home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pubertas Terlambat: Definisi, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

Definisi|Tanda-tanda & gejala|Penyebab|Diagnosis|Pengobatan
Pubertas Terlambat: Definisi, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

Definisi

Apa itu pubertas terlambat?

Normalnya, masa puber dialami oleh anak perempuan di usia 8 hingga 14 tahun, sedangkan pada anak laki-laki di usia 9 sampai 15 tahun. Namun jika ciri-ciri pubertas belum anak alami hingga melewati usia tersebut maka bisa dikatakan anak mengalami pubertas terlambat.

Mengutip Healthy Children, kondisi ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Pubertas adalah saat dimana tubuh anak mengalami perkembangan menuju kedewasaan. Terdapat berbagai perubahan pada tubuh anak, baik di organ reproduksinya maupun di anggota tubuh lainnya.

Pada anak laki-laki sudah mengalami mimpi basah, yaitu mengeluarkan cairan semen saat tidur, ukuran penis dan testis membesar, suara berubah, tumbuh rambut di kemaluan dan bulu di area wajah, serta perubahan bentuk tubuh.

Sementara pada anak perempuan, kondisi ini ditandai dengan menstruasi, payudara dan pinggul membesar, serta tanda umum lainnya seperti rambut kemaluan dan jerawat.

Tanda-tanda & gejala

Pubertas terlambat pada anak laki-laki biasanya ditandai dengan ciri-ciri berikut.

  • Kemaluan tidak membesar meskipun telah berusia 14 tahun.
  • Meskipun buah zakar sudah membesar tapi penis masih berukuran kecil.
  • Tanda-tanda puber berlangsung sangat lambat, yakni sekitar 6 bulan hingga 1 tahun.
  • Baru mengalami tanda-tanda puber yang lengkap di usia 18 tahun ke atas.

Ciri-ciri pubertas terlambat pada anak perempuan

Adapun terlambatnya masa puber pada anak perempuan ditandai oleh ciri-ciri berikut.

  • Payudara tidak tumbuh setelah usia 13 tahun.
  • Payudara baru membesar di usia 16 tahun ke atas.
  • Belum mengalami haid dalam 5 tahun setelah pertumbuhan payudara.

Penyebab

Apa yang menyebabkan pubertas terlambat pada anak?

Ada beberapa hal yang menyebabkan pubertas terlambat, antara lain sebagai berikut.

1. Riwayat keluarga

Anak yang mengalami pubertas terlambat biasanya dipengaruhi oleh masa pubertas yang dulu dialami oleh orang tuanya.

Jika ibu mengalami haid pertama di usia 14 tahun ke atas atau ayah baru mengalami pubertas setelah usia 16 tahun, maka besar kemungkinan si anak juga mengalami keterlambatan.

2. Kekurangan gizi

Hal berikutnya yang cukup sering menjadi penyebab terlambatnya pubertas adalah kekurangan gizi terutama lemak dalam tubuh.

Pada anak perempuan, biasanya hal ini terjadi jika ia melakukan diet ketat, berlebihan berolahraga, atau mengikuti kompetisi menari yang mengharuskannya menurunkan berat badan.

3. Gangguan hormon pertumbuhan

Hormon pertumbuhan atau growth hormone (GH) adalah senyawa kimia yang diproduksi oleh kelenjar pituitari dalam otak dan dilepaskan ke seluruh tubuh.

Beberapa anak memiliki kelenjar pituitari yang tidak dapat bekerja dengan baik, sehingga hanya melepaskan sedikit hormon pertumbuhan. Kondisi ini disebut hipopituitarisme atau kekerdilan

Selain menghambat pertumbuhan tinggi dan berat badan, kondisi ini juga dapat menyebabkan pubertas terlambat pada anak.

4. Gangguan hormon seksual

Hormon yang berperan penting dalam proses pubertas anak adalah hormon FSH (follicle stimulating hormone) dan hormon LH (luteinizing hormone).

Jika kedua hormon ini bermasalah maka akan terjadi gangguan yang disebut isolated gonadotropin deficiency (IGD). Biasanya kondisi ini sudah bisa dideteksi sejak lahir, yakni pada anak laki-laki yang memiliki ukuran penis yang lebih kecil dari ukuran normal.

5. Mengidap sindrom Turner

Pada anak perempuan, terlambatnya pubertas mungkin terjadi karena adanya masalah pada ovarium (indung telur), misalnya mengalami gangguan perkembangan atau mengalami kerusakan.

Kondisi ini biasanya dialami oleh penderita sindrom Turner, yaitu penyakit langka yang diakibatkan oleh kekurangan kromosom X pada DNA nya.

6. Menderita sindrom Kallman

Selain sindrom Turner, terlambat pubertas juga bisa jadi diakibatkan oleh sindrom Kallman. Pada anak laki-laki, gejalanya ditunjukkan dengan ukuran kemaluan yang kecil, penciuman yang buruk, massa otot yang kurang dan kebotakan.

Tidak hanya pada laki-laki, sindrom Kallman juga bisa terjadi pada anak perempuan yang menyebabkan terlambatnya pubertas.

7. Mengidap sindrom Klinefelter

Terlambatnya pubertas juga bisa saja terjadi jika mengalami sindrom Klinefelter yaitu kelainan kromosom pada laki-laki.

Seharusnya laki-laki memiliki kromosom XY, tetapi pada sindrom, ia memiliki kromosom XXY. Inilah yang menyebabkan ia mengalami keterlambatan pubertas, kelainan seksual dan gangguan kesehatan lainnya.

8. Menderita anemia sel sabit

Anemia sel sabit atau circle cell anemia adalah kelainan sel darah merah yang juga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan termasuk pubertas terlambat.

Hal ini diperkuat oleh penelitian dari Universite de Yaounde terhadap anak-anak yang menderita anemia sel sabit di Kamerun yang umumnya mengalami keterlambatan masa puber.

9. Adanya penyakit kronis

Selain penyakit genetis seperti yang disebutkan sebelumnya, pubertas terlambat juga bisa terjadi jika anak mengalami penyakit kronis seperti diabetes, kista, fibroid rahim, penyakit ginjal dan asma.

Ini karena penyakit-penyakit tersebut mengganggu metabolisme tubuh sehingga menghambat tumbuh kembangnya.

Diagnosis

Bagaimana mendiagnosis pubertas terlambat?

Umumnya kondisi ini dapat dengan mudah dideteksi dengan pemeriksaan fisik sebab sejumlah tanda-tanda pubertas dapat terlihat secara langsung. Jika anak tidak menunjukkan gejala pubertas di usia yang seharusnya maka patut dicurigai mengalami keterlambatan.

Meski begitu, untuk menguatkan diagnosis, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut.

1. Pemeriksaan darah

Tujuannya untuk mengetahui kadar hormon LH, FSH, tiroid dan pituitari. Jika hormon LH dan FSH tinggi maka ovarium tidak berfungsi dengan baik.

Selain itu, dari pemeriksaan darah juga diketahui kadar gula darah untuk mendeteksi adanya kemungkinan diabetes dan penyakit kronis lainnya yang menyebabkan pubertas terlambat.

2. Pemeriksaan kromosom

Bertujuan untuk mengetahui adakah kelainan genetis pada kromosom seperti sindrom Turner, sindrom Kallman dan sindrom Klinefelter.

3. MRI kepala

Pemeriksaan MRI atau Magnetic Resonance Imaging pada otak mungkin diperlukan untuk mendeteksi adanya gangguan yang mempengaruhi produksi hormon seksual.

4. Foto sinar X

Pemeriksaan sinar X juga diperlukan untuk mengetahui apakah struktur tulang berkembang menuju kedewasaan.

5. Pemeriksaan USG

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada anak perempuan untuk mendeteksi adanya kista, fibroid rahim, tumor, atau masalah pada ovarium yang mempengaruhi perkembangan seksual.

6. Pemeriksaan hormon testosteron

Jika dicurigai terlambat pubertas, anak laki-laki akan menjalani pemeriksaan kadar hormon testosteron. Normalnya, laki-laki memiliki kadar sebesar 250-800 ng/dL. Namun jika mengalami keterlambatan, kadarnya kurang dari 40 ng/dL.

Pengobatan

Bagaimana mengobati kondisi ini?

Jika ditemukan keterlambatan dalam pubertas, dokter akan menyarankan beberapa solusi berikut.

1. Terapi hormon seks

Terapi hormon seks merupakan zat buatan untuk mendorong tubuh anak untuk memulai tahap kedewasaan seksualnya. Namun sangat jarang bagi dokter untuk merekomendasikan terapi ini, bahkan setelah pemeriksaan mendalam pada seorang anak.

Pemberian terapi ini biasanya direkomendasikan jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda pubertas tapi terlalu lambat, atau keterlambatan pubertas yang ia alami menimbulkan dampak emosional dan sosial.

Anak lelaki akan menerima suntikan testosteron, sementara anak perempuan akan diresepkan tablet estrogen dan progesteron. Dosisnya akan disesuaikan dengan kadar hormon seks yang diproduksi oleh tubuh remaja normal.

Terapi hormon hanya sebagai pemicu agar anak dapat memulai puber. Begitu pubertas dimulai, dokter akan menghentikan dosis secara bertahap dan membiarkan tubuh menyesuaikan diri dengan secara alami.

2. Terapi hormon pertumbuhan

Jika pubertas terlambat disebabkan oleh gangguan pada hormon pertumbuhan, maka dokter mungkin akan memberikan suntikan hormon pertumbuhan sintetik.

Selain memicu pubertas pada anak, terapi ini juga efektif dalam membantu banyak orang untuk mencapai tinggi badan yang ideal saat dewasa.

Namun karena harganya yang relatif mahal, tindakan ini biasanya tidak diberikan kepada semua anak yang mengalami pubertas terlambat, melainkan hanya jika kondisi tersebut diakibatkan oleh defisiensi hormon pertumbuhan, sindrom Turner dan gagal ginjal kronis.

3. Peningkatan asupan nutrisi

Umumnya pubertas terlambat disebabkan oleh asupan nutrisi yang kurang, terutama lemak. Oleh karena itu, dokter akan menyarankan untuk menambah porsi makan dan meningkatkan asupan lemak.

Tujuannya untuk meningkatkan berat badan dan mendorong tumbuh kembang anak secara alami. Jika tumbuh kembang anak baik maka perkembangan seksual pun akan turut terpicu.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Delayed Puberty – Girls | Pediatric Endocrine Society. (2018). Retrieved 29 April 2021, from https://pedsendo.org/patient-resource/delayed-puberty-girls/

Delayed Puberty in Boys: Information for Parents. (2021). Retrieved 29 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/gradeschool/puberty/Pages/Delayed-Puberty.aspx

Delayed Puberty in Girls: Information for Parents. (2015). Retrieved 29 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/gradeschool/puberty/Pages/Delayed-Puberty-in-Girls-Information-for-Parents.aspx

Diversity, R. (2019). Delayed Puberty (for Teens) – Main Line Health. Retrieved 29 April 2021, from https://kidshealth.org/MainLine/en/teens/delayed-puberty.html

Roberts, C. (2016). Tanner’s Puberty Scale: Exploring the historical entanglements of children, scientific photography and sex. Sexualities, 19(3), 328-346. doi: 10.1177/1363460715593477

Beccuti, G., & Ghizzoni, L. (2015). Normal and Abnormal Puberty. Endocrinology Book.

Hypopituitarism – Symptoms and causes. (2019). Retrieved 29 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypopituitarism/symptoms-causes/syc-20351645

Grimberg, A., DiVall, S., Polychronakos, C., Allen, D., Cohen, L., & Quintos, J. et al. (2016). Guidelines for Growth Hormone and Insulin-Like Growth Factor-I Treatment in Children and Adolescents: Growth Hormone Deficiency, Idiopathic Short Stature, and Primary Insulin-Like Growth Factor-I Deficiency. Hormone Research In Paediatrics, 86(6), 361-397. doi: 10.1159/000452150

Tests, M. (2020). Follicle-Stimulating Hormone (FSH) Levels Test: MedlinePlus Medical Test. Retrieved 30 April 2021, from https://medlineplus.gov/lab-tests/follicle-stimulating-hormone-fsh-levels-test/

Betoko, R., Um, S., Alima, A., Chelo, D., Nengom, J., & Simon, D. et al. (2019). Puberty During Sickle Cell Anemia In Cameroonian Children: A Case Control Study. doi: 10.21203/rs.2.16593/v1

Rhodes, M., Akohoue, S., Shankar, S., Fleming, I., Qi An, A., & Yu, C. et al. (2009). Growth patterns in children with sickle cell anemia during puberty. Pediatric Blood & Cancer, 53(4), 635-641. doi: 10.1002/pbc.22137

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani
Tanggal diperbarui 31/05/2016
x