Mengulas Seputar Gizi Buruk Pada Anak yang Ternyata Cukup Berbahaya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Asupan nutrisi anak sangat memengaruhi kesehatannya. Jika orangtua tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anak dengan baik, akan ada banyak masalah kesehatan yang bisa terjadi. Salah satu masalah gizi yang cukup parah di Indonesia adalah gizi buruk. Kondisi ini bukanlah masalah ringan, dan harus ditangani secepat mungkin. Lantas, kapan seorang anak dikatakan mengalami gizi buruk dan apa permasalahan yang bisa terjadi? Simak selengkapnya dalam ulasan berikut ini, ya!

Apa itu gizi buruk?

Sumber: UNICEF

Gizi buruk adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berat badan dan tinggi badan anak jauh di bawah rata-rata. Maka itu, untuk mengetahui status gizi yang satu ini, indikator yang digunakan adalah graik berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Selain berat dan tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA) juga masuk ke dalam pemeriksaan klinis gizi buruk.

Kondisi gizi buruk tidak terjadi secara instan atau singkat. Artinya, anak yang masuk ke dalam kategori gizi buruk sudah mengalami kekurangan berbagai zat gizi dalam jangka waktu yang sangat lama.

Jika diukur menggunakan Grafik Pertumbuhan Anak (GPA) yang mengacu pada WHO dengan berbagai indikator pendukung, gizi buruk memiliki kategori sendiri. Anak dikatakan mengalami gizi buruk ketika hasil pengukuran indikator BB/TB untuk status gizinya kurang dari 70 persen nilai median.

Atau mudahnya, nilai cut off z score berada nilai pada kurang dari -3 SD. Gizi buruk paling sering dialami oleh anak dengan usia di bawah 5 tahun, ketika tubuhnya kekurangan energi protein (KEP) kronis.

Gejala umum gizi buruk pada anak

Menurut Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk dari Kementerian Kesehatan RI, berikut gejala gizi buruk yang umum pada anak-anak:

1. Gizi buruk tanpa komplikasi

  • Terlihat sangat kurus.
  • Mengalami edema, paling tidak pada kedua punggung tangan atau pun kaki.
  • Indikator penilaian status gizi BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 SD.
  • LILA kurang dari 11,5 cm untuk anak usia 6-59 bulan.
  • Nafsu makan baik.
  • Tidak disertai dengan komplikasi medis.

2. Gizi buruk dengan komplikasi

  • Terlihat sangat kurus.
  • Edema pada seluruh tubuh.
  • Indikator penilaian status gizi BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 SD.
  • LILA kurang dari 11,5 cm untuk anak usia 6-59 bulan.
  • Memiliki satu atau lebih komplikasi medis seperti anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam tinggi, dan penurunan kesadaran.

Apa saja masalah gizi buruk pada anak?

Secara klinis, permasalahan gizi buruk pada anak terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

1. Marasmus

Sumber: Healthline

Marasmus adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya asupan energi harian. Padahal seharusnya, penting untuk mencukupi kebutuhan energi setiap harinya guna mendukung semua fungsi organ, sel, serta jaringan tubuh.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sebenarnya bisa mengalami marasmus. Namun, kondisi ini paling sering dialami oleh usia anak-anak yang biasanya terjadi di negara-negara berkembang.

Bahkan menurut data dari UNICEF, kekurangan asupan zat gizi merupakan salah satu dalang penyebab kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Kasus ini bisa memakan korban hingga mencapai angka sekitar 3 juta setiap tahunnya.

Apa saja gejala marasmus?

Gejala utama yang terjadi ketika seorang anak mengalami marasmus yakni penurunan berat badan drastis. Jika diperhatikan, anak dengan marasmus telah kehilangan banyak jaringan lemak subkutan di bawah kulit dan massa otot pada tubuh.

Akibatnya, indeks massa tubuh (IMT) anak merosot tajam hingga tergolong sangat rendah, yang membuatnya mengalami gizi buruk. Tak bisa disepelekan, karena marasmus pada anak bisa mengakibatkan terhambatnya perkembangan fisik dan mental, alias gagal untuk tumbuh dengan normal.

Seorang anak yang mengalami marasmus bisa merasa sangat lapar, bahkan sampai mengisap tangan seolah sedang mencari sesuatu untuk dimakan. Sementara di sisi lain, anak dengan marasmus bisa sampai mengalami anoreksia nervosa, sehingga membuat tubuhnya tampak sangat kurus.

Hal ini dikarenakan anak tersebut tidak bisa makan atau menolak untuk makan. Seiring berjalannya waktu, jaringan lemak pada tubuh dan wajah anak yang mengalami marasmus perlahan menghilang. Bukan hanya itu, tulang penyokong tubuh pun akan tampak sangat kentara di bawah kulit.

Selain itu, berikut beberapa gejala marasmus yang juga terjadi pada anak:

  • Diare kronis
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Terhambatnya perkembangan intelektual
  • Pertumbuhan tubuh terganggu
  • Rambut rapuh dan mudah rontok
  • Pusing
  • Kulit kering

Anak yang mengalami kurang gizi kronis biasanya terlihat tua, serta seolah tidak punya energi untuk melakukan berbagai aktivitas.

Apa penyebab marasmus?

Kurangnya asupan nutrisi merupakan penyebab marasmus yang paling utama. Secara garis besarnya, marasmus bisa terjadi pada anak yang tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Mulai dari kalori, karbohidrat, protein, serta beragam nutrisi penting lainnya.

Beberapa hal berikut ini bisa menjadi penyebab marasmus:

  • Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi harian
  • Makan dalam porsi yang terlalu sedikit, sehingga asupan nutrisi kurang optimal
  • Memiliki satu atau lebih kondisi kesehatan yang menyulitkan proses penyerapan nutrisi di dalam tubuh

Perlu diingat dan dipahami oleh para orangtua. Ketidakcukupan kebutuhan nutrisi harian dan kondisi kesehatan tertentu, sebenarnya tidak serta-merta langsung berujung pada marasmus.

Jika kedua kondisi tersebut masih diimbangi dengan tersedianya kebutuhan kalori harian, tentu rendah kemungkinannya untuk mengalami marasmus. Akan tetapi, sebaliknya, kalau ternyata persediaan kalori tidak terpenuhi dengan baik, marasmus bisa saja terjadi.

Risiko marasmus biasanya mengintai para bayi yang mendapatkan ASI maupun susu formula selama lebih dari 6 bulan, tapi tanpa disertai pemberian makanan padat. Di samping itu, bayi yang lahir prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR) juga memiliki kemungkinan mengalami gizi buruk.

Itu sebabnya, penting bagi para orangtua untuk senantiasa memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan dan tahun-tahun awal kehidupan anak. Dengan begitu, asupan nutrisinya dapat terpenuhi sehingga mencegah kemungkinan mengalami marasmus.

Bagaimana cara mendiagnosis marasmus?

Pemeriksaan awal yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis adanya marasmus yakni dengan melakukan pemeriksaan fisik. Misalnya dengan melakukan pengukuran tinggi dan berat badan, yang kemudian dapat menunjukkan kemungkinan seorang anak mengalami gizi buruk.

Jika ternyata pengukuran menunjukkan hasil yang terpaut jauh dari normal, atau dari yang seharusnya dimiliki anak di usia tersebut, marasmus bisa menjadi penyebabnya. Terlebih ketika didukung dengan keseharian anak yang cenderung malas dan kurang gerak, tandanya kebutuhan energinya mungkin tidak terpenuhi dengan baik.

Sayangnya, marasmus sulit untuk didiagnosis melalui pemeriksaan darah. Pasalnya, kebanyakan anak yang mengalami marasmus juga memiliki penyakit infeksi. Bukan tidak mungkin, kalau kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil tes darah.

Apa pengobatan untuk mengatasi marasmus?

Setelah anak dipastikan mengalami marasmus, perawatan harus dilakukan sesegera mungkin. Salah satu langkah utama yang bisa dilakukan dokter serta ahli gizi yakni dengan memberikan susu formula F 75 yang dicampurkan bersama air matang.

Bukan sembarang susu, karena di dalam susu tersebut terbuat dari campuran gula, minyak sayur, dan kasein (protein susu). Setelah kondisinya cukup membaik, dokter akan membuat rencana makan khusus untuk anak.

Aturan makan yang harus dijalani oleh anak dengan marasmus sebaiknya kaya akan berbagai nutrisi, termasuk di dalamnya karbohidrat dan kalori.

Bahkan, kebutuhan kalori anak yang mengalami marasmus cenderung lebih tinggi ketimbang anak-anak lain seusianya. Dalam kasus lain, tubuh anak bisa saja kesulitan dalam mencerna makanan karena sudah kehilangan terlalu banyak lemak dan jaringan tubuh.

Oleh karena itu, dokter dapat menanganinya dengan menyediakan makanan dalam porsi kecil, yang biasanya dialirkan melalui selang makanan melewati hidung. Selanjutnya, selang tersebut akan langsung masuk kedalam lambung. Selain itu, jika anak juga mengalami dehidrasi, maka akan diberikan cairan infus ke tubuhnya.

Jika kondisi anak dengan gizi buruk disertai dengan infeksi, mungkin dibutuhkan pengobatan tambahan. Misalnya dengan pemberian antibiotik maupun jenis obat-obatan lainnya sesuai kondisi yang dimiliki anak.

2. Kwashiorkor

Sumber: Freewaremini

Kwashiorkor adalah kondisi kekurangan gizi yang penyebab utamanya karena rendahnya asupan protein. Berbeda dengan marasmus yang yang mengalami penurunan berat badan, kwashiorkor tidak demikian.

Gizi buruk karena kwashiorkor membuat tubuh anak membengkak karena mengalami penumpukan cairan (edema). Itu sebabnya, meski telah kehilangan massa otot dan lemak tubuh, anak dengan khwarshiorkor tidak mengalami penurunan berat badan yang drastis.

Apa saja gejala kwashiorkor?

Salah satu ciri utama yang menandakan anak mengalami kwashiorkor, yakni tubuhnya yang terlihat sangat kurus. Berbagai gejala kwashiorkor pada anak meliputi:

  • Kehilangan massa otot dan jaringan lemak
  • Kehilangan selera makan
  • Warna serta tekstur kulit dan rambut berubah
  • Kelelahan parah
  • Diare
  • Pertumbuhan tubuh terhambat
  • Edema (pembengkakan) di bagian tungkai bawah, kaki, lengan, tangan, serta wajah
  • Terganggunya sistem kekebalan tubuh, sehingga sering menimbulkan infeksi
  • Mudah marah
  • Ruam dan bersisik pada kulit
  • Bekas jari menetap pada kulit setelah ditekan

Meski sebenarnya bertubuh kurus, tak jarang kondisi kwashiorkor bisa membuat anak tampak gemuk bahkan normal. Sebenarnya ini bukanlah kondisi normal yang sesungguhnya.

Adanya pembengkakan atau edema yang terjadi di beberapa bagian tubuhlah, yang kemudian seolah menggantikan hilangnya jaringan lemak dan massa otot. Padahal aslinya, tubuh anak dengan kwashiorkor sangat kurus dan hanya berisi cairan.

Apa penyebab kwashiorkor?

Kwashiorkor paling umum terjadi pada anak-anak di bawah usia 4 tahun. Penyebab kwashiorkor adalah karena tubuh anak kekurangan asupan protein yang didapat dari sumber makanan harian.

Normalnya, setiap sel di dalam tubuh seharusnya mengandung protein yang dibutuhkan untuk memproduksi sekaligus memperbaiki sel yang rusak. Itulah alasan mengapa fungsi tubuh dapat terganggu jika kekurangan asupan protein. Bahkan, hingga membuat anak-anak mengalami kwashiorkor.

Kondisi gizi buruk karena kwashiorkor bisa terjadi negara-negara, khususnya di daerah dengan kasus kelaparan yang tinggi akibat kurangnya pasokan makanan. Di sisi lain, pengetahuan seputar kebutuhan gizi secara tidak langsung juga turut memiliki andil sebagai penyebab kwashiorkor.

Bagaimana cara mendiagnosis kwashiorkor?

Pertama-tama, pemeriksaan untuk mendiagnosis kwashiorkor dilakukan dengan cara mengecek kondisi fisik anak. Dokter akan mencari adanya ruam khas pada kulit, serta edema (pembengkakan) di beberapa bagian tubuh. Misalnya di kaki, lengan, tangan, maupun wajah anak.

Pengukuran dan perbandingan berat serta tinggi badan juga tak luput dari pemeriksaan dokter, guna memastikan kemungkinan kwashiorkor. Selain dari menilai gejala fisik dan pola makan harian, diagnosis kwashiorkor juga bisa dilakukan dengan metode lainnya.

Selanjutnya, dokter biasanya melakukan pemeriksaan terkait adanya pembengkakan hati (hepatomegali).

Pemeriksaan bisanya dilanjutkan dengan mengukur kadar protein, elektrolit, gula, albumin, serta kreatinin melalui tes darah. Hal ini karena tidak sedikit anak dengan kwashiorkor yang memiliki kadar gula darah, protein, natrium, serta magnesium yang rendah.

Apa pengobatan untuk mengatasi kwashiorkor?

Menangani anak yang mengalami kwashiorkor tidak bisa dilakukan hanya dengan asal memberikan makanan saja. Sebaiknya perhatikan juga zat gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut. Penting untuk memberikan lebih banyak makanan sumber protein dan kalori guna memenuhi kebutuhan zat gizi yang tidak tercukupi.

Awalnya, dokter dan ahli gizi biasanya menyarankan pemberian susu formula khusus F 75. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan makanan sumber kalori dalam bentuk karbohidrat, gula, maupun lemak. Selang beberapa waktu setelahnya, anak baru akan diberikan makanan tinggi protein.

Penting untuk diperhatikan bagi para orangtua. Anak yang mengalami gizi buruk, terlebih kwashiorkor, harus didekatkan secara perlahan dengan beragam makanan guna memulihkan kondisinya.

Pasalnya, tubuh anak butuh penyesuaian kembali karena telah lama kehilangan nutrisi tertentu. Alih-alih mempercepat proses pengobatan, terlalu banyak dan terlalu sering memberikan makanan justru dapat mengagetkan sistem pencernaannya.

Jika diperlukan, dokter juga dapat merekomendasikan pemberian suplemen vitamin dan mineral harian, tergantung kondisi dan kebutuhan anak.

3. Marasmik-kwashiorkor

Sumber: Psychology Mania

Sesuai dengan namanya, marasmik-kwashiorkor adalah bentuk lain dari gizi buruk yang menggabungan kondisi dan gejala antara marasmus dan kwashiorkor. Kondisi gizi buruk ini ditentukan dengan indikator berat badan berdasarkan usia (BB/U) kurang dari 60 persen baku median WHO.

Apa saja gejala marasmik-kwashiorkor?

Anak yang mengalami marasmik-kwashiorkor memiliki beberapa ciri utama, seperti:

  • Bertubuh sangat kurus
  • Menunjukkan tanda-tanda tubuh kurus (wasting) di beberapa bagian tubuh. Misalnya hilangnya jaringan dan massa otot, serta tulang yang langsung kentara pada kulit seolah tidak terlapisi oleh daging.
  • Mengalami penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh.

Namun, tidak seperti kwashiorkor yang mengalami pembengkakan pada perut, sehingga membuat anak terlihat buncit. Adanya edema atau pembengkakan pada anak dengan marasmus dan kwashiorkor sekaligus, biasanya tidak terlalu mencolok.

Bukan hanya itu saja. Berat badan anak yang mengamai marasmus dan kwashiorkor sekaligus biasanya berada di bawah 60 persen dari berat normal di usia tersebut.

Apa penyebab marasmik-kwashiorkor?

Oleh karena marasmik-kwashiorkor merupakan kondisi yang menggabungkan antara maramus dan kwashiorkor, tentu penyebabnya pun demikian.

Secara garis besarnya, marasmik-kwashiorkor dikarenakan anak  kekurangan asupan zat gizi tertentu. Dalam hal ini meliputi kalori dan protein.

Apa pengobatan untuk mengatasi marasmik-kwashiorkor?

Secara umum, sebenarnya pengobatan yang bisa dilakukan untuk anak gizi buruk dengan marasmik-kwashiorkor merupakan gabungan dari dua kondisi sebelumnya. Di antaranya meliputi pemberian susu formula khusus, serta pengaturan asupan makanan harian.

Panduan penanganan gizi buruk pada anak

mengatasi gizi kurang pada remaja

Sesuai dengan penatalaksanaannya, Kementerian Kesehatan RI membagi penanganan gizi buruk pada anak atas 3 fase.

1. Fase stabilisasi

Fase stabilisasi adalah keadaan ketika kondisi klinis dan metabolisme anak belum sepenuhnya stabil. Dibutuhkan waktu sekitar 1-2 hari untuk memulihkannya, atau bahkan bisa lebih, tergantung dari kondisi kesehatan anak.

Tujuan dari fase stabilisasi yakni untuk memulihkan fungsi organ-organ yang terganggu serta pencernaan anak agar kembali normal. Dalam fase ini, anak akan diberikan formula khusus berupa F 75 atau modifikasinya, dengan rincian:

  • Susu skim bubuk (25 gr)
  • Gula pasir (100 gr)
  • Minyak goreng (30 gr)
  • Larutan elektrolit (20 ml)
  • Tambahan air sampai dengan 1000 ml

Fase stabilisasi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Pemberian formula khusus dilakukan sedikit demi sedikit tapi dalam frekuensi yang sering. Cara ini bisa membantu mencegah kadar gula darah rendah (hipoglikemia), serta tidak membebankan saluran pencernaan, hati, dan ginjal.
  • Pemberian formula khusus dilakukan selama 24 jam penuh. Jika dilakukan setiap 2 jam sekali, berarti ada 12 kali pemberian. Jika dilakukan setiap 3 jam sekali, berarti ada 8 kali pemberian.
  • Bila anak bisa menghabiskan porsi yang diberikan, pemberian formula khusus bisa dilakukan setiap 4 jam sekali. Otomatis ada 6 kali pemberian makanan.
  • Jika anak masih mendapatkan ASI, pemberian ASI bisa dilakukan setelah anak mendapatkan formula khusus.

Bagi orangtua, sebaiknya perhatikan aturan pemberian formula seperti:

  • Lebih baik gunakan cangkir dan sendok daripada botol susu, meskipun anak masih bayi.
  • Gunakan alat bantu pipet tetes untuk anak dengan kondisi sangat lemah.

2. Fase transisi

Fase transisi adalah masa ketika perubahan pemberian makanan tidak menimbulkan masalah bagi kondisi anak. Fase transisi biasanya berlangsung selama 3-7 hari, dengan pemberian susu formula khusus berupa F 100 atau modifikasinya.

Kandungan di dalam susu formula F 100 meliputi:

  • Susu skim bubuk (85 gr)
  • Gula pasir (50 gr)
  • Minyak goreng (60 gr)
  • Larutan elektrolit (20 ml)
  • Tambahan air sampai dengan 1000 ml

Fase transisi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Pemberian formula khusus dengan frekuensi sering dan porsi kecil. Paling tidak setiap 4 jam sekali.
  • Jumlah volume yang diberikan pada 2 hari pertama (48 jam) tetap menggunakan F 75. Namun di hari ketiga, ada perubahan volume menjadi F 100 dengan jumlah disesuaikan kembali tergantung kondisi anak.
  • ASI tetap diberikan setelah anak menghabiskan porsi formulanya.
  • Jika volume pemberian formula khusus tersebut telah tercapai, tandanya anak sudah siap untuk masuk ke fase rehabilitasi.

3. Fase rehabilitasi

Fase rehabilitasi adalah masa ketika nafsu makan anak sudah kembali normal dan sudah bisa diberikan makanan agak padat melalui mulut atau oral. Akan tetapi, bila anak belum sepenuhnya bisa makan secara oral, pemberiannya bisa dilakukan melalui selang makanan (NGT).

Fase ini umumnya berlangsung selama 2-4 minggu sampai indiktor status gizin BB/TB-nya mencapai -2 SD, dengan memberikan F 100. Dalam fase transisi, pemberian F 100 bisa dilakukan dengan menambah volumenya setiap hari. Hal ini dilakukan sampai saat anak tidak mampu lagi menghabiskan porsinya.

F 100 merupakan energi total yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, serta berguna dalam pemberian makanan di tahap selanjutnya. Secara bertahap, nantinya porsi makanan padat anak bisa mulai ditambah dengan mengurangi pemberian F 100.

Panduan menangani anak gizi buruk di rumah

camilan untuk anak

Setelah menjalankan pengobatan yang disarankan, anak dapat dikatakan sembuh bila BB/TB atau BB/PB sudah lebih dari -2 SD. Meski begitu, aturan pemberian makan yang tepat tetap masih harus dijalankan.

Bagi orangtua, bisa menerapkan saran seperti:

  • Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering sesuai dengan usia anak.
  • Rutin membawa anak untuk kontrol tepat waktu. Pada bulan pertama sebanyak 1 kali seminggu, bulan kedua sebanyak 1 kali setiap 2 minggu, dan bulan ketiga sampai keempat sebanyak 1 kali per bulan.

Selain itu, orangtua juga bisa membuat contoh resep berikut untuk anak:

Makanan formula kacang hijau

Bahan-bahan:

  • Tepung beras 25 gr
  • Kacang hijau atau kacang merah 60 gr
  • Gula 15 gr
  • Minyak goreng 10 gr
  • Garam beryodium dan air secukupnya

Cara membuat:

  1. Rebus kacang hijau dengan 4 gelas air matang selama 30 menit.
  2. Setelah matang, hancurkan menggunakan saringan kawat.
  3. Campurkan tepung beras, gula, minyak, garam, dan air dingin sebanyak 50 cc (1/4 gelas).
  4. Masukkan ke dalam air rebusan kacang hijau yang sudah dihancurkan, lalu aduk sampai matang di atas api kecil.

Makanan formula tahu dan ayam

Bahan-bahan:

  • Tahu 55 gr
  • Tepung beras 40 gr
  • Gula 20 gr
  • Minyak goreng 15 gr
  • Daging ayam 70 gr
  • Garam beryodium dan air secukupnya

Cara membuat:

  1. Rebus tahu dan ayam dalam 500 cc air hingga matang, selama sekitar 10 menit.
  2. Setelah matang, hancurkan dengan menggunakan saringan kawat atau diulek.
  3. Masukkan tepung beras, gula, minyak, dan garam, dan lanjutkan memasak sembari di aduk di atas api kecil selama 5 menit.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca