menyaksikan kedua orangtuanya adu jotos dan lempar piring satu sama lain, mereka juga mau tak mau harus mendengar jeritan dan caci maki kebun binatang yang memilukan hati. Dan meski masih kecil, mereka bisa sangat menyadari suasana mencekam yang membekas menyelimuti rumah walaupun ortu sedang gencat senjata.

Ayah dan ibu yang bertengkar tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan memiliki dampak yang kuat dan mendalam terhadap kesejahteraan anak mereka di masa depan.

Anak yang menjadi saksi mata kasus KDRT ortunya tumbuh menjadi remaja bermasalah

Telah begitu banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di rumah yang penuh kekerasan cenderung menjadi korban penganiayaan anak. Anak-anak yang pernah mengalami kekerasan semasa kecil tidak pernah mengerti bagaimana seharusnya orangtua mengasihi dan memperlakukan sesamanya dengan baik, sehingga ia tumbuh besar hanya akrab dengan kekerasan.

Uniknya, dampak kekerasan pada anak berlaku layaknya dua sisi mata uang. Anak-anak yang menjadi korban KDRT lebih mungkin mendapatkan trauma berat, sehingga siklus ini kemungkinan besar akan terulang pada hidupnya di kemudian hari — entah ia menjadi korban kekerasan dalam hubungannya sendiri atau justru menjadi si pelaku.

Anak-anak yang menjadi saksi mata kasus KDRT di rumah sendiri juga mungkin tumbuh besar mengalami kesulitan belajar dan keterampilan sosial yang terbatas, menunjukkan perilaku nakal atau berisiko, atau menderita depresi, PTSD, atau gangguan kecemasan berat.

Dan parahnya lagi, dampak ini akan paling berat dirasakan oleh anak-anak yang masih berusia sangat belia. Penelitian UNICEF menunjukkan bahwa KDRT lebih umum terjadi di rumah dengan anak-anak kecil daripada anak-anak remaja atau yang lebih tua.

Kini sebuah studi terbaru terbitan jurnal Law and Human Behavior menunjukkan bahwa anak laki-laki yang menjadi saksi mata kasus KDRT orangtuanya lebih mungkin untuk menjadi seorang psikopat saat mereka dewasa nanti, daripada anak laki-laki yang tumbuh di keluarga harmonis atau yang tidak pernah menyaksikan ortunya bertengkar. Apa alasannya?

Trauma dari menyaksikan tindak kekerasan bisa membekas permanen pada diri anak

Koneksi antara anak yang menjadi korban KDRT dan peningkatan risiko mereka untuk mengembangkan sifat psikopat telah lama diperkuat oleh bukti-bukti studi ilmiah terdahulu. Namun, tim peneliti dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health menekankan bahwa studi mereka adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa ada peningkatan risiko tinggi bagi anak untuk mengalami gangguan kepribadian bermasalah ini, hanya dari menyaksikan kekerasan di rumah.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati ciri-ciri psikopat di antara hampir 140 tahanan laki-laki dan menyelidiki apakah mereka telah menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga di masa kecilnya. Meskipun istilah “psikopat” kerap disalahgunakan oleh orang awam untuk menggambarkan seseorang yang brutal atau kejam, dalam psikologi, psikopat memiliki arti tertentu.

Hubungan antara psikopat dan KDRT yang dialami orangtua

Ciri khas psikopat mencakup mendewakan diri sendiri dan menganggap orang lain lemah, licik dan manipulatif, kurangnya empati, kecenderungan melakukan tindak kejahatan, dan kecenderungan untuk memperlakukan orang lain dengan kasar atau dengan ketidakpedulian.

Para peneliti memilih untuk mempelajari tahanan penjara karena karakteristik psikopati jauh lebih umum muncul di populasi ini dibandingkan dengan populasi masyarakat umum, kata penulis utama studi Monika Dargis, kandidat doktor dalam psikologi klinis di University of Wisconsin-Madison, dilansir dari Live Science. Hasil penelitian menemukan sekitar 40 persen tahanan ini sebagai orang psikopat.

Dari hasil ini pulalah periset kemudian menyimpulkan bahwa kelompok tahanan yang pernah menjadi saksi KDRT antar orang tuanya atau menyaksikan saudara kandungnya disiksa di rumah selama masa kanak-kanak lebih mungkin untuk menunjukkan kualitas karakteristik psikopati yang lebih tinggi daripada tahanan yang tidak menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga di masa kecilnya.

Mekanisme yang tepat di balik potensi koneksi ini masih tidak jelas. Namun, ada kemungkinan bahwa anak-anak yang mengamati perilaku manipulatif dan pemaksaan yang ditunjukkan oleh pelaku kekerasan dalam rumah tangga pada akhirnya ikut mengembangkan perilaku ini juga. Di sisi lain, anak-anak ini mungkin juga belajar untuk memanipulasi dan berbohong untuk menghindari menjadi korban kekerasan oleh pelaku kekerasan, ungkap Dargis.

Dengan kata lain, anak-anak ini mengembangkan perilaku psikopat untuk menghindari menjadi sasaran kekerasan yang telah memengaruhi anggota keluarga mereka yang lain.

Anak yang tumbuh dalam rumah penuh kekerasan perlu perlindungan

Penelitian di atas menunjukkan bahwa kaitan antara menjadi saksi hidup dari kasus KDRT di masa kecil dan peningkatan risiko mengembangkan sifat psikopati tidak bisa dielakkan. Tapi hasil temuan tersebut tidak membuktikan bahwa menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga di masa kecil merupakan penyebab psikopat.

Orangtua yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga secara langsung menolak hak anak untuk tinggal di lingkungan rumah yang aman dan stabil. Banyak anak yang menderita dalam diam, dan tanpa dukungan sama sekali. Tapi meski tidak semua anak yang terpapar kekerasan di rumah akan menjadi korban atau pelaku, mereka tetap membutuhkan bantuan dari orang dewasa lain yang terpercaya untuk mendapatkan pertolongan dan kasih sayang yang layak.

Banyak korban yang bisa mengatasi trauma masa kecilnya dengan dukungan emosional dari orang terdekat, sehingga mereka menyadari kekerasan adalah hal yang tidak bisa ditolerir dan pengalaman mereka tidak boleh terulang lagi. Anak korban kasus KDRT bisa dididik, diberikan pendampingan, dan terapi klinis dari profesional medis untuk memulihkan kondisi mentalnya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca