Apakah Anak Dengan Kanker Ovarium Akan Sulit Memiliki Keturunan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum.

Ada berbagai masalah kesehatan yang bisa menyerang organ reproduksi wanita, salah satunya yakni kanker ovarium. Peluang seorang wanita untuk terkena kanker ovarium akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia, terlebih jika sebelumnya pernah memiliki riwayat kehamilan. Namun bagaimana bila hal ini diderita oleh anak-anak? Apakah kanker ovarium pada anak perempuan bisa menyebabkan ia sulit memiliki keturunan?

Apakah kanker ovarium pada anak perempuan bisa terjadi?

Dilansir dari laman Healthline, American Cancer Sosiety (ACS) menyatakan bahwa kanker ovarium sangat jarang terjadi pada perempuan dengan usia di bawah 40 tahun. Bahkan sebanyak 50 persen kasus kanker ovarium terjadi pada wanita berusia 63 tahun atau lebih. Meskipun sebagian besar penderitanya merupakan wanita setelah melewati usia subur, bukan berarti penyakit ini tidak bisa diderita oleh anak perempuan.

National Cancer Institute (NCI) melaporkan ada sekitar 1,3 persen kasus kanker ovarium yang diderita oleh anak perempuan dengan usia kurang dari 20 tahun dan 0,1 persen di antaranya berisiko meninggal dunia.

Anak perempuan yang cenderung belum memiliki organ reproduksi yang matang, tidak kalah berisiko untuk terkena kanker ovarium jika memiliki riwayat anggota keluarga yang menderita penyakit ini.

Misalnya anak perempuan yang lahir dari seorang ibu yang menderita kanker ovarium, maka kemungkinannya untuk menderita kanker ovarium akan lebih tinggi dibandingkan anak perempuan lainnya.

Jadi, hal ini membuktikan bahwa usia dan riwayat reproduksi bukanlah satu-satunya faktor risiko untuk menderita kanker ovarium. Selain karena riwayat keluarga, faktor lain yang meningkatkan risiko anak perempuan terkena kanker ovarium yaitu:

Genetika

Beberapa mutasi gen dari ayah dan ibu secara signifikan mampu meningkatkan risiko seorang anak perempuan untuk menderita kanker ovarium. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian dari Roswell Park Comprehensive Cancer Center di New York, yang menyebutkan bahwa ayah dapat mewariskan mutasi genetik melalui kromosom X-nya yang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium pada anak perempuannya.

Obesitas

Anak perempuan yang memiliki status gizi oebsitas atau kelebihan berat badan, lebih berisiko terserang kanker ovarium dibandingkan teman-teman seusianya yang berat badannya normal.

Kanker ovarium pada anak perempuan memang memiliki faktor risiko yang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kanker ovarium yang menyerang wanita dewasa. Pasalnya, ada beberapa hal lain yang meningkatkan risiko wanita dewasa terserang kanker ovarium, seperti konsumsi pil kontrasepsi, konsumsi obat kesuburan, riwayat menderita kanker payudara, dan menderita endometriosis. Sementara faktor-faktor tersebut belum terjadi di usia anak perempuan.

Apa penanganan yang tepat untuk kanker ovarium yang menyerang anak-anak?

Pengobatan untuk kanker ovarium pada anak perempuan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan wanita dewasa, yang meliputi:

  • Operasi. Dalam banyak kasus, operasi sering kali menjadi pilihan pertama untuk mengangkat sel kanker pada ovarium. Tingkatan operasi bisa berbeda-beda tergantung dari stadium kanker.
  • Kemoterapi . Biasanya prosedur ini dipilih bila sel kanker tidak bisa disingkirkan dengan proses operasi. Kemoterapi mengharuskan penggunakan zat kimia atau obat-obatan tertentu guna menghancurkan sel-sel kanker.
  • Terapi hormon, bisa dipilih sebagai rencana perawatan lainnya untuk mencegah hormon estrogen mencapai sel kanker. Cara ini berguna untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker.
  • Terapi radiasi adalah prosedur pengobatan yang paling jarang digunakan dalam penanganan kanker ovarium. Cara ini bisa digunakan bila terdapat “jejak kecil” kanker di sistem reproduksi ataupun untuk mengobati gejala kanker stadium lanjut.

Efek pengobatan kanker ovarium bisa mengakibatkan kehilangan satu atau dua indung telur (ovarium) dan ini bisa mempengaruhi kemungkinan anak untuk hamil di masa mendatang.

Selain itu, pengobatan dengan kemoterapi diperkirakan bisa berdampak negatif pada sisa ovarium yang tidak terkena kanker serta dapat meningkatkan risiko menopause dini.

Lalu, apakah anak perempuan dengan kanker ovarium sulit untuk memiliki keturunan?

Menurut Prof. Andrijono, seorang dokter sub-spesialis Obstetri dan Ginekologi Onkolgi Departemen Ilmu Kebidanan dan Kandungan FKUI, sekaligus Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), mengatakan bahwa jika kanker ovarium menyerang kedua indung telur maka harus dilakukan operasi pengangkatan kedua indung telur tersebut, sehingga anak perempuan akan sulit untuk memiliki keturunan.

Namun, bila sel kanker hanya menyerang salah satu ovarium, maka masih ada peluang untuk hamil dengan satu ovarium lainnya yang masih berfungsi baik. Dengan catatan, jika kanker hanya menyerang satu ovarium saja, proses kemoterapi harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melumpuhkan kerja ovarium yang masih aktif.

Untuk mengetahui perkembangan dari organ reproduksi si kecil, sebaiknya lakukan pemeriksaan rutin setelah melewati pengobatan kanker ovarium. Hal ini akan menurunkan risiko berbagai masalah reproduksi yang bisa terjadi pada anak saat dewasa kelak.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca