2 Jenis Pantangan Makanan yang Harus Dihindari Pengidap Autisme

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Memerhatikan asupan makanan jadi hal yang lebih penting saat anak Anda punya autisme. Makanan tertentu bisa memperparah kondisinya, lho. Jadi, jangan sembarangan memberi makan pada anak. Sudah saatnya bagi Anda untuk memikirkan pantangan makanan autisme berikut ini.

Makanan yang mengandung gluten dan kasein

Autisme (atau gangguan spektrum autisme—GSA) adalah gangguan perkembangan otak. Anak atau orang dewasa dengan autisme memiliki kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk mengurangi gejala autisme, pola makan khusus sebaiknya Anda pertimbangkan.

Dalam banyak kasus, ternyata anak dan orang dewasa dengan autisme menderita alergi atau sangat sensitif terhadap makanan yang mengandung protein khusus bernama gluten dan kasein. Pasalnya, tubuh mereka memproses dua kandungan protein tersebut dengan cara yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya.

Otak pengidap autisme keliru dengan mengira bahwa protein ini adalah bahan kimia palsu yang menyerupai opium, yaitu tanaman yang sering dijadikan bahan baku narkotika. Respon tubuh terhadap bahan kimia ini dapat mengubah perilaku seseorang. Nah, para ahli telah menemukan kadar protein yang tidak wajar dalam cairan tubuh orang yang hidup dengan autisme.

Gluten sebenarnya adalah protein khusus yang dapat ditemukan dalam biji-bijian seperti gandum dan jelai (sejenis padi). Roti, kue, dan pasta dari gandum biasanya mengandung gluten. Mungkin agak sulit untuk menghindari gluten, tetapi Anda bisa memeriksa label produk untuk memastikan produk tersebut bebas gluten.

Kasein dapat ditemukan dalam makanan yang mengandung laktosa. Berarti produk-produk susu dan olahannya seperti mentega dan keju kemungkinan besar mengandung kasein. Bahkan makanan yang berlabel “bebas susu” atau “bebas laktosa” pun masih bisa mengandung kasein dan menjadi pantangan makanan autisme.

Hal ini patut disayangkan karena produk susu yang mengandung laktosa merupakan sumber vitamin D dan kalsium yang baik. Maka dari itu, Anda harus mencari makanan lain untuk memastikan bahwa anak Anda mendapatkan asupan kalsium dan vitamin D yang memadai. Misalnya dari konsumsi sayuran hijau dan ikan laut. 

diet gluten free untuk anak-anak

Kacang kedelai dan produk turunan kedelai

Saat ini banyak kedelai dan produk kedelai yang sudah direkayasa secara genetik dan menyebabkan alergi makanan. Ini bisa memperparah gejala autisme pada  anak Anda.

Selain itu, ada kaitan antara penggunaan susu formula berbahan dasar kedelai dengan kejang pada anak-anak penderita autisme. Ini berarti jika Anda diberi produk bayi yang mengandung protein kedelai, maka anak Anda yang mengidap autisme lebih berisiko untuk mengalami kejang. Kejang adalah perubahan perilaku yang disebabkan oleh episode aktivitas listrik yang tidak normal pada otak.

Kedelai dapat ditemukan dalam kecap, minyak kedelai, tahu, tempe, edamame, dan susu kedelai. 

Meskipun Anda mungkin berpikir bahwa autisme adalah masalah otak, faktanya adalah makanan tertentu dapat memperburuk gejala autisme. Karena itu, pastikan Anda menghindari pantangan makanan autisme yaitu gluten, kasein, dan kedelai. 

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Saraf Kejepit, Apa Penyebab dan Bagaimana Gejalanya?

Jika dibiarkan terjadi dalam waktu lama, kondisi ini bisa membuat saraf Anda rusak permanen. Apa saja yang menyebabkan saraf kejepit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

Zat aditif ada dalam setiap makanan kemasan. Biasanya sengaja ditambahkan untuk tujuan tertentu. Namun, apakah berbahaya bila dikonsumsi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Fakta Gizi, Nutrisi 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Mengatasi Mimisan dengan Cepat, Mulai dari Bahan Alami hingga Obat Medis

Mimisan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, tapi Anda tak perlu panik. Berikut adalah berbagai obat mimisan alami yang ampuh hentikan perdarahan.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan THT, Gangguan Hidung 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara merangsang istri

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
telat datang bulan

Berapa Lama Telat Datang Bulan Dapat Menjadi Pertanda Kehamilan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
mengatasi kesepian

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit