Anak Kelebihan Berat Badan (Overweight) Itu Tidak Sehat, Begini Cara Menanganinya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Memang benar bahwa orangtua harus memberikan asupan yang penuh akan nutrisi untuk anak. Namun, terkadang ada yang memberikannya terlalu berlebih hingga berat badan anak naik. Sekilas memang tampak lucu dan menggemaskan, tapi jangan salah, overweight atau kelebihan berat badan pada anak tidak selalu baik. Bahkan tak menutup kemungkinan, berat badan berlebih ini bisa membawa risiko penyakit pada anak di kemudian hari. Sebagai orangtua, penting untuk memahami sedini mungkin mulai dari gejala, sampai penanganan overweight pada anak.

Apa itu overweight pada anak?

Overweight atau kelebihan berat badan adalah kondisi ketika bobot tubuh anak terlampau besar, akibat adanya penumpukan lemak pada tubuh. Normalnya, setiap orang memang memiliki lemak di sekujur tubuhnya.

Namun, penyimpanan lemak di tubuh anak yang overweight cenderung berlebihan, sehingga membuat postur tubuhnya kurang ideal.

Pasalnya, tinggi badan anak dengan kelebihan berat badan biasanya agak kurang setara dengan ukuran tubuhnya. Akibatnya, perawakan anak akan terlihat gemuk atau lebih besar ketimbang anak seusianya.

Melansir dari laman WHO, kelebihan berat badan pada anak di usia dini termasuk ke dalam kasus gizi lebih. Sayangnya, rata-rata masalah ini akan terus terbawa hingga dewasa. Kondisi ini bahkan berisiko membuat anak lebih mudah terserang penyakit kardiovaskular dan diabetes di usia muda.

Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir, karena selagi diberikan penanganan yang tepat, overweight pada anak bisa diatasi secara perlahan.

anak kegemukan

Kapan anak dikatakan mengalami overweight?

Untuk tahu apakah si kecil alami overweight atau tidak, maka Anda harus tahu dulu status gizinya.

Penilaian status gizi ini menggunakan dua indikator  yaitu, berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan indeks massa tubuh menurut usia (IMT/U). Pengukuran kelebihan berat badan pada anak berusia 0-60 bulan biasanya memakai grafik WHO 2006 (cut off z score) dengan indikator BB/TB.

Berdasarkan pengukuran tersebut, anak usia 0-60 bulan masuk ke dalam golongan overweight, ketika hasilnya menunjukkan angka > 2 sampai dengan 3 SD. Sedangkan setelah usianya lebih dari 60 bulan alias 5 tahun, pengukuran bisa menggunakan aturan CDC 2000 (ukuran persentil). 

Dalam hal ini, kategori overweight pada anak berada di rentang persentil 85 sampai dengan kurang dari 95. Perhitungan status gizi pada anak memang rumit. Jangan cemas, Anda hanya perlu memeriksakan si kecil ke dokter supaya tim medis yang mengukurnya.

Nah, jika hasil pengukuran berat dan tinggi badan anak berada di kedua rentang tersebut, dokter dan ahli gizi dapat memberikan penanganan yang tepat. Namun, anak overweight belum tentu obesitas. Rentang pengukuran overweight masih berada satu tingkat di bawah obesitas.

Penanganan untuk kasus kelebihan berat badan pada anak biasanya melibatkan program pengaturan makanan harian. Hal tersebut tentu disesuaikan kembali dengan berat badan, tinggi badan, usia, hingga kondisi kesehatan anak.

Apa penyebab overweight pada anak?

Pada dasarnya, kelebihan berat badan pada anak disebabkan oleh asupan makanan hariannya yang melebihi kebutuhan. Jadi, asupan makanan yang dimakan terlalu banyak jika dibandingkan dengan aktivitas harian yang ia lakukan.

Namun, secara lebih jelasnya, masih ada sejumlah hal lain yang turut menyebabkan overweight pada anak, seperti:

1. Genetika

penyebab obesitas pada anak

Gen yang dibawa oleh orangtua berperan salah satunya sebagai penentu bentuk tubuh, serta proses penyimpanan dan pembakaran lemak. Lebih dari itu, faktor kebiasaan yang turun-temurun dari keluarga bisa jadi pemicu anak mengalami overweight.

Dalam banyak kasus, tidak jarang anak yang overweight memiliki orangtua yang juga mengalami kelebihan berat badan. Di berbagai penelitian, disebutkan bahwa pola makan orangtua yang buruk hingga kebiasaan aktivitas fisik yang minim, nyatanya bisa ‘diturunkan’ ke anak.

2. Pola makan

Kebanyakan anak-anak umumnya menggemari makanan manis, berlemak, cepat saji, hingga kemasan. Saking enaknya, tidak sedikit yang bisa menyantapnya dalam porsi banyak atau bahkan berlebih. Padatnya jadwal sekolah, ekskul, atau les tambahan, kadang menjadi faktor lain yang membuat anak cenderung makan apa pun tanpa berpikir sehat atau tidaknya.

Ditambah lagi, beberapa anak-anak ada yang lebih senang menghabiskan waktu di rumah dengan bermain gadget. Alhasil, tubuhnya tidak aktif melakukan beragam kegiatan.

3. Aktivitas fisik

anak main gadget

Setidaknya beberapa jam dalam sehari, setiap anak harus aktif beraktivitas secara fisik, dan menghindari terlalu banyak berdiam diri. Pasalnya, terus-terusan asyik bersantai malah akan membuat energi dari makanan mengendap di dalam tubuh.

Minimnya aktivitas fisik inilah yang menyulitkan proses pembakaran energi yang berlebih pada tubuh anak. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan penumpukan lemak pada tubuh, hingga membuat anak kelebihan berat badan.

Berbagai risiko kesehatan pada anak overweight

Seorang anak yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami beberapa kondisi, seperti:

  • Masalah tulang dan sendi.
  • Mengalami masa puber lebih awal dibandingkan teman-teman seusianya.
  • Masalah pernapasan, termasuk kondisi asma parah, kesulitan bernapas saat tidur (obstructive sleep apnea) dan sesak napas saat berolahraga.
  • Jika tidak segera diatasi, overweight pada anak bisa membuatnya mengalami obesitas saat dewasa.
  • Memiliki masalah jantung dan hati saat dewasa.
  • Overweight pada anak remaja perempuan berpeluang membuat siklus menstruasinya tidak teratur, serta masalah kesuburan saat dewasa.

Kelebihan berat badan dapat menimbulkan efek psikologis pada beberapa anak-anak. Selanjutnya, hal ini mengakibatkan munculnya rasa kurang kepercayaan diri, terlebih ketika usia anak sudah memasuki remaja. Sebab di usia remaja, biasanya anak sudah mulai memiliki persepsi sendiri atas penilaian orang lain tentang dirinya.

Jika overweight yang dialaminya membuat anak tidak percaya diri, mereka bisa menjadi korban bully karena berat badannya. Besar kemungkinannya, anak dapat menarik diri dan menfhindari kontak sosial. Hal ini dapat berujung ke suasana hati yang buruk dan, bahkan dalam kasus yang parah bisa berkembang menjadi depresi.

gemuk menyebabkan 13 jenis kanker

Bagaimana cara menangani overweight pada anak?

Penanganan kelebihan berat badan pada anak sejak dini dapat membantu lebih mengendalikan kondisinya, atau bahkan mengembalikan ke berat badan normal. Alhasil, risiko buruk yang mengintai kesehatan pun bisa dihindari.

Sebab jika tidak segera dikenalikan, overweight pada anak bisa berkembang menjadi obesitas di kemudian hari. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendallikan overweight pada anak:

1. Bantu anak untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat

Mulailah dengan melakukan perubahan-perubahan kecil pada pola makan dan gaya hidup anak. Misalnya dengan menyediakan pilihan makanan sehat terdiri dari beragam zat gizi, makan sesuai kebutuhan, dan perbanyak aktivitas fisik.

Alangkah lebih baik untuk mendiskusikan dengan dokter atau ahli gizi anak, guna mendapatkan aturan atau panduan tepat dalam pengendalikan berat badan.

2. Berikan porsi makan secukupnya

Hindari memberikan anak makanan utama dengan porsi yang terlalu besar. Biasanya, dokter dah ahli gizi akan membantu memandu Anda untuk membatasi porsi makan harian anak.

Di sisi lain, sebisa mungkin hindari menggunakan piring yang berukuram besar. Pasalnya, anak kemungkinan tertarik untuk mengambil porsi makan yang lebih banyak, karena melihat masih ada sisa tempat di piringnya.

3. Makan di meja makan

Jika anak selama ini terbiasa makan di depan TV, kini ajak ia untuk makan bersama di meja makan setiap hari. Ketimbang makan sambil menonton TV, makan di meja makan membantu anak untuk lebih teratur mengatur porsi dan waktu makannya.

Dengan begitu, porsi makan anak biasanya menjadi lebih terkontrol, serta waktu makan yang lebih terbatas sehingga tidak menambah porsi makannya.

