Apakah Anak Boleh Diberikan Suplemen Zat Besi?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Kekurangan asupan zat besi dapat mengakibatkan anemia pada anak-anak. Kondisi ini ditandai dengan kulit yang pucat, tubuh mudah lelah, tidak nafsu makan, lebih rentan sakit, dan timbulnya masalah tumbuh-kembang. Tidak sedikit orang tua yang akhirnya melakukan pencegahan dengan memberikan suplemen zat besi untuk anak. Meski demikian, apakah suplemen zat besi aman diberikan pada anak-anak dalam masa perkembangannya?

Apakah sudah waktunya memberikan suplemen zat besi untuk anak Anda?

Itu adalah pertanyaan pertama yang harus Anda ajukan sebelum memberikan suplemen zat besi pada Si Kecil. Kecuali akses menuju asupan zat besinya terbatas, Anda sebetulnya bisa memenuhi kebutuhan mineral ini dengan memberikan ia beragam jenis makanan kaya zat besi, misalnya:

  • daging merah, daging ayam
  • hati dan jeroan lainnya
  • ikan dan kerang-kerangan
  • sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan brokoli
  • kacang-kacangan dan polong-polongan
  • sereal atau makanan lain yang telah difortifikasi zat besi

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari idealnya sudah dapat menyumbangkan cukup zat besi sehingga Anda tidak perlu memberikan suplemen zat besi untuk anak.

Selain itu, Anda juga perlu memberikan buah-buahan yang kaya vitamin C, seperti jeruk, strowberry, dan tomat. Pasalnya vitamin C akan membantu meningkatkan penyerapan zat besi.

Hindari pemberian teh karena mengurangi penyerapan zat besi. Selama Si Kecil mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi seimbang, Anda tidak perlu mencemaskan kemungkinan anemia akibat kekurangan zat besi.

Siapa yang berisiko mengalami kekurangan zat besi?

Sebagian besar anak-anak dapat mencukupi kebutuhan zat besinya melalui makanan. Namun, kondisi tertentu dapat membatasi asupan zat besi pada anak sehingga mereka lebih rentan terhadap anemia. Inilah yang biasanya melatarbelakangi pemberian suplemen zat besi untuk anak.

Contohnya adalah bayi yang lahir secara prematur, memiliki berat badan lahir yang rendah, atau terlahir dari ibu yang mengalami kekurangan zat besi. Hal tersebut dapat bertambah parah jika anak menderita penyakit tertentu yang mengakibatkan terhambatnya penyerapan nutrisi, misalnya penyakit pada usus atau infeksi kronis.

Pola makan anak pun turut andil dalam pemenuhan zat besinya. Anak yang memiliki kecenderungan picky eating atau menjalani pola makan vegan misalnya, merupakan kelompok yang rawan mengalami kekurangan zat besi karena pilihan makannya lebih terbatas.

Faktor lain yang juga sering luput oleh orang tua adalah pubertas. Selama periode ini, anak-anak mengalami lonjakan pertumbuhan sehingga kebutuhan nutrisinya turut bertambah. Bahkan, anak perempuan lebih rentan karena mereka mengalami menstruasi setidaknya sekali setiap bulan.

Untuk itu, guna dapat mendiagnosis kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi maka diperlukan pemeriksaan darah. American Academy of Pediatrics merekomendasikan setiap bayi dilakukan skrining pemeriksaan darah untuk kondisi anemia defisiensi besi pada usia 9 bulan dan 12 bulan, serta bagi yang memiliki faktor risiko maka diperlukan pemeriksaan kembali pada usia lebih lanjut.

Hal yang mesti diperhatikan saat beri suplemen zat besi untuk anak

Jangan memberikan suplemen zat besi untuk anak tanpa anjuran medis. Bila Anda merasa khawatir terhadap kesehatan Si Buah Hati, konsultasikan hal ini dengan dokter anak dan periksalah kondisinya secara rutin. Dengan begitu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut atau anjuran konsumsi suplemen zat besi bila dibutuhkan.

Ada berbagai bentuk suplemen zat besi untuk anak, yaitu tetes, sirup, tablet kunyah, jeli, dan bubuk. Ikuti aturan penggunaan yang tertera pada kemasan, atau sesuai petunjuk dokter. Berdasarkan anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia, dosis suplemen zat besi yang disarankan untuk anak adalah sebagai berikut:

  • Bayi berat badan lahir rendah: 3 mg/kgBB/hari, diberikan sejak usia 1 bulan hingga 2 tahun
  • Bayi cukup bulan: 2 mg/kgBB/hari, diberikan sejak usia 4 bulan hingga 2 tahun
  • Anak usia 2-5 tahun: 1 mg/kgBB/hari, diberikan sebanyak 2 kali/minggu selama tiga bulan berturut-turut setiap tahun
  • Anak >5 tahun hingga 12 tahun: 1 mg/kgBB/hari, diberikan sebanyak 2 kali/minggu selama tiga bulan berturut-turut setiap tahun
  • Remaja usia 12-18 tahun: 60 mg/hari, diberikan sebanyak 2 kali/minggu selama tiga bulan berturut-turut setiap tahun

Konsumsi suplemen zat besi dapat menimbulkan efek samping berupa sakit perut, perubahan warna tinja, hingga sembelit. Meski demikian, pemberian suplemen zat besi untuk anak tetaplah aman selama dosisnya sesuai dengan ketentuan. Guna menjauhkan buah hati Anda dari anemia zat besi dan komplikasinya, jangan lupa melengkapi asupan hariannya dengan beragam makanan dengan gizi seimbang.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca