Berbagai Penyebab Mastitis, Pembengkakan dan Peradangan Payudara Pada Ibu Menyusui

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Ada beragam masalah menyusui yang bisa dialami oleh ibu dan bayi. Salah satu masalah menyusui pada ibu yakni mastitis, yang dapat muncul di satu atau kedua payudara sekaligus. Selain menimbulkan rasa nyeri, mastitis juga akan membuat payudara memerah seperti memar. Sebenarnya, apa penyebab dari mastitis ini?

Apa penyebab mastitis?

kanker payudara stadium 2

Mastitis adalah kondisi ketika jaringan payudara mengalami pembengkakan dan peradangan yang tidak normal. Kebanyakan kasus mastitis biasanya dialami oleh para ibu yang baru beberapa bulan melahirkan, alias sedang dalam masa menyusui.

Meski begitu, mastitis juga bisa dialami oleh wanita yang belum melahirkan dan sudah menopause. Penyebab mastitis bisa dikarenakan adanya infeksi yang menyerang saluran payudara, maupun tanpa infeksi.

Oleh karena itu, payudara yang mengalami mastitis biasanya tampak membengkak, berwarna kemerahan, dan terasa nyeri. Hal ini juga dapat membuat Anda demam dan menggigil.

Secara garis besarnya, berikut beberapa hal penyebab mastitis yang rentan dialami oleh ibu menyusui:

Saluran susu tersumbat

Sebelum air susu ibu (ASI) dikeluarkan oleh puting dan diisap oleh bayi, ASI tersebut melalui proses panjang terlebih dahulu. ASI yang dihasilkan oleh kelenjar payudara, kemudian dialirkan oleh saluran ASI sampai bermuara di tempat terakhir yakni puting susu.

Sayangnya, saluran ASI tidak selalu lancar. Dalam kondisi tertentu, saluran tersebut bisa tersumbat sehingga menyebabkan ASI menumpuk di dalam payudara.

Semakin banyak jumlah ASI yang menumpuk, tentu semakin berisiko menimbulkan peradangan. Ini kemungkinan dikarenakan penumpukan ASI memicu timbulnya tekanan, yang secara tidak langsung seperti memaksa atau mendorong ASI untuk masuk ke saluran yang tersumbat.

Adanya sumbatan pada saluran susu sebenarnya tidak terjadi begitu saja. Faktor isapan bayi yang tidak menempel (latch on) dengan tepat pada puting payudara selama menyusu bisa membuat saluran susu tersumbat, sehingga menjadi penyebab mastitis. Faktor isapan ini bisa dipengaruhi oleh masalah pada kondisi bayi, seperti tongue-tie.

Terbiasa menyusu di salah satu payudara saja juga bisa mengakibatkan saluran susu tersumbat. Pasalnya, ASI yang terus diproduksi oleh kelenjar susu tidak keluar dari dalam payudara karena tidak diisap bayi.

Alhasil, ASI justru akan menumpuk salah satu payudara dan kemudian menyumbat alirannya. Selain itu, sumbatan ini juga dapat disebabkan oleh payudara yang tidak sepenuhnya kosong saat menyusui.

Infeksi bakteri

Jika saluran susu tersumbat tidak melibatkan bakteri, penyebab mastitis karena infeksi tentu dipicu oleh hadirnya bakteri. Bakteri memang umum ada di kulit setiap orang, tapi sebenarnya tidak berbahaya.

Akan tetapi, ketika bakteri tersebut berhasil masuk menembus kulit, kemungkinan bisa menyebabkan timbulnya infeksi. Infeksi bakteri yang menjadi penyebab mastitis bisa masuk ke jaringan payudara karena kulit pada areola atau area sekitar puting mengalami kerusakan.

Di sisi lain, ASI yang tersumbat di dalam saluran susu juga dapat mengakibatkan infeksi. Padahal sebenarnya, lingkungan ASI yang baik dan segar tidak mendukung perkembang biakan bakteri.

Kerusakan puting maupun areola yang mengelilingi puting sehingga menjadi penyebab mastitis, bisa dikarenakan isapan bayi yang tidak tepat selama menyusu. Penggunaan pompa payudara dengan posisi yang salah pada puting juga berisiko yang sama.

Bukan itu saja. Bakteri yang menjadi penyebab mastitis juga bisa berpindah dari mulut bayi, yang nantinya mengisap puting payudara Anda. Terlebih jika ada luka dan celah pada puting.

Akibatnya, bakteri bisa dengan mudah masuk dan menjadi penyebab mastitis.

Penyebab lainnya

Selain karena adanya sumbatan pada saluran susu dan infeksi bakteri, ada hal lain yang bisa menjadi penyebab mastitis. Seperti yang sempat dijelaskan di awal, ada kemungkinan mastitis bisa dialami oleh wanita yang sedang tidak menyusui.

Entah itu belum menikah, atau bahkan sudah mengalami menopause. Bagi wanita yang belum melahirkan dan menyusui, kondisi ini disebut sebagai mastitis periductal. Penyebab mastitis periductal bisa karena adanya infeksi pada payudara.

Infeksi ini diawali oleh munculnya peradangan kronis pada bagian bawah puting. Akibatnya, puting bisa terluka, sakit, atau menimbulkan celah, yang memudahkan bakteri untuk masuk ke dalamnya.

Biasanya, mastitis periductal ini terjadi pada wanita usia 20-30 tahun. Sementara mastitis yang dialami oleh wanita yang memasuki atau sudah menopause, dikenal dengan nama mastitis ektasia duktus.

Ini dikarenakan saluran yang terletak di dalam puting menjadi lebih lebar dan lebih pendek seiring bertambahnya usia. Meski sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, tapi mastitis ekstasia duktus berisiko menimbulkan iritasi dan melukai lapisan pada saluran payudara.

Apa saja faktor risiko mastitis?

kanker payudara ibu menyusui

Di samping berbagai penyebab mastitis sebelumnya, masalah pada payudara yang biasanya terjadi selama masa menyusui ini juga dapat dipicu oleh berbagai faktor risiko.

Berikut beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan mastitis:

  • Pernah mengalami mastitis sebelumnya.
  • Sedang dalam masa menyusui selama beberapa minggu pertama pasca melahirkan.
  • Puting payudara sakit dan terluka seperti pecah-pecah.
  • Sering menggunakan bra yang terlalu ketat.
  • Memberikan tekanan berlebih pada payudara, seperti menggunakan sabuk pengaman terlalu kencang atau membawa tas berat sehingga menghambat aliran ASI.
  • Stres dan kelelahan para.
  • Asupan zat gizi harian yang kurang memadai.
  • Merokok.
  • Selalu menggunakan satu posisi yang sama saat menyusui bayi.

Umumnya, mastitis biasa dialami oleh para ibu menyusui. Khususnya jika ASI tidak keluar sepenuhnya dari payudara, dan justru menumpuk di dalam. Kondisi ini tentu dapat memperparah gejala yang Anda rasakan.

Kemungkinan untuk mengalami mastitis juga dapat dialami oleh wanita yang mengalami diabetes, AIDS, penyakit kronis, maupun gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca