Tips Bijak Memilih Obat Batuk untuk Anak

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30/04/2020
Bagikan sekarang

Saat anak terserang batuk, kondisi kesehatan anak jadi menurun dan kurang aktif. Orangtua umumnya ingin buah hatinya cepat sembuh dan ceria kembali dengan cara memberikan obat batuk anak. 

Sayangnya, tidak semua obat batuk bisa digunakan sembarangan pada anak. Ini karena obat batuk banyak jenisnya. 

Lalu, bagaimana cara memilih obat batuk untuk anak yang tepat?

Ketahui dulu jenis batuk yang dialami anak

Semua batuk tidak selalu sama. Ada beberapa jenis batuk dan obatnya pun berbeda. Jangan berikan obat batuk kering untuk anak yang mengalami batuk berdahak, atau sebaliknya.

Anak tidak akan sembuh-sembuh jika Anda salah pilih obat. Berikut ini merupakan jenis batuk pada anak dan kandungan obat yang ada di dalamnya:

  •  Batuk berdahak

Batuk berdahak disebabkan oleh adanya lendir atau dahak yang menumpuk di saluran pernapasan bagian bawah, yaitu tenggorokan dan paru-paru. Kondisi ini dapat disebabkan oleh flu dan infeksi. 

Bila si kecil mengalami batuk berdahak, pilihlah obat batuk jenis ekspektoran yang mengandung guaifenesin. Zat guaifenesin berfungsi untuk mengencerkan lendir atau dahak di tenggorokan supaya lebih mudah dikeluarkan. 

  •  Batuk kering

Batuk kering adalah jenis batuk yang tidak menghasilkan lendir atau dahak, dan terjadi akibat infeksi saluran pernapasan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti pilek atau flu.

Jika si kecil mengalami batuk kering, pastikan obat batuknya mengandung supresan atau zat antitusif untuk membantu meredam batuk. Sesuai namanya, supresan bekerja dengan cara menekan refleks batuk, sehingga batuk pada anak jadi lebih jarang.

  • Batuk alergi

Anak juga bisa mengalami batuk karena alergi, lho. Batuk jenis ini bisa disebabkan karena alergi debu, asap, atau partikel lainnya yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Jika reaksi alergi adalah penyebab batuk si kecil, maka pilihlah obat yang mengandung antihistamin.

Harus pilih obat batuk seperti apa untuk anak?

1. Pilih obat batuk khusus anak

Pilih obat batuk yang khusus anak. Jangan berikan si kecil obat batuk untuk orang dewasa. Ini karena dosis dan kandungan antara obat anak dan dewasa berbeda-beda. Dikhawatirkan  anak akan mengalami efek samping berbahaya bila diberikan obat untuk orang dewasa. 

2. Pilih obat batuk bentuk sirup

Bila orangtua memberikan obat batuk berbentuk pil, tablet, atau bahkan puyer, kemungkinan anak akan susah menelannya. Ini karena obat batuk jenis tersebut cenderung susah ditelan di tenggorokan dan rasanya tidak enak. Disarankan untuk memberikan si kecil obat batuk sirup yang lebih mudah ditelan. 

3. Pilih obat batuk yang rasanya enak

Anak-anak umumnya susah untuk minum obat karena rasanya pahit dan tidak enak. Untuk mengatasi hal ini, pilih obat batuk sirup yang rasanya manis. Di apotek kini tersedia obat dengan rasa buah seperti apel atau jeruk. Rasa buah pada obat bisa lebih mudah diberikan dan diminum oleh anak-anak.

4.  Pilih obat batuk yang bisa bikin mengantuk

Anak-anak harus istirahat yang cukup saat batuk supaya cepat sembuh. Maka dari itu, orangtua bisa pilihkan anak obat yang efek sampingnya bisa membuat anak mengantuk. Dengan begitu, habis minum obat si kecil bisa tidur dan istirahat untuk mempercepat proses penyembuhan.

5. Pilih obat batuk yang ada aturan pakai dalam kemasannya

Obat batuk anak-anak yang manjur pastinya punya aturan pakai tersendiri. Selain itu, biasanya di dalam kemasan obat batuk terdapat sendok takar obat. Gunakan sendok takar tersebut saat memberikan obat untuk anak, jangan pakai sendok sendiri di rumah.

Ikuti dosis pemakaian yang dianjurkan dalam aturan pakai obat. Dosis biasanya dibagi berdasarkan usia anak.

Kapan si kecil harus dibawa ke dokter saat batuk?

Orangtua harus segera bawa anak ke dokter bila mengalami beberapa hal ini:

  • Batuk disertai demam tinggi
  • Anak sampai sulit bernapas karena batuk
  • Anak mengalami batuk rejan
  • Nyeri dada
  • Sulit atau tidak mau makan
  • Anak batuk darah disertai muntah-muntah

Penting untuk memeriksakan ke dokter apabila batuk pada anak sudah berlangsung lebih dari 2 minggu. Apabila batuk sembuh-kambuh lebih dari 3 bulan berturut-turut, orangtua wajib periksakan anak ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Cold medicines for kids: What's the risk?. (2020). Retrieved 1 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/cold-medicines/art-20047855

When to Give Kids Medicine for Coughs and Colds. (2020). Retrieved 1 April 2020, from https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/when-give-kids-medicine-coughs-and-colds

Can I give my 5-year-old over-the-counter cough medicine?. (2020). Retrieved 1 April 2020, from https://www.healthychildren.org/English/tips-tools/ask-the-pediatrician/Pages/Can-I-give-my-5-year-old-cough-medicine.aspx

OTC Medicines for Cough - WebMD. (2020). Retrieved 1 April 2020, from https://www.webmd.com/cold-and-flu/otc-meds

Kid’s Cold Medicines: New Guidelines - WebMD. (2020). Retrieved 1 April 2020, from https://www.webmd.com/cold-and-flu/cold-guide/kids-cold-medicines-new-guidelines#1

Dr. Novitria Dwinanda Sp.A adalah dokter spesialis anak kelahiran Jakarta, 6 November. Berangkat dari kecintaannya terhadap anak-anak, beliau kemudian melanjutkan pendidikan ...

Artikel dari ahli Dr. Novitria Dwinanda Sp.A

6 Cara Mengatasi Batuk Anak Agar Si Kecil Cepat Sembuh

Batuk pada anak seringkali bikin orangtua khawatir Adakah hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi anak yang batuk?

Ditulis oleh: Novita Joseph
6 Cara Mengatasi Batuk Anak Agar Si Kecil Cepat Sembuh

Tips Bijak Memilih Obat Batuk untuk Anak

Tidak semua obat batuk yang dijual tanpa resep dokter aman menyembuhkan batuk pada anak. Bagaimana memilih obat batuk anak yang tepat?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Tips Bijak Memilih Obat Batuk untuk Anak
READ MORE FROM Dr. Novitria Dwinanda Sp.A

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Selulitis Terjadi pada Anak dan Cara Mencegahnya?

Infeksi di kulit sering terjadi pada anak. Salah satunya adalah selulitis. Apa itu selulitis dan bagaimana mencegahnya terjadi pada anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

3 Pertanda Ketika Sistem Imun Anak Menurun

Apabila anak mulai sering atau mudah jatuh sakit, berarti sesuatu terjadi pada sistem imunnya. Yuk, kenali apa saja tanda saat sistem imun anak menurun.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Curiga Terjadi Gangguan Makan pada Anak? Lakukan 6 Langkah Ini

Bila terjadi perubahan drastis pada pola makan anak, patut dicurigai ada gangguan makan pada anak. Apa yang harus orangtua lakukan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Mengenal Marasmus, Masalah Gizi Penyebab Kematian Anak

WHO mencatat marasmus adalah penyebab kematian pada 500 ribu anak di negara berkembang. Apa itu marasmus dan apa penyebabnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dr. Novitria Dwinanda Sp.A adalah dokter spesialis anak kelahiran Jakarta, 6 November. Berangkat dari kecintaannya terhadap anak-anak, beliau kemudian melanjutkan pendidikan ...

Direkomendasikan untuk Anda

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020
Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
Encephalocele

Encephalocele

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 28/04/2020