home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Benarkah Bahan Kimia Kosmetik Tingkatkan Risiko Autisme pada Janin?

Benarkah Bahan Kimia Kosmetik Tingkatkan Risiko Autisme pada Janin?

Autisme adalah kelainan perkembangan otak dan saraf yang memengaruhi kemampuan berpikir dan berperilaku seseorang. Hingga kini penyebab kini dari autisme tidak diketahui secara pasti. Namun, periset percaya ada berbagi faktor yang meningkatkan risiko autisme, salah satunya bahan kimia pada kosmetik. Benarkah demikian? Yuk, pahami lebih dalam pada ulasan berikut ini.

Alasan bahan kimia kosmetik bisa tingkatkan risiko autisme

Studi terbaru yang diterbitkan pada jurnal Environmental Health Perspectives menemukan adanya keterkaitan bahan kimia, yakni phthalates dalam produk kecantikan dengan autisme.

Sebanyak 2001 ibu hamil trimester pertama yang rata-rata berusia 33 tahun diamati kadar phthalates pada urinenya. Semua ibu hamil tersebut merupakan partisipan dari Maternal-Infant Research on Environmental Chemicals (MIREC), yakni kelompok studi jangka panjang yang berfokus pada kehamilan di Kanada.

Proses pengamatan bahan kimia kosmetik dengan autisme ini dilakukan selama 3 tahun, dari tahun 2008 hingga 2011.

Periset kemudian melakukan penilaian lebih lanjut pada 610 anak yang lahir ketika mereka berusia 3 hingga 4 tahun. Penilaian ini menggunakan Social Responsiveness Scale-2 (SRS-2), yakni skor pengukuran sifat autisme dan gangguan sosial.

Bila hasil skala menunjukkan angka yang tinggi, tandanya anak lebih banyak memiliki sifat-sifat yang mengarah pada kelainan autisme.

Lalu, periset membandingkan konsentrasi zat phthalates pada urine sang ibu hamil dengan skor SRS anak. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar bahan kimia kosmetik yang tinggi dikaitkan dengan meningkatkan skor penilaian autisme pada anak.

Namun, efeknya ini hanya terlihat pada anak laki-laki saja. Di samping itu, efeknya cukup rendah pada ibu hamil yang mengonsumsi asam folat yang cukup, yakni 400 mikrogram selama kehamilan trimester pertama.

Periset beranggapan bahwa gangguan endokrin adalah penyebabnya. Paparan bahan kimia tertentu selama kehamilan dapat mengganggu kinerja endokrin, yakni sistem kontrol kelenjar yang menghasilkan hormon yang disirkulasikan ke seluruh tubuh.

Meskipun menunjukkan hasil demikian, studi ini masih memiliki memiliki beberapa kekurangan sehingga pengamatan lebih lanjut.

Upaya mencegah autisme akibat paparan bahan kimia kosmetik

Dengan adanya temuan ini, membuat para calon ibu harus berhati-hati dalam memilih produk sehari-hari. Bukan hanya kosmetik, phthalates juga ditemukan pada sabun, sampo, atau cat kuku.

Phthalates biasanya ditambahkan pada produk agar zat-zat lebih cepat menyerap dan masuk ke kulit. Oleh karena itu, carilah produk yang dilabeli bebas phthalates.

Sekalipun bayi telah lahir, Anda harus meminimalkan paparan kimia ini pada anak, terutama pada mainan anak dan botol bayi. Pada benda-benda ini, phthalates berfungsi untuk membuat plastik jadi lebih fleksibel dan sulit dihancurkan.

Bahan kimia pada kosmetik ini tidak hanya berpotensi meningkatkan risiko autisme, tapi juga berdampak buruk juga pada perkembangan bahasa dan keterampilan motorik anak.

Selain itu, agar janin terhindar dari autisme maupun masalah kesehatan lainnya, ibu hamil perlu mencukupi asupan asam folat seperti yang direkomendasikan, yakni 400 mcg per hari. Asupan folat ini harus dipenuhi sebelum kehamilan dan 12 minggu pertama kehamilan.

Asam folat bisa didapat dari suplemen dan makanan, seperti alpukat, tomat, kacang-kacangan, dan daging merah. Jangan lupa, lakukan pemeriksaan kehamilan Anda secara rutin untuk memantau kesehatan dan perkembangan janin.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Image: Stocky United [Accessed on May 8th, 2020]

Oulhote, Y., Lanphear, B., Braun, J., Webster, G., Arbuckle, T., & Etzel, T. et al. (2020). Gestational Exposures to Phthalates and Folic Acid, and Autistic Traits in Canadian ChildrenEnvironmental Health Perspectives128(2), 027004. doi: 10.1289/ehp5621 [Accessed on May 8th, 2020]

Autism: Causes, risks and treatment. (2019, October 11). American Pregnancy Association. https://americanpregnancy.org/birth-defects/autism/ [Accessed on May 8th, 2020]

Citroner, G. (n.d.). Endocrine-disrupting chemicals linked to autism risk. Healthline. https://www.healthline.com/health-news/prenatal-phthalate-exposure-linked-to-autism-risk#Greater-phthalate-exposure-associated-with-autism-traits [Accessed on May 8th, 2020]

Why do I need folic acid in pregnancy? (2018, 27). nhs.uk. https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/why-do-i-need-folic-acid-in-pregnancy/ [Accessed on May 8th, 2020]

 


Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji pada 28/05/2020
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x