4. Berikan sumber makanan sehat

Makanan olahan, junk food, serta gorengan merupakan beberapa contoh makanan yang sebaiknya tidak sering dimakan anak overweight. Selain itu, batasi juga makanan dengan kandungan gula dan lemak yang tinggi.

Misalnya permen, kue, biskuit, sereal manis, serta minuman bersoda. Pasalnya, jenis makanan dan minuman tersebut mengandung sejumlah kalori yang tinggi tapi rendah nutrisi.

Sebagai gantinya, sajikan makanan harian yang mencakup kebutuhan zat gizi makro dan mikro anak. Meliputi karbohidrat, protein, sedikit lemak, serat, vitamin, dan mineral.

5. Perbanyak aktivitas fisik harian anak

Secara perlahan, tingkatkan aktivitas fisik anak setidaknya minimal selama satu jam setiap hari. Mudahnya, biarkan anak aktif secara fisik, entah itu dengan bermain atau berolahraga.

Jika perlu, ketimbang menggunakan mobil atau motor, Anda bisa ajak anak berjalan kaki atau bersepeda saat hendak mengunjungi tempat dengan jarak dekat.

Cara ini membantu tubuh anak untuk membakar kalori berlebih yang didapat dari makanan harian. Dengan begitu, asupan kalori yang masuk setara dengan yang dikeluarkan, sehingga overweight pada anak bisa dikendalikan.

6. Jadi contoh yang baik untuk anak

Salah satu cara untuk mulai menanamkan kebiasaan baik pada anak adalah dengan berusaha mnunjukkan contoh yang baik padanya. Kebanyakan anak umumnya akan meniru semua perilaku orangtuanya, dan tanpa sadar menjadikannya sebagai panutan dalam hidup.

Itu sebabnya, ketika Anda meminta anak untuk melakukan berbagai perubahan demi mengatasi kondisi overweightnya, bisa saja anak menolak. Mengapa? Karena melihat orangtuanya tidak menerapkan hal yang sama.

Ambil contoh begini, Anda meminta anak untuk lebih sering berolahraga ringan saja, seperti bermain sepeda di sekitar rumah. Namun pada kenyataannya, Anda sendiri tidak melakukan hal yang sama, atau justru asyik sendiri menonton TV.

Hal inilah yang kemudian membuat anak merasa seolah seperti “berusaha” sendiri, tanpa dukungan dan contoh langsung dari orangtuanya. Alih-alih bersemangat mengubah diri dalam kebiasaan yang lebih baik, anak mungkin malah enggan mendengarkan perintah dan saran Anda.

Bahkan, Anda bisa melibatkan seluruh anggota keluarga untuk ikut melakukan hal yang sama. Jalan santai di hari minggu pagi, misalnya.

Setiap perubahan yang Anda lakukan pada pola makan dan gaya hidup anak, biasanya lebih mudah diterima jika melibatkan seluruh keluarga.

anak makan terus

Contoh menu sehari untuk anak yang mengalami overweight

Pengaturan menu makanan harian merupakan salah satu langkah untuk mengendalikan berat badan pada anak overweight. Selain itu, pemberian menu yang tepat juga bertujuan untuk mempertahankan atau menurunkan berat badan anak sampai sesuai dengan tinggi badannya.

Dokter atau ahli gizi anak dapat merekomendasikan diet energi rendah (1700 kkal). Namun, asupan energi harian anak biasanya akan disesuaikan kembali berdasarkan berat badan idealnya.

Tak perlu bingung, berikut contoh menu sehari yang bisa diberikan pada anak overweight:

Makan pagi (sarapan) 

  • 1/2 piring nasi putih (100 gram)
  • 1 mangkuk daging semur (20 gram)
  • 1 mangkuk sayur bayam (100 gram)
  • 1 gelas susu putih (200 ml)

Selingan (camilan)

  • 3 potong buah pepaya ukuran besar (300 gram)

Makan siang 

  • 1 piring nasi putih (200 gram)
  • 1 piring pepes ikan mas (40 gram)
  • 1 mangkuk oseng tempe (50 gram)
  • 1 mangkuk sayur asem (100 gram)

Selingan (camilan)

  • 1 buah mangga ukuran besar (300 gram)

Makan malam 

  • 1 piring nasi putih (100 gram)
  • 1 mangkuk daging ayam bumbu kecap tanpa kulit (40)
  • 1 mangkuk tumis tauge (100 gram)
  • 1 potong tempe (50 gram)

Dengan mengikuti anjuran makan yang tepat, kelebihan berat badan pada anak overweight akan berubah ke dalam rentang normal sesuai kelompok usianya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca