Tourette Syndrome, Gangguan Saraf yang Membuat Anak Tidak Bisa Mengendalikan Gerakan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Ada berbagai kelainan atau gangguan saraf yang bisa terjadi pada bayi baru lahir, salah satunya sindrom Tourette. Tourette syndrome adalah kelainan bawaan sejak bayi baru lahir yang menyerang sistem saraf. Mengapa ini hal ini bisa dialami si kecil? Berikut penjelasan lengkapnya.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Apa itu sindrome Tourette?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa sindrome Tourette adalah gangguan saraf yang dibawa anak sejak baru lahir.

Sindrom Tourette ditandai dengan anak yang tidak bisa mengendalikan gerak-gerik tubuh dan ucapan yang terlontar dari mulutnya (tics).

Anak dengan kelainan bawaan ini bisa memunculkan pola gerakan pada bagian tubuh mana saja, mulai dari wajah, tangan, atau kaki.

Pada kasus lain, anak yang memiliki Tourette syndrome juga dapat tibat-tiba mengeluarkan suara yang tidak normal, mengulang perkataan, atau bahkan mengumpat kepada orang lain.

Serangan tics karena Tourette syndrome adalah kondisi yang terjadi secara tiba-tiba tanpa disengaja, berulang, dan tidak bisa dikendalikan.

Serangan sindrom Tourette dapat terjadi secara serius hingga memengaruhi hidup penderita maupun orang-orang di sekitar mereka.

Seberapa umum kondisi Tourette syndrome?

Sindrom Tourette bisa dialami oleh siapa saja dari semua kelompok usia maupun etnis.

Namun, dalam banyak kasus, sindrom ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan selalu dimulai sebelum usia 18 tahun.

Melansir dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke, umumnya Tourette syndrome dimulai dalam rentang usia 3-9 tahun.

Apa tanda dan gejala Tourette syndrome?

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala khas dari Tourette syndrome adalah tics motorik dan tics vokal.

Serangan tics dapat muncul secara tiba-tiba dan bersifat kambuhan.

Biasanya gejala Tourette syndrome muncul di masa anak-anak antara usia 3-9 tahun. Berikut gejala sindrom Tourette yang perlu diketahui:

Tics motorik

Tics motorik adalah gerakan otot yang tidak bisa dikendalikan.

Bayi dan anak dengan sindrom ini bisa memunculkan gerakan spontan dan menyentak tiba-tiba, seperti:

  • Mata berkedip
  • Hidung yang berkedut
  • Bahu naik-turun
  • Mengangguk atau menggeleng-gelengkan kepala
  • Mulut yang bergerak-gerak

Beberapa orang ada pula yang sampai harus membungkuk atau memutarkan badannya berkali-kali ketika tics mereka kambuh.

Tics vokal

Sementara tics vokal adalah gejala Tourette syndrome ketika anak secara tidak sadar melontarkan suara atau kata-kata yang tidak normal.

Ketika serangan tics vokal kambuh, anak dengan sindrom Tourette ini biasanya akan:

  • Mengumpat
  • Memaki
  • Melontarkan kata-kata cabul secara spontan dan berulang kali
  • Mengisap-isap
  • Bersiul
  • Batuk-batuk
  • Mendengus
  • Meludah
  • Mengeluarkan suara melengking

Mungkin ada beberapa gejala yang tidak disebutkan di sini. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai gejala tertentu terkait kondisi bayi dan anak, harap berkonsultasi dengan dokter.

Faktor pemicu serangan tics pada sindrom Tourette

Secara umum, bentuk dan frekuensi kemunculan serangan tics bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada faktor pemicunya.

Namun, serangan tics seringnya muncul ketika anak sedang di bawah tekanan (stres) atau justru saat mereka sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu.

Sebaliknya, serangan tics cenderung tidak akan muncul ketika anak dengan sindrom ini melakukan aktivitas yang tenang dan fokus.

Aktivitas yang membuatnya fokus seperti mendengarkan musik atau mengetik di depan layar komputer.

Serangan tics tidak hilang saat tidur tapi sering berkurang secara signifikan.

Pola gerakan atau perkataan spontan dan berulang yang dialami anak dengan kondisi Tourette juga umumnya sulit dihindari.

Ibaratnya, tics seperti cegukan. Penderita tidak merencanakan apalagi menginginkan kehadirannya, tetapi ia tiba-tiba datang dan membuat tidak nyaman.

Anak dengan sindrom ini cenderung sulit untuk mengontrol ataupun mencegah serangan tics.

Meski orang dengan sindrom ini dapat menahan serangan tics untuk sementara waktu, pada akhirnya mereka harus membiarkan serangan tics keluar.

Dalam beberapa kasus, anak dengan sindrom Tourette mungkin memiliki kondisi lain, seperti:

  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
  • Kesulitan belajar

Meredam, mengontrol, atau mencegah tics justru dapat memicu stres berat, yang akhirnya memperparah serangan tics.

Kapan harus ke dokter?

Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kondisi yang sering terjadi pada anak-anak.

Akan tetapi, gejalanya akan menghilang seiring pertumbuhan anak dan berkembangnya mekanisme kendali mereka terhadap tubuhnya.

Meski begitu, sebaiknya Anda menghubungi dokter jika terjadi hal-hal terkait sindrom Tourette, seperti:

  • Obat yang diresepkan dokter tidak cocok dengan kondisi anak (terjadi efek yang berlawanan dari penggunaan obat).
  • Gejala-gejala tidak juga membaik atau bahkan justru semakin memburuk.
  • Mengalami demam, kaku otot, atau perubahan perilaku setelah mengonsumsi obat yang digunakan untuk mengobati sindrom Tourette.

Dokter dapat membantu meresepkan obat-obatan tertentu untuk meringankan gejala sindrom Tourette.

Apa penyebab Tourette syndrome?

Bisa dibilang, Tourette syndrome adalah kondisi yang kompleks. Maka dari itu, sampai saat ini penyebab sindrom Tourette belum diketahui secara pasti.

Namun, para ahli menduga bahwa kemungkinan besar penyakit ini disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dengan faktor lingkungan.

Genetik

Mengutip dari Mayo Clinic, Tourette syndrome adalah kondisi genetik yang berarti diturunkan dari orangtua ke anak-anaknya.

Meski begitu, gen khusus yang berkaitan dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette belum ditentukan dengan pasti.

Kelainan struktur otak

Ada beberapa kelainan di bagian otak yang bisa menjadi penyebab sindrom Tourette, yaitu:

  • Kelainan di bagian otak tertentu (termasuk ganglia basal, lobus frontal, dan korteks).
  • Gangguan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dan norepinefrin).

Sindrom Tourette tidak menular. Jadi, berinteraksi dengan anak yang memiliki Tourette syndrome tidak akan membuat orang lain mengalaminya.

Apa yang meningkatkan risiko terkena Tourette syndrome?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

Riwayat keluarga

Jika keluarga memiliki riwayat Tourette syndrome atau penyakit lain yang menyebabkan kejang, anak berisiko mengalami juga di kemudian hari.

Intinya, sindrom ini bisa menurun dalam keluarga.

Jenis kelamin

Dikutip dari Kids Health, anak laki-laki berisiko terkena Tourette syndrome 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita.

Tidak adanya faktor risiko bukan berarti anak perempuan tidak dapat mengalami Tourette syndrome.

Faktor-faktor ini hanya untuk referensi. Silakan berkonsultasi dengan dokter ahli untuk informasi yang lebih rinci.

Apa komplikasi yang mungkin terjadi dari Tourette syndrome?

Anak dengan kondisi sindrom Tourette umumnya mengalami satu atau bahkan beberapa kondisi tertentu.

Beberapa kondisi yang sering kali dikaitkan dengan sindrom Tourette adalah:

Perhatikan bila anak Anda memiliki kondisi kesehatan di atas.

Bagaimana cara mendiagnosis Tourette syndrome?

Semua anak yang mengalami Tourette syndrome pasti memiliki tics, tetapi anak yang memiliki tics belum tentu mengalami sindrom ini.

Jadi, jika anak Anda memunculkan berbagai gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, segera berkonsultasi ke dokter saraf pediatri.

Dokter saraf pediatri adalah dokter yang mempunyai spesialisasi dalam masalah saraf anak-anak.

Para dokter akan menentukan diagnosa berdasarkan riwayat medis, hasil pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium, misalnya tes darah.

Pertama-tama, dokter mungkin akan meminta anak Anda untuk duduk tenang. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah serangan tics akan muncul atau tidak.

Setelah itu, dokter mungkin juga akan meminta anak Anda untuk melakukan elektroensefalografi (EEG), sebuah tes untuk mengukur gelombang otak.

EEG dapat melakukan pemindaian resonansi magnetik (magnetic resonance imaging atau MRI).

Proses MRI mirip seperti rontgen, tetapi MRI menggunakan medan daya magnet tanpa menggunakan sinar-X untuk melihat tubuh bagian dalam.

Apa saja pilihan pengobatan untuk Tourette syndrome?

Informasi yang disediakan di atas bukan sebagai pengganti pengobatan medis. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda.

Sindrom Tourette adalah kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan.

Pengobatan yang ada bertujuan untuk mengendalikan serangan tics yang menganggu aktivitas sehari-hari. Sementara jika tics tidak parah, biasanya pengobatan tidak diperlukan.

Secara umum, berikut pilihan pengobatan yang biasa dilakukan dokter untuk mengatasi sindrom Tourette, dikutip dari Mayo Clinic:

Minum obat tertentu

Dokter biasanya akan meresepkan beberapa obat untuk mengurangi gejala dan memudahkan anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Beberapa obat yang mungkin diresepkan dokter sebagai perawatan Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

Obat antipsikotik

Kelompok obat ini dapat membantu mengendalikan serangan tics.

Namun, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi, yaitu kenaikan berat badan dan gerakan berulang yang tidak disengaja.

Suntikan botulinum (Botox)

Ini adalah metode pengobatan menggunakan suntikan.

Bagian tubuh yang diberikan suntikan adalah otot yang bermasalah sehingga dapat membantu meringankan serangan tics motorik maupun vokal.

Obat ADHD

Stimulan seperti methylphenidate dan obat-obatan yang mengandung dextroamphetamine dapat membantu meningkatkan konsentrasi.

Sayangnya, obat-obatan tersebut justru dapat memperburuk tics bagi beberapa anak.

Obat darah tinggi

Obat-obatan seperti clonidine dan guanfacine, biasanya diresepkan bagi penderita yang juga memiliki tekanan darah tinggi.

Obat ini bisa membantu untuk mengendalikan gejala gangguan perilaku, seperti amarah yang meledak-ledak.

Anak yang memiliki sindrom Tourette dan tics sedang kambuh, bisa mengalami emosi yang tidak seimbang.

Obat antidepresan

Fluoxetine adalah obat yang dapat membantu mengendalikan gejala kesedihan, kecemasan, dan OCD.

Bentuk obat ini ada beberapa macam, seperti kapsul, tablet, dan cair.

Obat anti kejang

Beberapa orang dengan sindrom Tourette membaik setelah menggunakan obat topiramate (Topamax).

Topamax adalah obat yang digunakan untuk mengobati epilepsi.

Semua obat ini tak boleh dikonsumsi sembarangan. Pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk menentukan obat yang paling sesuai dengan kondisi anak.

Terapi perilaku

Orangtua juga bisa berkonsultasi ke seorang psikolog atau psiakter untuk membantu mengontrol gejala sindrom Tourette.

Sebenarnya sindrom Tourette bukan masalah dalam kesehatan mental.

Namun, seorang psikolog dan psikiater dapat memberikan terapi perilaku untuk membantu menenangkan anak ketika serangan tics tiba-tiba muncul.

Seorang psikolog maupun psikiater juga bisa membantu meringankan gejala dari penyakit lain yang sering dikaitkan dengan Tourette syndrome

Salah satu bentuk terapi perilaku untuk mengobati sindrom Tourette adalah Comprehensive Behavioral Intervention for Tics, atau CBIT.

Terapi ini membantu anak dengan sindrom Tourette mengontrol serangan tics dengan cara yang sangat hati-hati dan sistematis.

Tak hanya penderita, terapis juga akan memberikan tips kepada keluarga tentang cara menghadapi kekambuhan serangan tics agar tidak semakin memburuk.

Entah itu dengan berjalan-jalan, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan latihan pernapasan.

Semuanya dilakukan semata-mata untuk mengurangi keparahan serangan tics atau bahkan mencegahnya agar tidak terjadi sama sekali.

Biasanya, terapi perilaku ini membutuhkan delapan sesi pertemuan, yang setiap sesinya menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Dalam kasus tertentu, terapi CBIT mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.

Apa yang bisa orangtua lakukan?

Sindrom ini sering kali muncul pada usia anak-anak. Jika anak Anda salah satu yang mengalami sindrom ini, sebagai orangtua ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan.

Beberapa upaya untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

Cari informasi

Usahakan untuk mencari informasi tentang penyakit ini sebanyak-banyaknya.

Anda bisa mencari di internet, membaca buku, berkonsultasi ke dokter atau psikolog, atau bertanya langsung dengan orang lain yang juga memiliki masalah sama.

Bila perlu, ikut kelompok atau komunitas untuk memudahkan Anda mendapatkan informasi terkait sindrom Tourette.

Beri dukungan moril

Serangan tics yang muncul secara tiba-tiba dan di luar kendali dapat membuat anak merasa tidak percaya diri.

Terutama saat mereka berada di tempat umum atau berinteraksi dengan orang lain.

Maka dari itu, dukungan moril dari orang-orang terdekat, terutama orangtua sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.

Salah satu cara meningkatkan kepercayaan anak dengan sindrom Tourette adalah dengan mendukung kegiatan yang mereka sukai atau menarik perhatiannya.

Sebagai contoh, Anda bisa mengajak anak les privat musik, bola, atau olahraga lainnya yang mereka sukai.

Ingat, serangan tics mungkin akan membaik seiring bertambahnya usia anak.

Meski begitu, dalam kasus tertentu serangan tics justru dapat bertambah parah dan membutuhkan perawatan lanjutan.

Maka, anak dengan Tourette syndrome membutuhkan dukungan yang positif dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ini membuat mereka bisa melakukan berbagai aktivitas seperti orang normal pada umumnya.

Bila ada pertanyaan, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah kondisi serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

6 Trik Jitu Menghilangkan Sakit Kepala Akibat Stres

Stres dapat memicu sakit kepala atau memperburuk gejalanya. Lantas, bagaimana cara menghilangkan stres sekaligus sakit kepala? Ini tipsnya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 5 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Obat Radang Tenggorokan pada Anak: Mulai dari Alami Sampai Medis

Radang tenggorokan pada anak sering berujung batuk sampai muntah dan perlu obat untuk mengatasinya. Berikut daftar obat yang bisa dicoba.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Ciri-Ciri Anak Cacingan Berdasarkan Jenis Cacingnya

Cacingan adalah penyakit yang paling rentan dialami oleh anak-anak. Itu sebabnya, penting untuk mengetahui ciri-ciri cacingan pada anak berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 2 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

keluar air mani

Tiba-tiba Keluar Air Mani Padahal Tidak Terangsang, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
brain fog banyak pikiran di kantor

4 Cara Ampuh Kembalikan Konsentrasi Akibat Kewalahan Kerja

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
merasa geli saat disentuh

Mengapa Seseorang Bisa Mudah Geli Saat Disentuh, Sedangkan Orang Lain Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
demam pada anak

Demam Anak Tidak Sembuh-Sembuh Meski Sudah Minum Obat, Harus Bagaimana?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit